Blooming At It's Time

Blooming At It's Time
⁸ Sebuah Permintaan



Semuanya kelihatan baik-baik saja. Giri memperpanjang masa istirahatnya di rumah sakit, sekarang dia sedang duduk di ranjang pasien VVIP. Di sana ada Kala yang duduk di sofa, masih mengenakan jas putih, menyeruput segelas teh hangat. Ada Alden juga, yang duduk di bangku kecil sebelah ranjang pasien, sembari mengupas buah apel permintaan Giri. Semuanya baik-baik saja, kecuali tatapan Giri dan Kala pada Alden. Ya, Alden menyadari arti dari tatapan itu, dan dia mulai kesal.


Alden menghela napas, hampir gila, lalu berbicara dengan kesal, "Gak! Alden gak mau!"


"Ck! Alden!" Seru Giri.


Kala yang sejak tadi menyaksikan perdebatan Giri dan Alden, kini bersandar pada sofa, menyeruput teh hangatnya dengan santai. Bak menonton sebuah drama keluarga, Kala hanya menikmati pemandangan itu, tanpa berkomentar. Bukan saatnya Kala berkomentar saat ini. Kala sudah cukup berperan dalam membuka ruang debat di kamar VVIP siang ini.


"Coba kamu telepon dia, suruh ke sini. Biar Opa yang bicara."


Alden berdecak kesal, sembari memotong apel menjadi beberapa bagian. Dia memang kesal, tapi dia tetap menyuguhkan apel itu kepada Giri. Padahal Alden bukan kepalang kesalnya. Semua ini gara-gara Kala yang mengadu pada Giri, kalau Alden dan Alora kemarin bertemu di rumah sakit. Atau Alden yang sial, karena Kala melihatnya berbincang dengan Alora di dekat mesin minuman otomatis. Apa pun itu, yang jelas Alden kesal, karena akibatnya Giri jadi mendesaknya untuk menikahi Alora.


"Aku gak punya nomornya." Alden beralasan.


"Mama kirim nomornya ya." Kala menggagalkannya.


"Ma!"


Alden menoleh pada Kala, menunjukkan dirinya sedang kesal. Tapi Kala yang sudah menjadi Sekutu Giri sejak awal, hanya cengengesan sembari bermain dengan ponselnya. Saat itu juga ponsel Alden bergetar. Benar saja, Kala sudah mengirim nomor Alora pada Alden.


"Ayo, telepon Alora! Biar Opa yang bicara!"


"Kalau Opa yang bicara, memangnya kenapa? Dia bakal mau gitu?"


"Ya... Mungkin..."


"Mustahil!"


"Yasudah... Kala kamu kirim nomornya ke Papa, biar Papa yang telepon."


"Opa!"


Kala kembali tertawa dan bermain dengan ponselnya. Kala benar-benar mengirim nomor Alora pada Giri. Lalu, Giri memakai kacamatanya, agar dapat melihat layar ponsel dengan lebih jelas. Dengan satu gerakan jari, Giri sudah menelepon nomor Alora. Memasang mode pengeras suara agar satu ruangan bisa mendengar percakapan mereka.


"Halo?"


"Halo? Ini Alora, betul?"


"Iya, betul. Dengan siapa?"


"Saya Giri. Masih ingat?"


"Oh, iya Pak Giri. Saya dengar kemarin Bapak masuk IGD. Sekarang gimana kondisinya?"


"Hahaha, baik Mbak... Mbak Alora tahu dari Alden ya?"


"Iya, pak. Kemarin gak sengaja ketemu di rumah sakit."


"Kalau gitu kenapa gak mampir jenguk saya?"


Alden tidak habis pikir dengan ucapan Giri. Dia merasa malu, tapi tidak tahu apa yang harus ditutupi. Dia merasa ingin membungkam Giri, tapi tentu saja itu tidak sopan. Akhirnya Alden hanya kesal sendirian.


Diujung telepon Alora tertawa, kemudian kembali berkata, "Kata Alden, Bapak lagi istirahat, saya takut ganggu."


"Ya?"


❖❖❖


Alora menyesal. Seharusnya dia lebih keras kepala untuk menolak Giri datang ke rumah sakit ini. Lihat dia sekarang, hanya duduk diam tanpa tahu harus bicara apa. Alora tahu dia tidak bisa kabur sekarang. Apalagi dengan Giri yang menggenggam tangannya, dan Kala yang mengawasinya dari belakang. Entah bagaimana Alora harus melampiaskan perasaan yang tak dapat dideskripsikan ini. Mungkin dia harus menarik rambut Alden, supaya lega. Yah, itu pilihan yang bagus.


