Blooming At It's Time

Blooming At It's Time
²⁵ Orang ke-3



Hari itu, akhirnya Alden kembali mengunjungi apartemen Shella setelah sekian lama menjauhi lingkungan itu. Tapi kini, kedua kakinya kembali berlari menghampiri Shella. Mengesampingkan segala hal yang tidak perlu, dan kembali menomor satukan Shella. Alden tampak tidak ragu, mengetuk pintu dengan yakin.


Tak lama setelahnya, pintu terbuka, menunjukkan Shella dengan mata bengkak. Wanita itu terlihat sangat lesu. Pergelangan tangannya terbalut perban, dan Alden tahu betul penyebabnya. Seketika itu, Alden merasa tubuhnya seakan remuk. Sakit yang Shella rasakan, seakan menjalar kesekujur tubuh Alden. Dia ikut merasa kesedihan Shella hanya dengan melihat wanita itu. Seketika itu Alden sadar, hatinya masih jatuh sejatuh-jatuhnya pada Shella.


Alden menghela napas panjang, kemudian menoleh ke kanan dan kiri. Lalu Alden segera masuk dan menutup pintu di belakangnya. Shella tidak menatap langsung pada mata Alden. Wanita itu menatap lurus ke depan dengan pandangan kosong. Entah ke mana pikirannya berlayar. Trauma dengan penguntit, menyesal telah meninggalkan Alden, atau masalah lainnya. Entahlah, dan Alden tidak mau tahu. Dia hanya ingin memeluk Shella erat-erat. Menepuk-nepuk punggungnya, membelai lembut rambut panjangnya, menenangkan Shella.


"It's okay. Everything's gonna be okay." Ujar Alden dengan suara selembut sutra. Suara yang sangat amat dirindukan Shella.


Tepat setelahnya, Shella langsung menumpahkan tangis yang ditahannya sejak perawat on call mengobati luka di pergelangan tangannya. Seolah-olah dia sangat tertekan sampai hampir mati. Memeluk pria itu erat-erat, seolah-olah sangat merindukannya. Seolah-olah tidak mau kehilangannya lagi.


Setelah Shella tenang, Alden membuat secangkir teh bunga telang hangat kesukaan wanita itu. Alden duduk disofa ruang tengah, merangkul Shella yang menyandarkan kepalanya pada bahu Alden. Sembari menyeruput sedikit demi sedikit teh buatan Alden, Shella tersenyum merasakan kehangatan Alden. Kemana saja Shella selama ini, sampai tak sadar kalau dia merindukan kehangatan Alden.


"Maaf ya... Kamu jadi buru-buru ke sini. Padahal lagi di Bali." Ujar Shella.


"Gak usah minta maaf. Janji aja jangan ulangi lagi." Alden mengecup puncak kepala Shella, membuat wanita itu tersenyum. Begitupun Alden, bibirnya melengkung dalam suasana hati yang sangat nyaman.


Kemudian, ponsel Alden berdering. Lalu Alden melepas rangkulannya untuk merogoh ponsel dari saku celana, tanpa menyadari ada benda yang ikut jatuh. Shella menyadari hal itu, lalu memungut gelang merah muda yang jatuh dari saku celana Alden. Setelah membalas pesan dari Kenzo, Alden kembali pada Shella. Wanita itu sudah menunjukkan gelang sederhana itu di hadapan Alden. Saat itu juga, Alden ingat kalau dia belum memberikan gelang itu pada Alora. Bahkan dia lupa sudah membawa gelang itu jauh-jauh dari Bali.


"Gelang siapa?"


"Oh... Itu..." Tiba-tiba saja ada yang tertahan di ujung lidah Alden.


"Istri kamu ya?"


Shella tidak langsung mendapat jawaban, Alden malah menatap wanita itu dalam-dalam. Alden sudah menatap Shella sedalam itu, tapi entah bagaimana, Alora malah muncul dikepalanya. Alden jadi ingat bagaimana dirinya meninggalkan Alora begitu saja. Tentu saja dia jadi merasa bersalah. Alden sendiri sudah kehilangan waktu untuk memberikan gelang itu pada Alora. Dia juga tidak mau membuat Shella semakin sedih, apalagi dengan keadaannya sekarang. Berhubung Shella sudah menemukan gelang itu, maka Alden menggeleng sembari tersenyum kecil.


