Blooming At It's Time

Blooming At It's Time
²³ Bali Bersemi



Sudah hampir satu bulan Alden dan Alora menikah, tapi baru kali ini mereka bepergian. Keduanya sudah pasrah dengan keadaan, dan berniat menikmati saja liburan gratis dari Giri. Kalau dipikir-pikir memang Alora beruntung sekali bisa menikah dengan Alden, sang pewaris keluarga Adhigana. Kapan lagi dia bisa terbang dengan pesawat first class, ke Bali pula. Terlepas dari rasa terkejutnya, Alora juga senang bisa liburan setelah sekian lama hanya kerja, kerja, dan kerja. Bahkan terlihat jelas kalau Alora yang paling bersemangat dalam perjalanan ini.


Di dalam pesawat, Alora sudah sangat sibuk melihat ke luar jendela dengan senyum yang merekah. Pipinya merona, terlihat sekali kalau dia sangat senang. Sesampainya di Bali, Alora sibuk memotret, dan mengganggu Alden untuk memotretnya di sana dan di sini. Hampir satu bandara di abadikan lewat foto oleh Alora. Kelihatan sekali kalau dia baru pertama kali ke Bali. Tidak sampai di situ saja, saat baru sampai di kamar salah satu hotel pinggir pantai yang sudah disiapkan untuk mereka, Alora kembali sibuk memotret dengan ponselnya. Lagi-lagi Alden diganggu untuk memotret Alora disetiap sudut ruang kamar. Padahal Alden yang membawa semua koper mereka, dia juga yang harus diganggu Alora. Kalau Alora terlihat seperti sinar matahari yang bersinar terang, Alden lebih cocok disamakan dengan langit mendung yang bergemuruh.


"Aku tidur dikasur, kamu disofa." Ujar Alden, sembari merebahkan tubuhnya yang sudah lelah di atas ranjang king size. Alden tidak peduli dengan rangkaian bunga mawar di atasnya, dia harus merebut hal milik atas ranjang itu dari Alora.


"Okay!" Alora berseru riang.


Alden lantas bangun, dan melihat Alora yang berjalan melompat-lompat menuju balkon yang langsung menyuguhkan pemandangan pinggir pantai. Mungkin wanita itu terlalu gembira sampai tidak sadar harus tidur di sofa. Alden jadi heran, karena Alora tidak memperebutkan ranjang luas dan nyaman itu. Melihat masalah ranjang yang selesai dengan cepat, Alden merasa sedikit tidak puas. Sehingga dia mengulang kalimatnya lagi untuk memperjelas hal miliknya.


"Aku tidur dikasur! Awas kamu kalau nanti minta tidur dikasur!"


Alora tidak peduli, dia sibuk dengan kamera ponselnya. Sesekali melihat hasil fotonya, lalu kembali memotret.


"Kamu tidur di-"


"Iya iya! Bawel banget sih?! Lagian sofanya besar. Aku kan kecil!" Alora memotong kalimat Alden, kemudian kembali sibuk dengan aktivitasnya mengagumi Bali.


Sedangkan Alden, kembali merebahkan tubuhnya diranjang. Alden menatap langit-lagit kamar, sembari mengistirahatkan tubuhnya. Matanya terpejam, berharap bisa tidur siang tapi gagal. Tubuhnya berpindah posisi ke kanan dan ke kiri, tapi tetap tidak bisa tidur. Pada titik ini, Alden merasa bosan. Akhirnya dia bangun, dan hanya duduk diam di atas ranjang. Saat itu juga, terdengar suara Alora yang bersenandung dari teras. Alunan nada itu terdengar sangat lembut, sangat menenangkan seakan membawa tubuh yang lelah itu bermain di pinggir pantai. Alden hanyut dalam senandung Alora.


Alden berusaha menemukan sosok Alora. Dia keluar dari kamar, menuju balkon. Alora sedang duduk di kursi, bersenandung sembari memainkan ponselnya. Alden tidak menegur wanita itu. Dia hanya berdiri di ambang pintu balkon, bersandar pada pintu yang terbuka, menatap Alora. Dia tidak melakukan apa pun, tapi jantungnya seakan berperang di dalam sana. Berderu kencang, dengan ritme yang sangat nyaman untuk dinikmati. Suara Alora bukan hanya masuk ke telinga Alden, tapi hatinya juga. Siang itu, entah hanya halusinasi atau karena terbawa suasana, Alora jadi terlihat bersinar dimata Alden. Sampai pria itu mengangkat bibirnya tanpa sadar.


