
Alden memang sudah berjanji untuk tidak ikut campur dengan urusan pribadi Alora. Semua janji itu juga sudah dia tanda tangani sendiri dengan sadar dan tanpa paksaan. Tapi setelah mendengar Alora berbicara dengan pria lain semalam, Alden jadi gelisah entah kenapa. Padahal Alden sadar, dia tidak boleh begitu. Tapi kini sudah hampir beberapa jam Alden mencari-cari pria bernama 'Genta' di mana pun. Facebook, Twitter, Instagram, semuanya. Masalahnya, ada banyak sekali manusia bernama Genta di dunia ini.
Pencarian Alden bukannya tanpa hasil. Dari kecurigaannya, Alden berhasil menemukan lokasi tempat kerja Alora. Padahal Alden bisa saja bertanya pada Alora, tapi tidak dia lakukan. Memang dia sendiri yang mau cari jalan susah.
Apricus Bakery.
Menurut kecurigaan Alden, Genta adalah pemilik dari Apricus Bakery, tempat Alora kini bekerja. Padahal juga, Alden bisa bertanya langsung pada Alora. Tapi gengsinya lebih besar, sehingga Alden memutuskan mencari sendiri informasi yang dia perlukan. Dengan begini saja, Alden sudah merasa seperti agen FBI yang sedang memata-mati perselingkuhan Istrinya. Padahal dia sama saja, juga berhubungan dengan wanita lain.
Ngomong-ngomong soal wanita lain, Alden akhirnya menolak permintaan Shella dengan tegas. Alhasil, Shella kini mendiamkan Alden untuk menunjukkan kemarahannya. Alden tidak peduli, harusnya dia yang marah di sini, tapi malah dia yang dimusuhi. Entahlah, Alden sedang tidak ingin memikirkan Shella. Untuk saat ini, menemukan sosok Genta adalah prioritas utama.
Pip
Alden menekan tombol telepon yang langsung terhubung pada Kenzo.
"Ada apa mas Alden?"
"Hari ini saya gak sibuk, 'kan?"
"Setelah makan siang ada meeting dengan-"
"Undur jam 3 sore ya."
Pip
Alden langsung menutup telepon tanpa menunggu jawaban dari Kenzo. Sambil menghitung waktu lewat jam tangannya, Alden bergegas keluar kantor dengan satu tujuan yaitu, mengunjungi tempat kerja Alora. Bahkan sekarang masih belum jam makan siang, tapi Alden sudah keluyuran. Siapa yang bisa menghentikannya? Kenzo? Jangan harap. Pria itu malah sibuk mengatur ulang janji meeting yang sudah dua buat dengan susah payah.
Alden memarkir mobilnya, saat suara robot dari GPS menandakan dirinya telah sampai. Di jaman yang serba mudah ini, tentu tidak sulit untuk menemukan sebuah alamat, apalagi toko yang memang sudah terdaftar dengan GPS. Alden sempat terdiam menatap papan nama pada kedai roti kecil-kecilan itu. Bisa-bisanya dia ragu, setelah meluangkan jam kerjanya yang sibuk. Ayolah, sejak kapan Alden jadi pengecut seperti ini? Alden sempat mengumpati tindakan bodohnya, sebelum akhirnya meyakinkan diri untuk masuk ke dalam kedai roti itu.
Begitu lonceng berbunyi, Alden langsung disapa oleh suara riang seorang wanita.
"Selamat datang di Ap... ri... cus?" Perlahan suara wanita itu meragu. Alden bisa langsung melihat seorang wanita yang berdiri di meja kasir, sedangkan wanita itu masih memicingkan mata dengan dahi mengernyit. Sesaat kemudian, setelah Alden tersenyum, barulah wanita itu yakin bahwa pria yang dilihatnya benar-benar Alden.
Alora dengan celemek di pinggan itu langsung menghampiri Alden yang juga berjalan mendekatinya. Dengan suara setengah berbisik, Alora bertanya, "kamu ngapain ke sini?"
"Kenapa? Gak boleh?"
"Bukan gitu-"
"Selamat datang di Apricus."
Alora langsung terkesiap kaget, saat suara Genta menggema. Alora menoleh, dan melihat Genta sudah ke luar dari dapur dan kini berdiri di meja kasir. Walaupun sekilas, Genta bisa menangkap sikap kikuk Alora yang segera mengambil nampan untuk diserahkan pada Alden.
"Silahkan, Pak." Ujar Alora dengan senyum canggung.
"Pak?" Alden mengernyitkan dahinya.
Dengan sedikit kode dari sorot mata Alora, Alden menerima nampan itu dan berusaha bersikap seperti pelanggan pada umumnya. Alora segera kembali ke meja kasir, saat Genta memanggilnya dengan sedikit gerakan jari.
