
Ibadah pagi baru saja selesai. Para jemaat mulai berhamburan ke luar gereja. Begitu juga Alden dan Alora, sedangkan Giri masih berbincang sembari bersenda gurau dengan jemaat lain. Alden dan Alora lebih dulu sampai ke parkiran mobil, menunggu Giri sembari mengobrol.
"Keluargamu religius juga ya."
Alden tertawa kemudian berkata, "Percaya gak, semakin tua, kita akan semakin ingin dekat dengan Tuhan."
"Huh? Mau khutbah nih?"
"Serius! Kamu sering ke gereja?"
Alora menggeleng sembari menertawakan dirinya sendiri. Sebenarnya dia agak malu, tapi dia harus menjawab pertanyaan Alden dengan juju, "Enggak. Harsa yang paling rajin."
"Aku juga enggak."
Lalu, keduanya tertawa.
"Opa juga dulu jarang. Tapi apa lagi yang dia cari diusia segitu?"
Alora menganggukkan kepalanya pelan, akhirnya paham dengan maksud kalimat Alden. Dia melihat Giri yang tengah bersenda gurau dengan jemaat seusianya.
"Sayangnya, gak semua orang bisa hidup sampai tua atau sampai sadar."
"Damn! Tajam sekali, Al."
"Hahaha! Benar, 'kan? Siapa yang tahu, nanti malam kamu diculik, terus dibunuh. Atau malamnya tidur, paginya udah gak bangun."
"Alden! Serem ih!"
Alden tertawa, saat Alora memukul lengannya, sembari memasang ekspresi kengerian. Tak lama setelah itu, Giri akhirnya kembali ke mobil. Lalu mereka menuju rumah Giri bersama-sama. Sepanjang perjalanan, tentu Giri lebih mendominasi obrolan mereka. Apalagi belakangan ini Giri sedang gembira dengan rencana pernikahan Alden dan Alora. Bahkan obrolan mereka di dalam mobil pun tidak jauh-jauh dari pernikahan.
"Opa sudah bikin catatan, nama teman-teman gereja yang mau Opa undang di pernikahan kalian."
Seperti tersengat listrik, Alden dan Alora sontak saling bertukar pandang, saat Giri yang duduk di bangku belakang menyerahkan sepucuk kertas pada Alora. Tidak mau membuat Giri menunggu lama, Alora membuka lipatan kertas itu dengan senyum kikuk. Tak disangka-sangka ada ratusan nama tertulis di sana. Alora tidak bisa menahan rasa terkejutnya, sampai sebelah tangannya menutup mulut yang menganga. Merasa ada yang tidak beres, Alden merebut kertas itu dan melihatnya sekilas.
"Opa! Alden kan sudah bilang, keluarga aja yang datang."
"Mana bisa begitu, Al! Cucuku menikah, masa gak ada yang tahu."
"Opa, kita udah bahas waktu makan malam kemarin, 'kan?"
"Opa gak bilang setuju, 'kan?"
Alden menghela napas, kesal. Dia menyandarkan sikunya ke kaca mobil, sembari memijat pelipisnya yang berdenyut. Lagi-lagi dia harus berurusan dengan Giri yang keras kepala. Di sisi lain, Alora tidak tahu harus bagaimana. Dia hanya mendengarkan perdebatan Alden dan Giri, tanpa menyela. Padahal Alora dan Alden sudah sepakat untuk menyembunyikan status mereka. Tapi apakah mereka bisa melawan Giri?
"Lagian, kamu itu calon Direktur Utama, rekan bisnismu banyak. Mana bisa kalian sembunyi begitu?"
Oh, Giri ada benarnya. Alden menyerahkan kembali kertas yang sudah berkerut itu pada Alora. Dia kembali memegang kendali stir dengan dua tangan, sembari memikirkan kalimat Giri. Alora pun ikut memikirkan kalimat Giri. Sekarang keduanya heran, kenapa mereka tidak terpikirkan soal itu sebelumnya? Sepertinya memang mereka terlalu tergesa-gesa dalam memutuskan. Akibat terbawa emosi dan ambisi masing-masing.
"Alora, memangnya gak mau undang teman-temannya?"
Pertanyaan Giri yang tiba-tiba membuat Alora kelimpungan mencari alasan. Dia berusaha memutar otak dengan cepat, mencari alasan di sela-sela kekalutannya.
"Alora agak khawatir, karena kalau teman-teman tahu Alora menikah sama anak dokter Kala, khawatirnya bisa rumit."
