
Kesibukan seorang Alden bisa dibilang sangat padat. Sekarang saja dia sedang memberi sambutan pada annual meeting, padahal kepalanya sudah seakan mau pecah. Belum lagi dia merasa tertekan dengan banyaknya pesan yang masuk ke ponselnya. Siapa lagi kalau bukan, Shella. Tampaknya akan ada peluncuran produk baru dari brand make up favorit Shella. Makanya wanita itu memburu Alden untuk berperang demi mendapatkan produk limited edition dari brand favoritnya. Padahal Alden sudah bilang betapa padatnya jadwal hari ini, tapi Shella tidak peduli.
Sambutan Alden diberi banyak tepuk tangan oleh para staff yang hadir pada annual meeting. Alden, dengan bibir yang terlihat pucat, tersenyum simpul, kemudian turun dari podium. Di pinggin podium, ada Kenzo, sekretarisnya yang sudah menunggu dengan khawatir.
"Mas Alden yakin gak apa-apa?" Pria bekulit sawo matang, dengan logat khas daerah itu bernama Kenzo. Dia sudah berkali-kali bertanya tentang kondisi Alden. Dan Alden selalu berkata dirinya baik-baik saja.
Namun, sepertinya kali ini Alden mulai merasa tidak baik-baik saja. Dia mencengkram lengan Kenzo, menahan dirinya yang terasa sangat lemas, bahkan hampir tumbang. Suhu tubuhnya tiba-tiba terasa semakin panas. Kepalanya juga semakin terasa berat. Dia tahu Kenzo sangat mengkhawatirkannya, tapi Alden masih saja berbohong.
"Iya. Mungkin cuma kecapekan. Tolong kamu urus sisanya. Kayaknya saya harus pulang."
"Waduh, Mas... Wajah Mas Alden pucat. Apa gak mau diantar saja, Mas? Saya panggil sopir ya, Mas."
Alden hanya mengangguk pasrah. Kalau mau dipaksakan juga bisa bahaya. Kepalanya terlalu pusing untuk fokus melihat jalanan. Dengan sangat hati-hati, Kenzo mengantarnya menuju mobil. Disaat seperti ini, Alden merasa bersyukur sudah memilih Kenzo sebagai sekretarisnya. Yah, walau pun tidak selamanya sempurna, tapi Kenzo adalah sosok yang sangat perhatian. Bahkan terkadang, Kenzo bisa berperan sebagai temannya. Mungkin karena Kenzo mendapat kasih sayang penuh dari keluarganya di kampung halaman. Terkadang Alden iri akan hal itu.
Alden memang memiliki segalanya. Uang, perhatian, kekasih selebriti yang cantik, sopir yang mengantarnya, apartemen mewah, dan masih banyak lagi. Tapi apalah arti semua itu, kalau saat sakit begini, dia sendirian di apartemennya. Shella sangat menghindari apartemen Alden, karena dia tidak mau tertangkap basah oleh wartawan. Atau itu hanya alasannya saja. Sedangkan Opa dan Mamanya sudah sangat sibuk. Mungkin akan lebih baik kalau Omanya masih ada.
Ah, Alden jadi rindu dengan Omanya.
Begitu sampai di apartemen, Alden berjalan lunglai mencari kotak obat di ruang tengah. Ponselnya tidak berhenti bergetar, seperti di telpon dan pesan masuk berkali-kali. Sedangkan, kepalanya semakin berputar, tidak ada waktu lagi untuk mencari obat. Alden tidak bisa menemukan obat penurun panas atau pun obat sakit kepala. Dengan kondisi lemahnya, Alden berusaha mengecek ponselnya. Bukan untuk memeriksa siapa yang mengganggunya sejak tadi, tapi untuk mengabari Shella soal kondisinya. Karena memang betul yang menghubunginya terus-menerus adalah Shella.
Alden mengetik beberapa kalimat, untuk sekedar mengabari kalau dirinya sedang sakit. Tepat setelah Alden mengirim pesan itu, ponselnya kehabisan daya dan seketika menjadi gelap. Alden berdecak kesal, karena dia bahkan belum membalas satu pun pesan dari Shella. Tapi kondisinya kini sedang tidak bisa diajak kompromi. Sehingga tanpa pikir panjang, Alden melempar ponselnya kesembarang tempat, dan beranjak menuju kamar, untuk tidur dengan harapan menjadi lebih sehat setelah beristirahat.
