
Alora membuka matanya perlahan, menyelaraskan dengan silau lampu yang ada di atasnya. Kepalanya masih terasa sedikit pusing, tapi Alora memaksakan dirinya untuk bangun. Alora baru saja mencoba mengangkat tubuhnya, seseorang sudah membantu dengan sigap. Alora menoleh dan mendapati Alden sedang membantunya untuk duduk di ranjang pasien. Dia baru sadar kalau sedang berada di rumah sakit, tepatnya di IGD. Di sana juga ada Sandra dan Harsa yang menatapnya cemas.
"Sudah baikan, Al?" Tanya Alden dengan suara yang terdengar lembut. Alora hampir tidak percaya Alden bisa bicara selembut itu. Tapi sekarang bukan saatnya untuk memerdulikan suara Alden, karena Alora masih perlu kejelasan dari Sandra soal kejadian tadi.
"Sandra..." Alora memanggil wanita itu dengan suara yang masih terdengar lemah.
"Alora... Istirahat dulu, kamu masih ringkih." Alden berusaha menenangkan Alora, karena tidak mau hal yang sama terulang kembali.
Alora memejamkan mata, sembari menghela napas panjang. Dia merasakan kepalanya yang sudah semakin membaik. Sedetik kemudian, Alora baru menyadari kalau dia sudah melewati masa-masa yang menyakitkan hanya karena melihat Ayahnya masih hidup dan bugar. Padahal selama ini dia tidak pernah berdoa untuk keselamatan sang Ayah. Mungkin Tuhan pun enggan menerima kembali pria itu.
"Minum dulu... Kamu harus tenang. Kamu pernah begini sebelumnya?" Tanya Alden, seraya menyodorkan segelas air mineral pada Alora.
Alora meminum sedikit air, lalu berusaha mengingat segala kejadian buruk yang pernah dia alami. Seingat Alora, dia tidak pernah merasa seburuk ini. Maka, Alora menggeleng pelan.
"Kata dokter, ini panic attack."
Alora memejamkan mata seraya menunduk, setelah mendengar penjelasan Alden. Dia tahu apa itu serangan panik, dan dia sadar apa penyebabnya. Benar kata Alden, untuk saat ini dia harus tenang. Maka Alora meminum habis airnya dengan perlahan. Kemudian, dengan kesadaran penuh Alora meminta untuk pulang.
"Ayo pulang."
Selama perjalanan, tidak ada satu pun yang berbicara. Bahkan Alden pun ikut diam, tidak mau dianggap keterlaluan. Sesampainya di rumah, semua orang masuk ke dalam. Awalnya, Alden berniat untuk meletakkan obat resep dokter saja, tapi merasakan suasana yang lumayan suram, Alden memutuskan untuk tinggal sejenak sembari menunggu momen untuk permisi.
"Sekarang ayo kita bicara." Ujar Alora di ruang tengah. Membuat setiap orang di dalam rumah itu, ikut berkumpul ke ruang tengah.
Alden merasa dirinya sudah cukup ikut campur, dia tidak mau terlibat lebih jauh dari ini. Sehingga Alden memilih untuk pamit, "Kalian bicaralah, aku pulang dulu."
"Kamu di sini aja, Al." Ujar Alora tiba-tiba. Bukan hanya Alden, Sandra dan Harsa pun terlihat lumayan terkejut dengan kalimat Alora. Menyadari hal itu, Alden mengerti kalau mereka tidak ingin masalah ini terdengar olehnya.
"Kalau gitu, aku tunggu di teras ya." Alden berusaha menggunakan suara selembut mungkin, agar Alora setidaknya bisa merasa tenang. Alden menepuk-nepuk pelan pundak Alora, sebelum berbalik untuk duduk di teras, menunggu ketiganya menyelesaikan pembicaraan mereka.
Di ruang tengah, Alora duduk disofa, Sandra bersandar pada meja TV, sedangkan Harsa berdiri tidak jauh dari Sandra. Alora menatap kedua adiknya yang hanya menundukkan kepala. Alora bisa mengerti kenapa Sandra terlihat menyesal, tapi dia tidak mengerti kenapa Harsa juga begitu. Setelah itu, barulah dia ingat gelagat aneh kedua adiknya saat mereka makan malam beramaa Alden di rumah. Malam itu juga, Alora melihat pria misterius yang tidak lain tidak bukan adalah Ayahnya sendiri.
"Harsa, kamu juga tahu?" Tanya Alora, memastikan perkiraannya.
Harsa diam. Kali ini bukan karena sikapnya yang irit bicara, tapi memang karena Harsa enggan menjawab. Biarlah Alora menyimpulkan kalau Harsa memang sudah tahu masalah ini lebih dulu. Sehingga Alora tertawa miring, merasa tertipu oleh adik-adiknya sendiri.
"Kenapa kalian gak bilang dari awal?"
Sandra dan Harsa diam saja, membuat emosi Alora semakin meninggi. "Jangan diam aja! Katakan sesuatu!"
"Maaf, Kak. Aku yang larang Harsa untuk cerita." Akhirnya Sandra membuka suaranya. Kemudian dia melanjutkan kalimatnya, "waktu kak Alo pergi makan malam sama keluarga kak Alden, Harsa cerita kalau orang yang cari dia di lapas kemungkinan Ayah..."
