
Sudah beberapa hari ini Alora menghindar dari segala interaksi yang berusaha dibuat oleh Alden. Alora sering mengacuhkan Alden, sampai pria itu tidak tahu harus bagaimana. Alora juga jadi sering pulang larut malam, sehingga tidak ada waktu bagi mereka untuk bertemu dan berbincang. Entah apakah langkah ini benar, yang jelas bukannya merasa lega, Alora malah semakin tidak bisa kabur dari kemurungannya. Dia pikir ini hanya masalah waktu, untuk menerima kenyataan bahwa Alden bukan miliknya. Maka semuanya akan kembali seperti semua, saat mereka saling mengurusi urusan masing-mansing, tanpa membawa perasaan pada pernikahan palsu ini. Setidaknya itu harapan Alora.
Bagi yang mengamati Alora setiap harinya, tentu wanita itu tampak berbeda dari hari-hari sebelumnya. Sebenarnya Genta sudah lama ingin bertanya, tapi dia tidak ingin dinilai terlalu ikut campur. Setelah beberapa hari melihat Alora murung, barulah akhirnya Genta memutuskan memeriksa keadaan wanita itu. Apa yang membuatnya tiba-tiba murung, setelah sebelumnya dengan semangat belajar membuat kue.
"Setelah ini kamu senggang?"
"Hah?" Alora terkejut dengan pertanyaan Genta yang tiba-tiba. Sambil berusaha terlihat baik-baik saja, Alora berkata, "Kosong. Kenapa?"
"Mau jalan-jalan?"
"Hah?" Kali ini Alora memastikan telinganya tidak salah dengar.
"Maksudku, bisa temani aku cari setelan? Aku perlu untuk resepsi pernikahan sepupuku." Genta tersenyum.
"Oh... Iya, bisa."
Dengan anggukan Alora, maka mereka segera menutup kedai tepat waktu, lalu melesat dengan sepeda motor milik Genta menuju pusat perbelanjaan yang tak jauh dari kedai. Alora ingat betul tempat ini. Beberapa gerai toko yang mereka lewati pernah dia kunjungi saat Alden memberinya kartu kredit unlimited untuk dibelanjalan. Alora ingat, saat itu dia hanya belanja untuk adik-adiknya, sementara itu Alden menyuruhnya belanja sedikit untuk diri sendiri. Hanya dengan mengelilingi tempat ini saja bisa membuat Alora teringat kembali akan Alden, matanya sampai terlihat kosong dan melamun.
"Al? Kamu gak apa-apa?" Genta menepuk pelan pundak Alora.
Saat itu, barulah Alora tersadar dan melihat Genta sudah berpakaian rapih dengan setelan jas dan celana navy senada. Alora cepat-cepat tersenyum, lagi-lagi agar terlihat baik-baik saja, kemudian dia menggeleng. "Yang ini bagus." Ujarnya sembari menatap Genta dari ujung kaki hingga kepala.
Genta hanya tersenyum, bahkan setelah menyadari ada yang tidak beres pada Alora. Tidak. Dia sudah sadar sejak awal, dan hanya ingin menghibur Alora secara perlahan hingga wanita itu sendiri tidak menyadarinya. Setelah menyelesaikan tujuan utama, yang sebenarnya bukan paling utama, Genta menenteng tas kertas berisi belanjaannya menuju sudut warna warni dengan lampu terang dan suara ricuh yang ceria. Tanpa menyadari hal itu, Alora hanya mengikuti langkah Genta. Dia baru sadar saat Genta menghentikan langkahnya tepat di depan sebuah arena permainan.
"Mau main?" Genta langsung menarik tangan Alora memasuki arena permainan itu, tanpa menunggu jawaban.
Ini dia tujuan utama Genta, membuat Alora melupakan sejenak pikiran yang selama ini mengganggunya. Genta memang orang seperti itu, tidak secara gamblang bertanya, namun dengan sensitif merasakan ada yang salah dari Alora. Genta juga tidak secara terus terang menghibur Alora, malah melakukannya dengan sangat halus, bahkan Alora sendiri tidak akan sadar dan hanya menikmati dirinya sendiri. Genta berhasil, Alora kembali tersenyum dan tertawa saat memainkan beberapa permainan di sana. Keduanya menikmati waktu bersama, sambil sedikit bernostalgia pada masa SMA saat Alora dan Genta masih sering bermain bersama.
"AAAHHH! Kok bisa kalah sama Genta sih? Padahal dulu aku yang lebih jago!" Alora mengeluh saat kalah bermain DDR, tapi bibirnya masih melengkung bahkan hampir tertawa.
"Kamu lupa cara mainnya?"
"Mana mungkin!" Masih belum menerima kekalahan, Alora kembali mengulang permainan duel melawan Genta di mesin DDR.
