
Engga, Lex maaf ya aku udah ada janji sama Revan." Andini melihat Revan, Revan balas menatapnya. Dia sendiri tidak tahu ada janji apa dengan Andini. Namun Revan tahu bahwa Andini hanya mencari alasan agar menghindar dari Alex. Akhirnya Revan pun menganggukan kepala.
"Kalau gitu kita duluan pulang ya, sampai jumpa besok." Andini sekilas tersenyum pada Alex dan berlalu meninggalkannya bersama Revan.
Langkah mereka telah sampai di halte sekolah seperti biasa. Revan sebenarnya sangat ingin bertanya perihal masa lalu seperti apa antara Andini dan Alex. Tapi rasanya Revan telah putus asa sebelum mencoba. Andini tak akan sedikit pun berbicara dan tak akan memberi informasi apa pun padanya.
Mana mungkin Andini mau menceritakan masa lalu yang dia alami bersama Alex pada dirinya yang belum lama ia kenal. Diajak berteman pun rasanya susah. Fikir Revan.
"Oh iya, Din aku mau nanya sama kamu." Revan mengurungkan niat untuk bertanya perihal masa lalu Andini, kini ia berniat untuk bertanya soal janji dengannya yang ia katakan pada Alex tadi.
"Apa? Kalo kamu mau bertanya ada apa aku sama Alex di masa lalu. Aku dengan sangat jelas dan lugas tak mau menjawabnya." Andini menatap mata Revan dengan tatap yang begitu tajam, namun Revan menangkap 2 sorot mata yang mengisyaratkan berbeda. Seperti ada beban didalamnya.
Nah kan baru di pancing kaya gitu aja hmmmm, oke aku akan pakai cara yang lebih halus supaya kamu perlahan-lahan mau bercerita dan percaya padaku. Revan.
"Bukan lah, aku juga gak berniat mau nanya itu ko." Tapi bohong. "Aku tahu semua orang punya masa lalu entah itu indah atau sebaliknya. Aku juga tahu tentang privasi seseorang untuk menutup kenangan masa lalu yang akan membuatnya mengingat kembali, mungkin saja akan kembali membuka luka yang sudah sembuh. Aku tahu tentang batasan dimana aku bisa tahu atau tidaknya tentang masa lalu kamu tergantung pada kamu akan bercerita sampai mana."
Revan menarik nafas dalam-dalam. "Jangan kamu memendam kesakitan yang berujung pada kamu yang jadi menutup hati untuk orang baru. Orang baru mungkin akan asing untuk kamu. Tapi setidaknya kamu punya pendengar atas beban-beban kamu. Jangan menganggap kamu bisa melewatinya sendiri, aku tahu kamu wanita kuat tapi berbagi cerita setidaknya akan mengurangi masalah walau tak dapat menyelesaikan masalah. Setidaknya itu yang aku tahu."
Andini sedikit tersentil hatinya dengan kata-kata yang Revan ucapkan. Semuanya benar. Dia memang sangat butuh seseorang untuk cerita bukan malah berdiam diri dan menutup luka.
Andini sempat merenungkan apa yang harus dia lakukan nanti dari perkataan Revan barusan.
Dan terlintas lah Alex di fikirannya.
Kamu bener, Van. Aku gak sanggup menghadapinya sendiri. Tidak kah terlalu lambat untuk aku menceritakan semua yang terjadi pada Alex. Bisakan Alex memahami posisi aku dulu dan memaklumi perubahan aku sekarang. Apa Alex mau mendengarkan ceritaku. Apa tidak terlambat jika aku bercerita sekarang padanya. Andini.
"Tidak ada kata terlambat." Revan seolah tahu apa yang Andini fikirkan.