Jemarinya menyisir rambut Shella, dan diselipkan ke belakang telinga. "Buat kamu."


Mendengar jawaban Alden, Shella langsung tersenyum riang. Wanita itu lantas melingkarkan gelang itu pada pergelangannya yang terbalut perban. "Cantik sekali!"


Shella tersenyum kecil, lalu menyandarkan kepalanya ke bahu Alden. Wanita itu mengangkat tangannya, memandangi gelang sederhana yang tampak menghiasi pergelangannya. Sementara Alden, membelai lembut rambut Shella penuh hati-hati.


"Ngomong-ngomong... Gak papa kamu tinggal dia di Bali?" Nada suara Shella berubah. Tangannya turun, begitu pun tatapannya. Shella memainkan gelang sederhana itu, sembari menunggu jawaban Alden.


Mendengar pertanyaan itu, Alden sempat berpaling gelisah. Entah apa yang merasukinya sampai saat ini. Dalam sekali lihat saja, Alden sudah jelas berubah. Dulu, dia selalu menjawab setiap pertanyaan Shella tanpa jeda. Tapi kini, lagi-lagi Alden sendiri tidak tahu kenapa hatinya begitu gelisah memikirkan jawaban untuk pertanyaan Shella.


"Kok kamu bengong?"


"Hm? Enggak kok."


"Terus?"


"Dia tahu kok, aku ke sini buat kamu." Berat. Berat sekali bagi Alden untuk mengeluarkan kalimat itu. Tapi bagaimanapun juga, Alden sudah mengucapkan kalimatnya. Alden memutuskan untuk fokus pada Shella untuk saat ini. Dia tidak mau Shella semakin terguncang.


"Dia gak marah?"


Alden menggapai kedua bahu Shella, kemudian memutar tubuh mungil itu untuk menatapnya. Alden menatap Shella lekat, mencoba terlihat meyakinkan. "Aku sudah biang 'kan? Pernikahanku cuma satu tahun. Gak bakal lebih dari itu. Aku setuju, dia setuju. Jangan dipikirin ya?"


Shella tidak menunjukkan reaksi apa pun. Dia membalas tatapan Alden tanpa arti yang jelas. Dia tahu betul Alden sudah menikah, hampir semua orang tahu hal itu. Dan jujur saja, status Alden sama sekali bukan masalah bagi Shella. Karena tanpa Alden ketahui, Shella juga pernah berhubungan dengan pria beristri. Ya, terakhir kali, Shella meninggalkan Alden untuk suami orang. Dan kali ini, Shella hanya mencoba mencari kejujuran Alden dari sorot matanya.


Setelah beberapa saat, Shella kemudian tersenyum lalu memeluk Alden erat-erat. Seolah-olah hatinya hanya untuk Alden seorang. Dibalik pelukannya, Shella tersenyum miring, merasa kembali memenangkan hati Alden. Tentu saja, dengan sangat mudah. Alden terlalu sederhana untuk mengerti maksud dari setiap prilaku Shella. Alden terlalu berprasangka baik dengan mengira Shella yang sekarang, masih sama dengan Shella yang dulu. Padahal, tanpa Alden ketahui, Shella yang dulu sudah lama hilang.


Shellandine, adalah seorang aktris yang sedang naik daun. Beberapa film layar lebar diperankan oleh Shella sebagai pemeran utama. Banyak perusahaan yang mengontraknya sebagai bintang iklan. Selebriti papan atas itu, sangat menikmati masa-masanya bersinar terang. Ambisi membawa dirinya melangkah semakin jauh. Perasaannya mulai tergantikan dengan materi. Shella yang sekarang akan melakukan apa pun demi materi, termasuk menjadi simpanan suami orang.


❖❖❖