Come & Hug Me

Come & Hug Me
< SIAPA DISANA? >



Dengan napas terengah-engah Andini mencoba bangun dari tidurnya dan...


Bruk


Suara barang jatuh dan terdengar suara langkah kaki. Andini yang terkejut dengan spontan dan berancang-ancang untuk berlari. Karena keterkejutannya Andini pun sampai lupa membenarkan kancing baju seragamnya yang menampakan gunung kembar Andini yang indah dengan berbalut bra berwarna hitam itu.


Siapa disana? Ucap Andini yang terbata-bata karena keterkejutan dan ketakutannya. Dia tak mendapat jawaban atas pertanyaannya itu. Namun samar-samar Andini melihat seorang pria yang mencoba mendekat kearahnya. Anehnya Andini tampak asing dengan pria itu dan tak mengenalinya akibat pencahayaan di ruangan yang sangat minim. Pria tersebut pun terus mendekati Andini tanpa sepatah kata yang keluar dari mulutnya.


"Jangan mendekat. Pergi dari sini siapa pun kamu." Andini yang semakin ketakutan dan terus mundur hingga kini dia tersudutkan ke tembok.


"Pergi kamu, kalau tidak aku akan teriak." Ancam Andini pada sosok pria yang kian mendekati dirinya.


🌸🌸🌸


Jam pelajaran Pak Andi telah selesai, waktu menunjukan pukul 10.00 WIB yang artinya itu istirahat pertama untuk para siswa. Sebagian siswa meninggalkan kelas untuk pergi ke kantin atau untuk sekedar bermain-main di depan kelas maupun di taman dan di lapangan, lalu sebagian siswi masih tetap di kelas seraya melihat ke arah Revan berada. Mereka semua membuat Revan sedikit tidak nyaman. Sehingga Revan memutuskan untuk bergegas keluar dari kelas dan dia berniat untuk sekedar berkeliling melihat-lihat sekolah barunya. Revan tidak berniat ke kantin karena masih pagi dan Revan rasanya belum lapar.


Dia berjalan melewati kelas-kelas lainnya. Di depan banyak siswa-siswi yang berkumpul dan bercanda serta tertawa ria. Para siswi yang terpesona akan ketampanan Revan yang berjalan begitu coolnya.


"Wah..... tampan sekali pria itu."


"Emm... apakah dia murid baru? rasa-rasanya aku belum pernah melihat dia di sekolahan kita."


"Dia begitu tampan di tambah dia sepertinya ramah dan murah senyum."


"Ahh... ya benar bahkan tadi dia membalas senyumanku, manis sekali bibir itu."


"Dia membuat leleh hati ini."


"Dia di kelas mana ya? Beruntungnya gadis-gadis yang satu kelas dengannya, tiap hari mendapat pemandangan indah yang tak membosankan untuk terus melihatnya."


Di dalam kelas XII A, A3 mendengar kegaduhan dari luar kelasnya. Oh ya, A3 merupakan geng cowok yang sangat populer dan menjadi incaran para gadis. A3 adalah geng yang beranggotakan 3 orang cowok yang keren, pinter, tajir dan pastinya sangat di gilai di SMA Star Vision, mereka adalah Alex, Arfan dan Alvin. A3 menjadi trendsetter dan standar ketampanan bagi siswi-siswi disana.


Tapi sangat disayangkan, A3 sudah terkenal dengan suka main cewek. Mereka selalu berganti-ganti pasangan jika dirasa wanita itu sudah tidak menarik lagi di mata mereka. wanita-wanita cantik yang sekolad di SMA Star Vision sudah pernah di dapatkan mereka terkecuali Andini Juliani anak kelas XII D yang terkenal dengan kecantikan dan bodynya yang seksi membuat mata lelaki tak bisa lepas dari dirinya dan membuat para wanita iri padanya. Dan satu lagi yaitu Vivian Agustin anak kelas XII seorang ketua cheerleader yang terkenal dengan kecantikan dan kepintarannya. Namun sayang tak ada satu pun pria yang dapat meluluhkan hati 2 gadis itu termasuk A3.


Andini memang terkenal dengan sikap dan sifat dinginnya pada laki-laki sedangkan Vivian dia terlalu mematok kriteria standar pasangan yang terlalu tinggi. Jelas banyak yang dia tolak dan bahkan mengurungkan niat mendekatkan diri padanya.


#kembali ke cerita :)


Mendengar kegaduhan dari luar kelas, A3 pun keluar untuk mencari tahu apa yang terjadi. A3 terkejut melihat para gadis di SMA nya histeris dan histeris mereka melebihi ketika mereka melihat A3.


"Hah.... Siapa dia?" Ucap Alvin.


