
Selama perjalanan, keduanya tak banyak bicara, hanya larut dalam emosi masing-masing. Alora hanya menatap ke luar jendela, matanya berair saking kesalnya. Namun dia berusaha agar Alden tidak melihat itu barang sedikit. Sedangkan Alden, dengan emosi yang menyelimuti membuatnya menyetir dengan lebih kencang. Lebih sering mengumpati pengendara motor, menekan klakson dengan keras, dan berdecak beberapa kali. Sesampainya di parkiran apartemen, Alora langsung berhamburan ke luar mobil, berjalan lebih dulu tak peduli saat Alden berusaha meneriaki namanya.
"Alora!" Alden menahan pintu yang sudah berhasil dibuka kuncinya oleh Alora.
"Lepas." Alora berusaha membuka pintu.
"Gak. Aku gak mau kamu langsung masuk kamar. Kita harus bicara."
Alora tidak membalas tatapan Alden sedikit pun, dia hanya berdehem sekali, barulah Alden melepas tangannya dari pintu. Alora mendahului Alden memasuki apartemen, lalu segera melepas tasnya dan dilempar ke atas sofa, tubuhnya berputar menatap Alden yang sedang melelas sepatu.
"Ngapain kamu ke Sandra? Mau bongkar semuanya ke dia?" Alora ketus. Tangannya berkacak pinggang, dahinya mengernyit marah, menatap tajam pada Alden.
"Aku gak bilang apa-apa! Al, aku gak tau lagi harus gimana biar bisa bicara sama kamu."
"Gak ada yang harus dibicarakan, Al."
"Ada."
"Apa? Soal pacar artismu itu? Aku gak peduli, Al. Kamu bebas pacaran sama siapa aja."
"Oh. Kenapa gak soal 'teman lama' mu itu?" Alden memberi gestur kutip pada kata 'teman lama'.
"Dia punya nama."
"Kamu bela dia sekarang?"
"Kamu tau, Al? Gak ada hubungannya sama kamu! Gak usah ikut campur!"
"Terus apa? Kamu bakal pacaran sama dia?"
"Why not? Kamu bisa, kenapa aku enggak?"
"Oh. Kamu suka sama dia?"
"Bukan urusanmu, tapi, iya." Alora mulai asal bicara, saking emosinya.
Sementara itu, Alden seketika merasa dadanya dicabik-cabik, emosinya memuncak. Rahangnya mengeras, lalu menarik pergelangan Alora untuk menyandarkan wanita itu ke dinding, sampai wanita itu mengaduh pelan tapi Alden tak peduli. Alden menahan Alora, kedua tangannya didinding, di sebelah kanan dan kiri wajah Alora, tubuhnya agak membungkuk sehingga tatapan mereka bertemu. Alden menatapnya tajam, tanpa ampun.
"Oh ya? You like him?" Alden mendekatkan wajahnya pada Alora.
"Kamu ngapain?" Alora gugup. Jantungnya sudah hampir lompat keluar, saat napas Alden terasa dikulitnya sampai tubuhnya meremang.
Alden berbicara tepat di depan bibir Alora, "Dia bisa bikin kamu segugup ini? Atau..." Alden turun ke leher sebelah kiri Alora, berbicara tepat di tengkuk wanita itu. "Make your heart beating this fast?"
"I guess not." Alden berbisik ke telinga kiri Alora. Bibirnya sedikit menyentuh telinga Alora, geli namun memabukkan. Alora menjauhkan telinganya, tapi tak dapat dipungkiri, dia agak menginginkan lebih.
Tak mau berhenti, Alden beralih ke telinga kanan Alora, kembali berbisik, "Did he give you butterflies?" Bibirnya menyentuh daun telinga Alora, kali ini cukup lama.
Deru napas Alden menghangat ditelinga Alora, kali ini dia tidak menghindar. Bukan Genta, tapi Alden yang menerbangkan kupu-kupu diperut Alora, selalu Alden. Bukan Genta, tapi Alden yang Alora sukai. Dan kini Alora tak mampu menjawab satu pun pertanyaan Alden, karena jawabannya sudah sangat pasti.
Masih dengan posisinya, Alden kembali berbisik, "I guess not."
Alora memejamkan matanya, menghirup aroma parfume Alden dalam-dalam, lalu mendorong pria itu sekuat tenaga, sampai Alden terkejut dan langsung menatap Alora penuh tanda tanya. "Stop, Al." Ujar Alora.
Pantang mundur, Alden kembali mendekat untuk menggenggam sebelah tangan Alora. Tangannya yang bebas mengangkat dagu Alora, sehingga mereka saling bertatapan. Alden manatap Alora setengah memohon lalu berkata, "Please, Al. Aku udah gak ada apa-apa sama Shella. Aku udah selesaiin semuanya."
Alora tak mau membuat dirinya semakin berharap, maka dia kembali mendorong Alden menjauh. "Kamu tidur sama dia, Al." Suara Alora bergetar.
