Come & Hug Me

Come & Hug Me
< BERDARAH >



Andini yang sebelumnya berniat untuk membuat Vivian kesal dan cemburu malah merasakan perasaan nyaman memeluk Revan. Seolah kata 'sebentar' tadi ingin ia ubah menjadi 'selamanya'.


🌸🌸🌸


"Lex.. Lex.. gawat..." Ucap Alvin terlihat panik.


"Loe rileks dulu baru cerita." Arfan mencoba menenangkan Alvin.


"Tadi gue kan lagi nyari anak baru itu kan. Huhh... huhh... Dan ternyata bener si anak baru itu sekelas sama Andini. Yang lebih parahnya nih, tapi loe jangan langsung emosi Lex... tadi.... gue liat si anak baru sama Andini di kelas berduaan lagi ngobrol gitu sambil makan bareng. Emm... gue juga liat Andini menyuapi si anak baru tengil itu. Gue baru liat Andini kaya gitu setelah sikapnya berubah jadi Ansos pas ajaran baru kelas XII dimulai."


"Apaaah?" Arfan yang terkejut refleks mendengar cerita Alvin.


Alex kini tersulut api emosi yang membuatnya menggebrak meja dan beranjak keluar kelas.


"Loh, Lex mau kemana? kita kan gak boleh gegabah. Lagian kita belum ada rencana apa-apa buat ngasih pelajaran si anak baru itu." Alvin mencoba mencegah. Namun dia tak bisa hentikan langkah Alex yang sedang naik pitam itu yang di susul oleh Arfan.


"Untung bukan Vivian gue yang berduan sama anak baru itu." Ucap Alvin pada Arfan, namun sama sekali tak dihiraukan.


Sesampainya di kelas XII D Alex langsung masuk. Arfan mendapati Vivian juga ada di dalam kelas itu, walau posisi Vivian hanya diam mematung di depan kelas.


"Haha... kamu bisa lihat sendiri, Vin sepertinya Vivian mu kesini mau nyamperin si anak baru itu, hahaha loe kalah." Ledek Arfan pada Alvin yang membuatnya kini menjadi emosi sama halnya seperti Alex.


Mata Alex langsung tertuju pada Andini dan Revan yang sedang berpelukan. Alex langsung mendekat ke arah Vivian di susul Arfan dan Alvin sementara Vivian masih mematung dengan perasaan sedih dan emosinya.


Kemudian Alex langsung menggebrak meja Andini. Sontak Andini dan Revan terkejut dan melepaskan pelukannya.


Alex memegang kerah baju Revan, agar Revan bangun dari kursinya.


Bughhh...


Pukulan mentah di layangkan oleh tangan kan Alex, yang membuat ujung bibir Revan berdarah sampai tersungkur jatuh. Revan tak berniat mengelak atau membasas perbuatan Alex.


Tak henti sampai disitu, Alex menendang perut Revan sekuat tenaga sampai Revan terbatuk-batuk dan meringis kesakitan.


Suasana di kelas masih tegang dan tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut mereka. Tak ada juga yang berniat untuk menghentikan perbuatan yang Alex lakukan pada Revan, termasuk Andini yang mematung melihat Revan yang di pukuli.


Alex mendekati Revan dan berkata "Jangan pernah coba-coba deketin Andini kalau loe masih mau sekolah disini." Ucap Alex yang langsung meninggalkan kelas itu dengan sedikit tinjuan pada pipi Revan.


"Dan loe juga jangan pernah biarin Vivian deket sama loe, ngerti kan maksud ucapan Alex. Kita ga pernah main-main." Tambah Alvin sembari menambah pukulan yang membuat ujung mata Revan memar.


Arfan hanya memandangi Andini dan Revan secara bergantian lalu kemudian menyusul Alex dan Alvin keluar.


"Udah, Vi kamu juga harus keluar, bentar lagi anak-anak lain bakalan kembali dari kantin."


Vivian mengikuti perintah Arfan, walau sebenarnya di dalam lubuk hati Vivian dia sangat ingin menolong Revan dan mengobati Revan.


Tapi apalah daya, tak ada yang bisa menghentikan kemarahan Alex. Vivian pun kesal kenapa Andini yang dekat dengan Revan tak mencoba menghentikan perbuatan Alex. Padahal Alex bisa saja berhenti dan menuruti perkataan Andini.


Andini melihat Revan yang masih meringkuk kesakitan, mencoba membantu Revan untuk bangun. Andini membawa Revan keluar berniat akan mengobati lukanya. Namun langkah kaki Andini buka menuju UKS melainkan ke ruangan pribadinya.


