
Cukup lama mereka berpelukan, sampai Andini tak terasa tertidur dalam pelukan Alex. Alex yang tak ingin Andini terbangun, dia mencoba untuk bersandar pada tempat tidur Andini agar dia pun bisa tertidur.
Alex dan Andini pun terlelap dalam tidurnya masing-masing.
πΈπΈπΈ
Andini membuka matanya pelan, dia baru tersadar bahwa dia semalaman tidur dalam pelukan Alex. Ada perasaan sedih yang dia rasakan, bayangan Revan langsung terlintas dalam benaknya. Andini seperti telah mengkhianati Revan, walaupun tak terjadi apa-apa antara dia dan Alex semalam namun tetap saja intinya mereka tidur bersama.
Andini langsung bangkit dan pergi ke kamar mandinya, dia mandi dengan kucuran air dari shower yang mengalir ke seluruh tubuhnya.
Apa-apaan aku, kenapa aku seperti ini. Seperti di film-film saja melakukan hal seperti ini karena semalam telah terjadi apa-apa padahal tak ada apa-apa antara aku sama Alex. Andini.
Andini bergegas menyelesaikan mandinya. Sementara Alex kini sudah terbangun dan melihat Andini sudah tak ada di dekatnya. Alex mendenger suara air mengalir. Sepertinya Andini sedang mandi, fikirnya.
Alex bangkit dan dia berjalan keluar kamar menuju kamar tamu yang ada di samping kamar Andini. Lalu Alex pun mandi.
Tak lama Andini pun keluar dari kamar mandi dan mendapati Alex sudah tak ada lagi di kamarnya.
Mungkin Alex lagi mandi di kamar mandi sebelah. Andini.
Andini pun memakai seragamnya dan hari ini dia membiarkan rambut panjangnya tergerai rapi. Dia melihat pantulan dirinya sendiri dari kaca.
Kamu memang selalu cantik seperti biasanya. Andini tertawa sendiri dengan apa yang di katakannya dalam hati.
Tuk tuk tuk tuk.....
"Apa bi. Bentar lagi aku turun." Andini berfikir bi Inah mengetuk pintu karena sarapan telah siap. "Tak seperti biasanya Bibi ngetuk pintu."
"Ini aku Alex, Din." Ucap Alex pelan namun terdengar jelas ke dalam kamar Andini.
Oh ternyata Alex. "Iya bentar, Lex." Andini pun keluar dia melihat Alex berseragam sekolah. "Loh kok kamu udah pakai seragam?"
"Iya ini seragam yang kemarin, masih sedikit basah sih cuma gak apa-apa lah nanti di sekolah juga ganti, aku udah nelpon Arfan."
Andini mengangguk. "Kalo gitu yuk turun kita sarapan dulu."
Mereka berdua pun turun menuju meja makan. Andini duduk di tempat biasanya dan Alex duduk di sampingnya.
Terlihat menu sarapan hari ini adalah nasi goreng dengan telur mata sapi dan segelas susu putih hangat.
"Wah Bibi tahu aja aku laper, jadi gak akan kenyang kalo sarapan cuma roti." Andini tersenyum pada bi Inah. "Ayo Lex kita makan."
"Iya, Non sengaja bibi bikin nasi goreng, Non sama Mas Alex kan semalem gak makan malem."
Iya juga ya, gara-gara ka Mira. Again! Andini.
Andini dan Alex telah selesai menyantap habis sarapan mereka. Kemudian mereka berjalan keluar rumah untuk berangkat sekolah.
"Kita naik motor aku yah, Din." Ajak Alex yang sudah menaiki motornya.
Kalau aku sama Alex nanti Revan pasti nunggu aku di toko roti ibunya, gimana kalau dia lihat aku boncengan sama Alex. Andini.
Andini menggelengkan kepalanya. "Engga ah aku naik bus aja yah, nanti kita ketemu di sekolah."
"Yahh ayolah Din kapan lagi kita kaya dulu, yuk biar aku ada waktu buat ganti seragam dulu." Bujuk Revan sambil memakai helm fullfacenya.