"Enggak, Al! Please dengerin aku. Gak pernah. Waktu itu gak terjadi apa-apa, aku yakin." Alden meraih kedua tangan Alora, menggenggamnya erat-erat.
"You're drunk."
"Ya. Aku ketiduran, itu aja. Kamu tau aku kalau mabuk kayak batu, gak bisa bangun!" Alden tertawa getir, mencoba membuat Alora tertawa walaupun dia tahu itu sia-sia. Wanita dihadapannya kini malah menatapnya dengan mata berair. Alden menyandarkan dahinya pada dahi Alora. Sebelah tangannya mengusap lembut pipi Alora, saat itu air matanya mulai menetes membasahi jemari Alden. "Please, believe me."
Alora tidak punya waktu untuk berpikir, bimbang, tapi ada ruang di hatinya yang memberontak ingin menyatu dengan Alden. Tanpa memedulikan apa pun, atau siap pun, tanpa memikirkan hari esok, atau setahun lagi saat kontrak mereka berakhir. Ada satu ruang di hatinya yang berkali-kali memanggil Alden, sampai Alden sedekat ini dengannya. Alora berusaha menahan tangis, tangannya membalas genggaman Alden. Sebelah tangannya yang bebas terangkat ke bahu Alden. Alora mendekatkan wajahnya pada Alden, menyatukan bibir mereka beberapa saat bersamaan dengan air mata yang kembali terjatuh.
Alden mengusap pipi Alora yang basah, membalas kecupan Alora. Perlahan tapi pasti, kecupan yang tadinya sederhana kini semakin dalam, tanpa rencana. Kepala mereka bergerak dengan sangat natural seakan mengikuti alunan lagu yang lembut. Tidak ada seorang pun yang pernah mencium Alden seperti ini, Shella pun tidak. Rasanya sangat... Tepat. Begitupun Alora, yang tidak pernah tahu seseorang bisa membuatnya semabuk ini. Seperti sebuah penantian yang akhirnya terwujud, Alden dan Alora saling memeluk, masih dengan ciuman yang bergerak sedalam rindu. Tak ada yang bisa menghentikan keduanya, kecuali oksigen yang mulai menipis, sehingga Alden dan Alora menjauh sejenak untuk menghirup oksigen dengan rakus.
Tatapan mereka tak berpindah, Alden pada bibir Alora, begitupun sebaliknya, Alora mantap lurus pada bibir Alden.
"You love me, Al. I knew it..." Ujar Alden.
"And you?"
"More than you ever think."
Kali ini Alden memimpin, bibirnya lebih dulu mencium Alora, lebih dan lebih dalam lagi. Hasratnya sudah tak bisa menunggu lebih lama, ciumannya turun ke leher Alora, membuat wanita itu kembali bersandar ke dinding. Segala sentuhan Alden terasa sangat tepat, di mana pun itu, membuat tubuh Alora meremang. Sentuhannya masih terasa nyata walaupun tangan Alden mulai berpindah, Alora yakin dirinya sedang sangat mabuk oleh pria itu. Alora tidak peduli, perasaan itu bagai candu, semakin ingin lebih, lebih dan lebih, membuatnya tak mau berhenti. Ciuman Alden yang menjelajahi leher Alora terasa menggelikan, namun mampu memaksa wanita itu melenguh lembut.
Saat Alora menikmatinya, Alden tiba-tiba berhenti, lalu menatap wanita di hadapannya, setengah terengah. Matanya menatap Alora penuh harap, Alden bertanya, "Can i?"
Tadinya Alora sempat terkejut, namun segera mengangguk malu, menuruti kata hatinya. Maka, Alden kembali menciumi Alora. Tangannya kembali menyentuh setiap inchi tubuh Alora, masuk ke dalam baju yang dikenakan wanita itu, menyentuh perut, punggung, dada, dan segalanya. Masih dengan aktivitasnya, Alden membuka pintu terdekat dari mereka, yang mana merupakan kamar Alora. Alden menuntun tubuh mungil Alora memasuki kamar, langkah mereka pelan tapi pasti. Alden memutar tubuh Alora, mendorongnya pelan ke arah pintu hingga terdengar suara pintu tertutup, menciumi leher wanita itu. Alora menyisir rambut Alden ke belakang, dan agak menarik sedikit ujungnya, sembari melenguh pelan nan lembut. Terdengar sangat menggoda ditelinga Alden.
Alden melepas ciumannya, meninggalkan beberapa bekas kemerahan pada leher indah Alora. Matanya menatap lurus pada Alora, lalu mengecup dahi, kedua mata, hidung, kedua pipi, dan terakhir, bibir Alora, sembari melepas satu persatu kancing kemejanya, menjatuhkannya ke lantai. Alora sepenuhnya sadar apa yang harus dia lakukan, maka Alora melakukan hal yang sama, menjatuhkan jaketnya ke lantai begitu saja. Secara alami, dengan bantuan hasrat yang semakin menggebu, keduanya melewati malam yang tak akan pernah mereka lupakan.
❖❖❖