
Hari-hari belakangan ini terasa sangat indah bagi Alora, mungkin Alden juga. Alora jadi lebih sering mengapresiasi birunya langit, bahkan lebih sering tersenyum dengan pelanggan yang kadang menyebalkan. Entah apa sebabnya, tapi setiap Alora bangun pagi-pagi, dia selalu mengecek penampilannya di cermin. Memastikan agar tidak ada sisa air liur dipipi, atau kotoran di sudut matanya. Mungkin Alora tahu penyebab tingkah lakunya belakangan ini, mungkin juga tidak, atau mungkin dia memang tidak mau memikirkannya.
"Pagi."
"Astaga! Haduh..." Alora mundur selangkah sambil mengelus-elus dadanya, merasakan jantungnya hampir mencelos saat Alden tiba-tiba menyapanya dari dapur. Pemandangan yang lumayan langka, melihat Alden bangun sepagi ini didapur pula. Alora menghampiri Alden, bertanya heran, "Tumben udah bangun jam segini?"
"Mau sereal?" Alden baru saja selesai menuang susu pada mangkuk serealnya.
"Boleh."
Tanpa ba-bi-bu, Alden langsung menyiapkan satu mangkuk kosong lalu diisi sama persis dengan mangkuknya. Cornflakes dengan susu adalah sarapan sederhana yang disiapkan Alden, namun cukup untuk membuat Alora bertanya-tanya. "Ini kan hari Minggu. Tumben gak bangun siang?"
Tumben, tumben, dan tumben.
"Gak usah tanya, moodku lagi bagus." Balas Alden, tak lupa menyelipkan senyum diakhir kalimat seraya menatap riang ke arah Alora.
Lagi-lagi Alora mendapati pemandangan ini tak biasa, tapi dengan senang hati dia memandang senyum Alden yang secerah matahari pagi. Alora mungkin bisa gila kalau terus-terusan berdiri di dekat Alden, sehingga dia memutuskan menunggu dimeja makan sampai pria itu membawa dua mangkuk ke atas meja. Jika saja, hanya jika kejadian di antara mereka benar-benar nyata, Alora tidak akan berharap apa pun lagi dari kehidupannya, karena dia sudah bahagia dengan rutinitas sederhana ini. Namun sekali lagi, itu hanya kemungkinan dari harapan Alora akan kenyataan bahwa masih ada urusan yang belum selesai di antara mereka. Seketika segala rutinitas sederhana yang menenangkan ini jadi sia-sia karena beberapa lembar kertas yang mereka tanda tangani sendiri.
"Mau jalan-jalan?" Celetuk Alden tiba-tiba setelah menyelesaikan sarapannya dengan cepat.
"Ke mana?"
"Kamu mau ke mana?"
"Gak tau, kamu yang ngajak!"
"Sepedaan? Mumpung masih pagi."
"Kamu bisa naik sepeda?"
Pletak!
"Ngeremehin!" Alden memukul ujung kepala Alora dengan sendok bekas pakainya.
"Aduh! Alden jorok!" Protes Alora sembari mengusap-usap ujung kepalanya. Mulutnya dimajukan sedikit seakan merajuk dengan imut, padahal pipinya merona. Alora sudah susah payah menyembunyikan senyum yang mendobrak hatinya, tapi melihat Alden tertawa Alora kalah. Bibirnya ikut melengkung, namun tetap dia sembunyikan sambil menunduk.
"Ayo. Habis itu aku mau ajak ke suatu tempat." Alden bangun, membereskan mangkuk sisa sarapan lalu menuju dapur.
"Ke mana?" Alora memutar tubuhnya, mengikuti arah jalan Alden.
Alden sempat memberi jeda, lalu bersuara tanpa memutar tubuhnya untuk menatap Alora, "Ada deh."
Alora merengut melihat Alden yang tidak menatapnya, dan malah mencoba menjadi misterius saat dia sedang serius. Tapi dengan cepat Alora menepis rasa kesalnya, lalu lanjut menyelesaikan sarapan dengan perasaan yang lebih riang dari sebelumnya. Sebenarnya menjadi misterius tidak seburuk itu, Alora jadi semakin menanti dan bertanya-tanya ke mana kira-kira Alden akan membawanya. Ke suatu tempat yang romantis kah? Atau ke tempat yang menyenangkan, menyegarkan? Sudahlah, cukup berangan-angan, menghabiskan waktu bersama saja sudah sangat menyenangkan.
