
Pagi itu, Alden terbangun dengan kepala yang terasa amat berat, bahkan matanya tidak bisa terbuka dengan penuh. Alden mengerjapkan matanya beberapa kali, lalu bangun perlahan dari tidurnya. Dia memerhatikan sekeliling, masih dengan kepala yang agak berputar. Beberapa saat setelahnya, barulah dia sadar kalau kamar ini bukan kamarnya. Kasur yang dia tiduri bukan miliknya. ****! Alden mengumpat dalam hatinya, bertanya-tanya di mana dia tidur semalam. Bukankah seharusnya dia pulang?
Tanpa memedulikan kepalanya yang berputar, Alden bergegas ke luar kamar dan segera bertemu dengan seorang wanita yang sangat dia kenal. Shella sedang berdiri di dekat meja makan dengan pakaian tidurnya, menuang air ke gelas. Bibir wanita itu melengkung, menyapa Alden dengan senyuman. Bukannya balas tersenyum, Alden malah mengernyitkan dahinya heran, kenapa yang dia lihat malah Shella? Bukan Alora?
"Udah bangun? Kamu gak pusing? Atau mual?"
"Kenapa aku tidur di sini?"
"Alden? Kamu lupa semalam kita ngapain?"
"Jangan bercanda kamu, Shel!" Suara Alden meninggi, matanya menatap tajam pada Shella, tak terima dengan omong kosong wanita itu. Tidak, jelas Alden tidak melakukan apa pun. Tidak mungkin, 'kan?
"Kamu marah?"
Alden menghela napas panjang, jemarinya menyisir rambut ke belakang, sambil sedikit menarik ujungnya. Alden diam sejenak, berusaha mengingat kejadian sebelum ini, sebelum semuanya terasa sangat salah. Oke, semalam Shella meneleponnya, membuat drama seolah-olah tidak ingin hidup lagi, sehingga Alden terpancing untuk ke sini, ke apartemen Shella. Lalu yang dia dapatkan malah kejutan ulang tahun, ada bukti kejadian itu, di mana kini ruang tengah Shella tampak berantakan dengan sisa kue dan dekorasi berlebihan. Dan iya, Shella merengek agar Alden tinggal lebih lama untuk menemaninya minum whiskey yang khusus dibeli untuk hari itu. Akhirnya Alden tinggal untuk beberapa gelas whiskey, lalu...
Lalu di sanalah segalanya menjadi salah. Seharusnya Alden tidak minum sedikit pun. Kini Alden tidak bisa mengingat sedikit pun kejadian setelah dirinya mabuk. Alden mangusap wajahnya kasar, dan bergegas mencari ponselnya.
"Mana ponselku?"
"Alden!"
"Mana?!" Alden menedelik, menatap Shella tanpa ampun. Ini adalah kali pertama Alden menatap Shella seperti itu. Dan itu membuat Shella merasa sangat tidak diinginkan. Maka Shella segera mengambil ponsel Alden yang dia letakkan di meja rias. Alden langsung meraih ponsel itu dari tangan Shella, lantas mengecek isinya. Dalam pikirannya kini hanya ada Alora, Alora, dan Alora.
"Kamu mainin ponselku." Ujar Alden, berakhir dengan tanda titik, bukan pertanyaan, dan kini dia merasa sangat kesal.
Shella berdecih, lalu menyilangkan tangan kedada. "Dia nelepon terus! Ganggu banget tau gak sih!"
"Bisa-bisanya kamu, Shel!"
"Alden! Kamu apa-apaan sih?"
"Kamu yang apa-apaan!" Alden terdengar sedikit berteriak. "Apa maksudmu kirim foto itu? Hah?"
"Al, are you kidding me? Kayak kamu peduli aja sama dia. Toh kamu bakal ceraiin dia tahun depan!"
Mendengar kalimat Shella, Alden seakan kembali tertampar kenyataan bahwa hubungannya dengan Alora hanya tertulis dalam beberapa lembar kertas. Alden menggelengkan kepalanya pelan, tak mau menerima kenyataan yang begitu pahit sampai menggerogoti logikanya. Kemudian dia menatap Shella tajam-tajam. "Enggak, Shel. It's you. You're the one I broke up with."
