Blooming At It's Time

Blooming At It's Time
¹¹ Pasal 1 : Keperluan Bersama



Sudah beberapa hari belakangan ini, Alora dan Alden sering bertemu. Apalagi setelah mengabari keluarga Alden, bahwa mereka setuju untuk menikah. Giri kelihatan senang bukan main. Dia langsung mengajak Alora makan malam bersama keluarga Alden. Hari ini adalah malam itu, di mana Alora duduk sembari memasang senyum yang paling meyakinkan. Alden pun begitu, berpura-pura membuka hati pada wanita yang baru dia kenal.


Keduanya hanya duduk mendengar perundingan tentang tanggal pernikahan mereka. Yang banyak berbicara tentu saja Giri, Kala, dan Trystan, Papa Alden. Yang sedikit bicara ada Isadora, adik perempuan Alden yang lebih muda 12 tahun. Gadis remaja itu kelihatan tidak peduli, karena yang dilakukannya selain makan hanya bermain ponsel.


"Tanggalnya bulan depan saja, sebelum Natal. Lebih cepat lebih baik." Ujar Giri dengan semangatnya yang menggebu.


Alden dan Alora sempat kaget. Selain dirasa terlalu cepat, juga karena mereka sudah lebih dulu membuat rencana setelah tahun baru 2022. Tertulis juga disurat perjanjian mereka yang berlaku sejak tahun baru. Alora sontak menyikut siku Alden, meminta pria itu mengatakan sesuatu untuk membantah Giri.


"Itu terlalu cepat, Opa. Kami sepakat untuk kenalan dulu pelan-pelan."


Alora berusaha tersenyum, walaupun yang dia dengar dari Alden adalah omong kosong. Berkenalan dengan Alden bukanlah hal yang penting baginya saat ini.


"Setelah menikah nanti kan bisa, yang penting sekarang menikah dulu." Giri masih teguh dengan pendiriannya.


"Kalau kalian sendiri, siapnya kapan?" Kali ini giliran Trystan yang bertanya.


Alden dan Alora saling menatap satu sama lain, sebelum Alden menjawab pertanyaan Trystan. "Menurut kami, waktunya cukup kalau setelah tahun baru."


"Tanggal satu saja! Hari yang bagus untuk mulai awal baru. Iya 'kan, Alora?" Giri menatap Alora dengan senyum yang merekah lebar. Kelihatan sekali Dia sedang merasa sangat senang.


Alora hanya tersenyum menanggapi Giri, dan diikuti dengan tawa dari orang-orang dewasa lainnya. Diskusi terus berlanjut, saat Alora merasa sedang diperhatikan. Dia menoleh ke arah Isadora yang sontak buang muka karena merasa ketahuan. Alora tersenyum simpul melihat Isadora yang mengingatkannya pada Harsa. Isadora terlihat seperti orang yang irit bicara seperti Harsa.


Sedetik setelahnya, ponsel Alora bergetar tanda pesan masuk. Karena yang lain sedang asik mengobrol, Alora menyempatkan diri mengecek ponselnya. Baru saja muncul dikepalanya, ternyata Harsa yang mengirim pesan pada Alora. Bukan pesan yang terlalu penting, hanya menanyakan kapan Alora akan pulang. Alora mengetik pesan singkat pada Harsa. Lalu, tepat setelah Alora mengirim pesan itu, ada pesan baru yang masuk, dari Sandra. Isinya tidak berbeda dengan pesan dari Harsa. Alora membalas pesan Sandra dengan cepat. Dalam hatinya dia menggerutu, berpikir kalau adik-adiknya pasti tidak bisa mengurus sesuatu sampai harus bertanya kapan Alora pulang.


Untungnya acara makan malam itu tidak berlangsung terlalu lama. Alora dan Alden kini sedang dalam perjalanan menuju rumah Alora, untuk mengantarnya pulang. Keduanya belum pergi terlalu jauh dari restoran tempat mereka makan malam. Tapi, ponsel Alora sudah bergetar untuk kesekian kalinya. Kali ini Sandra menelepon. Alora menghela napas, lalu mengangkat telepon dari Sandra.


"Kenapa?"


"Belum pulang?"


"Sudah, ini di jalan."


"Naik apa?"


"Diantar temanku. Kenapa? Kalian belum makan?"


"Oh... Enggak, sudah kok."


"Terus kenapa sih? Harsa cari kaus kaki? Suruh cari di laci kamarnya."


"Apaan! Enggak!"


"Aku tutup, dah!" Alora memijat keningnya yang mulai berdenyut. Tidak biasanya Sandra menelepon tanpa alasan seperti ini. Sekarang dia jadi khawatir dengan kondisi rumah. Mungkin saja dua anak itu merusak sesuatu di rumah.


"Kenapa? Kamu dicariin? Pulangnya terlalu malam ya?" Tanya Alden sambil sesekali melirik Alora dari bangku kemudi.


"Masih jam 9, malam apanya. Kadang aku baru berangkat kunjungan jam segini."


"Protektif juga ya adik-adikmu."


"Sudah ku bilang, 'kan?"


