
Perasaan Revan sekarang sebenarnya campur aduk, dia sudah mengetahui masa lalu Andini. Harusnya dia bisa menjaga jarak mulai sekarang dengannya. Tapi sikap Andini sekarang seolah menahannya untuk menjauh.
Tapi bagaimana pun dia tidak bisa begitu saja mengubur rasa sukanya pada Andini.
Meskipun seharusnya Revan tidak harus 100% mempercayai semua yang diucapkan Vivian. Harusnya dia bertanya sendiri pada Andini. Namun semua yang di ceritakan Vivian telah ia percaya sepenuhnya.
Langkah Andini dan Revan kini telah sampai di kelasnya. Semua teman-temannya sudah keluar untuk berganti pakaian olahraga.
Andini membawa pakaian olahraganya yang ia simpan di tas, begitu juga dengan Revan.
"Aku keluar duluan ya, nanti ketemu di lapangan." Ucap Andini pada Revan sambil berlalu meninggalkan Revan di kelas.
Revan tersenyum dan menganggukan kepala tanpa berkata apa pun.
Revan kenapa ya.. dari tadi ko diem aja gak kaya biasanya. Firasat aku sih pasti Vivian ngomong yang macem-macem sama Revan. Andini.
Langkah Andini telah sampai di toilet wanita, dia masuk. Ternyata ruangannya penuh dengan teman-teman sekelasnya dan juga anak-anak kelas X.
Melihat pemandangan itu Andini langsung keluar dia berniat untuk mengganti pakaiannya di ruangan pribadinya.
Langkah kakinya sangat pelan, fikiran Andini bercabang. Hatinya kini sudah lega setelah sekian lama memendam cerita dan bebannya sendiri, yang tadi telah ia tumpahkan pada Alex. Walaupun memang belum semuanya. Tentang perubahan kondisi keluarga dan ibunya yang meninggal pun belum sempat ia ceritakan pada Alex tadi.
Dan sekarang fikirannya mulai terbebani dengan perubahan sikap Revan yang begitu mendadak setelah ia memergoki Revan sedang berbicara dengan Vivian. Andini terus bertanya-tanya dalam hatinya tidak mungkin tidak ada obrolan penting antara mereka yang membuat Revan menjadi seperti itu.
Andini masuk dalam ruangannya itu dan menyalakan satu lampu. Andini berjalan ke arah matrasnya seperti biasa.
Dia membuka pengait dan roknya dan mengganti dengan celana olahraga yang dia bawa tadi. Andini duduk diatas matras itu.
Andini membuka kancing seragamnya satu per satu, kemudian melepaskannya. Andini terdiam dan kini merebahkan dirinya pada matras dengan bertelanjang dada. Dia merentangkan tangannya.
"Revan... Revan... aku harus nyari Vivian nanti. Pasti dia udah cerita macem-macem sama Revan." Kata Andini sambil menatap langit-langit. Tak lama Andini pun tertidur.
πΈπΈπΈ
Revan mengganti pakaiannya di dalam kelas. Dan setelah itu dia ke lapangan karena Andini menyuruhnya untuk menunggu di lapangan.
Beberapa menit berlalu teman-teman wanita sekelasnya yang lain sudah ada di lapangan. Revan belum menyadari ketidak hadiran Andini.
Guru olahraga pun telah di panggil oleh Ketua kelas mereka. Suara peluit yang di tiup Pak Fajar membuat semua anak langsung berdiri dan berbaris di tengah lapangan.
Semua murid melakukan pemanasan seperti biasa yang di pimpin oleh seksi olahraga dari kelasnya. Semua mengikuti gerakannya.
30 menit berlalu, suara peluit di tiup kembali oleh Pak Fajar. Kemudian semua murid mendekat pada Pak Fajar. Revan hanya mengikuti murid yang lain, karena dia belum tahu kebiasaan pelajaran olahraga di sekolah barunya itu. Dan dia belum menyadari bahwa Andini tidak ada.
"Oke anak-anak hari ini kita olahraga basket, kita pemanasan dulu, grup putri di sebelah sana dan grup putra di sebelah sini." Ucap Pak Fajar yang menunjukan tangannya membelah lapangan untuk grup putri dan grup putra.
"30 menit kalian lakukan dribbling dan shooting ke ring basket, setelah itu grup putra bermain dengan anak kelas X. Sementara grup putri bisa di pinggir lapangan." Jelas Pak Fajar.