Shella langsung menurunkan tangannya yang sejak tadi terlipat angkuh. Matanya menatap Alden, tak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. "Gak lucu, Al!" Nada suaranya meninggi.
"I'm done with you, Shel." Suara Alden tegas, wajahnya keras. Dengan segala kesadarannya, Alden mengumpulkan semua barang bawaan untuk bersiap meninggalkan apartemen yang menyesakkan ini.
"Tapi kenapa? Jangan bilang kamu lebih pilih dia dari pada aku?"
Alden menghentikan aktivitasnya, lalu berbalik menatap Shella yang tampak tidak bisa menerima kenyataan.
"Ya. Aku pilih dia."
"Alden!"
"Oh!" Alden menjentikkan jari, lalu menunjuk Shella dengan telunjuknya. "Mana kartuku?"
"You must be kidding!"
"Atau aku yang cari sendiri?"
"Alden!"
Setelah beberapa saat menggeledah, Alden kembali ke luar sambil menunjukkan kartu kredit unlimited milik Alden sendiri yang sudah sekian lama dikuasi Shella. Kali ini dengan tegas, Alden ke luar dari apartemen itu tanpa sepatah kata lagi. Dan seketika itu, bersamaan dengan langkahnya yang menjauh, bahunya terasa sangat ringan, seakan separuh bebannya terangkat. Tubuhnya terasa jauh lebih ringan, dan pikirannya lebih leluasa memikirkan wanita lain yaitu, Alora Agni Bestari.
Sialnya, hari itu Alden tak bisa langsung berlari pada Alora. Sialnya, dalam waktu yang tidak tepat, ada rapat penting yang sangat tidak bisa dilewatkan. Sehingga Alden harus terjebak dikantor sampaijam kerjanya selesai. Sampai waktu itu datang, Alden merasa gelisah. Seluruh pesannya tidak terbaca oleh Alora. Atau mungkin lebih tepatnya, diabaikan. Jadi Alden bergegas pulang tepat setelah segala urusannya selesai. Dan sialnya lagi, Alora tidak ada di apartemen. Alora belum pulang.
Aneh. Biasanya Alora sudah nongkrong di depan TV, tapi sekarang dia tidak ada di mana pun. Bahkan Alden sudah mencari ke seluruh penjuru apartemen, tapi nihil, tidak ada jejak Alora sama sekali. Tapi setidaknya Alden bisa bernapas lega, setelah melihat barang-barang Alora masih ada di kamarnya. Setidaknya kini Alden hanya perlu menunggu Alora pulang. Namun ternyata, menunggu bukanlah hal yang mudah, setelah selama ini hanya menjadi orang yang dinanti oleh Alora. Kini Alden merasakan sendiri kegelisahan, hampir tiap menit menoleh ke arah pintu, atau mengecek ke luar balkon berharap menemukan bayangan Alora yang memasuki gedung apartemen.
Nihil.
Alden hampir kehilangan harapan, dan tak tahu lagi harus berbuat apa. Kegelisahannya semakin menggerogotu sampai tenggorokannya kering, sehingga Alden menuju dapur untuk mengambil air dingin dari kulkas. Begitu pintu kulkas terbuka, Alden langsung tertegun melihat sebuah kue dengan irisan strawberry di atasnya yang tergeletak pada salah satu rak dalam kulkas. Alden tidak bisa merasa lebih bersalah daripada ini. Seharusnya kemarin malam dia pulang, merayakan ulang tahunnya bersama Alora, Istrinya. Seharusnya begini, seharusnya begitu, dan seharusnya-seharusnya lain yang semakin membuatnya merasa buruk.
Satu hembusan napas panjang penuh penyesalan lolos dari Alden yang mengusap wajahnya kasar. Tepat setelahnya, terdengar suara tombol kunci yang ditekan hingga terbuka. Alden menutup pintu kulkas, dan bergegas menuju pintu yang terbuka. Di sana, Alora berdiri dengan wajah yang tampak tak bersemangat sama sekali. Tak ada senyum terukir di bibirnya, apa lagi pipi yang merona seperti kemarin pagi, bahkan warna hitam samar-samar mulai melingkari bawah matanya. Alora tampak suram seakan baru saja mengalami hari yang begitu buruk, dan Alden jelas tahu penyebabnya. Maka, dengan segala perasaan yang menganggunya, Alden berusaha mendekati Alora, namun wanita itu lebih cepat bergerak untuk melewati Alden tanpa sepatah kata.