❖❖❖
Harapan Alden terwujud, dia merasa lebih baik setelah tidur selama sekitar satu jam. Yah, walau pun masih demam, setidaknya sakit kepalanya sangat berkurang. Alden bisa berjalan lebih tegap dari pada sebelumnya. Tubuhnya memang masih lemas, tapi Alden tidak pernah memanjakan dirinya saat sakit. Jadi, untuk merawat dirinya sendiri, Alden memutuskan untuk pergi membeli obat di apotek terdekat dari apartemennya.
Dengan segala persiapan penghalau angin malam, Alden keluar berjalan kaki, menuju apotek yang berada persis di sebelah gedung apartemennya. Tidak perlu berjalan jauh, Alden juga harus sedikit berolahraga. Tapi ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Mungkin mudah kalau kondisi Alden tidak seperti sekarang. Alden baru sudah hampir sampai depan pintu apotek, saat sakit kepalanya kembali menyerang. Alden bersandar sejenak, tepat di sebelah pintu apotek. Dia memajamkan mata, berusaha meredakan sakitnya, sampai seseorang menyebut namanya.
"Alden?" Seorang wanita menyebut namanya dengan ragu, setelah keluar dari apotek.
Alden menoleh ke sumber suara, lantas memicing berusaha melihat wanita itu dengan lebih jelas. Oh, Alora ternyata. Barulah Alden mengangguk, setelah menyadari wanita itu adalah Alora.
"Oh, Alora..."
"Sakit apa?"
Alden ingin menjawab pertanyaan Alora, tapi entah kenapa dia hanya menghela napas. Sampai akhirnya, Alora menyenduh dahi Alden dengan punggung tangan. Alora langsung merasakan suhu tubuh Alden yang tinggi.
"Pusing juga ya? Ada flu? Batuk atau pilek?"
Alden menggeleng lemah. Kepalanya kembali tertunduk, merasa berat. Alora mengucapkan beberapa kata padanya, tapi Alden tidak mendengar. Dia terlalu merasakan kepalanya yang berputar, dan hanya berdiam diri di sana. Entah apa yang dilakukan wanita itu, tapi tidak lama setelahnya, Alora kembali, dan menyadarkan Alden dari matanya yang terpejam.
"Rumahmu di mana?"
"Oh... Aku mau ke apotek."
"Aku sudah beli obat. Ayo ku antar pulang."
Alden menatap Alora sebentar, kemudian berjalan mendahului. Alora menyelaraskan langkah, mengikuti Alden menuju gedung apartemen di sebelah apotek. Alora tidak bicara banyak, dia hanya mengikuti Alden yang menuntunnya ke sebuah apartemen di lantai 12. Tanpa ada yang berbicara, Alden menahan pintu untuk Alora masuk ke dalam apartemennya. Alora pun, tanpa bicara berjalan sendiri mencari dapur, menemukan mangkuk, sendok dan gelas. Alden yang sudah tidak tahan dengan sakit kepalanya, memilih untuk berbaring di kamar.
Tak lama setelah itu, Alora mengetuk pintu kamar, meminta izin untuk masuk. Merasa tidak mendapat jawaban dari Alden, Alora masuk membawa nampan dengan semangkuk bubur, segelas air, dan beberapa pil obat. Alora meletakkan nampan di atas nakas. Dia menghela napas, melihat Alden yang meringkuh, masih mengenakan hoodie dan masker.
"Alden... Makan dulu, terus minum obat." Alora menepuk pelan lengan Alden berkali-kali, sampai pria itu membuka matanya.
"Aku pinjam dapur ya, buat rebus air." Begitu melihat Alden bangun dan terduduk di pinggir tempat tidur, Alora keluar, menuju dapur, seperti yang sudah dia katakan.
Alden berusaha menyadarkan dirinya, kemudian melihat bubur yang disiapkan Alora di atas nakas. Alden sempat heran, kapan Alora mendapatkan semua itu. Tapi Alden pasrah saja, memakan beberapa suap bubur, lalu meminum obat yang sudah disediakan Alora. Kepalanya yang masih pusing, dan matanya yang berkunang-kunang, mendorong Alden untuk kembali tertidur.
Setelah itu, entah apa yang terjadi, Alden sudah terbang ke alam mimpi. Sedangkan Alora, kembali ke kamar dengan seember kecil air hangat, dan handuk kecil bergantung di bahu. Walau pun Alora punya kesan pertama yang buruk soal pria itu, melihat Alden tidak berdaya seperti ini ternyata cukup membuat Alora merasa kasihan.
Untuk saat ini, biarlah Alora merawat Alden karena kasihan. Menarik selimut menutupi tubuh lemas Alden, dan mengompres dahinya. Berharap pria itu kembali bugas keesokan harinya.
❖❖❖