
Pakaian serba monokrom menyelimuti ruang duka, kala Alora masih berusia 18 tahun. Sebuah bingkai foto yang menunjukkan sang Bunda tengah tersenyum lebar, terpampang di depan peti dengan rangkaian bunga. Adik perempuannya, Sandra yang kala itu masih berusia 14 tahun menangis tersedu-sedu sembari memeluk adik laki-lakinya, Harsa yang masih berusia 12 tahun. Alora dengan kedua mata yang sudah sembab, dan jiwa yang berkeliaran entah kemana, berkali-kali menerima salam dari para tamu hingga tak bertenaga. Alora tidak menangis, dia memandangi foto Bundanya dalam-dalam.
Segalanya masih terasa seperti mimpi, Alora belum bisa percaya dengan kenyataan yang harus dia hadapi. Di sampingnya, seorang pria paruh baya, juga terlihat kosong dan kacau. Alora sebagai anak perempuan tertua dikeluarganya, untuk sesaat larut dalam pikiran soal apa yang harus dia lakukan selanjutnya. Lalu satu waktu kemudian, pikirannya kembali kosong. Mayat hidup, mungkin itu kalimat yang tepat untuk menggambarkan kondisi Alora.
Tak sedikit tamu yang hadir, merasa iba pada ketiga bersaudara tersebut. Terlebih pada Alora yang kini harus menopang keluarganya. Ayahnya adalah seorang pemabuk yang gemar berjudi. Tak jarang Ayahnya membuat Bundanya kesulitan, sedangkan sang Bunda hanya pegawai negeri sipil golongan 2 yang gajinya pas-pasan untuk mengurus tiga anak. Sekarang, karena Bundanya sudah tiada, Alora harus berpikir keras untuk menghidupi keluarganya. Dengan uang pensiun yang sedikit, tentu akan sulit baginya untuk mengatur keuangan. Memikirkan beban yang terlalu berat ada dipundaknya, Alora sampai tidak bisa bebas untuk menangisi kepergian Bundanya.
Usianya kini 18 tahun, sebentar lagi Alora akan lulus SMA. Sepertinya tidak ada harapan bagi Alora untuk kuliah. Tidak, bahkan tidak terbesit sedikitpun ide untuk kuliah. Alora sudah membuang jauh mimpinya, memilih bekerja untuk memenuhi kebutuhan adik-adiknya yang masih harus melanjutkan sekolah. Alora tidak ada waktu untuk berduka.
Tak lama setelah sang Bunda pergi, Alora mulai bekerja serabutan. Pelayan restoran, kasir minimarket, penjual susu, apapun akan dijalaninya demi melanjutkan hidup. Pekerjaan itu dia lakukan setidaknya sampai ijazah SMA ada ditangannya. Bermodalkan ijazah SMA dan keberuntungan, Alora mendapat pekerjaan dengan gaji bulanan sebagai staff admin gudang, di salah satu pabrik obat-obatan. Ayahnya kabur entah kemana, sambil meninggalkan hutang judi, tanpa tanggung jawab.
Kala itu, lebih banyak rintangan dalam hidup Alora. Pernah suatu ketika, para rentenir menagih hutang sang Ayah sembari mengobrak-abrik seisi rumah. Alora terlambat membayar cicilan hutang, karena dia harus mendahulukan keperluan belajar adik-adiknya. Saat itu, pikirannya sangat kalut. Para pria berbadan besar tidak mau pulang tanpa uang besar. Mau tidak mau, Alora menggeledah lemari Bundanya yang terkunci rapat. Akhirnya, sepasang cincin pernikahan milik Bunda dan Ayahnya, raib begitu saja.
Setelah kejadian itu, malam harinya, Alora menatap kotak lemari sang Bunda yang disimpan di kamarnya. Dulu sekali, Bundanya sempat menitipkan lemari itu pada Alora. Dia diberi manat untuk menyimpan kuncinya, dan menjaga isi-isinya. Tapi kini, Alora malah menggunakan dua buah isinya untuk membayar hutang. Tatapan Alora terlihat kosong, entah karena merasa bersalah atau malah sebaliknya. Alora harus mengambil keputusan, walaupun berat, setidaknya dia yakin kalau sang Bunda akan mengerti.
Kemudian, Alora menjual semua barang-barang berharga yang ada di dalam lemari tersebut. Gelang emas peninggalan neneknya, perhiasan kecil milik Bundanya, baju-baju bekas sang Bunda, bahkan perabot ikut dia jual. Alora menatap selembar foto pernikahan Bunda dan Ayahnya, di sana, keduanya tersenyum lebar. Sang Bunda terlihat sangat cantik mengenakan gaun pernikahan itu. Dalam lubuk hati terdalam, Alora mengucap beribu-ribu maaf, kemudian mengambil gaun pernikahan Bundanya dari lemari. Ya, Alora menjualnya juga.