"Saya rasa, saya gak bakal hidup lebih lama lagi, Mbak."


Alora baru saja larut dalam khayalannya menarik-narik rambut Alden sampai rontok sana-sini. Kini lamunannya buyar, karena Giri kembali berbicara dengan sangat lembut. Terlihat sangat lemah, sembari sesekali terbatuk-batuk.


"Jangan bilang gitu, Pak. Bapak harus panjang umur ya, Pak. Sehat-sehat juga." Alora mengusap lengan Giri penuh perhatian.


Tidak bisa dipungkiri, Alora memang wanita yang baik dan penyayang. Sesaat setelah dia reflek mengusap lengan Giri, Alora sadar tindakannya salah. Hal itu bisa saja membuat Giri semakin keras kepala untuk meminta Alora menikahi Alden. Harusnya Alora tampar saja pria tua itu, agar Giri membenci Alora. Tapi seakan berjalan diluar kendali, Alora malah mengusap lengan Giri penuh perhatian.


"Makanya, Mbak tolong pertimbangkan untuk menikah dengan Alden."


Alora melirik pada Alden yang bersandar pada bibir jendela. Pria itu terlihat frustasi dengan menundukkan kepala sembari menggeleng pelan. Sebenarnya Alora berharap Alden menatapnya, sehingga dia bisa meminta bantuan. Tapi pria itu tak kunjung menatapnya, sampai Alora jengah, dan memutuskan untuk menolak dengan tegas.


"Pak, saya tahu Alden pria yang baik. Apalagi dokter Kala, saya sudah kenal beliau sejak awal karir saya. Saya juga tahu maksud Bapak baik. Tapi maaf, Pak."


Setelah Alora mengoceh begitu, barulah Alden mendongak, menatap Alora yang tengah duduk di bangku kecil sebelah ranjang pasien.


"Saya mohon maaf sekali, Pak. Saya merasa tidak pantas. Lagipula, Alden pasti sudah punya pilihannya sendiri. Maaf ya, Pak. Saya harap bapak bisa menerima keputusan saya." Alora menepuk-nepuk punggung tangan Giri, sembari menggenggam keduanya.


Alora menatap lurus pada Giri, berharap isi hatinya benar-benar tersampaikan dengan baik, tanpa menyinggung perasaan siapa pun. Dan sepertinya usaha Alora berhasil. Giri tersenyum sembari mengangguk pelan, seakan mengerti dengan semua kalimat yang diucapkan Alora. Setelah itu barulah Alden dan Alora dapat bernapas lega.


Akhirnya semua drama ini berakhir. Iya, 'kan?


❖❖❖


Alora dan Alden sudah pergi. Sebelum pergi tadi, keduanya sepakat akan menjadi teman di hadapan Giri, membuat pria itu tersenyum. Tapi tidak sekarang, Giri kembali terlihat murung. Kala, yang masih ada di ruangan itu, menatap Giri dengan iba. Dia sungguh mengerti maksud baik Giri, tapi dia juga sangat mengerti isi hati Alora dan Alden. Entah apa yang harus Kala lakukan sekarang.


"Kala..."


Kala duduk di bangku kecil sebelah ranjang pasien, menunggu Giri melanjutkan kalimatnya.


"Papa yakin Alora orang yang pantas buat Alden."


"Pa..." Kala menggenggam erat tangan kanan Giri. Dia mengamati sorot mata Giri yang terlihat sangat serius. Dia tahu Giri tidak sedang bercanda, dan dia tahu betapa keras kepalanya Papanya itu.


"Kita gak bisa paksa mereka." Ujar Kala, berusaha meluluhkan Giri.


Tapi semuanya sia-sia. Giri menatapnya dengan sorot mata itu. Kala ingat jelas saat dulu Giri meminta dia menikah dengan suaminya. Tatapan yang sangat sulit dijelaskan, tapi Kala dapat merasakan ketulusan, keseriusan, hingga keputus asaan di dalamnya. Kala tidak pernah bisa menolak, jika Giri sudah menatapnya seperti itu. Bahkan saat Kala sedang kalut dan berniat menggugurkan kandungannya. Giri, dengan tatapan itu memohon pada Kala untuk mempertahankan jabang bayi yang saat ini tumbuh besar menjadi seorang Alden Kama Adhigana.


"Kala, Papa ada ide. Tolong bantu Papa."


Hanya satu kalimat yang terlontar dari Giri, tapi Kala merasa permintaan itu sangat berarti. Sehingga Kala dengan sepenuh hatinya mengangguk, mengiyakan permintaan Giri.


❖❖❖