
"Halo?"
"Halo Alden, sorry, aku gak tahu kunjungannya bakal lama. Kamu udah di mana?"
"Gak usah buru-buru, aku masih di jalan."
"Oh, oke. Aku pulang sekarang."
Alora memutus sambungan telepon dengan Alden, lalu bergegas pulang dengan motornya. Malam ini Alora berencana mengenalkan Alden secara resmi pada Sandra dan Harsa. Seharusnya mereka sudah bertemu di rumah Alora satu jam yang lalu. Tapi karena beberapa urusan, Alora baru menyelesaikan pekerjaannya jam 8 malam. Pasti Sandra dan Harsa sudah menunggu di rumah.
Dengan sedikit terburu-buru, Alora akhirnya sampai di ujung gang rumahnya. Lagi-lagi dia menggerutu kesal karena lampu penerang tak kunjung diperbaiki. Lingkungan gang nya jadi terlihat semakin gelap. Awalnya Alora baik-baik saja, tapi saat Alora melewati tiang listrik, dia tanpa sengaja bertukar pandang dengan seorang pria berjaket hitam dengan topi dan masker medis. Jantungnya lantas berdebar kencang, merasa ada yang tidak beres.
Benar, Alora sangat yakin pria itu adalah pria yang sama seperti malam setelah makan bersama keluarga Alden. Merasa tidak tenang, Alora terus-menerus memerhatikan spion kiri, melihat pria itu yang berjalan perlahan mengikutinya. Alora yakin ada yang tidak beres dengan pria itu. Dengan ketakukan Alora menancao gas menuju rumahnya yang sudah dekat. Alora sampai di depan rumah dengan cepat, tapi tangannya yang bergetar kesulitan membuka pengait gerbang yang ditutup rapat.
"Anjing!" Umpatnya.
Alora turun dari motornya, berusaha melakukan hal sederhana yang saat ini terasa sulit. Sesekali dia melihat gerak-gerik pria itu yang semakin mendekat padanya. Jantungnya semakin berdebar kencang. Mulutnya sudah komat-kamit mengucap doa Bapa Kami. Tiba-tiba saja dia teringat kalimat Alden di gereja beberapa hari lalu. Mungkinkah ini akhir hidupnya? Apakah malam ini dia akan diculik dan dibunuh?
"DOR!"
"AAAA! AAMIIN!"
"HAHAHAHAHAHA!"
Alora tidak tahu siapa yang mengejutkannya, tapi tawa seorang pria terdengar sangat puas di sampingnya. Alora langsung memukuki oknum tersebut tanpa ampun. Walaupun pria itu sudah mengaduh sampai minta ampun. Alora merasa jantungnya hampir mencuat keluar, akibat ulah pria iseng yang tidak lain tidak bukan adalah, Alden Kama Adhigana.
"**** you Alden! Anjing! Bajingan kamu!" Sumpah serapah sangat lancar diucapkan Alora untuk Alden. Lalu, Alora memerhatikan sekitarnya, tepatnya mencari sosok pria misterius tadi. Tapi sosoknya hilang begitu saja, bagai ditelan bumi.
"Kenapa sih? Serius banget! Maaf, aku bercanda."
"Not funny!" Alora dengan kesal, membuka gerbang dan memasukkan motornya ke halaman.
"Kamu marah?" Dengan perasaan menyesal, Alden mengekori Alora memasuki halaman rumah. Tidak lupa dia menutup kembali gerbangnya, lalu mengikuti Alora menuju rumah.
Tanpa ada yang menyadari, seseorang mengamati seluruh kejadian itu. Di balik dinding rumah warga sekitar, hampir menyatu dalam kegelapan.
"Kamu bawa apa aja sih? Banyak sekali." Keluh Alora saat melihat bungkusan makanan yang dibawa Alden.
"Ini itu. Kamu bilang roti bakar di depan enak. Aku beli itu juga." Ujar Alden, mengekori Alora masuk ke dalam rumahnya. Dia sudah bersiap memberi salam pada adik-adik Alora, tapi siapa sangka rumahnya tampak sepi.
"Sandra? Harsa? Kalian di mana?"
Sampai Alora harus memanggil adik-adiknya, barulah seorang pria keluar dari salah satu kamar, disusul oleh seorang wanita di belakangnya. Itu adalah Harsa dan Sandra, keluar dari kamar yang sama.
"Kak, ada-"
"Kenapa baru datang? Kita udah nunggu dari tadi!"
Alora baru saja hendak fokus pada Harsa, tapi Sandra buru-buru memotong kalimat pria itu. Sehingga konsentrasi Alora lumayan terbagi. Alora terlalu lelah untuk membahas hal itu sekarang, jadi dia hanya merespon Sandra saja.
"Sorry, kalian belum makan, 'kan?"
Sandra dan Harsa menggeleng, kemudian beralih menatap Alden yang sejak tadi hanya berdiri di belakang Alora. Merasa mendapat tatapan tajam, Alden mengangkat beberapa bungkus makanan, kemudian melambaikannya.
"Halo semua!" Alden menyapa dengan kikuk. Entahlah, hawa yang diberikan Sandra dan Harsa lumayan mencekam baginya.
Untungnya suasana itu mencair begitu saja, setelah Alden mengenalkan diri. Lalu mereka semua berkumpul di ruang tengah, duduk berlesehan, saling berhadapan. Menyantap bersama rice bowl dengan daging sapi khas Jepang, pemberian Alden. Awalnya semua baik-baik saja, tapi dipertengahan jalan, Alora mulai merasa ada yang tidak beres. Pasalnya, Sandra dan Harsa tiba-tiba saja menjadi lebih pendiam, terutama Sandra.
