
"Bunda..."
Seorang gadis kecil memegangi pipinya, karena giginya terasa sakit. Langkah kecilnya membawa tubuh mungil itu mendekati sang Bunda yang sedang duduk disofa ruang tengah. Suasana saat itu sangat hangat ditemani kelap-kelip lampu hias pada pohon natal yang tertataindah di sudut ruangan. Sang Bunda membelai gadis kecilnya dengan penuh kasih sayang.
"Kenapa Alora sayang?"
Gadis kecil bernama Alora itu belum sempat menjawab, saat seorang pria paruh baya ikut duduk di sebelah sang Bunda. Pria itu juga membelai Alora dengan lembut, penuh kasih sayang. Dilihatnya anak gadis itu dengan mata yang basah seakan habis menangis. Alora balas menatap pria yang tidak lain tidak bukan adalah Ayahnya. Dengan manja, Alora juga mengadu pada Ayahnya.
"Gigi Alora sakit."
Kedua orang tua Alora tersenyum lembut, saling menatap satu sama lain, kemudian kembali pada Alora.
"Giginya sudah copot ya?" tanya sang Bunda.
Bukannya menjawab, Alora malah menunjukkan gigi bawahnya yang memang sudah hampir tanggal. Sang Bunda tertawa kecil melihatnya, lantas tak lama setelah itu gigi Alora lepas dari gusinya dengan sangat tak wajar. Alora kaget setengah mati, karena giginya tanggal tanpa rasa sakit sedikit pun. Sakit yang baru saja dia keluhkan hilang begitu saja, bahkan tanpa darah yang tersisa dimulutnya. Alora menatap gigi kecil ditelapaknya dengan kagum.
"Wah, ternyata gak sakit sama sekali, Bun, Yah..."
Gadis itu tidak mendengar jawaban dari kedua orang tuanya, sehingga dia mendongak dan tidak bisa menemukan orang tuanya lagi. Dia mencari ke penjuru rumah, memanggil kedua orang tuanya. Namun percuma saja, Alora tidak menemukan apa pun. Sampai pada suatu titik saat Alora lelah dan menangis sembari meneriaki Ayah dan Bundanya. Seketika itu, suara sang Bunda terdengar menyerukan namanya dari aras luar rumah. Alora bergegas berlari ke luar rumah, dan mendapati kedua orang tuanya sudah berdiri di luar gerbang dengan senyum yang sangat ringan.
"Bunda, Ayah? Mau ke mana? Alora ikut!"
Kedua orang tuanya tidak menjawab, malah berpaling meninggalkan Alora. Dengan langkah kecil, Alora berlari sambil meneriaki kedua orang tuanya. Namun Ayah dan Bundanya tidak menoleh sedikit pun. Alora menangis, berlari semakin kencang, sampai langkahnya tak teratur dan tubuh mungilnya jatuh ke tanah. Alora kini hanya bisa memandangi Ayah dan Bundanya menjauh dengan mata yang basah.
"Ayah!"
"Bunda!" Seru Alora dan lantas membuka kedua matanya sembari mengatur napas. Jantungnya berdetak kencang, membuatnya merasa sangat tidak nyaman. Keringat dingin bercucuran dari keningnya.
"Al? Kamu gak apa-apa?"
Alora langsung menoleh pada sumber suara, dan melihat Alden dengan raut wajahnya yang tampak khawatir. Alora memeriksa sekelilingnya, baru menyadari dirinya masih ada di dalam mobil. Ternyata dia tertidur selama perjalanan pulang dari rumah Giri. Saking lelahnya berinteraksi dengan keluarga Alden, Alora tidak sadar sudah tertidur pulas selama perjalanan.
"Loh? Kita udah sampai? Kenapa gak bangunin aku?" Tanya Alora, saat menyadari mobil Alden sudah terparkir di tempat biasanya.
"Gak tega. Kamu kayaknya capek sekali." Ujar Alden.
Alora memejamkan mata sembari menghela napas panjang. Tubuhnya kembali bersandar pada bangku penumpang. Dia menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan, mencoba melupakan mimpinya barusan. Jantungnya masih tak karuan, memberi perasaan tak nyaman kesekujur tubuhnya.
"Kamu baik-baik aja?" Tanya Alden, dengan sangat lembut. Dia berusaha menenangkan Alora.
Alora mengangguk, lalu melepas tangannya dari wajah cantik itu.
