
"Tempatnya bagus Din. Tapi emang gak apa-apa kita kesini." Ucap Revan.
"Gak apa-apa lah emangnya kenapa." Andini menarik tangan Revan untuk duduk di kursi yang ada di tempat itu.
Mereka duduk bersebelahan sambil menatap langit biru yang sedikit berawan.
"Pasti kamu sering kesini ya dulu sama..... Alex." Ucap Revan pada Andini.
Andini menggelengkan kepalanya, "Baru kamu yang aku ajak kesini."
Revan menoleh pada Andini sedikit tak percaya dengan apa yang Andini ucapkan. "Kamu pandai sekali berbohong, bukannya kamu dulu dekat sekali sama Alex."
"Wah... wahhh.... kamu tahu masa lalu aku?" Andini tersenyum. "Dari siapa? Vivian? Cerita apa aja dia sama kamu?"
"Yaa pastinya semua masa lalu kamu sama Alex, tentang kedekatan kamu sama Alex." Ucap Revan.
"Kamu percaya semua yang Vivian ceritain sama kamu soal aku sama Alex dulu?" Revan mengangguk, sedangkan Andini tersenyum. "Kamu kok bisa-bisanya percaya sama omongan orang gitu aja sih. Kamu udah berapa lama emang dekat sama Vivian, mudah sekali kamu mempercayainya."
Benar juga apa yang di katakan Andini, kenapa aku mudah sekali percaya sama orang yang belum aku tahu sifatnya dan belum lama aku mengenalnya. Revan.
"Apa aja yang dia katakan sama kamu?" Andini menoleh. "Harusnya kamu tanya sama aku langsung, Vivian itu kalau secara kasarnya cuma orang asing diantara aku sama Alex dan dia mungkin hanya menyimpulkan menurut sudut pandang dia saja, tanpa dia tahu kenyataannya seperti apa. Kamu ngerti kan maksud aku? Bukannya aku mau jelek-jelekin Vivian, aku engga ada niat kesana ya cuma kalau pun sekarang sudah terlanjur Vivian cerita soal aku dengan Alex sama kamu, coba sekarang kamu ceritain sama aku, biar aku bisa klarifikasi terus lurusin siapa tahu ada cerita yang Vivian belokin." Andini tertawa kecut.
Revan terdiam dan membenarkan semua yang diucapkan Andini. "Aku bukannya gak mau nanya sama kamu, bukannya dari pertama kita ketemu kamu kaya udah risih sama aku yang banyak nanya ini, ya apa lagi aku nanya soal diri kamu pribadi, Din." Jelas Revan pada Andini.
"Ahaha Revan... Revan.... ya gini deh coba kamu bayangin, kalo ada orang baru, baru banget kamu ketemu dan kenal, terus tiba-tiba aja dia tanya-tanya, apalagi nanya soal pribadi kamu, apa kamu akan langsung menceritakannya sama kaya kamu langsung percaya sama orang yang baru kamu kenal gitu?" Andini menarik nafas panjang. "Van, terkadang kita gak boleh langsung percaya sama orang yang baru di kenal, curiga untuk jaga-jaga perlu loh, sama orang yang udah lama kita kenal juga kadang sering dikecewakan karena terlalu menaruh kepercayaan 100%."
Revan kembali terdiam dan membenarkan semua ucapan Andini.
"Iya Din, aku emang salah. Kalo gitu sekarang aku nanya soal kamu, kamu mau jawab?" Tanya Revan.
"Ceritain aja dulu apa aja yang Vivian ceritain sama kamu, nanti kalo benar dan salahnya aku perbaiki. Kaya ulangan gitu." Andini tertawa.
Revan berfikir sejenak, "Pertamanya sih ya aku nanya hubungan kamu sama Alex gimana. Terus Vivian jawab ya kalian deket tapi belum sampe ke tahap pacaran gitu, tapi karena kedekatan kamu sama Alex, semua siswa di sekolah ini nganggap kedekatan kalian itu udah resmi pacaran." Andini menganggukan kepalanya. "Terus juga kata Vivian butuh waktu satu tahunan buat Alex bisa deket banget sama kamu. Katanya juga pas kenaikan kelas XII Alex mau nyatain perasaannya sama kamu biar status kalian resmi pacaran, cuma kamu engga masuk sekolah sampai waktu libur panjang kenaikan kelas tiba. Dan...." Revan menarik nafas. "Pas masuk ajaran baru kelas XII sikap kamu berubah jadi dingin ke semua orang dan kami menarik diri dari pergaulan kamu sama teman-teman kamu."
