
"Aktris berinisial 'S' ditangkap pagi tadi atas dugaan penggunaan obat-obatan terlarang. Selama proses pemeriksaan ditemukan bahwa sutradara 'R' yang tengah menggarap film bersama sang aktris ikut terlibat, hingga berita perselingkuhan aktris 'S'."
Alden duduk di sofa, menonton berita terkini yang sedang heboh dimedia mana pun. Ke mana pun orang-orang mencari, banyak yang berspekulasi aktris tersebut adalah Shella. Alden sendiri yakin dengan spekulasi tersebut. Karena tepat sebelumnya, Giri sudah menunjukkan bukti-bukti itu pada Alden. Tak perlu waktu lama, dengan orang-orang suruhan Giri, Shella dapat tertangkap basah dengan cepat. Giri sempat menunjukkan bukti-bukti itu pada Alden, dan pria itu memutuskan untuk melaporkan pada kepolisian. Ya, pada intinya semua ini terjadi karena keputusan Alden, dan itu yang membuat tatapannya kini terlihat kosong.
"You okay?" suara lembut khas Alora tiba-tiba menyadarkannya dari lamunan. Alden segera mendongak, menatap Alora yang sedang berjalan untuk duduk di sebelahnya.
Alden tersenyum kecil lalu berkata, "Entahlah. Aku gak tau keputusanku benar atau salah."
Alora ikut menatap lurus ke arah TV, lalu napasnya dihela pelan. "Kadang memang harus begini, 'kan? Perlu pukulan besar biar seseorang bisa sadar. Jadi mereka gak melakukan kesalahan yang sama lagi."
"Gitu ya?"
Alora menoleh pada Alden yang masih tampak buruk. Dia tahu Alden merasa bersalah dengan berita besar yang muncul di seluruh media. Alora juga tidak mau menyalahkan Alden dengan keputusannya. Karena yang terjadi, terjadilah. Alora melingkarkan tangannya pada lengan Alden, lalu menyandarkan kepalanya ke bahu pria itu. Pergerakan Alora membuat Alden agak terkejut, karena terlalu tiba-tiba. Namun setelahnya, Alden langsung menyatukan kepalanya dengan kepala Alora. Pria itu mengusap tangan wanitanya yang melingkar dilengan, merasakan seluruh kehangatan yang berusaha diberikan wanita itu.
"Dia akan belajar dari kesalahannya, Al. You've done well."
Kalimat penenang Alora memang tidak pernah gagal pada Alden. Pria itu melepas tangan Alora, agar dia bisa leluasa merangkul wanita itu dalam pelukannya. Alora masih menyandarkan kepalanya pada bahu Alden, saat pria itu mengecup puncaknya sekali. Alden mengusap lengan Alora dengan sebelah tangannya, menunjukkan kasihnya yang teramat besar.
"I love you." ujar Alden pelan.
"Tiba-tiba banget?"
Alden mengangkat bahu sekali, "Aku bersyukur banget punya kamu. Makasi, sayang."
Alora tertawa kecil. Dia mulai terbiasa dengan sikap Alden atau dengan panggilan kesayangan itu, bahkan Alora mulai menyukainya.
"Nonton yang lain aja ya?" Alora meraih remote di atas meja lalu mengutak-atik tombolnya, "Netflix?"
"And chill?"
"Shut up!"
Alden tertawa. "Nonton di kamar aja yuk." ujarnya, sengaja menggoda Alora.
"Whyyy??" Alden memeluk pinggang Alora, menciumi pipi hingga lehernya sampai wanita itu menggeliar kegelian.
"Alden! Aku mau nonton horror! Diem dulu!" Alora berusaha melepas tubuh kecilnya dari Alden.
Puas dengan reaksi Alora, Alden berhenti menggoda wanita itu, dan berakhir merangkulnya saja. "Siapa takut? Mau taruhan siapa yang teriak duluan?" tanya Alden dengan nada menantang.
Alora menatap Alden sambil memicing, "Agak gak yakin sih... Tapi... OKE! Yang menang dapat apa?"
"Yang menang, boleh dituruti kemauannya."
"Terlaluuu!"
"Kenapa? Takut?"
"Gak ya!"
"Aku mau apa ya? Kayaknya aku bakal menang."
Alora mencubit perut Alden sampe sang empunya mengaduh, lalu segera mengusap perutnya yang masih perih.
"Jangan kepedean kamu!"
Keduanya lalu tertawa, dan menikmati hari dengan saling menunjukkan kasih sayang tiada henti. Dengan tawa yang mengisi seluruh ruangan. Dengan perasaan penuh yang tak mungkin terisi lagi oleh apa pun itu selain satu sama lain. Alden dan Alora, tidak berpikir kisah mereka berakhir disini. Namun dengan segala keteguhan hati, mereka berjanji untuk menjalani keadaan apa pun yang menanti di masa depan. Menghadapi segala tawa, tangis, dan kesulitan bersama-sama. Berpegang teguh pada cinta, mereka memulai hidup yang baru.
❖❖❖
END
❖❖❖