
Di atas meja sudah ada dua paket alat pertahanan diri. Masing-masing terdiri dari, semprotan cabai, pisau lipat, pen listrik, dan remote alarm pribadi. Semua itu disiapkan oleh Alden. Dia juga menjelaskan cara pemakaian masing-masing alat pada Alora. Mereka bertemu sepulang kerja, karena Alden bilang ada hal penting yang harus dia sampaikan. Ternyata dia hanya mau memberikan alat-alat itu.
"Satu buatmu, satu lagi buat Sandra. Harsa kayaknya bisa jaga diri, dia lumayan bugar." Ujar Alden, lalu menyeruput americano nya.
Mereka saat ini sedang nongkrong di Orenji Cafe. Setelah merundingkan pernikahan di sana, mereka jadi sering berkunjung. Lama-lama mereka pasti menjadi langganan dengan kartu member untuk mengumpulkan poin. Bahkan para pegawai di sana mungkin sudah mulai menghafal mereka. Ice americano dan Hazelnut choco, sudah menjadi minuman andalan mereka, selain bir dan soda.
"Kamu mau ketemu cuma buat ini?"
"Simpan aja. Alat-alat itu penting."
Alora diam, tidak menggubris kalimat Alden. Dia meminum Hazelnut choconya, lalu berkulik dengan ponselnya. Melihat hal itu, Alden tahu kalau Alora benar-benar acuh dengan penjelasan alat yang baru saja dia lakukan.
"Jangan bilang gak ada yang mau culik orang dewasa! Walaupun kamu merasa gagal jadi manusia, tapi organ tubuhmu berharga buat penjual organ." Alden mengucapkan kalimat itu dengan santai, padahal Alora sudah bergidik ngeri mendengarnya.
"Are you psycho? Omonganmu kayak psikopat, asal kamu tahu!"
"Sebenarnya, semua orang itu punya bibit psikopat."
"Aku gak percaya harus berurusan sama orang gila."
"Yang punya ide nikah main-main kamu, kalau lupa."
"ORGIL!"
Alden meminum ice americanonya dengan santai, sembari menikmati alunan lagu yang sudah sampai di penghujungnya. Kemudian lagu lain mulai terputar. Seketika itu juga, Alden berdecak kesal. Dia hapal betul alunan musik intro pada lagu itu. Dia juga hapal tiap bait lagu itu. Segala memori tentang lagu itu kembali berputar dikepalanya.
...
Hari silih berganti, tapi hati ini masih menanti
Hari itu datang lagi, di mana aku merasa sendiri
Kita pernah tertawa bersama, ingatkah?
Kita pernah menangis bersama, ingatkah?
Bahkan aku tidak bisa tertawa lagi, aku tidak bisa menangis lagi.
...
"Anjing! Gak ada lagu lain apa?" Alden menggerutu kesal. Rahangnya mengeras, sembari memijat pelipisnya yang berdenyut. Dia sudah sangat baik dalam menahan perasaannya selama ini. Mendengar lagu itu sekarang, hampir membuatnya runtuh. Tapi mana mungkin dia menangis di depan umum, di hadapan Alora.
"Orgil! Lagunya bagus, kenapa kamu marah? Memangnya ini lagu mantanmu?" Ujar Alora, ketus.
Alden menghela napas panjang, kemudian menunduk menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan. Seketika itu, Alora menyadari kebenaran dari kalimatnya. Dia langsung menjentikkan jari, merasa mendapat bahan bagus untuk mengejek Alden.
"Serius? ****! Tapi bukannya mantanmu itu artis? Dia punya lagu?" Tanya Alora. Dia memang sudah tahu sejauh itu tentang Shella. Walaupun seharusnya itu tetap menjadi rahasia, tapi Alden menceritakan segalanya tentang Shella pada Alora.
"Kamu gak nonton filmnya? Ini lagu soundtrack!" Alden melepas telapak tangannya, tapi kepalanya masih tertunduk lemas.
Sementara itu, Alora tertawa puas, mengejek Alden. Alora melanjutkan aksinya dengan berkata, "Kalau gitu, temanmu yang baik ini minta lagunya diganti aja!"
"Gak perlu."
"Permisi, kak! Ada lagu lain gak? Teman saya galau!" Alora berseru, mengundang puluhan pasang mata untuk menatap mereka.
"Sialan! Tutup mulutmu!"
Alora mengabaikan permintaan Alden, dan malah menjulurkan lidahnya pada pria yang sudah hancur itu. Alden yang sudah kehabisan tenaga, hanya mengumpat pelan sembari memijat keningnya. Alden pusing sekali, harus berurusan dengan Alora.
"Diam!"
"Aduh kasihan sekali temanku!" Alora segaja membelai rambut Alden, niatnya tentu saja mengejek. Tapi Alden dengan cepat menangkis tangan Alora. Sementara Alden mengernyit kesal, Alora malah tertawa lalu menikmati minumannya.
