Blooming At It's Time

Blooming At It's Time
²⁷ Malam Untuk Alora



Semenjak Alden meninggalkan Alora sendirian di Bali, hari demi hari pria itu semakin pelit memperlihatkan batang hidungnya pada Alora. Tiap pagi, Alden selalu sarapan dengan cepat lalu bergegas berangkat kerja. Kadang Alden pulang sore, namun langsung pergi lagi untuk menghampiri Shella tentunya dan biasanya baru pulang hampir tengah malam saat Alora sudah tertidur. Alora baru bisa bercengkrama dengan Alden, saat pria itu kerja lembur dan pulang sebelum tengah malam. Bahkan saat akhir pekan, Alden lebih sering mengunjungi Alora. Yah, Alora hanya bisa menerima semua sikap Alden, dia tidak pernah sekali pun protes.


Hal ini mungkin jadi keuntungan bagi Alora, karena dia lebih banyak mengurus dirinya sendiri. Hanya saja, dia jadi sangat merindukan Sandra dan Harsa, karena belakangan ini dia jadi sangat kesepian. Pagi ini pun Alden makan dengan cepat dan buru-buru meninggalkan meja makan, padahal dasinya belum terpasang dengan baik. Alora menyadarinya, tapi dia memilih diam dan membiarkan Alden dengan penampilannya yang agak berantakan.


"Oh iya, hari ini bukannya pengumuman naik jabatanmu?" Tanya Alden tiba-tiba. Pria itu bahkan kembali ke ruang makan, saat sudah hampir mencapai ambang pintu.


Alora lumayan terkejut dengan ingatan Alden yang, ternyata sangat bagus. Bahkan Alora hampir lupa bahwa dia pernah memberi tahu Alden soal itu.


"Iya... Belum tentu juga aku yang naik." Ujar Alora, lalu melahap kembali sarapannya yang sudah hampir habis.


"Bukannya kamu udah memenuhi syarat?"


"Gak mau berharap."


"Kenapa? Jangan pesimis gitu lah!" Alden melihat jam yang terpasang dipergelangan kirinya, lalu berkata, "Kabarin kalau kamu udah naik jabatan ya!"


Alora tersenyum kecil, sampai tak terlihat oleh Alden. Kemudian Alora bangun dari duduknya, untuk menghampiri Alden yang sedang memakai sepatunya. Alora menepuk pundak pria itu tanpa mengucapkan sepatah kata pun, sehingga Alden agak terkejut saat melihat Alora sudah berdiri sangat dekat dengannya. Alden juga tidak mengucapkan sepatah kata pun, tapi tanda tanya besar jelas tergambar pada raut wajahnya.


"Dasimu gak bener." Ujar Alora, sembari memerbaiki dasi Alden yang masih berantakan.


Alden tidak bisa berbohong, matanya jelas menatap Alora dengan sangat tenang, bahkan saat wanita itu tidak menatapnya sama sekali. Alden juga tidak bisa menahan jantungnya untuk berdebar semakin dan semakin kencang. Dia tidak tahu cara menenangkan debaran itu, jadi Alden mengabaikannya. Pria itu hanya menatap Alora tanpa berpaling, sampai wanita itu selesai dengan urusannya lalu balas menatap Alden.


"Thank you!" Alden tersenyum simpul, lalu segera pergi meninggalkan Alora yang masih berdiri ditempatnya sampai pintu apartemen benar-benar tertutup.


Alora menarik napas dalam-dalam lalu menghelanya pelan, merasa agak kecewa dengan Alden yang begitu cepat meninggalkannya. Sudahlah, lagi pula apa yang bisa dia harapkan dari hubungan pura-pura ini? Alora tidak bisa berharap apa pun.


❖❖❖


Alora memutuskan untuk mengesampingkan masalah pribadi begitu kakinya melangkah memasuki kantor. Pagi ini para staff MR sudah sibuk mengobrol satu sama lain, dan Alora tahu apa alasannya. Pagi ini mereka akan dikumpulkan untuk meeting tahunan dan dijanjikan pengumuman supervisor baru.


"Al!" seorang wanita cantik yang sudah sejak lama menjadi rekan kerja Alora paling klop itu melambaikan tangan pada Alora, memintanya cepat-cepat duduk ke meja kerja. "Gimana? Dah siap jadi SPV?" lanjutnya, tepat saat Alora hampir menjatuhkan bokongnya ke kursi.


