
Semua orang pasti tahu, akibat dari membatalkan janji dengan Shella semalam. Alden tahu betul dirinya dalam masalah hari ini. Benar saja, Shella mengabaikan seluruh pesan bahkan teleponnya. Alden mulai merasa muak mengejar maaf dari Shella, sehingga dia memilih mengabaikan saja ponselnya. Mungkin Alden tidak merasakannya, tapi sikapnya menghadapi Shella jelas sekali terlihat berbeda. Alden yang sekarang, tampak lebih cuek dengan emosi Shella.
Setelah menuntaskan tumpukan pekerjaan, Alden akhirnya bisa pulang. Tidak banyak yang dia pikirkan dalam perjalanan, tapi saat mobilnya melewati gerobak roti bakar, Alden lasung menepi dan berhenti. Dia membeli sebungkus roti bakar kacang kesukaan Alora. Dia pikir, mungkin hal kecil ini bisa menghibur Alora.
Sesampainya dirumah, Alden melihat pemandangan yang sama seperti kemarin malam. Alora tiduran disofa ruang tengah sambil menonton televisi. Alden tidak langsung masuk ke kamar, dia mendekati Alora untuk melihat siaran yang di tonton wanita itu. Alden berdecih, saat melihat sinetron yang di tonton Alora. Kemudian Alden meletakkan sebungkus roti bakar yang dia beli, ke atas meja.
"Kamu suka nonton sinetron?"
"Apa itu?" Alora langsung bangun dari tidurnya, untuk membuka bungkusan pemberian Alden.
"Waaaa! Kesukaanku!"
Alden tersenyum kecil, melihat mata Alora yang berbinar begitu melihat bungkusan dalam plastik. Alora langsung membuka bungkusan itu, sementara Alden beralih menuju kamar. Alora langsung melahap roti bakar kesukaannya, tanpa menunggu Alden yang sedang sibuk mandi dan berganti pakaian.
"Heh! Jangan di habisin sendiri!" Protes Alden, begitu rutinitas malamnya selesai. Alora acuh, matanya hanya tertuju pada layar televisi sambil mengunyah roti bakar.
"Udah makan?" Tanya Alora.
"Belum." Alden duduk di sebelah Alora, dan mengambil sepotong roti bakar untuk disantapnya.
Namun sebelum potongan nikmat itu masuk ke mulutnya, ternyata Alora lebih dulu merebutnya. Alora meletakkan kembali potongan roti bakar itu sambil berkata, "Jangan makan ini. Makan nasi aja."
Lantas Alora bangkit dari duduknya dan menuju dapur.
"Kamu masak apa?"
"Udang asam manis... Tadinya..."
"Hah?"
"Habis. Hehe..." Alora nyengir, sambil menunjukkan piring berisi sisa bumbu dengan sedikit potongan udang.
"Gak usah ngomong!" Seru Alden kesal. Dia langsung menyantap satu potong roti bakar, untuk sekedar mengisi perut kosongnya.
"Aku bikinin nasi goreng aja." Alora tidak menunggu persetujuan Alden, dan langsung sibuk dengan kegiatannya di dapur. "Aku kira kamu gak makan malem di rumah."
"Hm..."
"Tumben? Berantem ya?"
"Enggak."
"Oohh... Berantem."
Alden menoleh ke arah dapur, heran dengan kesimpulan Alora yang tepat. Padahal Alden sudah berbohong.
"Kamu jadi resign?"
Alora sempat memberi jeda, lalu menjawab, "Yup."
"Terus gimana?"
"Yaahh... Biasalah, ditanya kenapaaa... Sayang sekali loh... Alora yakiiinn?? Blablabla... Pret."
Alden langsung tertawa, mendengar Alora menirukan mimik seseorang yang diduga adalah atasannya.
"Well done, Al! Well done!"
Aroma wangi masakan Alora mulai tercium sampai ruang tengah, sehingga membuat perut Alden semakin keroncongan. Alden akhirnya bangun untuk menghampiri Alora di dapur. Dia berdiri di samping Alora, melihat nasi goreng yang hampir matang.
"Waaaaaahhh... Baunya enak."
"Al..."
"Hm?"
"Jangan bilang-bilang ke Sandra atau Harsa ya..."
"Gak akan kubilang. Tapi... Sampai kapan? Mereka juga harus tau. Cepat atau lambat."