Setelah puas bermain, dan menukar ratusan kupon hanya dengan dua kaleng soda. Setidaknya Alora mendapat sebuah boneka kelinci aneh dari mesin pencapit, tentu Genta yang berusaha mencapit boneka itu, Alora hanya komentar saja tapi dia yang ambil bonekanya. Tidak apa-apa, lagi pula menyenangkan mendengar Alora kembali ceria seperti sebelumnya.
"Perasaanku aja, atau memang harga hadiahnya lebih mahal ya?" Alora terheran-heran setelah menegak habis sodanya. Kaleng kosong itu langsung dia buang ke tempat sampah, tak berguna.
"Kamu udah berapa lama gak main? Memang makin gak masuk akal."
"Atau kita yang payah ya?" Alora tertawa.
Bukan karena lelucon itu, tapi Genta ikut tertawa setelah melihat tawa Alora. "Mungkin."
"Tapi gak apa-apa, seenggaknya aku dapat boneka." Alora mengangkat bonekanya tinggi, sambil tersenyum.
"Seneng?"
"Senenglah! Aku lupa kapan terakhir kali main kayak gini."
"Baguslah..." Genta duduk dikursi panjang ditaman tengah mall, diikuti oleh Alora yang duduk di sebelahnya. "Belakangan ini kamu murung. Kayaknya lagi banyak pikiran ya?"
Alora langsung menoleh pada Genta, tak menyangka pria itu akan sadar. Kemudian Alora menatap boneka dipangkuannya, lalu menyadari tujuan Genta mengajaknya kemari. Tiba-tiba Alora merasa tidak enak sekaligus berterima kasih pada Genta. Dia juga merasa harus menjawab pertanyaan Genta, tapi entah harus bagaimana menjawabnya, tidak mungkin Alora menceritakan tentang pernikahan pura-puranya pada Genta.
"Gak usah dijawab. Maaf ya, kalau aku ikut campur."
"Enggak kok, Gen. Maaf. Maksudku, makasih ya. Aku gak tau kalau aku kelihatan murung."
"Maaf kalau aku tanya lagi, tapi, apa kamu ada masalah sama pacarmu?"
Alora langsung diam seribu bahasa. Bibirnya mengatup, berusaha tidak membuka suara yang akan membuatnya terbawa suasana. Akan bahaya kalau Alora hanyut dan membeberkan semua rahasia pernikahannya selama ini. Dengan reaksi Alora, Genta langsung paham, sehingga dia mengangguk sembari menatap kedua tangan dipangkuannya. Bibirnya tersenyum kecil, tentu saja orang seperti Alora sudah punya kekasih, apa lagi yang Genta harapkan? Dia hanya cukup menjadi teman lama yang baik bagi Alora.
Ponsel Alora tiba-tiba berdering, nama Sandra tertera pada layarnya. Alora meminta waktu sebentar pada Genta, lalu mengangkat telepon dari Sandra. Selama pembicaraannya lewat telepon, Alora sempat melirik Genta.
"Kayaknya aku harus pulang, Gen. Kata adikku ada yang penting di rumah."
"Aku antar ya."
"Kamu ke sini sama aku, masa aku biarin pulang sendiri sih? Jangan nolak ya?"
Alora menghela napas, lalu tersenyum, "Iya... Makasih lagi ya, Gen!"
❖❖❖
Sore itu dimeja kerjanya, Alden memikirkan cara untuk memaksa Alora berbicara dengannya, atau setidaknya berinteraksi. Tidak, mungkin lebih baik untuk sedikit menurunkan ekspektasi, setidaknya mereka bisa bertemu. Alden menggeledah kontak diponselnya, mencari nama yang mungkin bisa membantunya. Dari sekian banyak kontak yang dia miliki, ide gilanya tertuju pada kedua adik Alora. Mungkin dia harus meminta bantuan Harsa atau Sandra. Tidak, dari pada menelepon, Alden akan langsung menuju rumah kontrakan mereka. Ya, keputusan Alden sudah bulat, dan dia sudah seputus ada itu untuk bertemu dengan Alora. Maka di sinilah dia, menatap Sandra yang baru saja memutus teleponnya dengan Alora.
"Dia bilang apa?" Tanya Alden dengan mata melebar.
Sandra berdecak, lalu menatap Alden kesal. Beruntung saat ini, Harsa sedang bertugas jaga malam. Kalau tidak, sepertinya Alden akan habis ditangan Harsa. "Kalian yang berantem kenapa aku yang ribet sih?"
"Makasi ya, San! Kamu mau apa? Aku beliin. Oh iya, ini di makan ya." Alden memamerkan giginya, tersenyum polos sambil menyodorkan sekotak sushi platter dengan bungkusan yang terlihat mahal.
