
Andini pun keluar dari kamar Revan menuju dapur rumahnya. Suasana di rumah Revan cukup nyaman. Nuansa putih dan hitam mendominasi ruangan. Semua furnitur rumah bergaya minimalis. Tak banyak foto dan pajangan disana, mungkin karena Revan baru pindah. Batin Andini.
Andini menikmati masakan ibunya Revan itu, sambil matanya tak lepas memperhatikan sekeliling. Melihat-lihat seisi rumah itu.
πΈπΈπΈ
Jam pelajaran pertama telah usai, Alex seperti biasa meninggalkan kelasnya tanpa di temani kedua sahabatnya itu. Dan kedua sahabatnya telah memaklumi dan mengetahui jika Alex memang sedang berusaha kembali untuk mendapatkan Andini.
Alex telah sampai di kelas Andini namun ia tak menemukannya bahkan ia tak melihat keberadaan si anak baru itu.
Pasti Andini udah keluar, sama siapa lagi kalau bukan dia. Alex.
Alex berbalik akan kembali ke kelasnya. Namun dia melihat keberadaan Vivian yang sedang ada di pintu kelasnya Andini dan sepertinya Vivian tidak menyadari kehadiran Alex disana.
"Vi kamu ngapain disini?" Tanya Alex sedikit curiga karena sudah dua kali ia memergoki Vivian tengah berada di kelas Andini.
Vivian terkejut melihat Alex yang ada di hadapannya. Ya ampun aku sampai tak sadar ada Alex juga disini. Pasti dia nyari Andini. "Hah.. enggak lagi apa-apa emang kenapa?"
"Ya gak apa-apa juga sih, cuma heran aja kamu main ke kelas D. Biasanya juga ke perpus kan?" Pertanyaan Alex terus memojokan Vivian dan membuatnya kesal.
"Ishhh apa urusannya sama kamu sih, Lex." Vivian pergi meninggalkan Alex dan pergi ke perpustakaan.
Lebih baik aku pergi dari pada ngeladenin Alex yang terus memojokanku. Lagian aku ke perpus juga bukan karena hobi ya apalagi kalo bukan untuk menghindari si Alvin tengil pecicilan gak mau diem resek dan kekanakan itu. Perpus udah tempat paling aman buat menghindar dari Alvin. Revan juga gak ada di kelas tadi. Susah banget mau ngobrol sama dia kalo masih ada si Andini itu. Vivian.
Alex melihat Vivian yang begitu saja meninggalkan dia. Dia pun berjalan kembali ke kelasnya.
Tingkah Vivian aneh banget, padahal gue cuma nanya tapi dia seolah lagi terpojok sama pertanyaan gue. Apa dia lagi ngincer cowok di kelas D. Hah.... apa dia mau sama cowok yang pinternya di bawah rata-rata, aishh apa dia gak mau cari cowo yang sama pinternya kaya dia, si Alvin kurang apa. Kasihan bocah petakilan itu. Alex menepuk kepalanya sendiri sambil berjalan pelan. Apa-apaan aku ini, bicara apa aku tadi. Padahal aku sendiri dari dulu berusaha mendapatkan hati Andini, cewek dari kelas D. Alex tertawa sendiri.
πΈπΈπΈ
Andini telah menyelesaikan makannya dan kembali lagi ke kamar Revan. Ketika masuk ia mendapati Revan sedang membuka laptopnya. Andini langsung menghampiri dan duduk di sebelahnya.
"Kamu lagi ngapain Van." Andini menatap layar laptop Revan, terdapat foto-foto Revan sedang bersama teman-temannya di sekolah Revan yang dulu. "Wah temen-temen di sekolah kamu yang dulu kebanyakan cewek yah." Ucap Andini dengan nada tidak suka.
"Kamu udah makannya?" Andini hanya mengangguk. "Ya karena aku populer di kalangan anak cewek ahaha." Jawab Revan dengan bangga dan menyombongkannya pada Andini yang berhasil membuat Andini meraskan hawa panas dalam tubuhnya.
"Oh!!" Andini memalingkan wajahnya dari layat laptop milik Revan itu.