"Haha! Jangan gitu lah! Aku gak mauberharap." Alora tertawa pelan


Tak perlu lama menunggu, atasannya sudah memanggil para staff MR untuk berkumpul di ruang meeting. Saat itu, Asisten Manager memulai meeting seperti biasanya. Beliau memfokuskan para staff pada setiap hal yang dibahas, sampai meeting benar-benar berakhir. Kemudian Asisten Manager mulai mengumumkan supervisor baru yang akan menjabat menggantikan dirinya.


"Oke sekarang bagian yang ditunggu-tunggu ya!"


Seisi ruang meeting mulai bersorak sambil bertepuk tangan. Tak sedikit dari para staff yang mulai menggoda Alora, karena memang tidak ada yang mampu bekerja sekeras Alora. Menurut rekan-rekannya, Alora memang pantas mendapat jabatan itu, terlebih lagi Alora berhasil melampaui target. Terima kasih kepada Kala, atau mungkin terima kasih sudah menikah dengan Alden.


"Selamat buat..." Asisten Manager sengaja memberi jeda, lalu menyerukan sebuah nama yang sangat tak terduga, "Jere! Congratulation!"


Saat itu juga seisi ruangan heboh, saling sahut-menyahut. Beberapa ada yang tertawa senang, mengucapkan selamat pada Jere. Beberapa lainnya saling berbisik sambil menatap iba pada Alora yang hanya tersenyum dan bertepuk tangan. Sementara Jere, pria yang baru saja namanya disebut, tidak bisa menyembunyikan euphoria.


Walaupun Alora tampak baik-baik saja, percayalah dalam lubuk hati terdalamnya, dunia seakan runtuh. Alora sudah berkorban sebanyak itu, dia sudah disanjung-sanjung bukan hanya oleh para rekannya, bahkan oleh Asisten Managernya saat ini. Tapi semuanya ternyata tidak berarti apa-apa. Alora sempat bertukar pandang dengan Asisten Managernya, namun pria itu langsung berpaling dan pergi meninggalkan ruang meeting. Merasa perlu mendapat penjelasan, Alora bergegas menyusul Asisten Managernya.


"Pak? Saya bisa bicara sebentar?"


"Kenapa, Al? Saya ada janji."


"Sebentar aja, Pak."


Asisten Manager terdengar menghela napas, tapi Alora tidak peduli. Dia masih mengekori pria itu sampai keduanya masuk ke ruang kerja Asisten Manager yang sepi.


"Pak, saya merasa perlu kejelasan. Kenapa bukan saya yang terpilih?"


"Alora. Keputusan juga bukan ditangan saya."


"Bapak sendiri tahu kinerja saya. Target saya juga tercapai, lebih dari pada Jere. Barusan kita bahas di meeting. Alasannya apa, Pak?"


Alora memerhatikan Asisten Managernya yang jelas sekali merasa terganggu dengan protes yang dilontarkan Alora. Tapi untuk saat ini, Alora memberanikan diri mengabaikan perasaan orang lain. Dia perlu meluapkan segala emosinya yang sudah cukup dipendam begitu lama.


Bagai tersambar petir disiang bolong, Alora membeku tak bisa berkata-kata. Bahkan pria di hadapannya juga tampak panik, seakan sudah mengatakan hal yang seharusnya jadi rahasia. Terjawab sudah pertanyaan Alora selama ini. Kenapa dia selalu merasa diasingkan, disingkirkan, bahkan diskriminasi-diskriminasi kecil yang kerap kali dia abaikan. Emosinya bukan mereda, malah semakin memuncak sampai ingin mengumpat hebat.


"Eeehh... Alora..."


"Itu aja alasannya, Pak?"


"Alora... saya tahu kerja keras kamu. Makanya, kami mau mempertahankan kamu disini. Lagi pula, dengan ijazahmu, akan sulit dapat pekerjaan lain, 'kan?"


Lantas Alora mengangguk mengerti sambil tertawa getir.


"Pak, bukan saya yang beruntung bisa kerja di sini. Perusahaan yang beruntung sudah hire saya."


"Maksud kamu?"


"Besok saya antar surat resign saya. Terima kasih."


Alora tidak bertele-tele, dia langsung pergi tanpa menunggu respon dari mantan Asisten Managernya. Langkah kakinya bergerak cepat, bahkan para rekan yang menyapanya dia lewati begitu saja. Alora hanya ingin cepat-cepat kabur dari kenyataan ini. Dia mengemas barang-barang seadanya, lalu pergi tanpa sepatah kata.