Dengan senyum malu-malu-mau, Sandra menerima makanan mahal itu dengan riang. Sambil membuka bungkusan sumpit, Sandra berkata, "Tau aja aku suka sushi. Makasi kak Alden!" Kemudian langsung terkesima dengan rasa sushi yang baru saja masuk ke mulutnya.
"Ya... Makan yang banyak."
"By the way, kenapa kalian bisa berantem?"
"Hmm... Ceritanya panjang."
"Haih... Masalah rumah tangga." Sandra menghela napas, lalu kembali bersenandung riang saat potongan sushi masuk ke mulutnya. Alden tertawa kecil melihat Sandra bersenandung sambil sedikit menggoyangkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri. Sesekali Sandra memejamkan mata lalu mengernyitkan dahi.
Alden tertawa hanya dengan mengamati Sandra, "Kamu mirip Alora."
"Apanya?"
"Dia juga gitu kalau makan enak." Kemudian senyumnya memudar, saat ingatan tentang Alora kembali menguasai kepalanya. Senyum, tawa, senandung yang dinyanyikan sambil memasak, bahkan air mata yang menetes dari mata indahnya, Alden mengingat segala hal yang dia lalui bersama Alora. Lagi-lagi dia mengutuk dirinya sendiri, karena telah membuat Alora kecewa.
Alden menunggu cukup lama. Dia menghabiskan hampir satu jam di ruang tengah bersama Sandra, menonton acara televisi yang membosankan. Walaupun sesekali mereka berbincang, tapi semuanya biasa saja, tidak semenarik kegiatannya bersama Alora. Demi apa pun, Alden benar-benar merindukan Alora, dia berharap Alora cepat sampai. Dan Tuhan sepertinya mendengar doa Alden, karena tak lama setelahnya, terdengar suara sepeda motor berhenti di depan rumah.
"Oh itu dia datang." Sandra langsung bangun dari sofa untuk membuka pintu depan. Alden ikut bangun dan mengekori Sandra, dan berhenti tepat di belakangnya saat wanita itu terkejut, "Oh my God."
Alden mengikuti arah pandang Sandra, dan melihat Alora turun dari sepeda motor yang dikendarai seorang pria. Pria itu tersenyum, begitu juga Alora, mereka sempat berbincang sejenak sebelum pria itu melesat pergi dan Alora masih menunggu sampai pria itu benar-benar tidak tampak bayangannya. Dengan boneka kelinci aneh dalam pelukannya, Alora membuka gerbang depan dan masuk melaluinya. Hanya dengan berdiri di depan Alden, Sandra dapat merasakan hawa panas di belakangnya, sehingga dia menoleh dan melihat raut wajah Alden yang terlihat sangat marah.
Dalam hatinya, Alden tiba-tiba merasa sangat marah. Tangannya mengepal erat-erat, rahangnya mengeras, telinganya merah padam, wajahnya terlihat sangat marah. Namun dia tidak mengucapkan sepatah kata pun, sampai Alora lebih dulu menyebut namanya.
"Alden?" Alora menatap Alden dan Sandra bergantian, kemudian berkata kesal pada Sandra, "Maksudmu apa sih, San?"
"Uh... Kak... Masuk dulu yuk." Sandra sudah ketar-ketir, merasa akan ada perang dunia ke-tiga.
"Kamu ngapain di sini?" Alora ketus kepada Alden.
"Kamu yang ngapain?" Alden tak kalah ketusnya.
Wuuushh.
Sandra yang kini berada di tengah-tengah Alden dan Alora, tiba-tiba merasakan angin dingin berhembus sampai tubuhnya meremang.
"Dia yang suruh kamu telepon aku, San?"
"Kak..."
"Iya. Kenapa? Belum puas kamu menghindar?"
"Aku gak menghindar!"
"GUYS! Guys. Mending masuk, atau kalian pulang aja. Berantem di rumah. Malu sama tetangga!" Sandra terdengar kesal. Tangannya berkacak pinggang, menatap Alden dan Alora bergantian.
Tanpa aba-aba, Alden langsung mengemasi barangnya, lalu menarik pergelangan Alora untuk mengikutinya. Tentu tidak semudah itu, Alora menarik tangannya sampai terlepas dari cengkraman Alden, karena pergelangannya mulai terasa sakit. Alora mengusap pergelangannya, lalu berjalan mendahului Alden menuju sebuah mobil yang terparkir di dekat rumah. Alden menghela napas panjang, lalu beralih menatap Sandra dengan penuh penyesalan.
"Sorry ya, San." Ujarnya, sebelum menyusul Alora ke dalam mobil.
Sambil menatap mobil yang perlahan menjauh, Sandra berharap Alden dan Alora dapat menyelesaikan masalah mereka.
❖❖❖