Walaupun Alden merasa wanita itu tidak jujur, tapi dia tidak bertanya lebih lanjut. Alden tidak mau Alora malah merasa terbebani dengan pertanyaannya yang berlarut-larut. Dia memilih mencari ide untuk mengalihkan pembicaraan mereka. Sehingga mungkin bisa membuat Alora lebih tenang.
"Kamu gak ngiler dimobilku 'kan?"
"Ish! Bacot! Aku gak ngiler ya!" Seru Alora. Dahinya mengernyit, menatap sekilas Alden dengan wajah sinis. Kemudian Alora mengusapi ujung bibirnya, mencoba memastikan kalau dirinya benar-benar bersih.
Alden tertawa puas melihat reaksi Alora yang memang dia harapkan. Tapi Alden belum puas menggoda wanita itu. "Gak ngiler tapi ngorok!"
Tidak terima dikatai mendengkur, Alora langsung memukul lengan Alden sampai pria itu mengaduh. "Gak ya! Aku gak ngorok!"
Selalu seperti ini, dan Alden selalu tertawa puas. Padahal dia tidak berhasil membuat Alora tenang, malah dia membuat wanita itu kesal. Tapi Alden merasa seakan-akan dirinya sudah berhasil mengembalikan Alora pada mode semula. Sedangkan Alora yang sudah terlanjur kesal, langsung keluar dari mobil meninggalkan Alden yang jadi terburu-buru menyusulnya.
"Al!"
"Apaan sih! Ngapain ikut turun?" Keluh Alora, lalu kembali melanjutkan langkahnya menuju gerbang dengan Alden yang mengekorinya.
"Ck! Pulang sana!"
Bukannya menuruti Alora, Alden malah tertawa menikmati respon wanita itu yang dinilai lucu. "Aku mau ngomong loh."
Alora memutar bola matanya malas. Dia ingin sekali meninggalkan Alden sendiri, tapi sebagai manusia yang baik Alora harus mendengar dulu apa yang hendak disampaikan Alden. Ada jeda lumayan lama di antara mereka. Sampai Alora akhirnya menatap Alden yang tersenyum, sehingga Alora lumayan bingung dibuatnya. Dia tidak bisa membaca arti senyuman Alden, malah dadanya tiba-tiba merasa tidak nyaman.
"Buat apa?"
"Isa."
Mendengar Alden menyebut nama adiknya, Alora langsung mengangguk mengerti. Saat acara makan malam di rumah Giri tadi, Alora memang membawa kado kecil untuk adik perempuan Alden, Isadora. Padahal kadonya tidak terlalu mahal, hanya sebuah buku dari penulis terkenal yang baru terbit. Tapi Alden segitu berterimakasihnya pada Alora. Dari situ Alora bisa lihat kalau Alden sangat menyayangi Isadora.
"Oh... Iya, sama-sama."
"Dari mana kamu tahu dia suka penulis itu?"
"Aku lihat kutipan dari penulis itu di case ponselnya."
Alden dibuat membisu oleh Alora. Pria itu baru menyadari kalau wanita di hadapannya sangat perhatian pada hal-hal kecil. Alden bahkan sampai terharu dengan perhatian Alora. Dia tidak bisa berkata-kata, malah merasa sesuatu menusuk dadanya sangat dalam. Alden merasa tidak becus menjadi seorang kakak. Bahkan dia tidak tahu kalau adiknya gemar membaca.
"Kamu tahu, Al? Aku bahkan gak tahu kalau Isa suka baca." Ujar Alden, suaranya terdengar melemah. Sehingga menarik perhatian Alora untuk menatapnya dalam-dalam. Keduanya saling bertatapan, seakan berbicara dalam diam. Alden tidak mengucapkan apa pun lagi, tapi Alora dapat merasakan penyesalan dari sorot mata pria itu.
"Mulai sekarang baik-baik sama Isa. Dia pasti kesepian."
Tak lama setelah Alora mengucapkan kalimatnya, Alden kembali melengkungkan bibirnya perlahan. Kemudian Alden mengangguk, dan berkata "Kalau gitu aku juga harus siapin hadiah natal buat Sandra sama Harsa. Besok pagi kujemput ya."
Alora tertawa kecil sembari melambaikan tangannya ke udara, "Gak usah! Mereka udah sebesar itu gak perlu kado-kadoan!"
