
Andini dan Revan terus berjalan melewati semua tatapan-tatapan itu dengan senyuman.
Vivian yang sedang berada di depan kelasnya pun tak luput dari pemandangan yang semua mata tertuju pada objek tersebut. Pandangan Vivian terus tertuju pada Andini dan Revan bergantian.
Andini dan Revan melewati Vivian begitu saja. Sebuah senyuman di lemparkan Andini padanya. Sontak pemandangan langka setelah 2 bulan. Yang membuat Vivian terpaku mematung. Lantas yang membuat sakit hatinya adalah pandangan mata Revan yang tak hentinya tersenyum pada Andini.
Semua orang normal pasti akan menganggap mereka adalah pasangan kekasih yang sangat cocok.
Bell tanda masuk berbunyi, semua murid masuk ke kelasnya masing-masing termasuk Andini dan Revan yang mempercepat langkahnya.
Revan terus memperhatikan Andini yang serius menyimak pelajaran yang sedang berlangsung itu. Tak ada coretan-coretan yang tak penting dalam buku Andini. Andini benar-benar terfokus belajar. Masih dengan wajah yang ceria.
Pelajaran pertama telah usai, waktu memang sangat terasa singkat jika kita menikmatinya. Bahkan Revan tak menyadari bahwa pelajaran telah selesai. Dia masih saja bertanya-tanya perihal Andini hari ini.
"Hey, Van bengong aja, ngeliatin apaan?" Kata-kata Andini berhasil mengembalikan fikiran Revan yang terus berlarian mencari jawaban atas pertanyaannya.
"Engga, Din. Eh udah selesai ya, perasaan cepet banget ya sekarang." Revan mencoba untuk santai dan menjawab pertanyaan Andini.
"Hmm... sekarang mau keliling kemana?" Tanya Andini yang membuat Revan benar-benar kebingungan akan sikap Andini padanya hari ini.
"Bener kamu mau ajak aku keliling lagi?" Revan mencoba memastikannya.
"Iya tapi kalo kamu gak mau gak apa-apa sih, aku mau ke ruangan pribadi aku aja."
"Ya mau lah Din, ayo. Tapi kamu aja ya tentuin tempatnya." Ucap Revan pada Andini.
"Ya tempatnya udah jelas sekolah dong, emang mau di mana lagi. Yang namanya keliling ya kita jalan-jalan sambil lihat-lihat aja Van."
"Maksud aku kita kan pas keliling enggak terus-terusan jalan ada berhentinya, nah aku pengen tempat yang enak aja gitu buat ngobrol." Andini berfikir sejenak.
Sempat terlintas di fikirannya untuk membawa Revan ke atap sekolah. Itu adalah salah satu tempat favorit Andini.
"Kita ke perpus aja lagi, kemaren kan kita lagi nyari buku yang kamu mau tapi belum ketemu gara-gara ada Vivian." Andini beranjak "Kita ke perpus aja lagi ya."
Revan sedikit kecewa karena Andini memilih perpustakaan. Bukan karena apa, hanya saja Revan berfikir jika mereka di perpustakaan maka tak akan ada banyak obrolan diantara mereka.
Namun pada akhirnya Revan mengiyakan usulan Andini yang mengajaknya kembali ke perpustakaan. Revan pun beranjak. Dan mereka berdua berjalan menuju perpustakaan.
🍀 A3 POV
"Lex, kamu denger gak gosip anak-anak cowo yang bicarain soal Andini tadi pagi." Tanya Alvin pada Alex. Alvin memang selalu menjadi pembuka obrolan diantara ke tiganya.
"Waduh kompor mulai nih." Arfan kembali dengan hobinya yang selalu meledek Alvin. Alvin tak menggubris Arfan, dia hanya mengacungkan jari tengahnya. Mereka berdua pun tertawa.
"Ada gosip apa emang tadi pagi?" Alex mulai penasaran dengan ucapan Alvin terlebih jika menyangkut Andini.
"Gue denger-denger sih Andini kembali." Jawab Alvin.
"Maksud loe kembali, kembali apanya? kembali dari mana?" Arfan membalas jawaban Alvin dengan pertanyaan-pertanyaan.