Ucapan Alden memang benar, sehingga membuat Alora berpikir ulang tentang rencana hidupnya.
"Hmm..." Alora berpikir sambil menggoyangkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Kemudian Alora menatap Alden yang juga melakukan hal serupa. "Sampai aku dapat kerja lain... Mungkin?"
"Bilang aja sama mereka, sebelum kamu cari kerja baru."
"Enggak. Aku gak mau mereka kepikiran."
"Mereka udah dewasa. Sekali-sekali dengar pendapat mereka."
Alora kembali fokus pada masakannya, enggan merespon Alden.
"Kamu gak harus nyimpen semuanya sendirian."
Alora sempat tercekat mendengar ucapan Alden, sampai tangannya berhenti mengaduk selama sepersekian detik. Alora mengerti maksud ucapan Alden. Dia pasti bicara begitu, karena tahu bahwa selama ini Alora selalu menyimpan masalahnya sendirian. Alora tidak pernah memberi tahu kesulitannya pada Sandra dan Harsa. Mendengar seluruh ucapan Alden malam ini, Alora sadar kalau menyimpan segalanya sendiri juga tidak adil bagi Sandra dan Harsa.
"Nih." Alora menyodorkan sepiring nasi goreng dengan potongan udang sisa, kepada Alden.
"Asiikk... Terima kasih..." Alden langsung berbalik, kembali menuju ruang tengah. Dia duduk lesehan dan meletakkan piringnya di atas meja. Sambil menatap televisi, Alden mengutak-atik remote sambil berkata, "Netflix aja yuk. Kamu mau nonton apa?"
Alora menatap Alden untuk beberapa saat, menikmati perasaannya yang begitu nyaman dengan setiap prilaku Alden. Kemudian Alora kembali bimbang, entah harus bagaimana memutuskan perasaannya. Terkadang dia merasa tidak ada dinding di antara hubungan mereka. Terkadang dia juga merasa ada benteng besar yang menghalangi hubungan mereka. Pada titik ini, Alora tidak yakin dengan perasaannya sendiri.
"Ada apa aja?" Tanya Alora, sambil berjalan menghampiri Alden. Dia duduk di sofa seperti semula.
"Kamu suka Marvel gak sih? Aku belum nonton No Way Home."
"Suka. Itu aja. Aku juga belum nonton."
"Kamu suka Marvel? Serius?"
"Kenapa liatinnya gitu? Memang gak boleh?"
"Aku jarang ketemu perempuan suka film sejenis ini."
"Memangnya Shella gak suka?"
"Dia gak pernah mau nonton film Marvel. Makanya aku sering kelewat."
Alora tertawa. "Aku malah sering nemenin Harsa, makanya jadi suka juga."
"Oh ya??? Waaahh... Ayo ajak Harsa nonton, nanti kalau Doctor Strange udah rilis."
Alora tersenyum melihat Alden yang tumben-tumbennya mengoceh dengan mata yang berbinar.
Sementara film dimulai, Alden menyantap sesuap nasi goreng buatan Alora. Matanya yang sudah berbinar, kini semakin melebar. Alden matap Alora dengan tatapan setengah tidak percaya. Melihat ekspresi itu, bukannya senang, malah membuat Alora takut kalau-kalau rasanya tidak enak.
"Kenapa sih?"
"Enaaaakk! Mau nangis!"
"Apaan sih, Al? Kirain kenapa!" Alora memukul pelan lengan Alden, sehingga pria itu tertawa.
"Semua masakanmu memang gak pernah mengecewakan." Alden menyantap makanannya dengan lahap.
"Saya koki berpengalaman, Pak. Bertahun-tahun masakin keluarga."
"Oh pantas saja Ibu, cita rasa kental sekali."
"Diem kamu! Hahaha!" Alora tertawa, memukul lagi lengan Alden. Pria itu ikut tertawa.
Setelah bercanda sebentar, Alden dan Alora fokus menonton film yang sudah dimulai. Alden melahap makanannya sampai habis, Alora juga asyik mengunyah roti bakarnya. Keduanya saling memerhatikan satu sama lain. Alora tersenyum, melihat Alden yang memakan masakannya hingga habis tak tersisa. Alden tersenyum, melihat Alora yang tampak lebih baik dari pada kemarin.
❖❖❖