
Hari ini Alora terlihat sedang banyak pikiran. Sejak diperjalanan, dia jadi lebih irit bicara daripada biasanya. Padahal hari ini, Alora dan Alden harus memeriksa lokasi gedung yang bakalnya menjadi tempat acara pernikahan mereka. Alden tahu, ada yang sedang membebani pikiran wanita itu. Awalnya Alden tidak mau bertanya, tapi rasa penasarannya sudah tidak bisa dia tahan lagi.
"Kenapa? Kamu kelihatan banyak pikiran." Ujar Alden, saat mereka sedang mencoba sampel makanan untuk acara besar tahun baru nanti.
"Hm? Oh, gak apa-apa." Balas Alora, sembari mengaduk-aduk makanannya. Alora terlihat tidak berselera, padahal biasanya dia paling tidak bisa mempermainkan makanan.
"Kamu pilih yang mana? Set A atau Set B?" Alden bertanya lagi. Walaupun penasaran, Alden berusaha untuk tidak memaksa Alora bercerita. Alden hanya akan memberi waktu sampai Alora siap menceritakan masalahnya.
"Hm... Dua-duanya oke sih..."
"Kamu bahkan gak coba sedikit pun..."
Alora menatap Alden sekilas, merasa tertangkap basah. Lalu Alora menunduk, tidak mau menatap Alden yang juga sedang menatapnya.
"Kamu capek? Kita pulang aja ya?"
"Alden..."
"Hm?"
"Kamu bilang, semakin tua, kita akan semakin religius 'kan?"
Alden berpikir sejenak, mengingat apakah dia memang pernah mengatakan hal semacam itu. Lalu dia mengangguk, setelah ingat dan berkata, "Iya. Kenapa? Kamu mau taubat?"
Alora tidak tertawa pada candaan Alden. Dia malah menghela napas lemas, tidak tahan kalau harus menahan segala isi kepalanya sendirian.
"Menurutmu, kenapa tukang judi bertaubat? Apa karena mau mati?"
Alden tidak langsung merespon Alora. Dia sadar, yang dimaksud dengan tukang judi oleh Alora adalah Ayahnya sendiri. Jadi, Alden memilih untuk berhati-hati dalam merespon pembahasan sensitif ini. Dia tentu tidak mau Alora merasa terbebani dengan kalimatnya.
"Mungkin karena sudah menyesali perbuatannya..."
Alora menghela napas panjang, kemudian mendongak sembari menatap Alden yang duduk di hadapannya. Dia tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Mau tidak mau, memang Alora harus menghadapi masalah ini. Jadi, entah benar atau tidak, keputusannya sudah bulat. Alora ingin menyelesaikan seluruh masa lalunya.
"Kita bisa mampir ke suatu tempat?"
❖❖❖
Alden menyanggupi permintaan Alora dengan syarat, dia harus ikut menemani wanita itu bertemu dengan Ayahnya. Alden tidak mau kejadian seperti minggu lalu terulang lagi. Mereka sedang menunggu di ruang tunggu sebuah asrama gereja. Sesuai janjinya, Alden menemani Alora tepat di sampingnya.
Mereka menunggu cukup lama, sampai seorang pria paruh baya menghampiri. Pria itu adalah Ayah Alora, hanya saja kali ini terlihat lumayan berbeda. Jika sebelumnya dia terlihat seperti penguntit, kali ini pria itu terlihat rapi dengan kemeja lengan pendek dan celana panjang. Senyumnya sudah melebar tapi Alora tidak menatapnya sama sekali. Merasa tidak enak, akhirnya Alden bangun sendirian dan memberi salam pada Ayah Alora, yang mengenalkan dirinya sebagai Soni Bestari.
"Ayah gak nyangka kamu mau ke sini. Terima kasih ya, nak."
Alora tidak menjawab. Wanita itu hanya menunduk memandangi kedua tangannya yang bersatu di atas pangkuannya. Alora tidak melihat sosok Ayahnya, hanya mendengar suaranya saja sudah membuat jantungnya berdetak semakin kencang. Alora memejamkan mata, berusaha mengatur napasnya yang perlahan semakin memendek. Dia berusaha semaksimal mungkin, agar kejadian minggu lalu tidak terulang kembali.
Menyadari hal itu, Alden menggenggam tangan Alora, berharap dapat menenangkannya. Namun siapa sangka itu berhasil. Alora merasakan hangatnya tangan Alden menjalar ke sekujur tubuhnya. Seketika dia merasa lebih tenang dari sebelumnya, lalu perlahan membuka kedua matanya. Alora melihat tangan Alden yang sedang menggenggam tangannya. Kemudian, Alora balas menggenggamnya dengan sebelah tangan.
"Jangan merasa terbebani, Ayah cuma kirim camilan aja."