Setelah puas tertawa, barulah dia memerhatikan setiap raut wajah Alden. Kalau tadi dia bisa mengejek Alden, kini Alora merasa agak kasihan dengan pria itu. Jelas sekali terlihat kalau Alden masih merasa sedih, tapi pria itu benar-benar berusaha bersikap dewasa. Padahal Alora yakin, batinnya sedang berteriak ingin menangis.
"Memang apa istimewanya dia? Kenapa kamu suka sekali sama dia?"
Alden menarik napas dalam-dalam, kemudian menjawab pertanyaan Alora di sela-sela hembusan napasnya. "Memang perlu aku jelasin? Suka ya suka aja. Gak ada alasan."
"Anjir! Romantis sekali!"
"Tutup mulutmu! Kayak kamu gak pernah jatuh cinta aja!"
Alora tersenyum miring, kemudian menegak sedikit minumannya. Dia tidak membalas kalimat Alden, malah memutar kembali kehidupannya selama ini. Dia tidak ingat pernah mencintai seseorang pria. Atau mungkin pernah saat SMA, tapi setelah itu Alora hanya fokus menjadi tulang punggung. Dia tidak pernah berpikir untuk jatuh cinta. Yah, anggap saja begitu, Alora tidak pernah jatuh cinta.
"Aku kenal dia sejak lima tahun lalu."
Alora memasang atensi penuh pada Alden yang mulai bercerita. Sorot mata pria itu memandang jauh entah kemana. Mungkin mengingat memori masa lalunya.
"Aku ingat di hotel ada syuting serial TV, dia masih jadi figuran waktu itu. Aku masih ingat semangatnya dulu. Dia cinta sekali sama dunia akting. Dia bilang, dia kabur dari rumah untuk jadi aktris..."
Alden tertawa sebentar, teringat betapa polosnya Shella saat itu. Kemudian dia kembali melanjutkan ceritanya, "Waktu itu proses syutingnya lumayan lama. Aku ingat sempat curi-curi waktu kerja buat ketemu dia. Entahlah, aku gak sadar udah jatuh sejatuh-jatuhnya."
Alora tidak melepas perhatiannya dari Alden. Mendengar cerita itu, sembari melihat setiap ekspresi yang dibuat Alden selama bercerita, Alora yakin pria itu sangat merindukan mantan kekasihnya. Alora bisa merasakan sedalam apa cinta Alden pada mantan kekasihnya. Walaupun Alora sendiri belum pernah jatuh cinta, tapi hatinya ikut merasa hancur. Kesimpulan yang Alora dapat dari cerita Alden adalah, pria itu masih belum melupakan Shella.
"Beruntung sekali dia, pacaran sama kamu yang tulus."
Alden membentuk senyum dibibirnya, "Iya, 'kan? Sayangnya dia gak sadar."
"Ternyata ada ya pria yang benar-benar tulus? Selama ini aku cuma lihat pria pemabuk yang suka mukulin istrinya. Atau pria pendiam yang dinginnya bukan main, sulit baca perasaannya."
Setelah menegak minumannya, Alden berusaha mencerna kalimat Alora. Dia merasa yakin salah satu pria yang Alora ceritakan adalah Harsa, pria dingin yang sulit dibaca perasaannya. Tapi Alden tidak yakin dengan pria pertama yang Alora ceritakan. Entah apakah wanita itu hanya asal bicara atau tidak, tapi Alden merasa itu bukan sekedar asal bicara. Sebenarnya Alden ingin sekali bertanya lebih lanjut, tapi dia merasa belum saatnya. Biarlah Alora menikmati waktunya untuk bisa terbuka dengan Alden.
"Btw, Al. Aku penasaran sesuatu."
Alora lantas menatap Alden.
"Kamu gak pernah pacaran ya?"
"Orgil!"
"Kasihan sekali kamu!"
Setelah itu, keduanya kembali mengobrol seperti biasa. Tidak ada lagi obrolan mendalam tentang kehidupan pribadi mereka. Keduanya hanya menikmati senja sembari berbincang santai. Lalu, keduanya berpisah saat hari mulai larut.
❖❖❖
Alora sudah sampai di rumahnya dengan aman. Untungnya dia tidak harus menggunakan alat-alat pemberian Alden malam ini. Alora juga sudah memerhatikan lingkungan sekitar, dan tidak menemukan apa pun. Setidaknya dia bisa bernapas lega dan tidur nyenyak.
Di sisi lain lingkungan rumah Alora, ternyata ada yang mengawasi setiap gerak-geriknya. Kali ini Alora tidak menyadari, kalau pria itu masih mengamati rumahnya.
Dia belum selesai.
❖❖❖