Setelah semua barang berharga di dalam rumah itu berubah menjadi uang, Alora mengumpulkan tiap lembarnya lalu membayar hutang sekaligus. Memang tidak langsung lunas, tapi setidaknya lumayan mengurangi beban cicilan perbulannya. Keadaan semakin membaik, seiring dengan terbiasanya Alora menjadi tulang punggung keluarga. Dia bersyukur memiliki adik-adik yang sangat pengertian, tidak manja, hemat, dan rajin. Alora tidak pernah mau memberatkan adik-adiknya untuk bekerja. Dia hanya ingin Sandra dan Harsa fokus pada impian mereka masing-masing. Tapi yang namanya sedarah, tidak akan tega membiarkan saudarinya kesulitan. Sandra diam-diam bekerja paruh waktu sepulang sekolah, sambil terus belajar demi mendapatkan beasiswa.
❖❖❖
5 tahun sudah berlalu, sedikit demi sedikit, akhirnya mereka berhasil melunasi hutang-hutang sang Ayah. Sandra pun, dengan kerja kerasnya, berhasil mendapat beasiswa di universitas negeri, dan mendapat fasilitas asrama. Di rumah hanya tersisa Alora dan Harsa, sedangkan Ayahnya masih belum kembali.
Pada suatu malam, Alora terbangun karena suara gaduh dari bekas kamar Bundanya. Baru saja Alora hendak mengecek, Ayahnya sudah keluar dari kamar, dan pergi dengan terburu-buru. Melihat gelagat sang Ayah, Alora lantas mengejar pria paruh baya itu, hampir seperti orang gila. Tapi apa mau dikata, Ayahnya berhasil kabur. Lantas Alora kembali ke kamar Bundanya dan mengecek apakah ada sesuatu yang hilang. Tubuhnya langsung lemas seketika, begitu menyadari sertifikat rumah mereka sudah lenyap. Satu-satunya aset yang mereka miliki, kini lenyap ditelan iblis tak bertanggung jawab.
Hari itu, untuk kesekian kalinya Alora sangat ingin menyiksa sang Ayah. Satu-satunya sisa benda yang dianggap berharga oleh Bundanya adalah, selembar foto pernikahan usang. Alora menatap foto itu dalam-dalam, lalu mencengkram nya kuat-kuat. Dia menyalakan api dengan korek, lantas membakar habis foto itu. Setelah sekian detik terbakar, Alora teringat permintaan terakhir sang Bunda.
Mengingat hal itu, Alora menjadi semakin marah kepada sang Bunda. Bagaimana bisa dia menyiksa anaknya seperti ini? Mungkin Bundanya kuat menahan, tapi bagaimana dengan Alora, Sandra, atau Harsa?
Malam itu, untuk pertama kalinya Alora berteriak menangis, memukul dirinya sendiri saking sakit yang dirasa menjalar ke sekujur tubuh. Harsa yang terbangun hanya berusaha menenangkan kakaknya, ikut menangis, takut kalau-kalau Alora melakukan hal yang berbahaya. Saat itu adalah musim hujan, di mana udara malam terasa sangat dingin. Bahkan di antara pelukan Alora dan Harsa, masih terasa dinginnya air mata yang membasahi mereka.
❖❖❖
Hal yang ditakutkan Alora akhirnya benar-benar terjadi. Rumah satu-satunya yang mereka miliki, kini ludes menjadi bahan taruhan Ayahnya. Dan kini Ayahnya menghilang lagi. Alora dan Harsa harus mencari tempat tinggal baru, dengan uang yang sedikit. Kondisi dalam rumahnya sudah sangat kacau. Alora dan Harsa harus memungut beberapa hal yang mungkin masih berguna. Di satu titik rumahnya, Alora menemukan dasi panjang yang mungkin milik Ayahnya. Saat itu, hal terkecil tentang Ayahnya benar-benar membuat Alora murka.
Dadanya sesak, napasnya menjadi semakin pendek. Bulir air mata sudah penuh sampai menghalangi pengelihatannya, Alora sudah tidak tahan lagi. Dengan dasi panjang itu, Alora melilit lehernya lalu ditarik kencang-kencang. Air matanya menetes tanpa permisi, napasnya tercekat ditenggorokan. Dia tidak tahu, sakit itu disebabkan oleh lilitan dasi atau rasa bencinya pada sang Ayah. Yang jelas, saat itu Alora enggan untuk hidup.
"Kak Alo!"
Alora belum sempat melayangkan nyawanya, saat Harsa memanggilnya dari luar. Seketika Alora tersadar, setelah mendengar suara Harsa yang menolongnya bagai malaikat. Dia segera melepas lilitan dasi dilehernya, seraya menangis menyesali perbuatannya. Alora sempat mengumpati dirinya sendiri, karena sudah terlalu bodoh dalam mengambil keputusan.
"Kak!"
Setelah mendengar suara Harsa, Alora giliran mendengar suara Sandra dari luar. Alora langsung berjalan cepat menuju arah suara. Di halaman depan, ada Harsa dan Sandra yang tengah memungut beberapa benda dari tanah. Alora memandangi kedua adiknya yang sesekali berbincang, mendiskusikan barang yang mungkin masih berguna. Dasi panjang itu akhirnya lepas dari genggamannya. Sejak saat itu, Alora sadar, dirinya masih dibutuhkan. Dia harus hidup demi adik-adiknya.
Tiga bersaudara itu hidup saling bergantung. Tanpa orang tua, tanpa sanak saudara lainnya, tanpa keluarga besar. Hanya mereka, dan itu saja sudah cukup.
❖❖❖