"Makanya dengerin dulu. Tadi mereka-mereka bilang bahwa tadi pagi Andini udah kaya dulu lagi. Mulai dari penampilan yang lebih rapi dari kemaren-kemaren, terus rambutnya yang terikat rapi sampe anak-anak lain merhatiin leher Andini yang jenjang itu, rambutnya yang kemaren acak-akan yang seolah menutupi kecantikannya itu udah terhempaskan Lex. Apalagi katanya Andini kembali menebar senyuman, seperti kembali menyuntikan energi di SMA Star Vision kaya dulu. Pokonya Andini yang dulu, udah kembali. Dan kayanya gue tebak dia juga akan kembali sama loe, dan loe Lex bisa ngungkapin perasaan loe yang udah loe simpen selama ini." Alvin menjelaskan secara rinci apa yang dia ketahui, dia juga mencoba membangun semangat Alex untuk kembali pada Andini.
Alex beranjakn dari tempat duduknya. "Gue mau ke kelas Andini, awas loe Vin kalo bohong.
"Beneran." Alvin menjawab dan dia pun langsung beranjak. "Yo gue anter. Loe gak mah ikuf Fan?." Alvin tak lupa mengajak Arfan.
Mereka bertiga berjalan menuju kelas Andini untuk menemuinya. Namun ternyata mereka berpapasan. Alex melihat Andini yang tengah berjalan bersama Revan.
Lagi-lagi si anak baru. Alex.
Berhentinya Alex seperti mengisyaratkan pada Alvin dan Arfan bahwa kemarahan tengah menyelimuti Alex yang melihat pemandangan di depannya yang pasti membuat sakit hatinya.
"Inget Lex jaga emosi loe, jangan sampe kemarahan loe lagi-lagi mukul si anak baru dan membuat takut Andini." Arfan mencoba meredam kemarahan Alex.
"Iya Lex loe harus ngomong baik-baik sama Andini. Bawa Andini ngobrol ke tempat yang jauh. Biar urusan si anak baru gue sama Arfan yang ngatur, supaya dia gak ganggu loe sama Andini." Alvin ikut mencoba meredam kemarahan Alex.
Dan kini Alex terlihat lebih rileks. Langkah Andini pun makin mendekat padanya.
Andini yang sedari tadi memang telah mengetahui kehadiran Alex di depannya. Namun dia tetap bersikap tenang namun tidak dingin seperti kemarin-kemarin.
Andini melewati Alex dengan senyuman yang ia lemparkan padanya. Senyuman yang membuat Alex rindu akan canda tawa mereka seperti dulu.
"Din, tunggu." Sebuah suara yang menghentikan langkah Andini dan juga Revan. Andini menoleh dan kembali tersenyum pada sumber suara itu.
Alex menghampirinya. "Din, ada yang mau aku omongin sama kamu. Berdua." Alex melirik Revan. Dan Revan tak bergeming. "Bisa? ke tempat biasa kita ngobrol. Sekarang?"
Andini belum menjawab pertanyaan Alex, dia melihat pada Revan. Namun Andini melihat raut wajah tak bahagia dari Revan.
"Gimana?" Alex memastikan karena belum juga ada jawaban dari Andini.
Andini sebenarnya ingin menolak tawaran Alex karena melihat wajah Revan yang seperti tak suka momen itu. Disisi lain juga dia masih mau menghindar dari Alex. Dan dia juga takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan pada Revab seperti waktu itu.
Alex menangkap sorot wajah khawatir dalam diri Andini. "Tenang aja, si anak baru bisa di temenin sama Alvin sama Arfan kok kalo sekedar mau keliling sekolah."
Mendengar jawab itu Arfan dan Alvin langsung mengetahui tujuan Alex. "Iya Din tenang aja selama ada kita."
Andini menatap Revan. "Van, bentar yah aku mau ngobrol dulu sama Alex. Kamu mau nunggu dulu di sini sama Alvin dan Arfan? Atau kamu duluan ke perpus juga gak apa-apa nanti aku langsung nyusul."
Revan hanya mengangguk. Sebenarnya tak merelakan Andini bersama Alex.
Andini dan Alex pun berjalan ke tempat mereka biasa ngobrol dahulu. Meninggalkan Revan, Alvin dan Arfan.
Kini langkah mereka telah sampai. Kursi yang tepat di bawah pohon besar yang berada di belakang sekolah adalah tempat biasa mereka.
Bersambung... :)
Terimakasih readers 😍🌸
Jangn lupa pencet 👍👍 biar aku semangat updatenya 😍