
Pagi itu Alora bangun lebih siang daripada biasanya, karena memang alarmnya tidak menyala di akhir pekan, sehingga dia baru terbangun dari mimpi saat matahari sudah meninggi. Ya, mimpi yang sangat indah, bisa dibilang begitu, sampai tubuhnya terasa sangat ringan dan Alora merasa seperti terbang setinggi langit ke tujuh. Alora menggeliat, meregangkan tubuh kemudian membuka matanya perlahan, dia langsung melihat sekeliling begitu matanya terbuka dengan penuh. Tidak, ternyata itu bukan mimpi, itu benar-benar terjadi, kejadian semalam itu nyata, dan kini Alora masih belum mengenakan pakaian apa pun. Alora langsung menutupi tubuh dengan bedcovernya yang tiba-tiba beraroma seperti Alden, lalu mengobrak-abrik lemari untuk berganti pakaian, setelah itu dia ke luar kamar dengan terburu-buru.
"Ah..." Alora meringis pelan begitu merasakan sesuatu yang aneh di bawah sana, terasa agak sakit.
Rintihan kecil Alora ternyata terdengar oleh Alden yang berdiri tak jauh dari pintu kamar Alora, sehingga pria itu langsung menghampirinya dengan raut wajah khawatir. "Kenapa? Sakit ya?"
Alora langsung menoleh pada Alden, dan tersenyum lebar, berusaha tidak kikuk setelah apa yang mereka lakukan semalam. Tentu saja Alora masih belum yakin harus bersikap bagaimana, tapi dia memutuskan untuk biasa saja, seperti kemarin dan kemarinnya lagi, seperti minggu lalu dan bulan lalu.
"Enggak kok. Tumben kamu udah bangun?" Alora berjalan menuju dapur, mau tidak mau, dengan cara yang terlihat tidak biasa dan Alden menyadari itu. Ayolah, tidak ada yang bisa mereka perbuat dengan itu, Alora hanya perlu terbiasa, jujur saja, semalam adalan pengalaman pertama Alora, jadi wajar saja. Tapi Alden tidak bisa begitu, dia sudah terlanjur gusar, wajahnya terlihat sangat khawatir bahkan hampir menyalahkan diri sendiri.
"Kamu bahkan udah beli sarapan." Alora menambahkan, sembari membuka bungkusan tas kertas di atas meja makan.
"Maaf ya." Akhirnya hanya itu yang bisa dikatakan Alden. Dia berjalan pelan menghampiri Alora, kemudian memeluk wanita itu dari belakang.
Tak mengira hal itu akan terjadi, Alora terkejut dan jantungnya berdetak kencang dan semakin kencang. Untuk sesaat dia lupa kalau mereka sudah melakukan lebih dari itu, lagipula mereka sudah menikah. Perasaan tak biasa itu semakin lama semakin memberi kenyamanan tersendiri bagi siapa pun yang sedang mabuk akan cinta, termasuk Alora. Melihat tangan Alden yang melingkar diperutnya, Alora tertawa, kemudian menggenggam tangan lebar yang hampir membuatnya tenggelam ke dalam tubuh pria itu. Alden sempat bingung mendengar tawa Alora, dia menyandarkan dagu ke bahu wanita itu, bertanya-tanya, "Kamu ketawa?"
"Rasanya kayak... Kita bener-bener menikah." Alora tersenyum lebar, masih memandangi tangan Alden diperutnya sembari mengusapnya dengan ibu jari.
Lantas Alden melepas pelukannya, memutar tubuh Alora dipinggang sehingga kini mereka saling bertatapan, Alora bersandar pada meja makan hampir duduk di atasnya. Alden menghapus raut khawatirnya dengan tanda tanya besar, Alora bisa melihat itu. "Kita kan memang menikah?"
"Maksudku... Kayak... Bener-bener, sungguhan! Mungkin kayak... Pengantin baru?"
Tawa Alden pecah begitu Alora mengucapkan kalimat terakhir. "Pengantin baru?"
Alora tertawa, cerah sekali, sangat cantik dimata Alden. Tangan Alden masih dipinggang Alora saat dia mendekat menghapus jarak antara keduanya. Alden mendekatkan wajahnya pada Alora, berbicara dekat dengan telinga wanita itu, setengah berbisik, "Kita batalin perjanjiannya?" Tanya Alden dengan suara yang sangat menggoda.
Alora tak bisa menahan senyumnya, dia menatap lurus pada Alden dengan tatapan penuh persetujuan. Alden tahu tanpa harus mendengar jawaban dari Alora. Wanita itu meletakkan kedua tangannya ke bahu Alden, agak berjinjit untuk meraih bibir pria itu dengan kecupan singkat. Prianya tertawa kecil, menginginkan lebih dari sekedar kecupan, lantas menarik pinggang wanitanya mendekat ke dalam pelukan. Alden mendaratkan ciuman pada bibir Alora, kali ini lebih dalam daripada sebuah kecupan, dan keduanya tahu ini ciuman yang tepat. Alora melingkarkan tangannya ke leher Alden, dan Alden mengeratkan pelukannya pada tubuh mungil Alora. Kepala mereka bergerak ke arah yang tepat dengan sangat natural, mengulum satu sama lain semakin dan semakin keras, seakan tak ada yang bisa menghentikan keduanya. Kecuali nada dering itu.
Keduanya melepas ciuman karena terkejut, dan Alora hanya tertawa.
Sial. Batin Alden saat merasakan ponsel bergetar dan berbunyi nyaring dari saku celananya.
