
Besok minggu, makin susah aja aku supaya bisa ketemu Revan. Sabtu yang panjaaaang, hari minggu akan lebih panjaaaaaaaang lagi. Aaaaaaaa membosankan. Andini membenamkan wajahnya dengan bantal.
πΈπΈπΈ
Pukul 07.00 malam Andini baru selesai menghabiskan makan malamnya. Selalu sendiri di meja makan. Ntah kapan terakhir kali ia bertemu dengan sang ayah, padahal mereka tinggal dalam satu atap. Dan ntah kapan terakhir kali dia mengobrol dan saling berbagi curahan hati dengan kakaknya.
Andini telah mengurung diri di kamarnya di hari sabtu malam. Malam panjang yang biasanya para remaja habiskan untuk bermain dan bersenang-senang bersama teman sebayanya.
Andini duduk di kursi meja belajarnya, dia membuka laptop dan menghidupkannya.
Derrtttt.... Derrttttt....
Ponsel Andini bergetar, nomor ponsel tak di beri nama itu muncul di layarnya. Alex. Andini masih ingat betul dengan nomor itu, nomor yang sama dengan yang menelponnya siang tadi.
βββ
Andini : Ada apa, Lex?
Alex : Kamu belum menyimpan nomer aku yah? kenapa kamu gak lihat story whatsapp aku?
Andini : (Ya ampun aku sampai lupa menyimpan nomor dia) Udah ko. Iya aku ga mainin hp soalnya banyak ponakan aku di sini sampe lupa ngecek hp sendiri.
Alex : Oh.. kamu jadi nginepnya.
Andini : Hmmm... jadi ada apa Lex?
Alex : Ya gak apa-apa emang aku gak boleh ya nelpon kamu, dulu juga kita sering telponan sampe tengah malem kalo malam minggu.
Andini : (Iya aku juga gak lupa semua masa lalu kita, cuma aku juga gak bisa bohongin perasaan aku sekarang ini. Semua fikiran aku lagi benar-benar di penuhi sama Revan. Apalagi aku benar-benar gak tahu keadaan dia sekarang). Iya Lex cuma kan aku lagi di rumah tanteku masa iya aku gak ikut kumpul keluarga.
Alex : Atau aku kesana aja ya Din.
Andini : Gak usah Lex. Udah dulu ya, aku mau balik lagi ke ruang keluarga, bye.
Alex : Din.....
Sambungan telpon mereka pun terputus.
Andini meletakan kembali ponselnya, dia kembali fokus pada layar laptopnya, terlihat disana foto keluarga yang di jadikan wallpaper di laptopnya.
Tangan Andini mengusap layar, kerinduan akan kehangat keluarganya yang dulu mulai kembali ia rasakan. Semenjak kepergian ibunya, dia tak banyak bicara dan mengobrol dengan kakaknya apalagi dengan ayahnya. Bahkan dia belum sempat menanyakan penyebab perceraian orangtuanya beberapa jam sebelum ibunya meninggal di tangan para pemuda yang mabuk di jalanan itu.
Andini membuka folder dokumentasi keluarga, banyak sekali foto kenangan disana. foto ayah dan ibu, foto kak Mira, foto mereka sedang liburan dan berbahagia dari foto tahun ke tahun.
Dia juga membuka folder dokumentasi bersama Alex. Sedekat itu mereka dulu. Setahun memang bukan waktu yang singkat. Akan banyak kenangan-kenangan yang mereka lakukan dulu. Pendekatan yang cukup lama tak disangka Andini akan berakhir seperti ini. Mengapa dirinya mudah sekali membiarkan laki-laki baru masuk di hidupnya sedangkan dia masih mengharapkan Alex. Ya itu lah yang Andini fikirkan sebelum mengutarakan kenyamanannya jika bersama Revan.
Apa aku bisa disebut jahat jika seperti ini. Dulu aku dekat dengan Alex sampai suatu peristiwa terjadi di hidupku yang merenggut kebahagiaanku, tanpa alasan jelas aku menjauhi Alex. Dan disaat aku membutuhkan waktu untuk menceritakan semua pada Alex, Revan masuk di kehidupanku memberi warna baru. Sekarang setelah aku bisa menceritakan alasanku menjauh lalu Alex memaklumi semua yang terjadi, aku malah menemukan kenyamanan bersama Revan. Sejahat itu kah aku. Andini.
