
Setelah berbincang melepas banyak pertanyaan yang disimpan pada Genta, Alora akhirnya menuju rumah kontrakannya dulu. Di rumah sudah ada Sandra dan Harsa yang sibuk mencoba barang-barang pemberian Alora. Sandra terlihat sangat riang, seperti reaksi yang diharapkan Alora. Namun, Alora tak menyangka Harsa juga akan sesenang itu dengan hadiah pemberian Alora yang dia beli dengan uang Alden. Melihat senyum dari kedua adiknya, Alora merasa berterimakasih pada Alden.
"Kok Kak Alo bisa tau yang aku mau sih? Ini kan keluaran terbaru!" Seru Harsa, dengan mata berbinar-binar sambil mencoba sepatu barunya.
"Hahaha! Seneng banget kamu, Har?" Tanya Sandra, yang juga tak menyangka dengan reaksi Harsa.
"Senenglah. Kan dari Kak Alo." Harsa tersenyum manis pada Alora lalu berkata, "Makasiii kak Alo!!!"
"Makasi kak Alo!!!" Sahut Sandra.
"Makasi sama kak Alden juga. Ini semua uang dia."
Sandra ternganga mendengar ucapan Alora, sambil melihat banyaknya barang yang dibeli.
"Enaknya... Punya suami kaya."
"Sandra! Mulutmu!"
Sandra hanya cengengesan setelah ditegur oleh Alora.
Alora hanya menatap kesenangan adik-adiknya, bahkan hampir melupakan tujuan utamanya. Dia baru sadar saat Sandra bertanya. Kalau tidak mungkin Alora akan kehilangan momen untuk menceritakan kesulitannya.
"Oh iya, kak Alo katanya ada yang mau diomongin?"
"Oh? Iya..."
"Kenapa, Kak?"
Sandra dan Harsa langsung memasang atensi penuh pada Alora. Sementara Alora menyiapkan diri, dia bergantian melihat ke dalam tatapan Sandra dan Harsa.
"Kalian udah tau kalau kantorku mau angkat SPV baru 'kan?"
Sandra lantas menjentikkan jarinya, "Aaahh! Kak Alo beneran?? Naik jabatan?"
Alora tersenyum kecil, sambil berusaha menyembunyikan wajahnya. Dia tidak tega melihat Sandra yang sudah berekspektasi tinggi. Tapi mau tidak mau memang dia harus mengatakannya. Jadi Alora kembali menatap kedua adiknya, menarik napas lalu dengan yakin menceritakan segalanya.
"Enggak. Aku resign..." Ujar Alora dengan nada sesantai mungkin, sambil tersenyum. Dengan tujuan untuk tidak membuat adik-adiknya khawatir.
"Kenapa?" Tanya Harsa khawatir.
"Hah? Bukan kak Alo yang naik?"
Alora menggeleng.
"Kenapa bukan kak Alo?" Harsa tiba-tiba meninggikan suaranya, sambil berpura-pura menarik lengan padahal dia memakai baju lengan pendek. "Udah gila kalau kak Alo gak dipilih!"
"Makanyaa!! Terus siapa yang naik?" Tanya Sandra.
"Ada... Kalian juga gak kenal."
"Wah... Orang dalem pasti!"
Alora tertawa kecil mendengar Sandra skeptis, "Bukan... Pokoknya bukan karena itu." Alora melambaikan tangannya di udara sekali.
"Udah berapa lama?"
"Hah?" Alora langsung menatap Harsa, memintanya mengulangi pertanyaan.
"Udah berapa lama kak Alo resign?"
Alora sempat memberi jeda, dan akhirnya menjawab pertanyaan Harsa. "Udah beberapa hari ini."
"Kak Alo gak apa-apa?" Sekarang Sandra yang bertanya.
Dari sorot mata kedua adiknya, Alora tahu mereka khawatir. Jadi Alora cepat-cepat tersenyum, kemudian mengangguk.
"Gak apa-apa kok."
"Syukurlah. Makasi kak Alo udah mau cerita."
