Blooming At It's Time

Blooming At It's Time
²⁰ Natal 2021



Hari ini adalah hari Natal, di mana seharusnya Alora berada di gereja untuk ibadah bersama Alden dan Giri. Hari di mana Alden berjanji akan membawa hadiah untuk Sandra dan Harsa. Tapi siapa sangka, hanya dalam semalam segala rencana manusia itu terhalangi oleh takdir Tuhan. Sekarang Alora, Sandra dan Harsa malah harus duduk di rumah duka.


Bingkai foto Soni terpajang di depan peti dengan rangkaian bunga mengelilinginya. Beberapa teman gereja Soni datang bergiliran setelah ibadah Natal. Alora, Sandra, dan Harsa tidak banyak bicara. Mereka hanya mengucapkan terima kasih pada semua orang yang datang. Bahkan mereka tidak memasang ekspresi apa pun. Ketiganya tidak tahu harus bagaimana, mereka tidak bisa berpura-pura menangisi orang yang sudah lama dianggap mati. Mereka sudah lelah menangis, terlebih lagi Alora.


Saat Alden datang, Alora yang menyadari kehadiran Alden langsung tersenyum. Setelah segala hal yang dilalui Alora belakangan ini, Alden selalu ada di sampingnya. Sehingga, melihat Alden ada di dalam ruangan ini sekarang, membuat Alora merasa lebih tenang. Alden seakan sudah menjadi bagian dari hidupnya sejak lama.


Setelah Alden mengucap doa untuk almarhum, pria itu langsung menghampiri Alora. Tak lupa, Alden juga mengucapkan bela sungkawa pada tiga bersaudara itu.


"Makasih ya, Alden..." Ujar Alora.


Alden mengangguk, kemudian berkata dengan sangat hati-hati, "Mau ke luar sebentar?"


Alora mengangguk dengan senyum simpul. Kemudian Alden dan Alora keluar dari ruangan yang menyesakkan itu, untuk menghirup udara segar. Alora langsung menarik napas dalam-dalam, lalu menghelanya perlahan. Menyadari hal itu, Alden lantas merasa lega sudah mengajak Alora keluar. Pasti di dalam rasanya menyesakkan.


"Aku kemarin mimpi gigiku copot. Mungkin itu pertanda." Ujar Alora.


"Memang itu ya artinya?"


"Hmm... Gak tau sih... Katanya iya."


"Katanya..." Alden tertawa kecil. Begitu juga dengan Alora.


"Menurutmu, dia ketemu gak sama Bunda?" Alora mendongak menatap langit biru yang terlihat cerah.


"Mungkin iya, mungkin juga enggak."


"Semoga enggak."


Alden tidak merespon Alora. Alden menatap Alora yang masih menatap langit. Dia tidak melihat sedikit pun air mata di sudut mata Alora. Tapi Alden tahu, banyak sekali yang ada dipikiran wanita itu. Sehingga Alden memilih untuk lebih banyak mendengarkan dari pada berkomentar.


"Dia harusnya ke neraka dulu sebelum ketemu Bunda di surga."


Alden tertawa sembari menggelengkan kepala. Alden heran dengan Alora yang dengan mudahnya berkata seperti itu dengan ekspresi wajah datar.


"Menurutmu, kalau mereka ketemu, Bunda bakal maafin dia gak?"


"Entahlah."


"Kamu sendiri, memangnya bisa maafin mantanmu yang selingkuh?"


"Entahlah. Mungkin iya, kalau dia sudah berubah jadi lebih baik."


Alora lantas menoleh pada Alden. Sembari mengernyitkan dahi, Alora menerawang ke dalam sorot mata Alden. "Gitu ya?"


"Selama mereka sadar sudah berbuat salah, mengakui kesalahannya, belajar dari kesalahannya, dan berubah jadi lebih baik, menurutku mereka pantas dimaafin." Alden menatap dalam-dalam pada Alora, kemudian melanjutkan kalimatnya, "Kalau kita memaafkan, kita juga akan dimaafkan Tuhan."


"Kamu mau jadi pendeta?"


"Al, jadilah baik seperti-"


"Jangan bikin aku ngomong kasar di sini ya, Alden!"