Alden tertawa, teringat respon Sandra dan Harsa, saat tadi dia menjemput Alora. Alden belum mengenalkan diri secara resmi, hanya bertemu sebentar. Begitu saja sudah mendapat tatapan tajam dari kedua adik Alora. Bagaimana nanti saat mereka menikah?


"Oh... Aku belum bilang ya? Perasaan sudah deh."


"Sudah apa? Aku baru tahu tadi. Jauh sekali bedanya, 12 tahun."


"Bahkan ada yang 20 tahun. Percaya gak?"


"Serius?"


"Loh, ada!"


"Hahaha, udah kayak bawa anak ya."


Mendengar Alora tertawa, Alden ikut tertawa. Setelah itu, untungnya Alora tidak bertanya lebih jauh tentang keluarga Alden. Karena memang ada beberapa hal belum dia ceritakan pada Alora. Sebaliknya pun begitu, ada beberapa hal tentang keluarga Alora yang belum diketahui Alden.


"Jadi, kapan aku bisa kenalan sama adik-adikmu?"


Alora membuat suara berpikir, "Hmm... Kukabari nanti ya... Aku cek jadwal Harsa dulu."


Alden mengangguk setuju, mengingat Harsa bekerja dengan sistem shift. Alden tahu, Alora yang cerita. Dia juga cerita soal Sandra, adiknya yang bekerja sebagai web designer. Sandra yang paling pintar, dan Harsa yang paling beruntung. Alora sudah menjadi tulang punggung bagi adik-adiknya sejak lulus SMA. Yah, sedikit banyaknya itu yang diketahui Alden tentang Alora.


Kalau dibandingkan, ternyata Alora tidak tahu banyak soal Alden. Yang dia tahu adalah Alden dijadikan penerus perusahaan oleh Giri. Memiliki keluarga bahagia dengan ekonomi yang sangat berlebih. Sebuah privilege yang tidak dimiliki Alora sama sekali. Jika berbicara tentang kehidupan Alden, Alora tak jarang merasa iri. Tapi apa yang bisa dikeluhkan? Alora hanya bisa menjalani hidupnya agar tidak mati.


Sepanjang perjalanan keduanya banyak mengobrol. Bukan hanya soal sudut pandang masing-masing, bahkan pengendara motor bisa dijadikan bahan obrolan. Mengomentari orang pacaran di pinggir jalan, atau sekedar menunjuk tempat makan enak. Kalau ada lagu kesukaan yang terputar di radio, volumenya dibesarkan. Seringnya Alora yang bersenandung, sepertinya wanita itu memang gemar mendengarkan musik. Dia tahu banyak lagu, berbeda dengan Alden yang lebih mengenal lagu-lagu tempo dulu.


"Roti bakar di sana enak banget! Gang rumahku di sebelahnya. Belok kiri, Al. Jangan nyasar kayak tadi!"


"Gak usah dibahas kenapa sih!"


Alora tertawa, merasa puas setelah mengejek Alden. Setelah mobil yang ditumpanginya berbelok ke kiri, Alora tanpa sengaja melihat seorang pria berjaket hitam dengan topi sedang mondar-mandir di bawah tiang listrik tak jauh dari rumahnya. Merasakan sesuatu yang mengganjal, Alora masih memerhatikan pria itu dari spion, walaupun dia sudah melewatinya. Bahkan sampai Alden memarkir mobilnya, dan Alora turun dari mobil, pria itu masih berdiri di sana. Hanya saja sudah tidak mondar-mandir dan seakan memerhatikan rumah Alora. Alora memicingkan mata, berusaha melihat lebih jelas dalam gelapnya malam. Tapi, pria itu sudah pergi dengan cepat, sebelum Alora sempat mengenalinya.


"Lihat apa sih?"


Alora sontak menoleh pada Alden yang tengah mencari-cari arah mata Alora.


"Oh, enggak. Tadi ada cowok di sana mondar-mandir." Balas Alora sambil menunjuk ke arah tiang listrik.


"Kebelet kali!"


"Idih, ngaco!" Alora tertawa kecil menghargai Alden yang sedang bercanda padahal tidak lucu. Dia juga memilih mengabaikan pria tadi. Mungkin memang kebelet beneran.


"Aku perlu masuk gak nih? Lapor kakaknya udah diantar dengan selamat."


"Pergi sana! Gak penting banget!"


Alden tertawa kemudian kembali ke dalam mobil setelah melambaikan tangan pada Alora. Setelah Alora masuk ke dalam rumah, barulah Alden pergi dari lingkungan rumah Alora.


❖❖❖


Lingkungan rumah Alora bisa dibilang cukup ramai. Gang rumahnya langsung terhubung dengan jalan raya. Banyak juga pedagang kaki lima dipinggir jalan. Tapi, lampu penerang di dalam gang sudah lama rusak. Sering berkedip dengan sendirinya, membuat pencahayaan pada malam hari sangatlah minim. Di bawah lampu penerang jalan yang berkedip, ada seorang pria berjaket hitam dengan topi. Wajahnya tidak terlihat jelas karena gelap, tapi malam tidak menghentikannya dari mengamati satu rumah sederhana di dekat sana. Rumah yang dihuni oleh tiga bersaudara. Alora, Sandra dan Harsa.


❖❖❖