"Kalian kenapa?" Tanya Alora, menatap Sandra dan Harsa bergantian.
"Apanya yang kenapa?" Balas Sandra, berusaha bersikap biasa.
"Kenapa kalian pendiam sekali?"
"Hati-hati kalau pulang malam. Belakangan ini banyak kasus penculikan." Kali ini Harsa yang angkat bicara. Lantas yang lainnya beralih menatap Harsa.
"Oh, iya? Kalian juga harus hati-hati." Ujar Alden pada Sandra dan Harsa.
Merasa diajak bicara, Sandra dan Harsa menatap Alden bersamaan. Alden hanya mengedipkan mata beberapa kali, kemudian kembali menyantap makanannya. Tiba-tiba Alden ingat, reaksi Alora saat dia mengejutkannya tadi. Alora tadi tampak sangat ketakutan seperti dikejar setan. Dia baru sadar, Alora diam saja sejak Harsa bicara.
"Tapi, lingkungan di sini aman, 'kan?" Tanya Alden, menarik atensi dari semua orang yang ada di sana.
Alora sadar, Sandra sempat bertukar pandang dengan Harsa. Kemudian Sandra menjawab pertanyaan Alden, seperti segalanya baik-baik saja. "Aman lah! Lagian siapa yang mau culik orang dewasa!"
"Tetap aja harus hati-hati." Ujar Alden.
"Tapi, kalian benar-benar mau menikah?" Tiba-tiba Sandra menodong pertanyaan.
"Aku sudah bilang, 'kan? Kenapa masih tanya?" Balas Alora.
"Aneh aja! Kak Alo gak pernah bilang punya pacar, tiba-tiba datang calon suami?"
Alden dan Alora sama-sama diam. Keduanya sedang berusaha mencari alibi. Kali ini Alden lebih dulu mendapat ide untuk menjawab pertanyaan Sandra.
"Dia gak cerita ya? Yah, memang dari awal Alora minta hubungan ini disembunyikan sampai kami benar-benar serius." Alden tersenyum bangga dengan alasannya yang tidak masuk akal.
Sedangkan, Alora berusaha menyembunyikan ekspresinya yang sudah hampir meledak karena Alden. Tapi untunglah, sejak itu suasana kembali mencair. Sandra mulai banyak bicara seperti biasanya. Harsa kembali menyantap makanannya dengan lahap. Sandra lebih banyak bertanya, dan Harsa menyimak. Alden dan Alora berusaha semaksimal mungkin untuk meyakinkan Sandra dan Harsa.
Malam itu lumayan menyenangkan karena mereka lebih banyak mengobrol santai dari pada serius membahas pernikahan. Waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam, sudah saatnya Alden pulang.
"Untung kamu beli roti bakar kacang, kebetulan kesukaanku." Ujar Alora, sembari mengantar Alden keluar rumah.
"Prediksiku tepat, 'kan? Memang aku ini keren."
Alora berdecih, mengejek. Saat mereka sampai di depan gerbang, Alora menyempatkan diri memerhatikan sekitar, mencari sosok pria misterius tadi. Pria itu benar-benar hilang, entah kemana. Untuk sekarang, Alora bisa tenang, tapi dia juga was-was kalau pria itu muncul lagi suatu hari.
"Kenapa? Kamu cari apa?" Tanya Alden, menyadari ada yang mengganggu pikiran Alora.
"Oh, enggak. Kamu parkir di mana? Kok aku gak sadar?"
Alden menunjuk mobilnya yang terparkir di tanah kosong, tak jauh dari rumah Alora. Barulah Alora mengangguk, paham. Sebenarnya, pantas saja Alora tidak menyadari mobil Alden terparkir di sana. Saat itu dia terlalu fokus untuk kabur dan membuka gerbang sialan itu.
"Besok aku jemput, ya?"
"Hah? Ke mana?"
"Kerja. Aku antar jemput aja, gimana? Katanya lagi banyak penculikan."
"Cih, siapa sih yang mau culik orang dewasa?"
"Memang kesialan bisa pilih-pilih?"
Alora diam, merenungkan kalimat Alden. Benar juga, kejadian itu tidak melulu terjadi pada anak kecil. Kalau sudah sial, apa lagi yang bisa dilakukan manusia?
"Tetap aja, gak perlu! Aku bisa jaga diri."
Alden masih diam di sana, enggan meninggalkan Alora yang katanya bisa jaga diri. Padahal beberapa saat lalu, dia ketakutan setengah mati. Alden memerhatikan lingkungan sekitar rumah Alora. Mencari hal yang sejak tadi diperhatikan wanita itu. Tapi, Alden tidak menemukan apa pun.
"Yasudah. Aku pulang dulu."
"Iya. Makasih ya, Al."
Alden yang tadinya sudah hampir pergi, kembali berbalik untuk sekedar melempar senyum dan melambaikan tangan. Setelah masuk ke dalam mobil, Alden tak langsung pergi dari sana. Dia memerhatikan spion untuk melihat Alora benar-benar masuk ke dalam rumah, barulah dia melesat pergi.
❖❖❖
Di ujung gang, mobil Alden keluar dengan mulus. Tanpa dia sadari, seorang pria berjaket hitam dengan topi memerhatikan segalanya. Jenis, warna, bahkan plat nomor mobil Alden. Bibirnya bergerak di balik masker medis, menghapal rangkaian angka dan huruf.
❖❖❖