Blooming At It's Time

Blooming At It's Time
⁹ Dilema dan Penawaran



Pagi ini Alora pergi ke kantor dengan perasaan lega, setelah menyelesaikan masalah bak drama beberapa hari lalu. Hari ini juga tidak terlalu banyak kunjungan yang harus dia lakukan. Sehingga hari ini terasa sangat sempurna, kecuali pengumuman tentang kriteria pengangkatan supervisor baru.


"Mereka benar-benar ingin kita gila! Target tahun ini aja dua kali lipat dari tahun kemarin. Sekarang harus naik 10% dari target? Wah, udah gila dunia! Udah lah! Gak peduli aku sama naik jabatan." Keluh seorang wanita cantik yang duduk di sebelah Alora.


Alora tidak banyak berkomentar soal kriteria pengangkatan supervisor baru tahun ini. Padahal, dia salah satu kandidat terkuat menurut desas-desus para staff. Walau pun Alora hanya lulusan SMA, tapi dia mampu mencapai target individu maupun tim. Bahkan sering kali melampaui target, walau pun belum 10%. Alora tidak banyak berkomentar, tapi percayalah, dalam benaknya dia sedang memutar otak untuk melampaui target tahunan lebih dari 10%.


"Aku angkat tangan, Al! Aku dukung kamu aja buat jadi SPV. Oke?" Wanita itu menepuk-nepuk bahu Alora pelan, memberi dukungan moral yang sangat berarti bagi Alora.


"Hahaha. Aku gak berharap. Mana bisa tercapai sebanyak itu?" Ujar Alora, mengikuti arus perbincangan dengan rekan kerjanya. Padahal dari lubuk hati yang terdalam, Alora sangat berharap bisa naik jabatan di kesempatan kali ini. Setelah sekian tahun dikecewakan, Alora berharap tahun ini impiannya menjadi kenyataan.


"Ku bilang juga apa? Yang ada kita gila!"


Alora tertawa menanggapi kalimat temannya, lalu dia permisi untuk pergi melakukan kunjungan. Padahal jadwal kunjungannya masih dua jam lagi, Alora hanya ingin kabur dari perbincangan itu. Dia baru saja hendak keluar ruangan, saat asisten manager timnya masuk.


"Al, ada dokter Kala..."


Alora lantas mengikuti langkah atasannya untuk bertemu dengan dokter Kala. Tidak ada pikiran aneh yang melintas di kepala Alora, hanya sebatas bertanya-tanya, kenapa Kala mendatangi kantornya secara pribadi. Padahal Kala tidak pernah sekali pun mengunjungi kantor Alora.


"Pagi, Alora! Saya mau bahas soal seminar bulan depan."


Ternyata hanya soal pekerjaan.


Pagi itu, Alora, atasannya, beserta Kala berbincang santai membahas seminar yang akan diadakan bulan depan. Karena kali ini Kala menjadi pembicara, secara khusus Alora menawarkan sponsor untuk mendukung acara seminar itu. Setelah hampir satu jam berbincang, Kala akhirnya pamit undur diri dari pertemuan itu. Berhubung Alora juga hendak keluar kantor, dia mengantar perjalanan Kala menuju parkiran sembari berbincang.


"Saya dengar di kantormu mau ada kenaikan jabatan ya?"


"Iya, dok. Tapi syaratnya agak berlebihan."


"Saya dengar harus 10% dari target tahun ini?"


Alora mengangguk dengan senyuman yang dipaksakan.


"Kamu berminat jdi SPV?"


"Hmm... Yah, berminat sih iya. Tapi saya gak berharap, dok... Syaratnya terlalu sulit."


Keduanya sudah sampai di parkiran, tepat di samping mobil Kala.


"Gak ada yang mustahil, Alora."


Alora tersenyum, berterimakasih atas kalimat penenang yang diucapkan Kala.


"Saya yakin kamu pasti sudah jadi kandidat. Tinggal penuhi syarat itu aja pasti kamu bisa jadi SPV."


Alora tertawa. Kala membuat harapannya yang sudah muncul semakin terbang tinggi. Sedikit banyaknya, membuat Alora semakin bersemangat untuk memutar otak demi mencapai target.


"Saya bisa bantu."


Lantas Alora menatap bingung pada Kala. Alora tidak tahu harus merespon bagaimana, karena dia sendiri tidak tahu apa maksud Kala.


"Saya jamin, kamu bisa mencapai lebih dari 10%. Tapi ada syaratnya."


Alora dan Kala saling menatap satu sama lain. Keduanya benar-benar sedang dalam mode serius.


"Syaratnya, kamu menikah dengan anak saya, Alden."