"Alora..." Lirih Alden.
"Ya?" Alora tak mau menatap Alden.
"Semuanya gak seperti yang kamu pikir, Al."
"Maksudmu?" Kali ini Alora berbalik, dan menatap Alden dengan dahi mengernyit.
"She tricked me, Al. Dia bohong supaya aku datang dan-"
"Dan kamu datang."
Alden menatap lurus pada sepasang mata sayu yang kehilangan cahayanya. Sorot mata itu, tiba-tiba membuat tubuhnya meremang dan menjalankan sakit yang amat dari inti dadanya. Alden tak percaya, dia sudah menyakiti wanita baik seperti Alora. Dan entah apakah Alora akan memaafkannya, Alden tak ingin semua ini menjadi salah. Dia ingin membenarkan segalanya.
"Al, tolong denger aku dulu."
"Aku gak perlu denger apa-apa, Al. Kamu gak salah."
"Aku salah. Maafin aku. Aku terlalu mabuk sampai ketiduran, but that's it. Nothing more."
"Ya, Al. Sekarang aku boleh istirahat?"
"Maaf... Kamu pasti capek." Suara Alden melemah.
"Ya..." Alora pun begitu. Tenaganya sudah sangat terkuras memikirkan pria yang bermalam bersama wanita lain. Alora lelah dengan dirinya sendiri yang sudah berharap begitu banyak pada Alden, yang bukan miliknya. Dengan pasrah, dan siap meninggalkan segala perasaannya pada Alden, Alora membuka pintu kamar saat pria itu kembali bersuara. Sehingga Alora berhenti di ambang pintu, menunggu Alden melanjutkan kalimatnya.
"Aku... Lihat kue di kulkas. Maaf. Terima kasih, juga."
"Oh." Alora berbalik. "Tunggu." Ujarnya, sebelum masuk ke dalam kamar untuk mencari sesuatu yang dia simpan jauh di pojok lemari pakaian, tertutup dengan tumpukan bajunya. Alora kembali menghampiri Alden dengan sebuah kotak hitam yang tidak dibungkus. "Sorry cuma bisa kasih ini, setelah semua yang kamu kasih buat aku."
Alden menelan liurnya, berusaha meredakan rasa sakit dari jantungnya yang terasa hingga ke tenggorokan. Dia menerima kotak itu, tanpa menatap Alora, hanya menaratapi apa yang terjadi sembari termenung. Kini dia tahu, bagaimana Alora menunggunya dengan gelisah kemarin malam. Kini dia tahu, bagaimana hancurnya Alora saat foto itu dikirim dengan sengaja oleh Shella. Kini dia lebih tahu, dan semakin merutuki dirinya sendiri. Tak ada yang lebih menyakitkan daripada melukai orang yang kamu sayangi. Kini Alden tahu arti dari kalimat itu.
Tanpa sepatah kata, Alora kembali masuk ke kamarnya, menutup pintu di belakangnya dan bersandar padanya. Sakit yang dia kira sudah tak mungkin hadir, kembali merangkak ke permukaan, menyeruak hingga kesekujur tubuh. Alora tak bisa menahan bulir yang berkilau di ujung matanya, hingga air mata itu kembali jatuh untuk kesekian kalinya. Alora menutup mulutnya, berusaha meredam suara isak tangis yang mulai terdengar. Tubuhnya yang sudah lemah, terjatuh meringkuk memeluk kaki yang terlipat.
Sementara itu, di balik pintu, Alden hanya bisa menyandarkan dahinya, mencari kehangatan Alora pada sisi satunya. Sebelah tangannya menggenggam erat kotak pemberian Alora, satunya lagi diarahkan ke pintu, menyentuhnya seakan ingin sekali memeluk Alora sembari menepuk-nepuk punggung mungil itu. Tapi semua itu tak akan terjadi malam ini.
❖❖❖