"... aku larang Harsa cerita ke kakak."
"Kenapa, San? Kalau kalian ceria dari awal, aku gak bakal sekaget ini!"
"Aku gak mau kakak kayak dulu lagi!"
Alora diam, tak mengerti dengan maksud kalimat Sandra. Adik perempuannya itu kini sedang menatapnya dengan mata berair. Sandra sudah membasahi pipinya seraya menangis dalam diam.
"Maksudmu apa, San?"
"Aku sama Harsa tau kak Alo pernah mau bunuh diri."
Seketika itu juga, di hari menjelang sore, Alora merasa seakan tubuhnya tersambar petir. Jantungnya berdetak kencang, menyadari kalau adik-adiknya selama ini telah menyimpan luka. Alora tidak tahu harus berkata apa, dia hanya ingin memeluk adik-adiknya.
Alora menatap Harsa yang berpaling membelakanginya. Sungguh dia tidak sadar, kalau selama ini sudah menoreh luka pada adik-adiknya. Kalau boleh Alora bertindak gila, dia ingin menyakiti dirinya sendiri sekarang karena merasa gagal menjaga adik-adiknya.
"Dia lihat kak. Bocah SMA itu takut, cuma bisa pura-pura gak tahu." Sandra menumpahkan segala emosinya. Dia menangis sejadi-jadinya.
Alora yang sudah semakin tidak kuat menahan tangis, akhirnya pecah juga. Air matanya langsung mengalir deras. Dia bangun untuk menghampiri Harsa yang masih membelakanginya. Alora menepuk-nepuk punggung Harsa yang bidang. Seingat Alora, tubuh Harsa tidak sebesar ini. Dia baru menyadari adik bungsunya kini sudah tumbuh dewasa. Dan selama pertumbuhannya menuju dewasa, Alora sudah menoreh luka pada lubuk hati Harsa yang terdalam.
"Harsa... Maafin kak Alo." Alora tidak mampu mengucapkan apa pun selain maaf. Dia memeluk tubuh tinggi itu dari belakang, menumpahkan tangisnya berharap Harsa bisa memaafkannya.
Sandra yang sejak tadinya menangis sendirian, ikut memeluk kakak dan adiknya. Sementara itu, Harsa yang membelakangi kakak-kakaknya juga menangis dalam diam. Dia menggenggam tangan Alora dan Sandra yang saling bertemu di depan perut Harsa. Tangis ketiga bersaudara itu pecah, mungkin saja terdengar sampai ke luar.
Alden yang sejak tadi menunggu di teras, sayup-sayup mendengar percakapan dan tangisan ketiga bersaudara itu. Awalnya Alden khawatir, tapi setelah mendengar tangisan ketiganya, dia malah merasa lega. Setidaknya, setelah meluapkan isi hati, mereka akan baik-baik saja. Sejujurnya, Alden merasa sedikit iri dengan kedekatan tiga bersaudara itu.
Setelah lumayan lama menunggu, Alden dapat merasakan suasana dari dalam rumah yang mulai mencair. Benar saja, tak lama setelahnya Alora keluar untuk menghampiri Alden dengan mata yang sudah bengkak hampir menyerupai kodok. Alden sempat tertawa kecil melihat kondisi Alora yang terlihat kacau. Tapi dalam hatinya juga merasa lega, menyadari kalau masalah ini sudah selesai.
"Sudah bicaranya?"
Alora mengangguk.
"Sudah baik-baik aja?"
Alora mengangguk lagi.
"Syukurlah."
Alora dan Alden sama-sama menatap langit keemasan di sore hari. Tidak ada yang bicara. Mereka hanya saling menatap langit dengan perasaannya masing-masing.
"Maaf ya." Ujar Alora tiba-tiba, membuat Alden berhenti menatap langit dan beralih padanya.
"Hari ini rumit sekali." Lanjut Alora.
"Iya... Lumayan menguras tenaga... Tapi syukurlah sudah selesai." Alden tersenyum kecil pada Alora yang masih menatap langit.
"Kamu pasti kaget, setelah tahu kalau pria tadi itu Ayahku."
Alden diam. Dia kembali menatap langit. Sebenarnya, Alora ada benarnya. Alden bukan sangat terkejut, dia hanya lumayan terkejut. Tidak terlalu penting juga bagi Alden.
"Yah, lumayan. Kamu juga kaget, 'kan?"
Akhirnya Alora tertawa seraya menoleh pada Alden sekilas, lalu kembali menatap langit. "Maaf, dan makasih ya, Al." Ujarnya.
"Gak perlu, Al. Kita kan teman."
Alora tersenyum simpul, merasa lega sudah bertemu dengan seseorang yang tulus seperti Alden.
"Semuanya bakal baik-baik aja, Al. Everything's gonna be fine."
Alora menoleh pada Alden yang sedang menatapnya. Kalimat sederhana Alden mampu menembus dinding kokoh yang sudah dibangun Alora sejak lama. Seketika itu, Alora merasa seakan separuh bebannya terangkat sehingga dia bisa tersenyum dengan lebih ringan. Alden pun ikut tersenyum.
Di bawah langit senja, Alora dan Alden saling menenangkan.
❖❖❖