Keduanya memulai perjalanan mereka sekitar jam setengah 7 pagi, saat debu tipis masih benar-benar terasa ringan dan udara masih terasa segar. Sepertinya ke luar rumah pagi-pagi begini untuk bertemu dengan alam, memang ide yang bagus. Di hamparan taman yang luas, Alora dan Alden saling mengayuh sepeda sewaan sambil mengobrol santai. Tak lupa juga mereka saling berlomba menjadi yang tercepat, dan Alden pemenangnya. Mereka sama-sama tidak atletis, sehingga tidak perlu waktu lama bagi keduanya untuk memutuskan selesai dan mengembalikan sepeda yang sudah dibayar sewanya.
Di dekat tempat penyewaan sepeda, ada sebuah toko bunga yang baru saja buka. Jaraknya tidak terlu menyebrang jalan lalu berjalan sedikit ke Timur. Dari kejauhan, Alden sudah melihat bunga-bunga yang tersusun di luar toko, sehingga dia meminta waktu sebentar pada Alora untuk pergi ke toko bunga itu. Tanpa bertanya lebih lanjut, Alora lantas mengangguk lalu Alden melesat dengan cepat menuju toko bunga itu. Alora tidak mau berangan-angan, tapi apa daya pikirannya sudah melayang ke mana-mana. Kenapa Alden pergi ke toko bunga? Apa Alden mau memberinya bunga? Pikiran-pikiran semacam itu membuat senyum Alora semakin melebar.
Apakah selanjutnya mereka akan menuju ke tempat yang romantis? Maksudnya, tempat rahasia itu.
Alora tidak mau bertanya untuk apa buket bunga yang dibeli Alden itu, karena dia sedang larut dengan angan-angannya sendiri. Bahkan sepanjang perjalanan, jantungnya berdetak semakin kencang sampai Alora sendiri bisa mendengarnya. Nada bicaranya pun semakin tidak biasa, lebih malu-malu, tidak seperti Alora seminggu lalu apalagi sebulan lalu. Alora masih bertanya-tanya, namun agak berharap juga, sampai mobil Alden berbelok ke sebuah gerbang besar yang terbuka. Seketika itu, Alora langsung mengernyitkan dahi melihat tulisan yang tertulis di papan pintu masuk, jantungnya langsung jatuh turun ke perut.
Alora tidak salah baca, matanya masih normal, bahkan pemandangan di hadapannya pun benar, sama sekali tidak salah. Mereka kini sedang ada di sebuah pemakaman. Tempat romantis yang selama ini ada di angan-angan Alora seketika hancur berkeping-keping. Seketika Alora merasa malu, dan ingin sekali bersembunyi sampai berteriak dalam hati, 'Siapa pun tolong sembunyikan aku!'. Padahal sikap Alden juga biasa saja, tapi Alora dengan segala peperangan dalam pikirannya menjadi terlalu dramatis.
"Belum." Alora mengikuti Alden yang memimpin jalan. Alora mendengar Alden tertawa kecil, sehingga dia ikut tersenyum sambil memandangi bahu lebar Alden dari belakang.
"Kalau Oma masih ada, pasti dia senang sekali ketemu kamu."
Alora tidak mengerti maksud Alden mengatakan itu, tapi pria itu berhasil membuat jantung Alora kembali begetar hebat sampai wanita itu berhenti sejenak hanya untuk mencerna kalimat Alden. Dengan pipi merona kemerahan, Alora tertawa lalu kembali menyusul Alden dan mensejajarkan langkah dengan pria itu.
"Masa? Emangnya aku sebaik itu?"
"Iya. Emangnya kamu gak sadar? Makanya Opa ngotot banget aku harus nikah sama kamu." Alden sempat menoleh pada Alora untuk tersenyum, lalu kembali berkata, "Aku baru paham sekarang."
Saat ini, pandangan mereka saling bertemu, lalu dengan ajaib memberi sengatan yang lumayan besar akibatnya. Alora merasa sekujur tubuhnya meremang, dengan tatapan pria itu, senyumnya, bahkan kalimatnya yang diucapkan dengan begitu mudah, Alora tidak bisa menyangkal ada ratusan kupu-kupu yang beterbangan diperutnya. Dia merasa dibawa terbang ke langit, sedikitnya dia takut jika suatu saat akan kembali jatuh ke jurang terdalam. Tapi ayolah, untuk saat ini Alora hanya ingin menikmati perasaannya sendiri.
Kini mereka sampai disebuah gundukan tanah yang ditumbuhi rerumputan hijau nan segar dan tertata dengan rapih. Batu nisan yang tertanam di sana, terukir sebuah nama dengan cat keemasan, 'Lilian', nama yang sangat cantik. Untuk beberapa saat, Alden dan Alora bedoa dalam hati mereka masing-masing. Untuk beberapa saat, mereka tenang tanpa bicara sedikit pun. Setelah mengucap doa, Alora menatap Alden yang masih memejamkan mata dengan khusyuk. Dipandanginya rambut Alden yang jatuh ke bawah hampir menyentuh kelopalnya. Bulu matanya, hidungnya, hingga bibir merah muda itu, segalanya tampak sangat menarik. Jika saja, hanya jika Alden benar-benar milik Alora sepenuhnya, maka tidak ada lagi yang bisa dia minta dari Tuhan. Namun sayangnya tidak.
