Blooming At It's Time

Blooming At It's Time
¹⁰ Perundingan



'Orenji Cafe jam 1 siang. Kita perlu bicara.'


Alora membaca sekali lagi balasan pesan dari Alden, memastikan dirinya tidak datang di waktu yang salah. Baguslah Alora tidak terlambat, bahkan dia datang lebih awal, karena memang jam kerja Alora bisa lebih fleksibel. Sembari menunggu, Alora sudah menyusun beberapa kalimat yang hendak dia katakan. Pertama, Alora ingin meminta penjelasan tentang Kala yang tiba-tiba memberi penawaran untuknya. Lalu, setelah mendengar pendapat Alden, Alora hendak membujuk pria itu untuk menikahinya. Ya, Alora memang sudah gila, setelah mendengar tawaran dari Kala.


Tanpa menunggu terlalu lama, Alora sudah bisa melihat Alden yang berjalan cepat memasuki Cafe. Alora mengangkat sebelah tangannya, sehingga Alden bisa melihat tempat dirinya menunggu. Lalu, Alden duduk di hadapan Alora. Dengan persiapan yang matang, Alora hendak menyampaikan kalimatnya. Namun, seketika Alden mengangkat sebelah tangannya, meminta waktu pada Alora untuk bicara lebih dulu. Lantas Alora mengurungkan niatnya, dan Alden lebih dulu membuka suaranya.


"Ayo kita nikah."


Mata Alora seketika terbuka lebar, dahinya mengeryit, bahkan dia hampir tersedak air liurnya sendiri. Alora sudah seterkejut itu, tapi Alden hanya bergeming masih dengan wajah seriusnya. Tidak, Alden sedang tidak bercanda, Alora tahu betul itu. Tapi kenapa Alden bicara begitu? Apakah pria itu membaca pikirannya? Kalimat yang sudah disusun dengan hati-hati dan apik itu, buyar seketika. Alora sudah tidak tahu lagi harus bicara apa, yang ada dikepalanya saat itu hanya apa, kenapa dan bagaimana.


"Apa?"


"Ayo kita menikah."


"Kenapa?"


"Lebih baik gitu. Kamu tahu sendiri kondisi Opaku. Aku cuma mau bik-"


"Gak usah omong kosong."


Alden tertawa renyah sembari menarik sebelah ujung bibirnya. Melihat keseriusan diwajah Alora, Alden yakin wanita itu tidak bisa dibohongi begini. Kalau rencana pertamanya gagal seperti ini, artinya Alden harus menggunakan rencana keduanya. Yaitu, mengatakan kondisi sebenarnya dengan jujur.


"Oke... Aku jujur. Kita harus menikah. Itu satu-satunya cara buatku untuk jadi Direktur Utama, gantiin Opa."


Alora mengangguk mengerti. Untuk saat ini, pertanyaannya sudah terjawab. Sedikitnya Alora mengerti, bagaimana hal ini bisa terjadi. Menurut Alora, Kala dan Giri memang merencanakan hal ini, untuk membuat Alora dan Alden bersedia menikah. Tak lama setelahnya, Alora tertawa, merasa lucu dengan segala kejadian konyol ini. Agaknya dia juga merasa dipermainkan.


"Aku sempat bingung... Kupikir kamu bisa baca pikiranku."


"Hah?"


"Aku juga awalnya mau ajak kamu nikah."


"Maksudmu?"


Alora menarik sebelah ujung bibirnya, "Tadi pagi dokter Kala datang ke kantorku. Awalnya ngomongin kerjaan. Tapi mungkin niat aslinya bukan itu."


Alden mengernyit, menunggu lanjutan cerita Alora dengan penasaran.


"Dokter Kala janji bantu aku tembus target, untuk naik jadi SPV. Syaratnya satu. Menikah sama kamu."


"****." Alden menyandarkan bahunya, sembari menutup mulutnya yang masih ternganga setelah mengumpat dengan suara kecil. Tentu saja dia juga merasa dipermainkan. Dia tidak habis pikir dengan Opa dan Mamanya yang tega melakukan hal itu. Dia juga sedikit merasa bersalah pada Alora, karena wanita itu pasti juga merasa dipermainkan.


"Aku mau tanya satu hal."


Alden langsung memberi perhatian penuh pada Alora. Membiarkan wanita itu mengajukan pertanyaannya.


"Kenapa kamu mau? Kupikir kamu keras kepala. Kamu juga kelihatan cinta mati sama pacarmu. Kenapa kamu mau?"


Sebenarnya Alden tidak ingin membahas apa pun soal Shella. Tapi mau tidak mau, hubungannya dengan Shella memang harus ikut dibahas dalam permasalahan ini. Karena disanalah awal mula terbakarnya ambisi Alden untuk menjadi Direktur Utama menggantikan Giri.