Alora menatap Alden yang juga sedang menatapnya sekilas. Alden kembali memerhatikan jalan sebari menggeleng pelan, seakan ingin berkata, 'habislah kita.'
Tapi siapa sangka, Giri malah ber-oh ria setelah mendengar alasan Alora. Setelah itu, dia kembali mengusulkan gagasan baru, "Kalau gitu jangan sampai media tahu identitas Alora. Tidak usah ada sesi foto juga. Kita foto keluarga saja!"
Alden dan Alora tidak bisa berkata-kata, entah kenapa. Padahal Alden dan Alora hanya menikah pura-pura saja, tapi kenapa harus mengalami cobaan pra-nikah seperti ini. Saat ini, sepanjang perjalanan diisi dengan obrolan soal pernikahan. Yang mana pendapat Alden dan Alora selalu dibantah oleh Giri, dibandingkan dengan zamannya. Jika dibantah terus, perdebatan ini tidak akan selesai. Alora sampai heran, dari mana energi Giri itu muncul, sedangkan dirinya sudah mulai merasa lelah hanya dengan mendengar.
Sesampainya di rumah Giri, Alden dan Alora tidak langsung pulang. Sementara Giri sibuk bersiap untuk bermain golf dengan teman-temannya, Alden dan Alora menyempatkan diri untuk berdiskusi di halaman belakang. Keduanya masih larut dalam pikirannya masing-masing. Menimbang jalan tengah yang bisa mereka ambil.
"Kamu pikir gampang menahan media?"
"I don't know, aku gak pernah berpikir kalau nikah bisa serumit ini."
"Atau kita terlalu terburu-buru?"
"Kupikir nikah main-main aja udah gila."
"Jangan lupa itu ide mu."
"Kamu setuju."
Alden dan Alora sama-sama menghela napas panjang. Mereka tidak menyangka akan jadi serumit ini. Seketika itu juga, Alden dan Alora menyesal sudah terbawa emosi.
"Atau kita batal aja?" Tanya Alora, yang langsung dibalas gelengan kepala oleh Alden.
"Yang benar aja! Udah sejauh ini."
"Belum jauh menurutku. Kita belum pesan gedung dan lain-lain."
Alden tetap menggeleng, kemudian menatap Alora, "Kamu udah lihat Opa segitu senangnya. Kalau batal, bisa-bisa Opa serangan jantung."
"Kenapa harus serangan jantung?"
"Ya Tuhan! Opa! Kok tiba-tiba di sini?" Alden terkesiap kaget, saat Giri tiba-tiba muncul dari arah belakang. Alora pun ikut terkejut, sampai dia bangun dari duduknya.
"Opa cari kalian kemana-mana ternyata di sini. Opa mau berangkat sekarang."
"Gak Alden antar aja, Opa?"
"Gak usah! Kalian ngobrol aja dulu. Opa berangkat ya!"
"Yasudah, minta pak Andre hati-hati."
Giri menggerakkan tangannya naik-turun mengisyaratkan Alden dan Alora untuk kembali mengobrol. Setelah Giri benar-benar pergi dari halaman belakang, barulah mereka kembali duduk di kursi panjang.
"Pak Giri dengar berapa banyak ya?"
"Kayaknya gak dengar apa-apa."
Alora diam, menatap Alden heran. Sedangkan Alden, menoleh pada Alora, karena merasa tidak mendapat respon. Kemudian dia tertawa, melihat Alora yang bertanya-tanya.
"Sudah ku bilang, kalau Opa tahu bisa-bisa kena serangan jantung. Buktinya masih sehat."
Akhirnya Alora mengangguk paham.
"Aku akan atur media. Gimana?" Tanya Alden.
"Kamu yakin?"
Alden mengangguk, kemudian berkata, "Aku gak bisa abaikan rekan bisnisku. Kamu tahu maksudku. Aku akan cari cara buat tutup identitasmu."
"Hmm... Kalau gitu, kita cari cara sama-sama."
Alden sempat membisu sembari menatap lurus pada Alora. Sedangkan Alora malah tersenyum miring sembari membuat simbol peace dengan kedua jarinya. Lantas Alden tertawa, merasa lega karena dirinya tidak salah dengar. Alora benar-benar mengatakan 'kita', yang artinya Alden tidak akan melakukan semua ini sendiri. Ada Alora di sampingnya.
Alden mengangguk dan tersenyum membalas Alora, "Oke."
❖❖❖