
Untuk anak-anak Ayah yang hebat.
Ayah minta maaf karena sudah meninggalkan kalian dengan tidak bertanggung jawab. Ayah sadar apa yang Ayah lakukan itu salah. Ayah sadar sudah menyakiti perasaan kalian. Tapi Ayah terlalu malu untuk muncul dan minta maaf secara langsung. Ayah sudah menghancurkan hidup kalian, Ayah tidak bisa datang dengan tangan kosong. Ayah harus mengganti kerugian kalian karena kesalahan Ayah.
Ayah selalu berdoa agar Alora dan Sandra, anak-anak perempuan Ayah, agar dijauhkan dari laki-laki seperti Ayah. Ayah juga selalu berdoa agar Harsa, anak laki-laki Ayah, agar tidak berakhir seperti Ayah. Tolong maafkan Ayah kalian yang tidak becus. Yang suka mabuk, judi, dan buat Bunda kalian menderita. Kalian pasti marah. Kalian pasti benci Ayah.
Setelah Bunda kalian pergi, Ayah selalu bawa foto pernikahan kami kemana-mana. Ayah benar-benar merasa bersalah sama Bunda kalian. Tapi Ayah bisa apa? Bunda kalian sudah pergi. Mungkin tidak tahan dengan Ayah yang seperti ini. Ayah sadar Ayah salah, tapi Ayah tidak bisa berhenti. Ayah lihat saat kalian diusir dari rumah lama. Saat itu Ayah sembunyi dan kabur. Ya, Ayah memang pengecut.
Ayah kehabisan cara untuk membalas budi pada kalian. Ayah ingin sekali ajak kalian makan di restoran enak. Belikan kalian baju-baju bagus, sepatu, jam tangan. Ajak kalian jalan-jalan. Ayah bahkan belum tepati janji untuk bawa Harsa ke kebun binatang. Ayah benar-benar minta maaf...
Maaf kalau Ayah selalu mengawasi kalian. Ayah tahu kemana saja kalian pindah. Ayah tahu apa saja yang kalian lakukan. Dan Ayah sangat bangga, kalian anak-anak kesayangan Ayah.
Ayah bangga sekali, Sandra bisa dapat beasiswa saat kuliah dan bisa dapat pekerjaan yang bagus. Ayah bangga sekali, Harsa bisa lolos PNS jadi penjaga tahanan. Walaupun Ayah malu sekali, karena Ayah adalah kriminal. Ayah juga bangga sekali, Alora bisa menjaga adik-adiknya dengan sangat baik. Terimakasih sekali Alora bisa menggantikan peran Ayah dan Bunda. Alora anak Ayah yang kuat. Ayah sayang kalian semua.
Suatu hari, Ayah merasa sangat frustrasi karena tidak pernah menang judi sekali pun. Padahal Ayah harus menang agar bisa muncul di hadapan kalian dengan uang itu. Sampai Ayah berjanji pada Tuhan untuk taubat kalau bisa menang. Dan ternyata Tuhan kabulkan dengan sangat baik. Akhirnya Ayah bisa menemui kalian, setelah sekian lama. Walaupun banyak terpotong karena hutang, Ayah harap sisanya cukup untuk kalian bagi tiga.
Ayah mulai kembali ke jalan yang benar. Ayah kerja serabutan untuk makan sehari-hari, sambil berharap bisa bertemu kalian secepatnya. Ayah juga rajin beribadah, mendoakan Bunda kalian di surga. Ayah kangen sekali sama Bunda kalian. Ayah juga kangen sekali sama kalian.
Kata-kata maaf saja mungkin tidak cukup untuk kalian. Tapi Ayah mohon percayalah sekali saja. Ayah benar-benar sudah berubah. Ayah bukan yang dulu lagi. Ayah benar-benar berubah jadi lebih baik. Makanya, tolong maafin Ayah kalian yang berdosa ini.
Ayah sayang sekali anak-anak Ayah.
Alora, Sandra, Harsa, tolong maafin Ayah.
❖❖❖
Alora, Sandra Dan Harsa sudah sepakat untuk tidak menerima uang pemberian Ayahnya. Uang ratusan juta rupiah itu mereka sumbangkan ke yayasan panti asuhan atas nama sang Ayah. Mau dimakan sendiri pun tidak akan jadi baik, karena cara mendapatkannya yang tidak baik. Biarlah Tuhan yang menilai uang itu baik atau tidak. Cukup digunakan saja untuk kebaikan agar berguna bagi orang yang membutuhkan.
"Keputusan kalian bagus."
Alora menoleh pada Alden, dan membalasnya dengan seulas senyum. Alden ikut tersenyum, kemudian mulai menyetir dengan hati-hati. Alora merasa seluruh tubuhnya ringan, seiring dengan beban yang terangkat sekaligus. Alora memutuskan untuk memaafkan sang Ayah, mengikhlaskan masa lalunya, dan bertekad memulai hidup barunya.
Alora sangat bersyukur, telah dipertemukan dengan Alden dimasa-masa sulitnya.
Menikah dengan Alden, bukanlah hal yang gila.
❖❖❖