
Tidak perlu waktu lama bagi awak media untuk memberitakan pernikahan Alden dari keluarga Adhigana. Berita pernikahannya sudah terbit di beberapa portal mulai dari bisnis, sampai gosip. Meski sudah banyak diberitakan, tapi tak ada satu pun media yang mengungkap identitas mempelai wanita. Tampaknya Alden dan Alora sudah mengurus masalah itu sangat baik, walaupun sangat banyak yang bertanya-tanya, siapa wanita beruntung yang bisa menikah dengan Alden Kama Adhigana?
Seperti Alden, Alora juga menyembunyikan pernikahannya dengan baik dari rekan-rekan kantornya. Bahkan tidak ada yang tahu tentang kalau Alora sudah menikah. Alora sendiri tidak mau memakai cincin pernikahan saat bekerja. Alden juga begitu. Mereka hanya memakai cincin pernikahan kalau harus bertemu dengan keluarga masing-masing. Mereka masih harus berpura-pura menikah di hadapan keluarga.
Beberapa hari setelah pernikahan, bahkan sampai hari ini, Alden dan Alora rutin memakai cincin pernikahan mereka di rumah. Terkadang keduanya buru-buru memakai cincin, karena Giri suka datang tiba-tiba tanpa menelepon lebih dulu. Beruntung Giri tidak mengecek kamar mereka. Kalau iya, bisa-bisa Giri terkena serangan jantung karena mengetahui pasangan itu ternyata pisah kamar. Biasanya Giri hanya ikut makan malam dan berbincang di ruang tengah. Hari ini pun begitu.
Setelah makan malam, Giri duduk di sofa depan TV sembari menonton berita malam. Di atas meja sudah tersedia buah mangga yang dipotong oleh Alora. Setelah membantu Alora membereskan dapur, Alden ikut duduk di samping Giri dan juga memakan mangga. Selama beberapa hari berkunjung ke apartemen Alden, Giri selalu melihat pria itu ringan tangan pada Alora. Hal itu membuat Giri benar-benar senang sampai dia rela kalau harus dipanggil Tuhan. Karena dia mau meninggalkan dunia dengan bahagia.
"Al, kalian benar-benar gak mau bulan madu?"
Alden tiba-tiba terbatuk saat mendengar pertanyaan Giri. Potongan mangga seakan memaksa masuk, sampai menyakiti tenggorokannya. Setelah merasa lega dalam beberapa saat, Alden menghela napas panjang. Syukurlah dia masih hidup. Alden sudah sering berhati-hati karena Giri sering mengucapkan kalimat tak terduga. Setelah mengenal Giri begitu lama, Alden masih sering terkejut dengan kalimat Giri.
"Enggak, Opa..." Balas Alden, setelah lega dari terkejutnya.
"Ah, kalian ini masa gak mau bulan madu? Kenapa sih?"
Mendengar Giri yang hampir setiap hari menekan dengan nada santai, lumayan membuat Alden jengah. Dia melirik Alora yang hendak duduk di sampingnya, sembari memberi isyarat untuk menjawab pertanyaan Giri. Tapi bukannya menjawab, Alora malah cengar-cengir haha-hihi sambil memakan mangga. Alden manatap Alora, tidak percaya. Benar-benar tidak membantu sama sekali.
"Kalian ini masih muda. Jangan kerja terus. Cuti sebentar untuk liburan." Lanjut Giri.
"Karena masih muda makanya harus kerja." Balas Alden, tanpa menoleh sedikit pun pada Giri. Alora menoleh saat Giri berdecak, dan melihat pria tua itu sedang mencari sesuatu di dalam tas kecil yang dia bawa.
"Opa tahu responmu bakal begitu. Makanya..." Ujar Giri sembari mengeluarkan selembar kertas, dan menyodorkannya pada Alden lalu melanjutkan kalimatnya "Makanya Opa beli tiket buat kalian ke Bali."
"Opa!"
Kali ini bukan Alden yang tersedak, tapi Alora. Dia sampai tak bisa berkata-kata karena karena buah mangga yang menyakiti tenggorokannya. Setelah terbatuk-batuk, Alora bergegas bangkit untuk meminum segelas air di dapur.