"Walaupun telat." Sandra langsung menyahuti kalimat Harsa, sampai pria itu menatapnya kesal.
"Tapi syukurlah... Sekarang ada kak Alden yang bisa langsung denger cerita kak Alo." Lanjut Sandra.
Harsa mengangguk setuju. "Jadi kak Alo gak pendem semuanya sendirian lagi."
Saat itu juga, Alora langsung teringat kalimat Alden yang menyuruhnya menceritakan masalah dengan Sandra dan Harsa. Diluar dugaan Alora, ternyata Sandra dan Harsa mampu merespon dengan baik. Walaupun jelas mereka tampak khawatir, tapi Sandra dan Harsa tetap menghargai pilihan Alora. Seketika Alora merasa emosional, menyadari adik-adinya sudah tumbuh semakin dewasa. Rasanya baru kemarin Sandra dan Harsa masuk sekolah, sekarang mereka sudah bisa ngurus dirinya masing-masing.
Di tengah keheningan singkat itu, Sandra menepukkan tangan sekali lalu berseru, "Baguslah! Buat apa bertahan di perusahaan kayak gitu!"
Harsa mengangguk setuju.
"Terus? Setelah ini rencana kak Alo gimana?" Tanya Harsa.
"Yah... Cari kerja yang lain..."
"Gak usah kerja! Istirahat aja! Kak Alo udah kerja keras sejak Bunda pergi. Kak Alo istirahat aja! Suami kak Alo 'kan kaya. Perlu apa lagi coba?" Ujar Sandra dengan mulut kurang ajarnya. Ingin sekali Alora memukul mulut nakal Sandra.
"Mulutmu, San."
"Iya, kak Alo gak usah kerja aja."
"Tumben kamu banyak omong, Har?"
"Aku ngomong satu kalimat aja padahal."
"Kesal dia." Sandra mencibur Alora. "Ini nih, terlalu terbiasa kerja. Jadi gak bisa diem, maunya kerja terus."
"Kalau gitu, lakuin aja apa yang kak Alo mau. Udah cukup kak Alo kerja buat aku sama kak Sandra."
"Iya. Kita udah bisa urus diri sendiri. Sekarang waktunya kak Alo lakuin apa pun yang kak Alo mau."
Alora menatap Sandra dan Harsa bergantian. "Aku terlalu tua buat hal kayak gitu..."
"Gak ada batasan usia buat hal kayak gitu. Kita bebas melakukan apa yang kita mau sampai usia berapa pun." Sandra menggebu-gebu.
"Kak Alo udah kerja keras selama ini. Kita sedih kak Alo gak pernah lakuin apa yang kak Alo mau."
Alora menatap Harsa yang baru menyelesaikan kalimatnya. Kemudian Alora berpikir, mencari hal yang selama ini ingin dia lakukan. Tapi semakin lama dia mencari, semakin campur aduk ingatan dikepalanya. Alora tidak bisa menemukan hal yang ingin dia lakukan. Dia sudah memendam segalanya sejak lama.
"Aku gak tau apa yang aku mau."
"Kalau gitu cari."
"Ikut kursus mungkin, atau cari pengalaman ikut volunteer, atau apa kek..."
"Bukannya kak Alo suka masak? Mungkin bisa cari pengalaman di restoran atau cafe." Usul Harsa.
"Masa sih?" Alora menghela napas panjang.
Alora bahkan tidak tahu kalau dia suka memasak. Setelah Harsa mengatakan itu, Alora ingat kenangan tentang dia memasak bersama Bundanya. Itu adalah kegiatan yang paling menyenangkan bagi Alora. Entah karena memang dia suka memasak, atau karena dia melakukannya bersama sang Bunda. Karena setelah sang Bunda pergi, Alora menganggap memasak adalah suatu kewajiban untuk bertahan hidup.
"Oh! Aku inget banget Bunda sama kak Alo bikin kue ulang tahun Harsa. Itu enaaaakk bangeet!"
"Iya 'kan? Aku juga masih inget."
Kemudian Sandra dan Harsa tertawa, sedangkan Alora di sana berusaha menggali hal yang dia kubur dalam-dalam.
