Blooming At It's Time

Blooming At It's Time
²⁴ Bali Bersemi Lagi



Pagi itu Alora terbangun dari tidurnya saat langit sudah sangat terang. Bangun terlambat memang hal yang sangat menyenangkan. Ditambah lagi dengan kualitas tidur yang sangat baik. Alora bisa merasakan tidurnya sangat nyenyak, sampai pagi ini tubuhnya terasa ringan. Dia meregangkan tubuhnya sampai puas, lalu memerhatikan sekeliling. Alora baru kebingungan setelah menyadari dirinya ada di dalam kamar, dan sedang tidur di atas ranjang. Padahal seingatnya, malam tadi dia tidur di sofa ruang tengah. Kenapa tiba-tiba tubuhnya bisa pindah sendiri?


Alora bergegas keluar kamar, dan menemukan Alden yang sedang tidur di sofa dengan beberapa kaleng bir di bawahnya. Alora menggaruk kepalanya, bingung dengan situasi pagi ini. Alora ingat betul malam tadi tidur di sofa. Dia memang tidur lebih dulu, karena Alden pergi untuk membeli bir. Alora tidak ingat melihat Alden kembali, yang artinya dia sudah tidur saat pria itu kembali. Tapi pagi ini dia malah bangun dari kamar. Alora tidak mungkin berpindah sendiri. Satu-satunya yang bisa memindahkan Alora adalah Alden.


Alora mengamati Alden untuk beberapa saat. Lalu tiba-tiba Alden mengubah posisinya, sampai tubuhnya mencapai ujung sofa dan Alden terjatuh dari Sofa. Alora ikut terkejut, tapi dia berusaha tenang. Sedangkan Alden yang tampak kaget, langsung bangun dan menatap sekitar sambil kebingungan.


"Oh, kamu udah bangun?"


"Aku jatuh." Ujar Alden dengan rambut yang berantakan seperti singa.


Tak tahan menahan tawa, Alora kelepasan tertawa, namun dia cepat-cepat menutup mulut. Kemudian Alora berkata, "Mandi sana! Ayo sarapan!"


"Kamu duluan aja." Suara Alden masih terdengar parau. Alden memilih untuk berbaring lagi di sofa sambil memainkan ponselnya.


Tidak mau memanjangkan masalah, Alora hanya mengangguk menuruti Alden.


❖❖❖


Alden dan Alora menyerap di restoran hotel dengan pemandangan pinggir pantai. Keduanya makan dengan tenang. Alden masih sibuk dengan ponselnya, sedangkan Alora beberapa kali melirik Alden. Alora mencoba mencari celah untuk bertanya soal kepindahannya dari sofa ke kamar. Tapi melihat Alden yang sedang serius, Alora jadi mengurungkan niatnya.


"Mau ngomong apa?" Tanya Alden tiba-tiba. Padahal matanya masih fokus menatap ponsel, tapi bagaimana dia tahu Alora sedang menahan kalimatnya?


"Kok kamu tahu?"


Alden menyimpan ponselnya ke kantung celana, kemudian berkata, "Siapa yang gak ngerasa diliatin kayak gitu?"


Seketika itu Alora merasa malu akibat tingkah lakunya sendiri. Tapi, berhubung sudah malu-maluin, sekalian saja dia tanyakan hal yang membuat dia penasaran.


"Semalam, kamu pindahin aku ke kamar ya?"


"Kenapa? Mau Terima kasih?"


"Yah... Makasih sih, makasih. Tapi kan, tidur di sofa juga gak apa-apa."


"Aku gak sekejam itu, ngebiarin perempuan tidur di sofa."


Tiba-tiba Alora merasa sengatan aneh dalam dirinya. Caranya menatap Alden terlihat berbeda dari biasanya. Bahkan hatinya ikut bergetar, mendengar ucapan Alden. Dia sadar, pria yang sedang makan di hadapannya sekarang, adalah pria yang baik. Akan sangat disayangkan pria baik seperti Alden, malah menyia-nyiakan pernikahannya dengan wanita seperti Alora. Setidaknya itu yang dirasakan Alora.


"Makasih ya, Al."


"Hm."


Alden kembali menatap ponselnya. Alora tersenyum simpul, lalu beralih menatap sekeliling. Alora memusatkan perhatiannya pada televisi besar yang tergantung di dinding. Pagi itu, stasiun televisi ramai menayangkan berita tentang seorang selebriti yang menerima surat ancaman dari penguntit. Alora memicingkan mata, berusaha menyimak berita itu dengan lebih serius.


"Al, itu bukannya mantanmu ya?"


Alden hanya bergeming. Dia sudah mendengar suara berita dari televisi, sehingga tidak perlu menoleh lagi untuk memastikan pertanyaan Alora. Alden juga sudah sibuk mencari berita yang sama dengan ponselnya sejak tadi. Dari banyaknya sumber yang dia baca, Alden hanya menemukan berita yang sama. Shellandine, menerima surat ancaman dari penguntit yang diduga seorang haters.


Jujur saja, Alden merasa gelisah. Mengingat lamanya waktu yang dia habiskan bersama Shella. Alden juga tahu betul, saat ini pasti Shella sedang bersembunyi di balik selimut. Enggan keluar dari kamar, bahkan hanya untuk makan. Alden tahu, karena saking lamanya mereka bersama. Dan saking cintanya dia pada Shella. Tapi Alden berusaha menelia kegelisahannya. Karena buat apa dia memikirkan seseorang yang selingkuh darinya?


