Come & Hug Me

Come & Hug Me
< PROLOG >



Pletak...


"Aww.... sakit, siapa sih yang berani-berani mengganggu tidurku." Ucap Andini yang setengah sadar dari tidurnya.


"Kalau kamu mau tidur di jam pelajaran saya, kamu lebih baik keluar." Kata Pak Andi guru matematika yang killer dan tak bisa mentolelir sebuah kesalahan.


Andini pun beranjak dari tempat duduk dan melangkah keluar tanpa sedikit pun rasa bersalah karena tidur di jam pelajaran.


"Dari tadi kek nyuruhnya, bosenin emang." Gumamnya dalam hati.


Andini melangkahkan kakinya, menuju ruangan pribadi miliknya. Yup, ruangan pribadi. Andini menganggap ruang ekstrakurikuler gambar dan melukis itu adalah ruang pribadinya, karena tak ada lagi anggota baru setelah senior-seniornya lulus. Dengan kata lain Andini adalah siswa kelas XII D yang merupakan senior dari ekstrakurikuler yang tak mempunyai anggota-anggota junior lain. Andini tergolong siswa biasa-biasa saja yang tak begitu populer. Dia pun tak banyak mempunyai teman yang dekat dan bisa di ajak berbagi cerita dan bersenang-senang layaknya anak remaja pada umumnya. Andini kerap menutup diri dalam pergaulan teman-teman sebayanya. Dia seolah hanya ingin menikmati hidupnya sendiri dengan tenang.


Andini terus melangkahkan kakinya menuju ruangan pribadi dengan hati yang senang tanpa ada rasa penyesalan dalam dirinya. Dia pun kini sampai di ruangan pribadinya yang terletak di lantai atas dekat dengan Laboratorium Bahasa yang jarang di pakai.


Andini mengeluarkan kunci ruangan itu dari dalam saku bajunya.


"Ahhhhh..... Akhirnyaa, huh emang dasar Pak Andi orang ngantuk kok disuruh bangun." Kesal Andini yang terus menggerutu.


"Ruang pribadiku, tempat pelarian ternyaman."


Ruangan yang sunyi dan tak begitu luas ini emang tempat ternyaman dari pelariannya. Karena memang tempat itu terletak di lantai 2 dan berada di paling ujung bangunan hingga tak banyak siswa yang berlalu lalang ke ruangannya.


Di dalam ruangan itu terdapat banyak gambar sketsa dan lukisan yang di pajang di dinding dan beberapa tergeletak begitu saja di meja dan di lantai. Ruangannya bersih karena Andini selalu menjaga kebersihan ruangan pribadinya, namun agak gelap karena tak tersinari cahaya matahari. Itu karena letak ruangan yang berada paling ujung hingga cahaya matahari terbit maupun tenggelam tak dapat menjangkau ruangan itu. Namun masih ada lampu yang menerangi ruangan itu, yang jarang Andini nyalakan karena sudah nyaman dengan minimnya pencahayaan diruangan itu. Di dalam ruangan terdapat 8 kursi lengkap dengan kanvas serta peralatan gambar dan lukis lainnya.


"Hmmmm... bodoh emang aku sampai tak bisa merekrut anggota baru ekskul gambar dan lukis ini." Kata Andini sambil memutari ruangan yang sudah 2 bulan ini hanya dia yang berada dan tetap setia pada ekskul gambar itu.


Mata Andini langsung tertuju pada matras yang berada di pojok ruangan itu. Well... kenapa ada matras diruang seni? Haha Yup, Andini mengambil matras tersebut dari ruang olahraga yang berada di sebelah ruang lab bahasa dengan tanpa ijin dan sepengetahuan guru olahraga. Dan dia lagi-lagi berbuat tanpa rasa bersalah!


Andini berjalan mendekati matras itu kemudian merebahkan badannya, berangan-angan sambil menatap langit-langit dan Andini terlelap dalam tidurnya.


"Ahh.. ahh.. ahh.. mmmhhh... te mmhh... rus sayang, enak ahhh.."