"Yeeeeeee...." Semua siswi kelas itu sangat senang karena mereka hanya menjadi penonton saja.
πΈπΈπΈ
Revan berjalan mendekati Andini yang tengah terlentang hanya menggunakan celana olahraga dan bra saja. Setengah telanjang!!
Revan ikut berbaring di samping Andini, mendekatkan wajahnya pada wajah Andini. Revan memiringkan tubuhnya menghadap wanita itu.
Cup...
Revan mencium lembut kening Andini. Mengusap lembut pipinya. Tangan Revan terus turun menyusuri leher indah milik Andini. Berusaha menurukan tali bra yang di pakai Andini.
Revan mengusap gundukan kenyal milik Andini dari luar branya.
Revan mulai merentangkan kaki Andini sehingga sekarang Revan di atasnya, kini Revan berada diantara kaki Andini.
Tangan Revan tidak berhenti disitu dia kembali menurunkan tali bra milik Andini yang satunya. Kedua tangan Revan m*remas kedua gundukan kenyal itu dari luar bra, dan Revan menciumi dada dan leher Andini.
"Ahhh..... mmmhhh..." Andini mendesah dan membuka matanya.
Andini terkejut bahwa Revan yang ada di hadapannya sekarang.
"Re...van....." Kata Andini lirih.
Revan mengentikan ciuman dan r*masannya, dia menatap Andini dan tersenyum.
Sekarang Revan menjatuhkan dirinya diatas Andini. Kini tak ada jarak diantara mereka. Revan meraih kedua tangan Andini agar melingkar di lehernya dan kedua tangan Revan memegang kepala Andini.
Mereka saling bertatapan. Revan dengan cepat mendekatkan bibirnya pada bibir Andini. Menjulurkan lidahnya agar Andini dapat membuka mulutnya.
Lama mereka melakukan ciuman itu. Andini dan Revan sangat menikmati permainan mereka.
Revan bangkit, membuat tangan Andini yang tadi terus melingkar di lehernya Revan terjatuh. Andini mebuka matanya. Melihat Revan sedang membuka baju olahraga yang dia pakai.
Glek...
Andini menelan ludah sendiri melihat tubuh Revan yang begitu bagus, dada bidang plus dengan roti sobeknya.
Revan mencoba menurunkan celana olahraga yang di pakai Andini dengan perlahan. Kini Andini hanya memakai celana dalam dan bra saja.
Kemudian Revan menjatuhkan diri kembali ke atas tubuh Andini. Menciuminya perlahan, mengangkat sedikit tubuh Andini untuk membuka pengait branya.
Andini merasakan **** Revan mengeras dan menempel tepat di depan miliknya. Sementara Revan masih sibuk dengan gundukan kenyal dan besar milik Andini.
R*masan, gigitan dan jilatan pada gundukannya itu membuat Andini benar-benar melayang.
"Ahhhh.... mmmhhhh... ahhhh....Vann..." Desahan-desahan terus keluar dari mulut Andini.
πΈπΈπΈ
30 menit berlalu, kini grup putri sudah berada di pinggir lapangan untuk menyaksikan pertandingan basket kelasnya dengan kelas X. Revan ikut bermain dalam pertandingan itu karena Pak Fajar melihat Revan yang memang bagus dalam permainan basket, tak berpengaruh walaupun dia murid baru karena Revan mempunyai skill itu.
Permainan basket Revan Cs dapat membuat skor telak bagi adik-adik kelasnya itu. Pemandangan indah yang Revan suguhkan untuk para teman perempuannya agar tak berhenti menatap ke arahnya.
Revan sungguh laki-laki dengan ketampanan diatas rata-rata. Itulah yang di eluh-eluhkan oleh para gadis yang tak berhenti melihatnya.
Permainan selesai dengan kemenangan untuk kelas XII. Semua siswa dan siswi berbahagia.
Sampai akhirnya satu persatu dari mereka meninggalkan lapangan olahraga menyisakan beberapa. Dan Revan baru menyadari Andini tak ada.
Kemana Andini? Apa dia udah ke kelas? Apa dia tidak melihat permainanku tadi. Hmmm... Mikir apa sih aku ini emangnya aku siapanya Andini. Revan.
Bersambung....:)
Terimakasih readers ππΈπΈ
Jangan lupa pencet ππ biar aku semangat updatenya π