Alden tertawa melihat respon Alora yang baginya terlihat lucu. Sebenarnya Alden tidak bermaksud menggoda Alora, apalagi disituasi saat ini. Tapi melihat respon wanita itu, Alden tidak bisa menahan tawanya.


"Selamat pagi, bisa bicara sebentar?"


Seorang pria berseragam polisi menginterupsi keduanya untuk berbicara secara pribadi dengan Alora. Wanita itu mengangguk, kemudian mengikuti polisi untuk membuat jarak dengan Alden. Sepertinya ada hal yang harus dibicarakan secara pribadi. Alden sangat mengerti dan tidak masalah dengan hal itu. Tapi karena khawatir, dia hanya memerhatikan Alora dari jauh.


Polisi itu tampak menyerahkan tas kertas berwarna coklat pada Alora. Keduanya berbincang cukup lama. Polisi itu tampak membujuk Alora untuk sesuatu, karena Alora terlihat menunjukkan gestur menolak. Sampai akhirnya polisi itu menyerah dengan menghela napas. Kemudian tak lama setelahnya, polisi itu undur diri. Lalu Alora kembali menghampiri Alden.


Alden tidak bertanya sedikit pun. Dia menunggu Alora membuka mulutnya sendiri.


"Ternyata tabrak lari." Alora menghela napas panjang, kemudian mengecek barang yang ada di dalam tas kertas. "Dia masih berusaha kasih ini ternyata." Lanjutnya.


Alden melirik sedikit ke dalam tas kertas itu, dan melihat bungkusan seperti barang-barang pemberian Soni yang dikembalikan oleh Alora.


"Kalian gak mau bawa ke meja hijau?"


"Alden..." Alora menyebut nama pria di sampingnya dengan suara yang terdengar melemah. Alora beralih menatap Alden yang juga sedang menatapnya, kemudian lanjut berkata, "aku yang minta dia mati."


Alden sempat terkejut mendengar kalimat Alora. Untuk sesaat dia kebingungan harus bagaimana untuk merespon Alora. Dia ingat apa yang wanita itu ucapkan pada Soni. Tapi Alden benar-benar mengerti perasaan Alora saat itu.


"Semua ini bukan salahmu, Al. Kamu gak salah apa pun." Ujar Alden dengan sangat lembut.


Alora masih menatap sendu pada Alden, kemudian tersenyum setelah mendengar kalimat penenang dari pria itu. "Makasih ya, Al. Aku bersyukur ada kamu yang bisa buat aku tenang."


Wanita itu tersenyum dengan sangat sederhana. Padahal tidak ada yang spesial dari penampilannya, tapi mampu detak jantung Alden terhenti sesaat sebelum kemudian kembali berdetak semakin kencang. Alden masih membisu, terpaku pada Alora. Perasaan tidak nyaman didadanya semakin menjalar ke sekujur tubuh. Kakinya menginjak tanah, tapi tubuhnya terasa sangat ringan, mungkin karena kupu-kupu dalam perutnya mulai bertebaran. Dia tidak tahu seseorang bisa merasa bersyukur akan kehadirannya. Alora adalah wanita pertama yang mengatakan hal itu. Bahkan Shella pun tidak pernah.


Alden langsung berpaling, tidak mau Alora membuat perasaannya semakin tak karuan. Alden berusaha sangat keras untuk menyembunyikan suara detak jantungnya, dengan melipat tangan didada.


"Sudah kuduga. Aku memang orang yang baik."


"Cih! Hati-hati kepalamu meledak." Ujar Alora, kemudian tertawa.


Suara tawa itu, bagaikan magnet yang menarik perhatian Alden dengan sangat kuat. Ada yang tidak beres dengan Alden. Dia tidak bisa berhenti menatap Alora. Walaupun jantungnya terasa hampir meledak, bahkan ingin memuntahkan kupu-kupu dari perutnya. Tapi Alden menikmati segala perasaan yang sudah sangat lama tidak mampir padanya. Sebuah perasaan tak nyaman yang sangat dia rindukan.


Alden sepertinya sudah hampir gila. Saat ini, dia bergumam dalam hatinya, sembari memandangi Alora.


"Cantiknya..."


❖❖❖


Prosesi pemakaman Soni akhirnya selesai. Ucapan bela sungkawa ramai diterima oleh Alora, Sandra dan Harsa. Saat itu juga Sandra dan Harsa akhirnya bertemu dengan keluarga Alden untuk pertama kali. Keluarga Alden dengan sangat baik menunjukkan perhatiannya pada Sandra dan Harsa, membuat Alora merasa tenang.