Di hamparan luas dengan banyaknya batu nisan yang tertata rapih, Alden dan Alora duduk di sela-sela menghadap makam Lilian yang tampak begitu cantik dengan buket bunga pemberian Alden. Untuk beberapa saat, keduanya merasa sangat tenang dan nyaman. Alora tidak tahu, kalau menatap sebuah makam bisa terasa senyaman ini. Bahkan saat dia mengunjungi makam Bundanya, Alora bergegas pergi, mungkin Bundanya sedih dengan sikap itu.
"Kamu pasti sayang banget sama Oma-mu ya?" Tanya Alora, membuka pembicaraan.
Alden menarik napas dalam-dalam lalu menghelanya panjang, mengingat segala kenangannya bersama Lilian. "Sejak lahir yang ngerawat aku itu Oma. Orang yang paling dekat sama aku ya, Oma."
Alora mengangguk mengerti, tidak membuat suara sekecil apa pun, karena dia hanya ingin mendengar kalimat Alden.
"Mama selalu sibuk sama pendidikannya. Opa... Yah, kamu bisa bayanginlah sibuknya Opa."
Alora tertawa kecil.
Kali ini Alden ikut tertawa kecil, lalu kembali berkata, "Aku masih sebelas tahun, waktu Mama menikah sama Papa." Alden memandang jauh ke atas langit, mengingat serpihan gambar kehidupannya.
Tak dapat dipungkiri, Alora terkejut mendengar cerita itu langsung dari Alden. Dia memang sempat bertanya-tanya, kenapa Alden memakai nama belakang Giri, bukan nama belakang Ayahnya seperti Isadora yang memakai nama Mahardika. Tapi kini, dengan kalimat jujur Alden, Alora mulai menyatukan teka-teki dikepalanya. Sementara itu, Alden terus bercerita dengan sangat nyaman.
"Semuanya sibuk sama pernikahan Mama. Aku ingat, beberapa hari sebelum pernikahan, dirumah sepiiii banget. Cuma ada aku sama Oma. Hari itu, Oma bikin kue pakai bahan seadanya, Strawberry cake, I remember." Alden tertawa, sambil menatap Alora sekilas, wanita itu tidak berpaling darinya. "Itu hari ulang tahunku, ke sebelas. Cuma ada Oma dan aku, tapi itu kue ulang tahun terenak yang pernah aku makan."
Mendengar kisah Alden, Alora sedikitnya merasa sama. Perasaan penuh bahkan dengan makanan sederhana yang dimasak sang Bunda. Meski tidak sepenuhnya terasa sama dengan yang dirasakan Alden, setidaknya mirip. Mereka sama-sama memiliki orang terkasih, yang juga sama-sama telah tiada. Alora bisa mengerti perasaan itu.
"Sorry, malah jadi curhat."
Alora terkekeh, "Gak kok. Malah bagus buatmu, cerita soal Oma. Setidaknya mengobati rasa kangen, 'kan?"
Alden tersenyum simpul, memandangi nisan Lilian, "Iya sih, bagus juga."
"Yah, walaupun aku gak kenal Oma."
"Kamu yang pertama... Maksudku, perempuan pertama yang ketemu Oma."
Tepat setelah Alden menutup mulutnya, Alora langsung menoleh pada pria itu. Begitu pula Alden, yang menoleh dan saling bertukar pandang dengan Alora. Keduanya saling menatap, cukup instens, sampai suhu di sekitar mereka terasa semakin hangat. Alden dan Alora hampir dibuat tuli dengan detak jantung masing-masing yang semakin kencang sampai tak ada lagi yang terdengar selain itu. Melihat pipi Alora yang merona, mendorong Alden semakin menurunkan pandangannya, tepat ke bibir merah muda wanita itu. Alden tak pernah menyangka bibir mungil itu bisa semenarik ini. Rona merah muda itu seakan memanggil Alden untuk mendekat, namun dengan cepat Alden memejamkan matanya lalu buang muka.
Alden sempat menghela napas pelan, sebelum dia bangkit sambil berkata tanpa menatap Alora. "Ayo pulang."
Kemudian Alden bergegas menuju parkiran, membiarkan Alora menyusulnya dengan tergesa-gesa. Alden tidak bisa menatapnya, bahkan saat Alora berteriak memintanya menunggu. Alden tidak mau menoleh, bahkan menatap wanita itu. Karena jika begitu, Alden pasti akan kalah oleh bibir yang merona merah muda itu. Tidak, untuk saat ini.
❖❖❖