Perasaan apa pun yang di rasakan takkan bisa di cegah. Akan selalu ada hati yang tersakiti bila cinta segitiga telah terjadi, dan hal itu tak akan pernah bisa di hindari. Biarkan semua mengalir seperti yang diinginkan takdir.
Andini menarik nafas panjang, kehadiran Revan memang membawa warna baru di hidupnya. Tapi dia pun tak ingin menyakiti Alex, dia tak bisa berbohong setahun kebersamaannya dengan Alex pun penuh warna.
Andini beranjak menuju tempat tidurnya, dia membaringkan tubuh dan menenggelamkannya di bawah selimut.
πΈπΈπΈ
"Minum dulu obatnya, terus kamu tidur ya." Ucap Ibu Revan sambil memberikan obat.
"Iya boleh besok hari minggu kok biar kamu leluasa di sekolahnya." Jawab ibu Revan sambil tersenyum.
"Aishhh sampai lupa hari, aku boleh sekolah hari apa sih bu?"
"Selasa! makanya kamu harus banyak istirahat jangan ngocehh terus." Ibu Revan mencubit gemas pipinya.
"Bu aku seharian tiduran terus, bosan bu." Rengek Revan.
"Ibu tahu kamu pengen ketemu Andini, jangan ngerengek-rengek gitu nanti ibu bilangin kamu itu manja."
"Ahhh ibu..."
"Kamu telpon dong, kamu anak jaman sekarang kok jarang banget aktif di sosial media, mainin hp." Ucap ibu Revan.
"Iya itu masalahnya, aku lupa minta nomor ponselnya." Revan cemberut.
"Aishh gimana sih, yaudah kamu tidur aja lah istirahat. Nanti senin ibu kasih tahu, pas Andini berangkat sekolah."
"Bener yah bu, pinta nomor hp nya." Ucap Revan bersemangat.
"Iya, udah sekarang kamu tidur yah demam kamu belum turun tuh karena kamu kebanyakan bicara." Ibu Revan menyelimuti Revan dan keluar dari kamarnya.
Andini.. rindu sekali aku. Kamu lagi ngapain yah, apa kamu gak nyariin aku. Revan pun terlelap.
πΈπΈπΈ
Matahari pagi menyinari, masuk lewat jendela kamar Andini. Andini terbangun dan menyipitkan matanya. Dia mengumpulkan seluruh nyawanya untuk menghadapi hari minggu panjang dan membosankan kembali.
Aishhhh.... aku mau ngapain hari ini. Ah ya ke danau. Andini.
Andini bersiap untuk pergi ke danau pagi itu, sudah di pastikan akan sangat ramai di sana. Jadi dia tak akan merasa bosan.
πΈπΈπΈ
Nah benar kan ramai, emmm aku belum sarapan. Mending jajan apa ya.... Andini.
Andini melangkahkan kakinya ke tempat jajanan. Dia memilih untuk membeli soto ayam. Lama dia menghabiskan makanannya disana sendiri.
Coba kalau ada Revan. Dia ingin sekali kan di ajak ke danau ini.. Nah kan inget Revan lagi. Andini.
Andini melihat ke arah kanan dan kirinya, bola matanya mengitari sekitar. Di dalam kesendirian dia merasakan kesepian. Berharap dalam keramaian merasa lebih bahagia namun malah merasa lebih kesepian. Melihat orang-orang yang menikmati car free day disana berpasangan dan dengan keluarga membuat batin Andini tersiksa. Dia mencoba menyibukan diri dengan ponsel dan earphonenya.
Andini berjalan ke arah danau, dia duduk di tepinya tepat di bawah pohon rindang. Menikmati pemandangan di depannya dengan lagu-lagu yang di dengarkan.
"Hey." Suara laki-laki yang datang menepuk pundak Andini lalu duduk di sebelahnya.
Andini menoleh. "Ehh Arfan?" Andini terkejut melihat kedatangan Arfan, matanya tak berhenti melihat ke belakang Arfan, dia takut Alex pun ada disana.
Bersambung... :)
Terimakasih readers ππΈ
Jangan lupa pencet ππ biar aku semangat updatenya π