Dalam perjalanan pulang, Alora masih larut dalam pikirannya. Bahkan dia tidak sadar Alden menunggunya di ruang tengah, dan hampir langsung masuk ke kamar.
"Udah seneng-seneng hari ini?"
"AAHH! Sejak kapan kamu di sana?!" Alora tampak terkejut.
"Lagi mikirin apa sih? Sampai gak liat aku di sini dari tadi."
Alora masih mengelus-elus dada, menenangkan jantungnya yang berderu kencang.
"Kamu udah seneng-seneng hari ini? Lumayan banyak juga kamu belanja." Keluh Alden.
"Kok kamu tau?"
"Handphone ku penuh notifikasi."
Alora langsung mengatup bibirnya, tak mau membela diri. Memang benar dia memakai banyak sekali uang Alden untuk membeli hadiah Sandra dan Harsa. Karena itulah, Alden kini menatap bingung pada Alora yang tampak tidak membawa belanjaan apa pun.
"Kamu belanja banyak, tapi gak bawa apa pun?"
"Aku belanja buat Sandra sama Harsa aja."
"Hah? Gak beli buat dirimu sendiri?"
Alora menggeleng, sementara Alden menghela napas panjang.
"Harusnya kamu beli juga buat dirimu sendiri. Kamu gak mikirin dirimu sendiri?"
Alora tiba-tiba menatap Alden dengan tatapan yang sulit diartikan. Menyadari perubahan sorot mata Alora, Alden mengernyitkan dahi keheranan.
"Sandra sama Harsa juga bilang gitu."
"Bilang apa?"
"Aku harus mikirin diriku sendiri."
Kali ini giliran Alden yang diam.
"Aku gak tau. Mereka suruh aku ngelakuin apa pun yang aku mau. Tapi aku gak tau."
"Sini..." Alden mengayunkan tangan, memanggil Alora untuk duduk bersamanya di ruang tengah. "Cita-citamu apa?" Alden lanjut bertanya saat Alora sudah duduk di sampingnya.
"Entahlah. Aku gak inget kapan terakhir kali punya cita-cita."
Alden tidak menatap Alora. Dia menatap langit-langit ruang tengah, ikut mengingat impian masa lalu yang juga telah lama terkubur. Semakin dewasa, kita memang semakin melupakan mimpi dan hanya berjalan pada jalur yang ada. Mengikuti arah angin yang mendorong langkah walaupun berat. Tapi semua itu terlewati dengan baik sampai saat ini. Alora dan Alden melewatinya dengan sangat baik.
"Kalau gitu cari."
Alora langsung menoleh pada Alden yang masih mendongak. Alora tidak berpaling sampai pria itu balas menatapnya.
"Mereka juga bilang gitu."
"Masa? Baguslah."
Alora hanya mengernyitkan dahinya, menatap Alden bingung.
"Besok kamu harus keluar, cari suasana baru. Belanja buat dirimu sendiri."
"Kamu dikte aku?"
"Aku yang kasih uangnya 'kan? Mending kamu nurut."
"Hah? Apa-apaan?"
"Kamu udah makan?"
"Udah. Kamu?"
Alden diam sejenak, lalu menggelengkan kepalanya.
"Eeehh??? Jam segini??? Kenapa gak bilang?!" Alora langsung menatap jam dinding yang sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Jaket dan tasnya dibiarkan di atas sofa, lalu beranjak menuju dapur.
"Aku mau denger ceritamu." Ujar Alden sambil mengikuti Alora ke dapur.
Sembari membuka kulkas, Alora berseru kesal. "Ya kan bisa pesen!"
"Gak ada yang enak. Bingung juga mau makan apa."
"Ada telur! Kan bisa masak telur aja!"
"Gak bisaaa aku."
Alora menggerutu kesal, lantas membawa beberapa bahan dari kulkas untuk disiapkan.
"Kamu mau masak apa?"
"Jangan ajak aku ngomong!"
Alden tertawa, sementara Alora menatapnya setajam belati yang siap menikamnya kapan pun.
❖❖❖