"Opa sudah siapin semuanya. Tiket pulang pergi, resort, kalian tinggal bawa diri saja!" Ujar Giri dengan antusias.
"Gak ada. Opa sudah tanya Kenzo. Jadwalmu kosong hari itu. Lagian itu akhir minggu. Cuma perlu cuti hari Jum'at saja! Iya 'kan Alora?"
Alora yang tidak tahu menahu tentang itu, hanya melongo menatap Giri dan Alden bergantian. Wajahnya terlihat bodoh saat ini, tapi siapa peduli? Alora tidak bisa berpikir, padahal otaknya sudah jungkir balik tapi bibirnya masih diam.
"Dia pasti kaget." Alden bergumam kecil, melihat raut wajah Alora dan dia sangat mengerti. Kemudian Alden menghela napas panjang, setelah menyadari tak ada celah untuk menolak Giri.
"Ya sudah, asal Opa senang."
Alora tambah dibuat mematung oleh Alden yang tiba-tiba menyetujui ide bulan madu dari Giri. Mau marah, tapi Alora juga tidak tahu bagaimana caranya menolak Giri. Dalam keadaan seperti ini, mereka memang tidak punya pilihan lain selain menerima. Sepintar apa pun mereka bermain dalam pernikahan pura-pura, hal seperti ini cepat atau lambat pasti akan terjadi. Segala tuntutan untuk orang yang sudah berumahtangga, mereka harus siap menahannya.
"Nah, gitu dong!" Giri berseru riang, lalu tertawa puas. Alden dan Alora yang sudah tidak bisa mengelak hanya ikut tertawa walaupun tidak begitu senang. Giri menyuap sepotong buah mangga ke dalam mulutnya. Dia tidak bisa menutupi rasa gembiranya. Bibirnya melengkung lebar, matanya menatap televisi tapi pikirannya melayang kemana-mana. Kemudian Giri lanjut berkata, "Kalian mungkin belum terlalu merasa terikat..."
Detik itu juga, Alden dan Alora sama-sama menoleh pada Giri. Dengan perasaan tak menentu dan jantung yang terus-terusan dibuat tak tenang, mereka menunggu Giri menyelesaikan kalimatnya. Tidak mungkin Giri tahu tentang perjanjian Alden dan Alora 'kan?
"Tapi Opa senang sekali, kalian mau menikah. Cepat atau lambat, kalian pasti akan terbiasa. Makanya harus sering-sering punya waktu berdua!" Lanjut Giri dengan tawa di akhir kalimat.
Alden dan Alora menghela napas lega, karena kenyataannya tidak seperti yang mereka pikirkan.
"Gak ada yang bisa ngalahin rasa senangnya Opa. Kalian hadiah tahun baru terbesar buat Opa!" Giri menepuk-nepuk punggung Alden yang duduk di sebelahnya. Matanya menatap pada Alden dengan penuh kasih sayang, bahkan hampir berkaca-kaca.
Jarang sekali Giri bersikap emosional seperti ini pada Alden. Bahkan saat istrinya meninggal pun, Giri masih berdiri tegap saat pemakaman. Alden tidak pernah melihat sisi emosional Giri, atau mungkin Giri tidak pernah menunjukkannya. Sekarang, melihat Giri yang sedikit emosional membuat Alden berpikir, bahwa Giri juga manusia biasa. Giri bukan hanya pria tua yang keras kepala, dia juga punya kasih sayang. Terutama untuk Alden.
Di sisi lain, Alora yang mendengar kalimat hangat Giri, juga ikut bergetar hatinya. Dia melihat Giri yang menepuk-nepuk punggung Alden, dengan senyum lebar dan tatapan penuh cinta. Saat itu juga, Alora merasa sangat bersalah sudah mempermainkan pernikahannya dengan Alden. Entah bagaimana mereka akan mengakhirinya nanti, jika Giri sesenang ini. Apakah mereka tega, menghancurkan Giri dengan kenyataan itu?
Dari sorot mata Alden dan Alora saat ini, mereka tidak mungkin tega menyakiti Giri. Namun entah apa yang akan terjadi selanjutnya.
❖❖❖