
Segala kejadian kemarin berjalan dengan sangat mulus. Bahkan Alora membantu Alden untuk berbohong pada Giri. Jadi, tidak ada yang tahu bahwa Alden menemui Shella dan malah meninggalkan Alora pulang sendirian dari Bali. Segalanya berjalan dengan mulus, tapi entah kenapa Alden masih gelisah. Melihat Alora yang tampak baik-baik saja, semakin membuat Alden merasa tak menentu.
Sekarang, saat baru saja memasuki ruang kerjanya setelah meeting, Alden langsung memijit pelipisnya. Belakangan ini banyak sekali yang harus dipikirkan Alden, belum lagi masalah pekerjaannya. Alden menghela napas panjang, kemudian membuka pintu ruang kerjanya dan menemukan Kenzo yang buru-buru berdiri menyambutnya. Alden jelas melihat tanda tanya besar di wajah Kenzo, tapi pria itu tidak mengatakan apa pun.
"Kenzo..."
"Iya, Mas?"
"Coba... kamu ke sini." Alden mengayunkan tangannya, memanggil Kenzo untuk mendekatinya.
Kenzo yang tidak tahu apa-apa, jadi cemas dan langsung memikirkan segala perbuatannya yang mungkin terlihat salah dimata sang bos. Kenzo mengusap tangannya yang berkeringat ke celana, saat Alden menepuk bahunya. Alden sedikit mencengkram bahu Kenzo, membuat sang empunya semakin takut tak karuan. Dalam hati Kenzo bertanya-tanya, "Gustiiiii, opo meneh iki?"
"Kamu... pernah gak sih? merasa jadi orang brengsek?"
"Gimana mas? Orang brengsek?" Kenzo mengusap tangannya ke celana lagi. Tiba-tiba tangannya tidak mau berhenti berkeringat. Bahkan pelipisnya sudah keringat dingin, saat mendengar pertanyaan Alden. Kenzo tertawa renyah, bingung harus bagaimana.
"Hehehe... Mas Alden, maaf kalau saya ada salah." Kenzo menunduk sedih.
Alden langsung ter-hah-hoh saat mendengar respon Kenzo. Lantas Alden langsung menepuk bahu Kenzo sekali, untuk membuatnya lebih tenang.
"Bukan kamu! Saya cuma lagi merasa... bersalah?"
"Hah? Memangnya Mas Alden buat salah apa?"
Alden tidak langsung menjawab pertanyaan Kenzo. Dia menggaruk dahinya dua kali, lalu menatap Kenzo yang penasaran. Tidak mungkin dia menceritakan masalah pribadinya pada Kenzo. Seharusnya dia tidak pernah membicarakan apa pun dengan Kenzo. Alden mulai menyesali keputusannya.
"Yah... ada lah."
"Yaaa, kalau Mas Alden merasa bersalah ya minta maaf aja, Mas."
"Sebenrnya gak sepenuhnya salah. Tapi..."
"Jadi sebenernya salah atau enggak, Mas?"
Yah, Alden sudah menyesali keputusannya untuk membicarakan hal ini pada Kenzo. Dia menghela napas panjang, melihat Kenzo yang tidak mungkin bisa membantunya berpikir. Lalu Alden menggelengkan kepala, sambil menepuk-nepuk punggung Kenzo.
"Udahlah, gak usah dipikirin. Balik ke mejamu." Ujar Alden, kemudian kembali memasuki ruang kerjanya.
Jam operasional kantor sudah hampir habis, dan Alden masih duduk-duduk dikursinya sambil menatap kosong ke atap ruang kantor. Padahal banyak yang harus dia urus, tapi hari ini Alden sedang tidak ingin menyentuh pekerjaan sedikit pun. Sepertinya Kenzo akan lembur lagi hari ini, terima kasih kepada bos tidak tahu diri seperti Alden. Di sela-sela lamunan Alden, ponselnya berdering. Alden langsung menegapkan posisi duduknya saat melihat nama yang tertera pada layar ponsel. Sandra, adik iparnya yang paling ceriwis menelepon.