"Udah cuma itu aja, terus bener yang di ceritain Vivian soal kamu itu." Tanya Revan.
"Wah ternyata gadis itu jujur tak membelokan fakta dan membumbuinya agar lebih dramatis." Andini tersenyum. "Emang bener kok semua yang di ceritain sama Vivian sama kamu."
"Tuh kan berarti aku gak salah percaya sama dia."
"Ya aku cuma pengen kamu jaga-jaga aja, Van." Ucap Andini.
"Ehh iyaa, terus Vivian juga ngomong kalo sekarang kamu udah kembali seperti Andini yang dulu."
Andini tersenyum. "Ternyata banyak yang memperhatikan aku."
"Apa ada kemungkinan kamu juga akan kembali lagi sama Alex." Tanya Revan dengan wajah dan nada yang serius.
Andini terdiam dia tak tahu jawaban apa yang harus dia berikan atas pertanyaan yang Revan berikan. Dia tak tahu apakah perasaannya masih seperti dulu pada Alex, dia juga tak tahu alasan dia kembali pada dirinya yang dulu tujuannya untuk apa dan karena siapa.
"Kenapa diem?" Tanya Revan yang dibuat penasaran.
"Aku juga gak tahu Van, kalo aku jujur sama perasaan aku sekarang aku juga bingung ngungkapinnya gimana." Andini berfikir sejenak. "Semua orang gak tahu alasan aku gak dateng pas Alex mau nyatain cintanya, orang-orang berfikir kalo aku cuma main-main dan mau ngasih Alex pelajaran karena dulunya dia pemain wanita. Tapi semua anggapan itu salah. Aku gak dateng karena ibu aku meninggal, keluarga aku hancur Van. Sebelum ibu meninggal aku sama kakak aku mendengar pertengkaran ayah dan ibuku dan mereka sepakat untuk bercerai." Andini meneteskan air matanya. "Aku dan kak Mira terpisah karena aku ikut sama ibu dan pergi dari rumah tengah malam dalam keadaan hujan yang deras banget, sampai aku dan ibu aku nunggu di toko yang udah tutup dan takdir berkata ibu aku meninggal disana karena segerombolan pemuda yang sedang mabuk, dan Tuhan masih menyelamatkan aku, hingga akhirnya aku kembali ke rumah. Ayah aku mungkin menyesal udah ngusir ibu tengah malam yang menyebabkan ibu meninggal, jadi ayahku selalu pulang lewat dari tengah malam. Juga dengan kakak aku yang jadi sering mabuk-mabukan dan gonta-ganti cowo yang ia ajak tidur dirumah mungkin karena tak ada ibu dan ayah pun merasa gak peduli dan bodo amat." Andini kembali terisak. "Aku jadi ngurung diri di rumah, hanya menyaksikan sisa-sisa kenangan keluarga kami. Bahkan aku sering mendengar dan melihat kak Mira yang melakukan hubungan diluar nikah sama laki-laki yang dibawanya kerumah. Entah apa karena itu lah aku kalau sendiri selalu mimpi seperti itu. Kebahagiaan yang dulu aku rasain saat bersama keluarga aku sepertinya gak akan pernah aku dapatkan lagi."
Revan merasa iba mendengar cerita dari Andini, Revan mendekatinya dan memeluk Andini berharap kesedihannya bisa berkurang.
Revan tak berkata apa pun dia tak ingin ucapannya malah mengganggu suasana hati Andini.
Aku janji akan hadirkan kembali kebahagiaan dihidup kamu Din. Asal kamu selalu di sampingku. Revan.
Bersambung.... :)
Terimakasih readers 😍🌸
Jangan lupa pencet 👍💖 biar aku semangat updatenya 😍