"Angkat sana." Alora mendorong pelan tubuh Alden, lalu berbalik menyiapkan sarapan di meja makan.
Rasanya Alden ingin mengutuk siapa pun yang meneleponnya, namun dengan cepat niat itu dia urungkan begitu melihat nama yang tertera di layar ponsel. Giri yang meneleponnya. Sudah lama sekali Giri tidak mengganggu kehidupan Alden sejak hadiah bulan madu ke Bali saat itu. Alden jadi bertanya-tanya, kenapa Giri meneleponnya sepagi ini, di waktu yang tidak tepat ini.
"Halo? Kenapa Opa?" Tidak sampai satu menit Giri berbicara, sambungan telepon langsung terputus, bahkan sebelum Alden sempat menjawab. Alden lantas menjauhkan ponselnya dari telinga, sambil memandangi layarnya dengan bingung, dahinya mengernyit.
"Kenapa?" Tanya Alora, masih berdiri namun sudah siap dengan sendok di tangan kanannya.
"Opa mau kita ke rumahnya." Alden terdengar ragu. "Kok rasanya ada yang aneh ya?"
"Apanya?"
Alden cepat-cepat menyimpan kembali ponselnya ke saku celana, lalu tersenyum ke arah Alora sembari menggeleng. "Tadi kita sampai mana?" Tanya Alden. Tangannya meraih pinggang Alora, menarik tubuh mungil itu ke arahnya.
Namun kali ini Alora mendorong Alden, sembari tertawa. "Tadi kita mau sarapan, Alden!"
"Oke, sayang."
Dengan tawa dan senyum yang cerah, kedua pasutri itu melewati pagi dengan menyenangkan, tanpa tahu soal apa yang menanti mereka.
❖❖❖
Siangnya, Alden dan Alora mengunjungi rumah Giri sesuai permintaan pria baya itu. Perjalanan mereka terasa biasa saja, malah mendekati menyenangkan, tidak terasa salah sama sekali. Namun, semuanya berubah begitu mereka memasuki rumah Giri yang ternyata sudah diselimuti hawa-hawa tak biasa. Alora langsung menutup tawa dan melepas genggaman tangannya pada lengan Alden, begitu melihat Giri dan Kala tengah terduduk gusar di sofa ruang tamu. Alden dan Alora saling menatap sebentar, merasa ada yang salah.
"Mama di sini juga?" Alden yang paling pertama membuka suara.
Kala menoleh pada Alden kemudian memaksakan senyum. "Kalian duduk dulu." Kala juga menatap Alora, masih dengan senyum yang dipaksakan.
Alden dan Alora mengambil duduk di sofa seberang Kala, di sebelah kanan Giri. Kali ini kedua pasutri itu bisa melihat dengan jelas kegelisahan Giri.
"Kalian apa kabar?" Tanya Giri, terlihat hati-hati.
Alden merasa aneh, namun dia mengangguk pelan dan berkata, "Baik."
"Alora?" Giri beralih menatap Alora.
Alora tersenyum, berusaha terlihat menyenangkan, barangkali bisa mencairkan suasana, tapi ternyata tidak. "Baik, Opa." Ujarnya.
"Begini. Opa ada dengar sesuatu yang gak baik soal kalian. Opa gak mau langsung percaya, makanya Opa minta kalian ke sini."
Kalimat panjang Giri sudah sangat cukup untuk membuat Alden dan Alora gugup. Keduanya saling menatap untuk beberapa saat, berharap apa yang didengar Giri tidak terlalu buruk. Alden tertawa renyah, lalu kembali menatap Giri. "Soal apa, Opa?"
"Apa benar, kalian berencana cerai tahun depan?" Giri menatap lurus pada Alden.
DEG.
Bagai tersambar petir di siang bolong, Alden dan Alora seketika membeku. Tubuh meremang, detak jantung tak karuan, bahkan telapak tangan mulai berkeringat. Alora tidak mampu menatap Giri dan hanya sibuk mengalihkan pandang, padahal Giri mencari tatapannya. Alden yang tidak bisa berkata-kata, menegak saliva berusaha membasahi tenggorokannya yang tiba-tiba kering. Tidak, sikap yang ditunjukkan Alden dan Alora ini bukanlah yang Giri harapkan. Melihat dua orang yang tak bisa berkata-kata di hadapannya, Kala menghela napas panjang sembari memijat pelipisnya yang berdenyut.
"Kenapa kalian diam saja?"
Alden dan Alora semakin tak bisa membuka mulut mereka.
"Alden? Alora? Opa gak mau percaya omongan dia, tapi kenapa kalian diam aja?!" Suara Giri meninggi, dia bahkan bangun dari duduknya, untuk meneriaki Alden dan Alora yang hanya bisa menunduk.
"Jawab! Bilang aja enggak! Opa pasti percaya kalian! Jangan diam aja!"
"Kalian itu- Ah..." Giri langsung memegangi tengkuknya yang tiba-tiba terasa berat.
"Opa!" Dengan sigap, Alden bangun untuk memegangi tubuh Giri yang mulai goyah.
Pandangan Giri mulai berkunang-kunang, seluruh dunianya berputar, bahkan teriakan orang-orang disekitarnya mulai terdengar samar, telinganya berdengung, wajahnya memerah, detak jantungnya tak beraturan. Entah apa yang terjadi disekitarnya, Giri tak lagi peka. Semua itu terjadi begitu cepat, sampai Giri tidak melihat apa pun lagi. Gelap dan kesadarannya hilang. Giri pingsan saat itu juga.
❖❖❖