Desahan demi desahan terus keluar dari mulut Andini yang terus meracau dan mengerang kenikmatan. Diatasnya tampak seorang pria berdada bidang dan dengan badan sixpacknya yang terus memaju mundurkan pinggulnya dengan cepat. Andini pun menggoyangkan pinggulnya agar mangimbangi gerakan pria itu.


"Ahhh... sayang jangan hentikan.. ahh.. mmhhh.. beg mhh itu sayang teruslah lebih cepat aku ahh... mmhhh sudah ahh.. hampir keluar." Racau Andini yang hampir mencapai klimaks.


Tak lama pria itu memuntahkan semua c***** cintanya di dalam rahim Andini. Mereka berdua melemas, sang pria menjatuhkan badannya diatas Andini dengan terus berciuman dan berpelukan tanpa melepaskan p****nya di dalam v***** Andini.


🌸🌸🌸


"Silahkan masuk nak dan perkenalkan diri kamu pada teman-teman semua." Ujar Pak Andi guru matematika di kelas dan di sekolah barunya Revan.


Semua mata tertuju pada Revan, murid baru. Terutama para siswi yang terpesona dan berdecak kagum pada sosok Revan yang tinggi, tampan, dan keramah-tamahannya. Para siswi saling berbisik tentang sosok Revan yang begitu sempurna di mata para gadis.


Pletak...


"Aww... sakit, siapa sih yang berani-berani mengganggu tidurku." Ucap Andini yang setengah sadar dari tidurnya.


"Kalau kamu mau tidur di jam pelajaran saya, lebih baik kamu keluar." Kata Pak Andi guru matematika yang killer dan gak bisa mentolelir sebuah kesalahan.


Andini pun beranjak dari tempat duduk dan melangkah keluar tanpa rasa bersalah.


"Dari tadi kek nyuruh keluarnya. Bosenin emang." Gumam Andini dalam hati.


Revan yang sedari tadi memperhatikan Andini, dia merasa adanya ketertarikan pada gadis yang dirasa tak tahu sopan santun itu. Bahkan Andini melewati Revan begitu saja tanpa melihatnya sekejap pun dan pergi meninggalkan pelajaran Pak Andi.


"Ok, Revan kamu boleh duduk di bangku belakang yang kosong itu. Dan kita mulai pelajarannya. Sampai di mana kita minggu kemarin?" Kata Pak Andi memulai pelajarannya.


Revan pun duduk di bangku sebelah Andini. Dia sudah menyangka akan sebangku dengan wanita yang sedang tidur tadi. Karena memang tidak ada bangku kosong lagi.


"Hmmm... sial sekali harus duduk di bangku paling belakang mana di pojok lagi huhh." Revan bergumam.


🌸🌸🌸


"Ahhhhhh...." Andini mendesah panjang tanda mencapai klimaksnya.


Seketika dia membuka mata dan tersadar dari mimpinya.


"Sial. Mimpi seperti ini lagi." Umpat Andini yang selalu bermimpi sedang mantap-mantap :).


Andini dengan kondisi masih terlentang di atas matras, dia seperti kelelahan karena mimpinya terasa begitu nyata membuatnya kenikmatan sekali. Seragamnya pun acak-acakan, dengan kancing terbuka memperlihatkan gunung kembarnya yang begitu besar dan indah terbungkus bra warna hitam yang terlihat kecil untuk ukuran payudaranya sehingga bra yang di kenakan Andini yang seolah tak mampu menampung payudaranya bagitu sangat menggoda begitu juga dengan rok yang terangkat yang memperlihatkan pahanya yang begitu putih mulus tanpa noda, dia mengenakan celana dalam yang warnanya senada dengan warna bra nya yang membuat kontras dengan warna kulit putihnya. Tak ketinggalan tangan kiri Andini yang sedari tadi mengelus-ngelus payudaranya dan tangan kanan di masukan ke dalam celana dalamnya yang sedari tadi sudah banjir oleh cairan cintanya sendiri.


Dengan nafas yang terengah-engah, Andini mencoba bangun dan...


Bruk


Bersambung.... :)


Terimakasih readers 😻🌸


Jangan lupa pencet πŸ‘πŸ‘