"Wah sebelumnya gak ada cowok yang bisa bikin para cewek histeris selain ketika melihat kita lewat, bahkan lihat sekarang kita diabaikan karena tatapan mereka terus tertuju pada cowok itu." Tutur Afran keheranan.


"Kayanya kuta dapat saingan nih Lex."


Alex hanya diam dan terus melihat ke arah Revan yang terus berjalan menjauhi mereka.


Revan terus berjalan dan kini dia naik ke lantai 2 terus melihat-lihat sekolah barunya. Setelah tiba di ruangan paling ujung dari lantai 2 tersebut, Revan berniat berputar arah dan dia akan kembali lagi ke kelasnya. Namun langkahnya seolah terhenti ketika dia mendengar suara dari ruangan yang paling ujung itu. Revan mencoba mendekat dan mencari tahu. Setelah lebih dekat Revan tersadar bahwa suara itu adalah desahan orang yang sedang bercinta.


Mendengar desahan yang begitu sangat merangsang itu membuat batang **** Revan mengeras. Tadinya Revan akan mencoba bodo amat dan pergi dari tempat itu namun terkalahkan oleh rasa penasarannya dan terus mendekat ke arah pintu ruangan itu. Revan membuka pintu dengan sangat perlahan.


Pintu terbuka, Revan masuk dan berjalan dengan perlahan mencari tahu dimana desahan itu berasal.


"Aaaaahhhhhh..." Desahan panjang itu membuat langkah Revan terhenti. Dan kini tak terdengar lagi suara desahan-desahan itu. Revan berfikir mungkin tadi adalah klimaksnya. Sekarang Revan berniat untuk keluar dari ruangan dengan langkah pelan. Namun...


Bruk


"Siapa disana?" Revan mendengar suara wanuta dari arah pojok yang tertutup dengan kanvas-kanvas, dia mencoba lebih mendekat dengan asal suara itu.


"Jangan mendekat. Pergi dari sini, siapa pun kamu."


"Pergi kalau tidak aku akan teriak."


Mendengar ancaman itu tak membuat Revan takut malah ia terus mendekat. Revan samar melihat wajah Andini.


"Ya benar, itu seperti Andini." Gumam Revan dalam hati dan terus mendekat, kini dia berhadapan langsung dengan Andini.


"Aku Revan. Kamu jangan takut. Aku tadi hanya lewat dan mendengar suara dari dalam ruangan ini. Jadi aku memutuskan untuk masuk dan melihat apa yang terjadi."


Andini yang terpojok ke dinding pun sedikit bernapas lega dan kini dia melihat jelas sosok pria bernama Revan ini, yang sebelumnya dia tak pernah melihat Revan.


"Ehh siapa? Revan? Sepertinya kamu bukan murid sini, aku asing melihat muka kamu." Andini terheran-heran.


"Ya jelaslah kamu belum melihatku, aku anak baru disini. Kamu Andini kan? Mari kita berkenalan. Namaku Revan, Revan Aditya." Menjulurkan tangannya untuk bersalaman.


Andini membalas salamannya dan berkata "Kenapa kamu tahu namaku?" Tanya Andini.


"Aku kan sekelas sama kamu, bahkan kita sebangku loh." Revan tersenyum. "Aku tadi lihat kamu tidur terus di keluarin kan sama Pak Andi." Revan tertawa. "Dan kamu sama sekali tak melihatku di depan ketika kamu keluar. Aku juga tahu nama kamu karena aku lihat buku catatan kamu, Andini Juliani, pasti kamu lahir bulan juli kan?" Revan kembali tersenyum menggoda Andini.


Andini membalas senyuman Revan dan berniat keluar dari ruangan itu.


"Eh Din sebaiknya kamu benerin dulu tuh seragam." Kata Revan canggung.


"Ohh iya." Andini baru tersadar bahwa dari tadi selama dia ngobrol, tubuhnya terlihat jelas di mata Revan.


Sambil membereskan bajunya Andini sekilas melirik celana Revan yang sepertinya di balik celana itu ada yang membesar, dan Andini pun tertawa kecil.


"Ada apa Din?" Tanya Revan bingung dengan Andini yang tiba-tiba tertawa.


"Ehh, emmm engga hahaha." Andini menjawab sambil melangkahkan kaki mendekati Revan lalu berbisik "Oh yaa itu adik kamu bangun deh Van." Ledek Andini sambil tertawa dan berjalan meninggalkan Revan.


Revan terdiam dan mematung wajahnya memerah seperti kepitinh rebus.


"Gilaaa, Andini hmmmm. Tunggu...." Ucap Revan setengah berteriak.


Bersambung... :)


Terimakasih readers 😻🌸


Jangan lupa pencet πŸ‘πŸ‘