Alora kembali menunduk, lalu menarik napas dalam-dalam dan menghelanya. Alora melepas genggaman tangannya pada Alden, lalu merogoh tas dan mengeluarkan beberapa barang dari sana. Ada tiga kotak yang dikeluarkan oleh Alora ke atas meja. Pertama ada Apple watch, kedua ada jam tangan Rolex, dan ketiga ada kalung berlian Swarovski. Alora kemudian mendorong tiga kotak itu mendekat pada Soni.
Alden yang melihatnya, lumayan terkejut dengan barang-barang yang dikeluarkan Alora. Alden tahu kalau seminggu terakhir ini, Soni tidak berkeliaran di sekitar rumah kontrakan sederhana Alora, melainkan hanya mengirim beberapa makanan. Jadi Alden tidak menyangka, Soni mengirim barang-barang mahal itu. Dari mana Soni mendapat uang sebanyak itu?
"Kami gak butuh barang-barang itu. Ambil lagi, atau kembalikan ke rentenir, terserah. Yang jelas, tolong berhenti kirim apa pun ke rumah kami." Kali ini Alora berhasil menatap Soni terus menerus, sampai kalimatnya selesai.
"Ayah gak hutang lagi, Al. Ayah benar-benar sudah berhenti. Ayah beli ini untuk kalian. Jadi tolong kalian simpan."
Alora tertawa sinis, merasa geli mendengar Soni berbicara serius. Alora bahkan berpikir Soni sedang mabuk. "Berhenti? Siapa yang bakal percaya? Kamu bilang gitu sudah sejak Bunda masih ada."
"Al-"
"Kamu berhenti pun, gak bakal bisa menghapus dosa-dosamu di masa lalu!" Alora memotong kalimat Soni, seraya berseru dengan nada suara yang ditinggikan. Lalu, Alora merasa dadanya mulai sesak. Dia tidak mau lagi menatap Soni yang duduk di hadapannya.
"Ayah minta maaf, Al."
"Cih! Belasan tahun ini kemana aja? Kemana aja setelah buat hancur hidup anak-anakmu?!" Dengan napas yang semakin pendek, Alora memukul meja merasa emosinya semakin memuncak. Dadanya terasa sesak, jantungnya berdebar semakin kencang. Dengan kesadaran yang tersisa, Alora berusaha mengatur napasnya jadi lebih stabil.
Menyadari hal itu, Alden menepuk-nepuk punggung Alora dengan lembut. Dia berbisik pelan pada Alora, "Tenang ya, Al."
"Aku... Gak pernah berharap kamu masih hidup. Kalau kamu menyesal, kenapa gak mati aja?"
Alden lumayan dibuat terkejut dengan kalimat Alora. Wanita itu berkata dengan napas yang lebih stabil dari sebelumnya. Alden tidak bisa mengartikan sorot mata Alora yang menatap lurus pada Soni. Alden tidak tahu, seberapa besar luka yang ditorehkan Soni pada Alora, sampai wanita itu sangat membenci Ayahnya sendiri.
"Harusnya kamu malu sudah muncul dalam kondisi sehat." Alora mengucapkan kalimat terakhirnya, sebelum beranjak pergi meninggalkan Alden yang tampak kebingungan harus bagaimana.
"Al..." Alden ikut bangun dari duduknya, tapi masih bingung antara harus pergi begitu saja mengikuti Alora atau memberi salam pada Soni.
"Aku..."
Mendengar Soni mengatakan sesuatu, Alden akhirnya memutuskan untuk diam sejenak, menunggu Soni menyelesaikan kalimatnya.
"Aku memang Ayah yang durhaka. Wajar Alora semarah itu. Tolong kamu maklum, ya... Dia sebenarnya wanita baik-baik."
Alden melihat senyum Soni yang begitu tulus. Dari sorot matanya, Alden bisa melihat kalau Soni benar-benar menyesal. Bahkan ada sedikit air yang membasahi matanya, membuat Alden mencoret opsi untuk pergi begitu saja mengikuti Alora. Alden masih berdiri di sana, menunggu Soni yang terlihat masih ingin berbicara.
"Dan tolong jaga Alora, anakku. Dia perlu tempat untuk bersandar."
Soni menatap lurus kepada Alden, meminta dengan sepenuh hatinya. Tentu saja perasaan itu sampai kepada Alden, sehingga pria itu mengangguk seraya tersenyum. Kemudian Alden membungkukkan badan, memberi salam pada Soni, lalu menyusul Alora yang sudah lebih dulu pergi ke parkiran mobil.
Soni menatap kepergian Alora dan Alden, dengan hati yang kacau. Dia tahu cepat atau lambat, hal ini akan terjadi. Di mana dia merasa sangat senang saat Alora mengunjunginya, lalu kembali terjatuh ke dasar jurang saat menyadari dirinya sudah menoreh banyak sekali luka pada anak sulungnya. Tapi apa mau dikata, masa lalunya sudah terlewati dengan sangat buruk. Menyesal pun tidak akan berarti apa-apa. Dalam setiap detik penyesalannya, Soni hanya dapat berdoa untuk kebahagiaan, kesehatan, dan kesejahteraan anak-anaknya.
❖❖❖