Setelah para tamu berangsur-angsur pergi, dan hanya tersisa sedikit, seorang Pendeta menghampiri Alora.


"Permisi, nak. Saya mau berikan titipan Soni untuk anak-anaknya. Semoga bisa bermanfaat untuk kalian semua."


Pendeta itu menyerahkan sebuah amplop coklat berukuran sedang pada Alora. Pendeta itu sempat menepuk lembut pundak Alora, lalu pergi setelah Alora mengucapkan terima kasih. Alora membuka amplop itu untuk melihat isinya. Di dalamnya ada sebuah buku tabungan lengkap dengan kartu ATMnya, beserta selembar kertas yang dilipat.


Alora membuka buku tabungan itu, dan seketika terkejut melihat nominal yang tertulis di sana. Dia segera membuka lipatan kertas yang ternyata berisi tulisan tangan Soni, beserta dengan sebuah foto pernikahan Ayah dan Bundanya. Alora membaca setiap kalimatnya dengan sangat hati-hati. Dia membaca dengan saksama sampai kalimat terakhir. Seketika itu, leher Alora terasa tercekat. Ada tangis yang tertahan di sana. Tubuhnya seakan tak bertenaga, sampai tangannya lemas dan terjatuh dengan masih menggenggam surat dari Soni. Alora merasa jiwanya melayang entah ke mana. Dia tidak bisa berpikir jernih. Perasaan bersalah seketika membelenggu dalam dirinya.


Sadar kalau Alora tidak kunjung menyusul, Alden kembali ke dalam pemakaman untuk mencari Alora. Begitu melihat Alora yang termenung sendirian, Alden langsung menghampiri wanita itu dengan khawatir.


"Kamu kenapa, Al?"


Bukannya menjawab, Alora malah menoleh ke arah makam sang Ayah yang masih basah dan dihiasi taburan bunga dengan indahnya. Bulir air mata mulai menghalangi pengelihatannya. "Seharusnya dia jadi orang jahat sampai mati."


"Alora..."


"Kenapa dia harus bikin aku merasa bersalah?" Dada Alora naik turun, mengatur napas yang mulai terasa sesak. Sebisa mungkin dia menahan air mata supaya tidak jatuh. Tapi semakin dia berusaha, semakin sesak rasanya. Lehernya semakin sakit seakan menelan penuh sebuah batu besar.


"Kamu gak salah, Al. Ini bukan salahmu. Kamu gak salah apa-apa." Alden mencengkeram kedua bahu mungil Alora, membawa wanita itu berpaling dari makam Soni untuk menatapnya. Kemudian Alden membelai lembut lengan Alora.


"Harusnya... dia..."


Melihat Alora menahan tangis, membuat Alden tidak mau berpikir lebih lama. Alden lantas membawa tubuh mungil itu ke dalam pelukannya. Dia menepuk-nepuk lembut punggung Alora, mengisyaratkan wanita itu untuk melupakan seluruh emosinya. Segera setelahnya, Alora menangis dalam pelukan Alden.


"Kenapa... dia harus... buat aku... k-kenapa dia... gak jadi j-jahat aja? Hah?" Ujar Alora di sela-sela tangisannya.


Alden tidak mengucapkan sepatah kata pun. Dia hanya menepuk-nepuk punggung Alora dengan lembut, sembari sesekali mengusap rambutnya. Alora mengangkat tangannya, membalas pelukan Alden. Segala pemberian Soni yang masih dalam genggamannya, sudah kusut tak karuan dan Alora tidak peduli. Alora ingin melepas tangisnya yang tertahan selama ini.


Sandra dan Harsa berdiri tak jauh dari keduanya, melihat Alora melepas tangis dalam pelukan Alden. Sandra memutar tubuhnya untuk berpaling. Pengelihatannya sudah kabur dengan air mata. Harsa, walaupun tak menunjukkan ekspresi apa pun, hatinya ikut menangis. Keduanya merasa sedih dan bersyukur dalam waktu bersamaan.


Sedih karena melihat Alora menangis, dan bersyukur karena ada Alden yang menemaninya.


❖❖❖