"Ehh ada yang marah ya. Uhh sini-sini aku peluk." Ucap Revan sambil mencoba merangkul Andini namun berhasil di tepis dengan tangannya. "Ehh... ehh kok galak." Revan semakin gemas dengan tingkah Andini yang terang-terangan mencemburuinya.
Andini masih terdiam dan memberikan Revan tatapan kesalnya. "Nah itulah yang aku rasain kalo kamu deket sama cowo, apalagi Alex."
Andini menatap Revan dengan tatapan penuh tanya. "Emang kamu merasakan apa yang aku rasain sekarang?" Andini mulai membuka bicara dengan Revan walau masih terasa sedikit kesal.
Revan mengangguk. "Aku tidak tahu kapan aku menyadari cinta ini tumbuh di hatiku, cuma entah kenapa tubuh ini panas melihat kamu bersama Alex waktu itu di tambah lagi aku mendengar semua cerita tentang kamu dulu bersama dia." Revan memegang tangan Andini walau aku tak bisa memastikan kapan tepatnya cinta ini tumbuh tapi setidaknya aku sangat yakin bahwa aku telah menyukaimu sejak awal kita bertemu."
Andini tersenyum malu, dia merasa bahagia perasaan panas yang ia rasakan tadi seolah telah sejuk karena sentuhan tangan Revan dan semua yang diucapkannya. "Berarti kalo gitu kamu lebih merasakan panas yang aku rasakan sekarang karena kamu melihat langsung dari pada aku yang hanya melihat foto dan tak tahu apa yang terjadi hanya menerka-nerka saja?"
"Ihhh kamu pinter." Revan mencubit pipi Andini. "Tapi mengingan aku yang lihat langsung jadi aku tahu dan menyaksikan langsung dengan mataku sendiri, dari pada cuma menduga-duga hal yang terjadi di balik foto, gimana kalo aku berciuman atau bertindak macam-macam." Ucap Revan sambil tertawa karena telah berhasil kembali membuat Andini kesal.
"Ahhh... Revan!! Tapi gak mungkin aku tahu kamu, kamu gak gitu. Sama aku aja kamu gak berani macam-macam pas lihat aku setengah telanjang." Ucap Andini sedikit malu ketika mengingat dirinya setengah telanjang di hadapan Revan.
"Apa? Aku gak berani? Kata siapa?" Ucap Revan sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Andini. "Aku gak macam-macam karena aku tahu tempat mana mungkin aku mau bertindak macam-macam di sekolah. Ya kalo di sini sih mungkin saja." Revan semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Andini sehingga kini hidung mereka saling bersentuhan.
Andini yang mendegar itu terkejut, jantungnya serasa mau copot apalagi kini jaraknya dengan Revan benar-benar sangat dekat. Saat hidung mereka yang menempel itu membuat Andini dengan repleks memejamkan matanya.
Revan sejenak menatap begitu dekat dengan mata Andini yang terpejam. "Hey malah merem hayooo ngarepin apa?"
Mendengar itu Andini langsung membuka matanya, wajahnya memerah karena malu.
Ihhh aku apa-apaan tadi sampe repleks merem segala, emangnya aku ngarep di apain sama Revan. Aaaaaaaa malu sekali. Andini.
"Hayoo loh ngarep di apain sama aku?" Goda Revan.
"Ahhh udah-udah mendingan kamu tidur nanti siang aku bangunin buat makan siang sama minum obat lagi." Ucap Andini mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Ehh iya-iya aku tahu kamu lagi mengalihkan pembicaraan, oke aku tidur asal kamu juga tidur di samping aku ya."
Andini mengangguk dan masuk dalam selimut. Revan mengecup kening Andini. Andini terdiam mematung, dia sangat terkejut dan bahagia. Revan tersenyum hangat padanya, lalu berbaring dan membuka tangannya agar Andini dapat tertidur dalam pelukannya.
Bersambung... :)
Terimakasih readers ππΈ
Jangan lupa pencet ππ biar aku semangat updatenya π
Bantu vote juga yaaπ»