"Halo?"
"Kak Alden di mana? Udah pulang?"
"Belum. Mungkin sebentar lagi. Kenapa, San?"
"Aku sama Harsa mau ke rumah, ya. Mau kasih kejutan ulang tahun buat kak Alo. Kak Alden udah beli kue?"
Alden langsung terkesiap, lalu mengecek kalender untuk memastikan. Sial, hari ini benar-benar ulang tahun Alora. Dan Alden melupakannya, bahkan sejak pagi dia tidak mengucapkan selamat ulang tahun pada Alora. Memang dasar suami tidak tahu diri. Perasaan bersalahnya pada Alora menjadi berlipat ganda dengan cepat.
"Oh... Udah! Udah... Iya..." Alden menggaruk kepalanya yang tak gatal, saking bingungnya menjawab Sandra. Adik iparnya itu pasti mengira bahwa dirinya menyiapkan sesuatu untuk Alora. Padahal ingat saja tidak.
"Hm... Aku masih ada urusan sebentar. Hm... Nanti kalau udah di jalan pulang, aku kabari ya, San."
"Yaudah. Ini juga masih nunggu Harsa, sih. Oiya, Kak Alo juga pulang telat hari ini. Santai aja Kak."
"Oke, San."
Begitu telepon terputus, Alden langsung buru-buru pergi, tidak peduli jika jam operasional kantor belum usai. Untuk saat ini, biarlah Alden bolos. Lagi pula siapa yang mau menegus Direktur Utama? Kenzo? Pria itu malah menangis dalam diam karena harus lembur lagi malam ini.
Alden langsung pergi menuju beberapa butik, dan tinggal menunjukkan jarinya, beberapa bungkus paper bag sudah ada ditangannya. Mulai dari Gucci, Channel, Cristian Dior, hingga Louis Vuitton sudah dia dapatkan. Kemudian dia bergegas membeli kue ulang tahun untuk Alora. Biarlah dia mengeluarkan banyak uang untuk saat ini, Alden juga ingin menebus rasa bersalahnya pada Alora.
Begitu sampai di Apartemen, Alden bergegas membereskan kamar Alora, sehingga tidak terlihat kalau mereka tidur di kamar terpisah. Beberapa barang yang bisa menimbulkan pertanyaan juga disembunyikan. Alden memasukkan kue yang baru saja dia beli ke dalam kulkas, membuatnya seperti memang sudah disiapkan. Alden juga mengecek jarinya untuk memastikan bahwa dia sudah memakai cincin pernikahannya.
❖❖❖
Rasanya memang lumayan janggal saat Sandra tiba-tiba menelepon Alora, hanya untuk bertanya kapan dia akan pulang. Alora lumayan dibuat gelisah oleh panggilan telepon dari Sandra. Alora bahkan tidak sempat mengobrol dengan dokter yang dia kunjungi. Ada sedikit kecurigaan Alora, kalau Sandra dan Harsa akan mengadakan kejutan ulang tahun untuknya. Yang mana hal itu tidak boleh terjadi diapartemen Alden. Apalagi jika Alden tidak tahu menahu tentang ini. Bahkan Alden tidak tahu bahwa hari ini adalah ulang tahun Alora.
Alora mempercepat langkahnya menuju pintu apartemen Alden. Setelah membuka pintu, Alora langsung dikejutkan dengan suara teriakan dari beberapa orang yang dia kenal. Dugaan Alora benar, Sandra dan Harsa memang merencanakan kejutan untuknya. Tapi, bagaimana bisa Alden ikut-ikutan dalam acara ini? Pria itu bahkan berdiri di tengah sambil membawa sebuah kue.
"HAPPY BIRTHDAY!"
Alora sempat menatap Alden, meminta kejelasan. Menyadari tanda tanya besar di wajah Alora, Alden tertawa renyah. Pria itu melirik sekilas pada Sandra, kemudian berkata, "Happy birthday istriku!"