❖❖❖


Di sisi lain, Alden kini sedang berbincang lewat telepon dengan kekasihnya, Shella. Keduanya sedang dalam perdebatan yang hebat. Karena Alden yang tidak sengaja melihat Shella sedang bertukar pesan sayang dengan pria lain. Namun kini, yang disalahkan malah Alden.


"... kamu bahkan gak kabari aku seharian! Kamu yang gak peduli sama aku!"


"Shella! Waktu itu aku sakit!"


"Annual meeting, Shella! Aku udah kasi tahu kamu!"


"Terus kenapa? Kalau memang aku prioritas, kamu bakal balas pesanku. Udahlah, Al! Kamu memang udah gak sayang sama aku!"


"Loh, Shel! Aku lihat kamu sayang-sayangan sama pria lain loh!"


"Mana buktinya? Lagian kenapa kamu cek ponselku? Aku juga punya privasi!"


"Shel-"


"Udahlah, Al. Aku udah capek sama kamu! Kita memang gak bisa lanjut lagi! Aku mau kita putus!"


"Shella! Dengar dulu..."


"Kamu selalu bohong sama aku."


"Kamu yang bohong Shella! Siapa dia yang panggil kamu sayang?"


"Dia Direktur Utama perusahaan besar! Kenapa?! Mau apa kamu?"


"Astaga, Shella... Aku kurang apa sih buatmu?"


"Mana janjimu jadi Direktur Utama? Hah? Udah ya, Al. Aku gak ada waktu ngurusin kamu!"


Tuut... Tuut...


Alden melempar ponselnya ke atas meja kerja. Kepalanya sudah hampir pecah, belum lagi hatinya yang sudah kacau. Alden serasa hampir gila. Dia bahkan menendang sofa yang tidak bersalah. Dia berjalan mondar-mandir sembari mengusap wajahnya dengan kasar. Beruntung dia sadar, sedang berada di kantor. Kalau tidak, Alden pasti sudah berteriak sekencang-kencangnya.


Saat itu juga, terdengar seseorang mengetuk pintu ruang kerjanya. Alden mengira itu Kenzo, sehingga dia mengatakan kalau sedang tidak ingin diganggu.


"Nanti dulu, Ken!" Alden berseru dari dalam ruangan.


Tapi, seakan tidak mau mendengar, pintu ruang kerjanya dibuka begitu saja. Ternyata orang itu bukan Kenzo, melainkan Giri, Opanya sendiri. Alden segera mengatur napasnya, setelah melihat Giri masuk ke ruang kerjanya.


"Kenapa ke sini?"


Giri menatap Alden dari ujung kaki hingga kepala. Keadaannya kelihatan sangat kacau. Lengan kemejanya dilipat setengah, dasinya sudah terlepas, dan rambutnya sudah acak-acakan. Tanpa sepatah kata, Giri duduk di sofa. Alden mengambil kembali ponselnya, lalu ikut duduk di sofa berhadapan dengan Giri.


"Kamu kenapa? Kok kacau begini?"


Alden tidak menjawab. Dia hanya menatap ponselnya dengan gelisah. Kakinya bergerak naik turun, sembari jemarinya menekan-nekan pelipis yang berdenyut. Bukan hanya kelihatannya, Alden benar-benar sedang emosi saat ini.


"Alden... Opa berencana pensiun. Kamu harus siap-siap gantikan Opa jadi Direktur Utama."


Alden langsung menghentikan hentakan kakinya. Matanya menatap lurus pada Giri, mencari keseriusan dari sorot mata pria tua itu. Giri membahas masalah itu diwaktu yang sangat tepat. Sehingga Alden memberikan atensi penuh pada Giri.


"Opa mau kamu gantikan Opa. Tapi dengan satu syarat."


Giri dan Alden menatap satu sama lain dengan serius. Dengan emosi Alden yang sedang memuncak, dia merasa akan menerima semua syarat yang diberika oleh Giri. Alden siap mendengar apa pun kalimat Giri.


"Syaratnya, kamu menikah sama Alora."


Seperti tersengat listrik, Alden sontak bangun dari duduknya. Tidak habis pikir dengan kalimat Giri. Alden belum sempat protes, saat sebuah panggilan masuk ke ponselnya. Alden terdiam cukup lama, membaca nama yang tertera di layar berkali-kali. Seharusnya Alden tidak salah lihat, yang meneleponnya memang benar Alora.


Telepon itu mati, karena terlalu lama dibiarkan. Tapi saat itu juga, Alora mengirim pesan pada Alden. Padahal dia sedikit merasa ragu, tapi Alden tetap membuka pesan dari Alora.


'Ayo ketemu. Aku perlu bicara.'


❖❖❖