Dipinggir jalan, Alora menghentikan taksi, lalu naik ke kursi penumpang. Saat sopir taksi menanyakan tujuannya, Alora hampir saja menjawab alamat lamanya. Alora segera menyebut alamat apartemen Alden, dan melesat dengan mobil taksi yang dinaikinya. Alora menatap ke luar jendela, memerhatikan kendaraan-kendaraan yang melintas. Padahal di dalam mobil hanya ada dirinya dan sopir, tapi Alora merasa dadanya sangat sesak.


Beberapa kali Alora menarik dan menghela napas, berusaha menenangkan dadanya yang seakan ditusuk berkali-kali. Lidahnya kelu, tapi tenggorokannya sakit seperti dihantam batu besar. Alora menahan sekuat dirinya untuk tidak menangis. Setidaknya sekarang Alora harus bersyukur karena memiliki tempat untuk kabur dari Sandra dan Harsa. Jadi Alora tidak perlu menunjukkan kesulitannya pada adik-adik tersayang. Cukup dia sendiri yang menghadapi ini.


❖❖❖


Hari sudah mulai gelap, dan Alora masih merebahkan dirinya di atas sofa ruang tengah sembari menonton televisi dengan tatapan kosong. Bahkan saat terdengar suara pintu dibuka, Alora tidak bergerak sedikit pun. Dia sudah yakin yang datang adalah Alden, dan dia juga sudah mengira bahwa sebentar lagi akan ada telepon masuk ke ponsel pria itu.


"Halo?"


Benar, 'kan? Alden langsung berbicara lewat ponsel begitu sampai. Bahkan pria itu belum sempat masuk ke dalam kamar. Biarkan saja, Alora sedang tidak mau peduli dengan apa pun.


"Al? Aku pergi dulu ya."


Sesuai dugaan, Alden memang selalu begitu.


Alora tidak menyahut, dia menghela napas panjang kemudian mengubah posisinya menjadi duduk, setelah sekian lama. Alora menarik dan menghela napas beberapa kali, mulai merasa kesal dengan sikap Alden. Mungkin tidak bisa dibilang kesal sepenuhnya, dia lebih merasa iri pada Shella yang memiliki orang seperti Alden. Sekali saja, Alora ingin tahu bagaimana rasanya memiliki seseorang.


"Sekali aja..."


Alden berhenti untuk menatap Alora, yang sedang menatap lurus ke arah televisi.


"Bisa gak... sekali aja... kamu jangan pergi?"


Bukan lumayan lagi, tapi Alden benar-benar terkejut dengan ucapan Alora. Melihat raut Alora yang tidak biasa, membuat Alden merasa tidak tenang. Dengan perasaan khawatir, Alden perlahan mendekati Alora dan duduk di sebelahnya.


"Kenapa? Kamu ada masalah?"


"Yah... cuma gak pengen sendirian."


"hmm..." Alden langsung mengangguk, merasa telah terjadi sesuatu selama pengumuman naik jabatan tadi pagi. Alden tidak mau bertanya soal itu, karena dia merasa sudah mengetahui jawabannya.


"It's over, Al. I'm done." Alora menarik napas dalam-dalam lalu menghelanya panjang. Rasa sakit yang sejak tadi dia abaikan kembali hadir, memaksa air matanya untuk mengalir. Tapi dengan sekuat tenanga, Alora menahan bulir itu agar tidak jatuh. Kedua manik indah itu basah dengan air mata.


Menyadari hal itu, Alden semakin mengunci bibirnya. Dia melepas jasnya, lalu menepuk pelan punggung Alora. Saat itu juga, air mata Alora tumpah bahkan tanpa aba-aba dari sang empunya. Alora yang sudah mecapai batasnya, menutupi wajah dengan tangan dan menangis. Alden membawa tubuh mungil itu ke dalam pelukannya, masih sambil menepuk-nepuk pelan punggung Alora. Sekarang, Alden memutuskan untuk menemani Alora, membiarkan wanita itu terisak sampai hatinya lega.


Di hari menjelang malam, Alora menumpahkan segala emosi, kekecewaan, hingga kemarahannya dalam pelukan Alden. Wanita itu tidak melewatkan sedetik pun kejadian yang mengganggu pikirannya. Mulutnya bercerita panjang lebar, sementara Alden hanya mendengarkan. Malam itu, Alden memberikan dirinya utuh hanya untuk Alora.


❖❖❖