"Lebih bagus yang mana? Ini atau ini?"


"Jelek semua." Ujar Alden, sengaja mengejek. Lantas Alora berdecak dan menatap Alden kesal, sedangkan pria itu hanya tertawa.


"Kamu gak lapar?" Tanya Alden.


"Oh! Ayo jalan-jalan!" Alora menepuk tangannya, hampir melompat kegirangan.


"Aku lapar, kenapa malah jalan-jalan?" Keluh Alden.


Bibirnya memang mengeluh, tapi Alden masih mengikuti ke mana pun Alora pergi. Mereka pergi ke toko pakaian, oleh-oleh, sampai pernak-pernik buatan tangan yang mayoritas penjualnya adalah orang lokal. Keduanya menyusuri jalanan Kita yang ramai dengan keunikannya sendiri. Mereka belum makan siang, tapi sudah merasa kenyang dengan camilan yang dibeli dari pedagang kaki lima. Jalan-jalan sambil ngemil, adalah salah satu kegiatan kesukaan Alora. Mungkin Alden mulai menyukainya juga, jalan-jalan sambil ngemil. Alden benar-benar terhipnotis oleh Alora, sampai dia mau mengikuti dan menuruti permintaan wanita itu.


"Oh? Ada yang jual bunga." Alora lantas menghampiri pria tua yang terduduk di pinggir jalan dengan beberapa tangkai bunga mawar merah di dalam ember. Alora terlihat sangat riang dan ramah saat berbincang dengan pedagang bunga itu.


Sepertinya Alden benar-benar terbawa suasana. Detak jantungnya kini tidak bisa diajak kompromi. Bisa-bisanya dia terpesona dengan Alora yang sangat biasa itu. Bisa-bisanya jantungnya berdetak kencang untuk wanita seperti Alora. Kali ini, Alden benar-benar terhipnotis oleh Alora. Hiruk-pikuk jalanan Kita terasa sangat tenang di telinga Alden, saat dia menatap Alora yang sedang tersenyum. Wanita itu menyodorkan setangkai mawar merah pada Alden.


Alden mengedipkan mata beberapa kali untuk membuatnya sadar. Tentu saja dia tidak mau terlihat bodoh dengan tatapan seperti itu. Alden menerima bunga mawar itu, tanpa bertanya sedikit pun. Padahal banyak pertanyaan yang muncul hanya karena setangkai mawar merah itu. Kenapa Alora beli mawar ini? Kenapa Alora memberikannya pada Alden? Dan kenapa-kenapa yang lainnya. Tapi tanpa mengajukan pertanyaan, Alden hanya mengikuti langkah Alora. Alden mengikuti Alora menaiki beberapa anak tangga, sampai wanita itu berhenti di depan monumen bertuliskan banyak nama.


Setelah Alora meletakkan setangkai bunga mawar di depan monumen, barulah Alden memeriksa sekelilingnya. Alden membaca nama-nama yang terukir di sana, tak satu pun dari sekian banyak nama itu yang dia kenal. Setelah beberapa saat, Alden baru sadar mereka sedang berada di Ground Zero, monumen yang dibangun untuk mengenang tragedi bom Bali tahun 2002. Alden menoleh pada Alora dan melihat wanita itu memejamkan mata sembari melipat tangan di dada. Alora sedang berdoa, sangat tenang untuk dilihat. Alden tersenyum, tidak lagi ambil pusing dengan perasaannya. Dia kagum dengan wanita itu, itu saja. Setidaknya Alden memutuskan untuk hanya sekedar kagum dengan Alora.


Alden ikut meletakkan bunga mawar pemberian Alora, dan berdoa. Dia sudah beberapa kali berkunjung ke Bali, tapi tak pernah sekali pun mampir ke tempat ini. Beberapa kali dia berkunjung ke Bali, entah dengan teman-temannya atau Shella, Alden tidak pernah sekali pun jalan-jalan sambil ngemil. Alden tak pernah sekali pun jalan kaki menyusuri Kuta. Alden tak pernah sekali pun merasa sesenang ini, senyaman ini.


❖❖❖