"We broke up." Alden mengambil napas dalam-dalam, sebelum kembali berbicara untuk menjelaskan kondisinya saat ini. "Dia ada pria lain, Direktur Utama perusahaan... Ck... ****!"


Tak disangka-sangka, ternyata kali ini Alora bisa melihat sisi baru dari Alden, yaitu sering mengumpat. Memang bisa dilihat kalau Alden sedang tidak baik-baik saja. Pria dewasa itu sedang mencoba untuk tidak menangis, dengan amarahnya yang sudah memuncak hampir meledak. Alora agak merasa iba dengan Alden, tapi dengan begitu juga dia akhirnya mengerti kenapa Alden mau-mau saja menerima tawaran Giri untuk menikah dengan Alora.


"Oh... Mau balas dendam rupanya."


"Anjing! Boleh pesan minum dulu gak sih?"


"Anjir? Aku bukan waitress?"


Jelas sekali Alora menunjukkan kekesalannya pada Alden. Bagaimana tidak, dia yang tidak berbuat apa-apa malah dijadikan tempat pelampiasan. Menyadari hal itu, Alden menghela napasnya, mencoba mengatur emosi. Lalu Alden memanggil waitress, memsan minuman untuknya dan Alora. Setelah itu, Alden melihat Alora bersandar pada kursi sembari melipat tangannya didada. Alora tidak menatap Alden sama sekali, matanya malah berkeliling melihat sekitar. Menghindari pria di hadapannya. Alora pasti sudah kesal karena dipermainkan oleh Giri dan Kala, ditambah lagi sikap Alden barusan. Dan Alden menyadari semua itu.


"Sorry. Aku harusnya gak marah-marah ke kamu."


Alora melirik Alden sekilas, kemudian kembali memerhatikan sekitar. Dia masih belum puas menunjukkan kekesalannya pada Alden.


"Sorry lagi, soal Mama."


Setelah mendengar permintaan maaf Alden yang kedua, barulah Alora kembali menatap pria itu. Tangannya diturunkan ke atas paha, masih bersandar, menunggu kelanjutan kalimat Alden. Karena sepertinya masih ada yang tertahan di sana.


"Kamu pasti merasa dipermainkan. Aku gak tahu harus bilang apa. Mereka keluargaku, so, aku minta maaf."


Alora mengetuk-ngetuk telunjuknya di atas lutut. Matanya menatap lurus pada Alden yang juga sedang menatapnya. Dia tahu Alden serius, dan benar-benar merasa bersalah. Alora bisa dengan cepat melihat kesungguhan Alden, karena pria itu benar-benar seperti plastik transparan. Kita bisa melihat isi dalamnya tanpa harus susah payah. Makanya Alora bisa bilang bahwa Alden adalan pria yang baik. Karena dia bersungguh-sungguh dalam berterimakasih dan meminta maaf.


"Oke..." Alora tersenyum, lalu kembali menegakkan tubuh, menatap Alden dengan lebih serius. Kemudian dia kembali berkata, "Kalau gitu, ayo main!"


"Ha-"


"Permisi, pesanannya kak..."


Alden belum sempat bertanya tentang maksud kalimat Alora, tapi kalimatnya terpotong karena waitress yang mengantarkan pesanan mereka. Keduanya tersenyum pada waitress, menerima pesanan mereka dengan baik. Kemudian setelah itu, kembali berhadapan dengan serius. Alden masih dengan pertanyaannya, dan Alora kembali dengan wajah seriusnya.


"Ayo main. Nikah-nikahan."


Pertama, Alden berdecih, lalu meminum ice americano-nya, kemudian tertawa sembari menggeleng. Alden kembali menatap Alora sembari berkata, "Aku gak tahu kamu segila ini."


"Aku pun baru tahu."


"Kamu gak boleh bercanda, Al."


"I'm not, Al."


Wajah Alden terlihat sangat serius. Tidak ada lagi sisa-sisa tawa ataupun senyum dibibirnya. Dia menatap lurus pada Alora. Dia tidak menemukan tanda apa pun di sana. Alora memang serius dengan kalimatnya. Jujur saja, pada tahap ini Alden memang tertarik dengan ajakan Alora untuk bermain 'nikah-nikahan'. Tapi tentunya tidak bisa semudah itu. Alden kini sedang memikirkan langkah selanjutnya.


"You know what, Al? Let's play the game."


Alora tersnyum puas, kemudian berkata, "Good. Kita semua dapat benefitnya."


"Gila kamu, Al!"


"I am! Anda juga gila, Mas Alden."


Keduanya tertawa, saling menertawakan kesintingan masing-masing.


"Ayo buat kesepakatannya." Ujar Alden.


Alora mengangguk setuju.


❖❖❖