"Habis ini mau ke mana?"


"Hm? Oh, aku ingin coba surfing! Ayo ke pantai!"


Alden tersenyum tipis mengiyakan.


❖❖❖


Di hari yang cerah nan sejuk, Alden dan Alora menikmati waktu bersama di pantai Kuta. Mulai dari mencoba surfing, berenang, bermain air, pasir pantai, hingga bersantai ditemani kelapa muda langsung dari buahnya. Hari sudah semakin siang. Perut mereka juga sudah mulai keroncongan.


"Aku lapar!" Seru Alora.


Bukannya makanan yang datang, malah seorang Ibu penjual aksesoris kerajinan tangan menghampiri mereka. Alora sudah menolak, tapi Ibu penjual seakan sengaja membuat Alora merasa tertekan. Jadi, Alora melihat-lihat aksesoris yang ada. Sampai ada satu gelang yang membuatnya tertarik. Alora langsung mencoba gelang itu ditangannya dan ditunjukan pada Alden.



"Ini lucu! Bagus gak kupake, Al?"


Alden memang memerhatikan tangan Alora, tapi dia beralih menatap wajah wanita itu yang terlihat antusias.


"Jelek." Sebenarnya Alden ingin sekali memuji, tapi seperti sudah kebiasaan, dia malah mengejek Alora. Sampai wanita itu kesal dan mengembalikan gelang itu pada Ibu penjual.


"Ish! Aku mau beli lumpia aja." Ujar Alora, sambil beranjak pergi mengejar pedagang lumpia yang baru saja melewati mereka.


Melihat Alora tengah sibuk berbelanja camilannya, Alden diam-diam membeli gelang pilihan Alora. Alden memerhatikan gelang itu dengan saksama. Gelang itu memang telihat unik, dan sangat cocok dikenakan Alora. Tanpa sadar Alden tersenyum simpul, membayangkan wanita itu menggunakan gelang pemberiannya.


Tapi apa gunanya membayangkan, kalau Alden tidak pernah bisa memberikannya pada Alora? Alden selalu kehilangan momentum. Dia terlalu banyak berpikir. Saat ini, mereka sedang menonton film drama di ruang tengah. Alden dan Alora duduk berdampingan di sofa. Tidak mungkin Alden memberikan gelang itu, saat Alora sedang menangisi film yang mereka tonton.


Alden agak frustasi. Tepat saat itu, sebuah telepon masuk, dan Alden mengangkatnya. Alden buru-buru menuju balkon. Alora awalnya tidak terlalu peduli. Tapi saat mendengar suara Alden meninggi, Alora jadi khawatir dan menghampiri Alden menuju balkon. Di sana, Alden tampak mondar-mandir kebingungan sambil sesekali mengusap wajah atau mengacak rambut.


"Aku lagi di Bali, Han. Aduh! Shella gimana?"


Alora langsung menegakkan tubuhnya, begitu mendengar Alden menyebut nama itu. Alora melipat tangannya di dada, lalu menggigiri kuku ibu jarinya. Entah kenapa Alora merasa gelisah. Mungkin efek melihat Alden yang tampak gelisah, sehingga Alora ikut merasakan hal yang sama.


"Coba aku yang bicara..." Alden masih belum menyadari kehadiran Alora di sana, "Halo? Shella? Shell, please dengerin aku. Everything's gonna be okay, you hear me? Please! Jangan bertindak bodoh, please! Aku ke sana sekarang ya?"


Seketika Alora merasa sekujur tubuhnya seakan teesengat listrik. Bahkan dia sempat membeku sejenak saat mendengar Alden hendak menghampiri Shella yang ada di Ibu kota. Bahkan sekarang sudah malam.


"Iya Shella, tunggu ya... Aku cari penerbangan sekarang. Iya..." Saat itu barulah Alden memutar tubuhnya dan menyadari Alora yang berdiri di ambang pintu tengah menatapnya dengan tatapan kosong. Seketika dirinya merasa sangat kacau. Antara mengkhawatirkan Shella dan merasa tidak enak karena harus meninggalkan Alora.


"Iya, iya... Aku berangkat sekarang... Tunggu ya..."


Alden memutus telepon itu, lalu menatap Alora dengan penuh rasa bersalah. Dia tidak bisa berkata-kata di hadapan Alora. Alden benar-benar merasa menjadi pria paling brengsek sedunia.


"Kenapa?"


"Shella... Dia coba bunuh diri."


"Astaga! Pulang, Al! Dia pasti butuh kamu!"


Alden menghela napas panjang.


"Alden! Aku gak apa-apa. Kamu pergi aja! Harusnya masih ada penerbangan sekarang."


Alden menatap Alora dalam-dalam. Gelang yang dia beli khusus untuk Alora masih tersimpan dalam saku celana. Alden menangkap kegelisahan dalam sorot mata Alora. Mungkin karena berita mengejutkan soal Shella. Maka, Alden memutuskan untuk pergi. Walaupun dengan beribu maaf yang dia lontarkan pada Alora. Alden masih terburu-buru, membawa barang seperlunya, dan berlari pergi.


Sedangkan Alora, hanya menatap kepergian Alden dan merasakan kekosongan yang ditinggalkan pria itu tepat setelah pintu tertutup. Alora tahu dia tidak boleh merasa begitu. Karena sejak awal, Alden memang bukan miliknya.


❖❖❖