Revan yang menyadari itu hanya diam saja menahan kesakitan yang dirasakannya.


Setelah berada di dalam Andini mencoba membaringkan Revan di atas matrasnya. Kemudian Andini beranjak mengambil air mineral dan kotak obat dari dalam lemari.


"Seharusnya tak hanya matras yang aku ambil dari ruang olahraga, harusnya bantal juga harus aku ambil dari ruang UKS. Mana enak senderan di tembok gitu." Ucap Andini sambil duduk di pinggir matras menghadap pada Revan.


"Ya ampun.... kamu mengubah ruang kesenian gambar ini jadi ruang serba guna yaa." Ucap Revan pelan.


"Apa pun ku lakukan untuk ruangan pribadiku. Biar aku nyaman." Ucap Andini tersenyum bangga. "Ahh iyaa... kamu minum dulu nih."


"Aku akan obati luka kamu ya, tapi kamu harus diem, kalo sakit dikit tahan aja sebentar ya." Kata Andini sambil membuka kotak obat dan memulai mengobati luka Revan.


Sebentar...


Sebentar...


Revan membayangkan kata-kata itu sejenak. Yaa.. Andini tadi memelukku begitu saja setelah berkata sebentar, rasanya nyaman memeluk dia. Hatiku bahagia sebelum pukulan mentah melayang di pipiku. Tendangan di perutku juga masih terasa nyeri sampai sekarang. Tapi kini dia membuat ku senang sekali lagi, dia begitu perhatian mengobati lukaku ini. Makasih Andini ({})


Selesai mengobati Revan, Andini lalu menarik tangannya agar Revan dapat duduk tegak. Andini memeluk Revan dan tanpa sadar air matanya telah jatuh membasahi pipinya.


"Maaf ya Revan, semua ini gara-gara aku. Tadi kamu jadi bulan-bulanan si Alex. A3 emang udah keterlaluan. Dan bodohnya aku malah mematung gak berhentiin perlakuan mereka sama kamu." Andini mempererat pelukannya pada Revan.


Sakit yang di rasa Revan seolah hilang, terobati oleh Andini.


"Udah gak apa-apa ko." Ucap Revan yang masih memeluk Andini. Kini dia mengelus rambut Andini dengan kasih sayang.


Gila apa ini... perasaan apa ini.... Revan mengelus rambutku. ko aku bahagia sekali dibuatnya. Rasa nyaman memeluknya kembali muncul. Benar-benar ingin selamanya dalam pelukannya.


"Jadi sekarang gimana? Masih mau berteman sama aku? Tarohannya nyawa lo. Kamu pasti bakalan gak tenang karena terus di usik oleh mereka." Tanya Andini sambil mencoba melepaskan pelukannya.


"Wah sepertinya gadis di depanku ini adalah gadis yang istimewa karena ingin berteman saja harus merasakan pukulan dan tendangan seperti ini." Revan mncoba mencairkan suasana agar Andini tidak terus merasa sedih.


"Haha kamu, Van bisa aja. A3 emang dari dulu suka buat onar." Jawab Andini.


Revan langsung menarik Andini dan memeluknya "Apa? A3? siapa sih mereka?"


Andini yang masih ada dalam pelukan Revan menceritakan secara detail tentang A3. Tak ada tanggapan apa-apa setelah Revan mengetahui siapa mereka itu. Hanya terus memeluk Andini dalam kenyamanannya.


Beberapa saat Revan tersadar dan mencoba melepaskan pelukannya pada Andini dan bertanya "Ehh kita harus balik ke kelas, kayanya udah masuk deh."


"Udah.. udah mendingan kamu istirahat aja disini, lagian kita kan kelas D. Akademik yang gak begitu menonjol gak masalah toh kita masih punya kemampuan non akademik. Jadi biarin kita bolos sekali." Ucap Andini tersenyum girang. "Oh yaaa kamu menonjol di bidang apa? kamu gak usah nanya balik sama aku, udah ketahuan kan art is my fashion." Ucap Andini.


"Aku ini Atlet basket tau, masa gak bisa nebak dari postur tubuh ku yang tinggi dan sempurna ini. Malahan aku punya roti sobek, mau lihat?" Revan tertawa.


"Ternyata kamu yang mesum dasar. Ohhh ternyata Atlet toh." Andini tersenyum kecut meledek Revan.


Andini dan Revan terus ngobrol ngalor-ngidul diruangan itu.


Teeeettttttttt........


Bersambung... :)


Terimakasih reader 😻🌸


Jangan lupa pencet πŸ‘πŸ‘