Alora hampir mual mendengarnya, beruntung dia tidak muntah.
"Kalian ngapain ke sini?" Tanya Alora pada Sandra dan Harsa.
"Kurang pas rasanya kalau gak dirayain tuh!" Seru Sandra.
"Make a wish!" Alden menyodorkan kue dengan lilin yang menyala.
Alora memejamkan mata sejenak, lalu meniup lilin di atas kue itu. Sandra dan Harsa bertepuk tangan sambil bersorak riang. Alora hanya tersenyum melihat keduanya yang sangat dia rindukan.
"Kak Alo liat deh. Tuh, kado dari Kak Alden." Sandra menunjuk banyak paper bag yang disejajarkan dekat sofa.
Melihat barang mahal sebanyak itu, Alora hampir menjatuhkan rahangnya. Dia menoleh pada Alden, lagi-lagi meminta penjelasan. Tapi pria itu malah cengar-cengir tidak jelas. Alora tidak mengerti apa yang merasuki Alden. Padahal tadi pagi Alden tidak mengucapkan apa pun pada Alora, tapi malam ini bahkan ruang tengah dihias sedemikian rupa.
"Potong kuenya! Potong kuenya!" Harsa bernyanyi dengan nada yang kesana-kemari.
Kemudian, semuanya berkumpul memutari meja ruang tengah. Alora sudah membagikan kue untuk masing-masing orang. Sementara Sandra dan Harsa mengagumi rasa kue mahal yang mereka makan, Alora mendekatkan diri pada Alden untuk berbisik.
"Kamarku udah beres?"
"Udah. Aman."
"Ini rencana Sandra ya?"
"Hm. Aku langsung pulang waktu Sandra telepon."
"Pantas aja. Kamu 'kan lupa hari ini ulang tahunku."
"Itu... Yah, sorry."
Alora berdecih, lalu memakan kuenya. Tak lama kemudian, ponsel Alden berdering. Tanpa bermaksud mengintip, Alora sempat melihat nama yang tertera di ponsel Alden karena dia memang sedang duduk di dekat pria itu. Tanpa aba-aba Alden langsung bangun dan masuk ke dalam kamar untuk mengangkat telepon. Orang yang meneleponnya malam itu adalah Shella.
Beberapa saat kemudian, Alden membuka pintu kamar dan langsung bertukar pandang dengan Alora. Seolah wanita itu memang menunggu Alden membuka pintu. Alden tidak mengucapkan sepatah kata pun, tapi raut wajahnya sudah cukup menggambarkan segalanya. Alora mengangguk mengerti lalu memberi aba-aba pada Alden untuk pergi.
"Uh... Sandra, Harsa..."
"Udah sana, Al. Nanti Opa nungguin." Alora memotong kalimat Alden, saat pria itu hendak permisi pada Sandra dan Harsa.
"Loh? Kak Alden mau ke mana?"
"Opanya barusan telepon. Pasti ada yang penting." Balas Alora.
Alden menghela napas, menatap Alora yang sudah buang muka. Lagi-lagi Alora harus berbohong demi dirinya. Niat untuk menebus kesalahan malam ini, malah tergantikan dengan menambah rasa bersalah. Seakan tidak bisa berkutik, Alden langsung meninggalkan tiga bersaudara itu sambil mengucap maaf beberapa kali.
Alora memerhatikan Alden, hingga bayangan pria itu menghilang dari balik pintu. Di hari yang spesial bagi Alora, Alden malah pergi begitu saja. Hari ini ada kedua kali Alden meninggalkannya begitu saja demi Shella. Meskipun merasa kecewa, Alora tidak mampu berbuat apa-apa. Lebih tepatnya, dia tidak mau karena dia sudah menyetujui janji mereka. Alora harus menepati janji untuk tidak ikut campur. Lagi pula Alden bukan miliknya sejak awal. Dan sejak awal, malam Alden memang milik Shella, bukan Alora.
❖❖❖
Happy Birthday Alora.