"Yaudah deh." Andini pun naik ke atas motor Alex.
Semoga Revan engga lihat dan engga nungguin aku. Andini.
Karena motor Alex motor gede, maka Andini memeluk tubuh Alex. Motor melaju dengan kecepatan sedang.
Andini melihat toko roti ibunya Revan belum buka, padahal biasanya Revan sedang merapihkan kursi dan meja yang ada di luar.
"Kamu lihatin apa Din." Ucap Alex pelan karena suaranya tertahan helm fullfacenya.
"Hah.. Apa Lex?" Andini mendekatkan kepalanya dan bersandar di pundak Alex.
"Engga Din. Kamu pegangan aja takut jatuh."
πΈπΈπΈ
Vivian menatap jalanan lewat kaca dari dalam bus yang ia tumpangi. Setiap hari selalu sama baginya, sendiri lagi sendiri lagi.
Tiba-tiba mata Vivian terbelalak saat melihat Andini dengan Alex boncengan, dengan Andini yang meluk Alex.
Aku gak salah lihat kan tadi? Gosip terhangat nih. Apa mereka bakal jadian atau udah jadian? syukur deh peluang aku sama Revan akan terbuka lebar. Vivian.
πΈπΈπΈ
Andini dan Alex telah tiba di sekolah, tentunya semua mata tertuju pada mereka berdua. Dan gosip akan dengan mudah tersebar.
Andini langsung turun. "Aku duluan ke kelas yah.. Dah." Andini langsung berlari meninggalkan Alex.
Alex membuka helmnya, pasti mau nemuin si anak baru itu, cihh.. gosip akan cepat tersebar Din dan si anak baru itu bakalan sadar diri. Alex.
Andini telah sampai di kelasnya dan dia tidak melihat Revan. Padahal sebentar lagi pelajaran pertama di mulai.
Andini segera berlari keluar kelasnya, langkah kakinya menuju ke arah perpustakaan. Dia menyusuri setiap rak dengan langkah terburu-buru, dan hasilnya Revan tidak ada disana.
Andini sejenak berfikir dimana kemungkinan Revan berada, di ruangan pribadinya tidak mungkin, karena kucinya ada pada Andini.
"Atap..." Andini berfikir. "Ya benar Revan pasti di atap." Andini pun berjalan dengan lebih santai karena begitu yakinnya Revan ada sana.
Dan ketika Andini sampai di depan pintu menuju atap sekolahnya ternyata pintu itu masih terkunci.
Ahh benar kenapa aku sampai gak berfikir jernih. Pintu atap kan selalu di buka pas jam istirahat pertama. Terus Revan dimana, gak biasanya dia datang siang. Hmm... sebaiknya aku kembali ke kelas siapa tahu Revan baru sampai. Andini.
Teeeeettttttt......
Suara bell berbunyi, jam pelajaran pertama di hari sabtu akan di mulai. Andini makin mempercepat langkahnya. Setelah sampai di kelasnya, ternyata masih saja dia tak melihat Revan.
Revan kamu kemana sih.... Apa kamu sakit gara-gara kehujanan kemarin. Andini.
Pelajaran pertama terasa sangat lama bagi Andini. Dia terus melihat ke arah kursi Revan, hatinya masih khawatir tentang kondisi Revan yang tak ia ketahui.
πΈπΈπΈ
"Uhukk... uhuukk... bu aku sekolah aja ya, cuma batuk pilek biasa ko." Pinta Revan pada ibunya.
"Gak boleh, kita ke dokter nanti siang. Lagian ibu udah liburin dulu karyawan toko ibu." Kata ibu Revan sambil mengompres kepala Revan.
"Tapi bu....."
"Udah kamu jangan khawatirin Andini, dia pasti ngerti kok kalo misalkan kamu sakit kan kemaren kalian berdua kehujanan." Jelas Ibu pada Revan. Revan hanya diam dan menurut apa kata ibunya.
Bersambung... :)
Terimakasih readers ππΈ
Jangan lupa pencet ππ biar aku semangat updatenya π
Bantu vote juga ya π»