"Yah, aku kan juga mau kelihatan baik di depan adik-adikmu."
"Hah? Buat apa coba?" Tanya Alora heran.
Bukannya menjawab, Alden malah ikut heran. Alisnya terangkat seakan kembali mengajukan tanda tanya pada Alora. Alden sendiri tidak sadar sudah mengucapkan kalimat itu. Dia sendiri tidak tahu kenapa ingin terlihat baik di hadapan Sandra dan Harsa. Apakah karena mereka keluarga Alora? Atau karena mereka akan segera menikah? Lagi pula pernikahan mereka palsu, untuk apa citra baik itu sebenarnya?
"Selamat malam."
Alden masih belum menjawab pertanyaan Alora, saat dua orang pria berjalan mendekati keduanya. Dua pria itu mengenakan seragam polisi, yang langsung membuat Alora gugup saat melihatnya. Pikirannya tiba-tiba bercabanh kemana-mana, mulai berburuk sangka kalau Ayahnya melakukan hal gila lagi.
"Ya?"
"Apakah benar ini kediaman Alora Agni Bestari, anak dari Soni Bestari?"
Mendengar nama itu, Alden lantas menoleh pada Alora dan menyadari kalau wanita itu sedang gugup. Alora berkedip lebih cepat dari biasanya, bola matanya bergerak kesana-kemari. Dengan segala kekhawatiran, Alden sadar Alora dengan menutupi perasaannya sendiri. Lalu Alora mengangguk mengiyakan pertanyaan kedua polisi tersebut.
"Kami mohon maaf yang sebesar-besarnya..."
Alora mendengar setiap detil dari penjelasan yang dikatakan polisi tersebut. Jantungnya tidak mau berhenti berdetak semakin kencang, seiring dengan kalimat yang diucapkan polisi tersebut. Napasnya mulai tidak teratur, matanya masih bergerak kesegala arah. Alora tidak tahu harus bagaimana. Telapaknya yang mulai berkeringat, dia satukan erat-erat sembari berpikir tentang apa yang harus dia lakukan. Alora tidak bisa berpikir jernih.
Saat itu juga, Alden menggapai tangan Alora yang menyatu. Menggenggamnya dengan hangat, membuat Alora menatapnya. Alden menatap lurus pada Alora, sembari menepuk-nepuk tangan mungil wanita itu yang ada pada genggamannya.
"Alden..."
"It's okay, Al. Everything's gonna be okay."
❖❖❖
Hiruk pikuk rumah sakit tidak terlalu terdengar dari ruang tunggu dekat ruang operasi. Bau desinfektan yang sudah sangat Alora kenal itu, tercium dari segala penjuru. Saat ini, Alora, Alden, Sandra dan Harsa sedang duduk diam di ruang tunggu operasi. Setelah polisi mengabari kalau Soni mengalami kecelakaan, mereka semua langsung menuju rumah sakit tempat Soni dilarikan. Dan kini, mereka sedang menunggu proses operasi Soni selesai.
Operasi sudah berjalan hampir satu jam, dan dokter belum juga keluar. Selama menunggu, tidak ada yang bicara sedikit pun. Semuanya larut dalam pikiran masing-masing, apa lagi tiga bersaudara itu. Meski banyak yang mereka pikirkan, tapi tidak satu pun dari mereka terlihat sedih. Entah kalau sebenarnya memang sedih, yang jelas mereka tidak menunjukkan ekspresi apa pun dan hanya menunggu dengan tenang.
Setelah sekian lama menunggu, akhirnya dokter penanggung jawab keluar dari ruang operasi dan langsung menghampiri keluarga Soni. Dari raut wajah dokter itu, mereka sudah bisa menebak apa yang terjadi pada Soni. Alora, Sandra dan Harsa memang sangat terkejut mendengar kabar bahwa Ayah mereka tidak bisa diselamatkan, Alden pun menyadari itu. Tapi tidak ada satu pun dari mereka yang menangis.
Alden memusatkan perhatiannya pada Alora. Wanita itu berdiri tegap, mengucapkan terima kasih pada dokter penanggung jawab. Kemudian Alora memutar tubuhnya pada kedua adiknya, menggenggam tangan Sandra dan Harsa erat-erat. Bibirnya melengkung simpul pada keduanya.
Malam ini, malam hari sebelum hari Natal, Alora kehilangan seseorang yang memang sudah lama dia anggap tidak ada.
❖❖❖