"Kita ibaratkan seperti halnya kamu mencintai seseorang tapi kamu sama sekali tak ingin mengungkapkannya. Kamu hanya memilih mencintai dalam diam. Apa resikonya? Cinta kamu tidak terbalas kan? Cinta kamu bertepuk sebelah tangan. Benar kan? Bukan karena dia tak menyukaimu tapi dia tidak tahu tentang perasaanmu. Memang jika kamu mengungkapkan perasaan akan ada 2 kemungkinan. Terbalaskan atau terabaikan. Jawaban adalah hal terakhir yang tak harus kamu pusingkan di awal karena itu akan terus membuat kamu takut dan ragu jika hasilnya jauh dari ekspektasi kamu. Setidaknya jangan terlambat untuk bicara. Jangan sampai kamu menyesal. Dan akhirnya cinta itu terpendam bertahun-tahun tanpa orang yang kamu sukai tahu tentang perasaan kamu. Bahkan sampai orang yang kamu cintai meninggal dunia, kamu belum juga mengungkapkannya. Dan itulah penyesalan puncak yang akan kamu sesalkan." Revan terus berbicara berharap Andini bisa terbuka dan bercerita semua yang ia sembunyikan lewat sorot matanya yang indah itu.
Andini benar-benar terdiam. Tak tahu harus berkata apa pada Revan, karena semua yang dia katakan benar adanya. Revan seolah tahu betul apa yang ia rasakan.
Andini mulai menimbang semua perkataan Revan. Dia harus mencari seseorang untuk dia bercerita setidaknya mungkin dia akan lebih tenang dan mendapatkan masukan untuk langkah apa yang harus ia lakukan.
Tak lama bus mereka pun telah datang. Di perjalanan pulang belum ada lagi percakapan dari mereka.
Sampai seperti biasa Revan memecahkan keheningan diantara mereka.
"Din, aku mau nanya nih." Menoleh pada Andini.
"Apa? Mau tanya apa?"
"Tadi waktu kita di depan kelas kamu bicara sama Alex udah ada janji sama aku, emang kita mau kemana?" Akhirnya setelah tadi niatnya ingin berkata itu tapi malah terlupakan akhirnya baru ia tanyakan sekarang.
"Tadi katanya kamu mau bawa aku ke toko roti ibu kamu, sekarang malah nanya lagi. Kalo gak jadi juga gak apa-apa."
"Kalo gratis aku mau." Dengan santai Andini menjawab seperti itu.
"Oh, tentu gratis untuk satu roti setelah itu kamu bisa ke kasir." Revan tertawa dan Andini pun tersenyum.
Akhirnya mereka berdua sampai di halte pertama. Andini mengikuti langkah Revan yang akan membawanya ke tempat ibunya.
Toko roti ibu Revan tak jauh dari halte hanya memerlukan waktu 5 menit dengan berjalan kaki.
Mereka berdua telah sampai di depan toko roti milik ibunya Revan tersebut.
"Nah ini tempatnya, Din." Andini hanya menganggukan kepalanya.
Oh jadi ini, tapi ko kemaren aku gak liat ya.
Andini.
"Kenapa? Kamu baru liat sekarang ya?" Andini kembali menganggukan kepalanya.
"Emang toko roti ini baru buka 2 hari yang lalu, aku juga kan belum lama pindah ke kota ini. Tapi harusnya kamu tahu sih kan kamu sering lewat jalan sini kalo mau berangkat atau pulang sekolah kan?"
"Ko kamu tahu sih?" Andini terheran.
"Aku setiap pagi pasti bantu ibu aku dulu di toko begitu juga kemarin kenapa pulang sekolah aku turun di sini karena di rumah gak ada siapa-siapa jadi aku mending bantu ibu sampai toko tutup." Revan menatap Andini. "Jadi mulai besok kita bisa berangkat sama pulang sekolah bareng." Andini menoleh pada Revan dan Revan tersenyum.
"Revan, sayang kenapa kamu malah berdiam disana, ayo kemari." Dari kejauhan tampak seorang wanita cantik dengan rambut cepol dan berkacamata.
"Tuh, Din itu ibu aku. Cantik kan? Awet muda lagi. Kaya aku juga bakal awet muda." Revan terus tertawa.
Wah benar ibunya Revan memang terlihat awet muda seperti masih berumur 30an. Andini.
"Ayo kita kesana. Ibu aku udah manggil." Menarik tangan Andini agar berjalan.
"Eh... bentar-bentar. Emang ibu kamu umur berapa sih?" Menahan Revan sampai langkah mereka terhenti.
"Emm..... Berapa ya.... Kamu tanyain aja sama ibu aku yaa." Revan tersenyum pada Andini dan berjalan kembali untuk menghampiri ibunya.
Bersambung.... :)
Terimakasih readers 😻🌸
Jangan lupa pencet 👍👍 Biar aku tambah semangat up nya 😍