Genta berbisik pada Alora, "Kenapa?"
"Hah? Apanya yang kenapa?"
"Kamu kenal orang itu?"
Genta dan Alora sama-sama menatap Alden, yang ternyata juga sedang melirik ke arah mereka.
"Oh..." Alora tidak langsung menjawab. Dia memaksa otaknya mencari alasan. Bukannya tidak mau mengakui Alden, tapi semua ini terlalu tiba-tiba. Lagi pula mereka sepakat menutupi pernikahan ini, kalau Alora seenaknya bilang Alden itu suaminya, entah apakah Alden akan marah atau tidak.
"Temanmu?"
"Iya! Temanku. Hehe."
"Oh ya? Wah, kamu pasti promosiin toko kita ya?"
Alora cengar-cengir saja, berharap Genta tidak curiga. Sementara itu, Alden yang memerhatikan mereka dari jauh malah merasa kesal. Dia berdecih lalu mengangkat ujung bibirnya sedikit, menatap keduanya dengan sinis.
Alden kembali menatap roti-roti di hadapannya. Bukan sulap bukan sihir, di hadapannya ada roti tapi pikirannya melayang membayangkan proses pembuatan roti itu. Alden mulai bertanya-tanya, apakah mereka membuat roti itu bersama? Sambil tertawa dan bercanda? Saling bermesraan sembari bermain tepung? Atau saling menyentuh tangan satu sama lain saat menguleni adonan? Alden mulai tidak tahan dengan emosinya, lalu mencengkram erat capit ditangannya. Alden kesal dengan halusinasi yang dia buat sendiri. Aneh memang.
"Aku ke dapur lagi ya."
Alora mengangguk sambil tersenyum saat Genta meninggalkannya sendiri dimeja kasir. Kemudian tak lama setelahnya, Alden meletakkan nampan berisi beberapa roti dengan kasar dimeja kasir. Wajahnya sudah tidak bersahabat, dan Alora sadar akan hal itu.
"Senang banget keliatannya." Ujar Alden ketus.
"Sorry?"
"Senang banget kamu kerja di sini?" Alden masih terdengar ketus.
"Ya senang lah. Kenapa harus sedih?" Balas Alora santai, sembari berkutat dengan mesin kasir.
"Senang kerjanya atau senang orangnya?"
"Apaan sih, Al."
"Itu Genta? Teman lama mu?"
"Hm."
"Enaknya, ketemu teman lama."
Alora sadar Alden sedang menyindir, dan Alora mulai merasa kesal karena itu. Sehingga dia menghela napas panjang, lalu menatap Alden tajam.
"Kamu kenapa sih? Marah?"
"Oh, enggak! Kenapa harus marah? Enggak kok!" Alden tertawa miring.
"Kenapa nada bicara mu gak enak sekali?"
"Terus yang enak gimana? Suaranya orang itu?"
Alora kembali menghela napas panjang. "Kamu cemburu?"
Seketika Alden merasa suasana sekitarnya memanas, sampai keringat sedikit membasahi pelipisnya. Tapi Alden hanya tertawa, berusaha menutupi kegelisahannya.
"Buat apa?" Alden mengalihkan pandangannya dari Alora.
Alora tertawa kecil melihat Alden yang berusaha keras menyembunyikan perasaan. Bukannya Alora mau besar kepala, tapi separuh dirinya sangat yakin bahwa Alden sedang cemburu. Kesalnya kini hilang bersama senyum yang terukir dibibir Alora. Menyenangkan melihat Alden seperti ini.
"Iya sih. Mana mungkin Alden cemburu."
Alden lumayan dibuat lega dengan kalimat Alora. Setidaknya dia bisa berpikir, bahwa dia tidak tertangkap basah. Tanpa menatap Alora, Alden membayar belanjaannya dengan kartu. Sementara itu, Alora tidak bisa menyembunyikan senyumnya.
"Terima kasih, silahkan datang kembali." Ujar Alora ramah, sembari menyodorkan tas kertas yang penuh dengan roti pada Alden.
"Nanti... Kamu pulang jam berapa?" Tanya Alden dengan suara pelan, namun cukup untuk didengar Alora.
"Jam 6... Seperti biasa."
"Hm... Mau nonton? Di rumah aja. Seperti biasa."
Ajakan Alden sangat sederhana, tapi mampu mengacak-acak isi hati Alora. Menonton film di rumah, berdua dengan Alden, sepertinya akan menjadi kegiatan favorit Alora. Dengan senyum malu-malu, Alora mengangguk. Alden ikut tersenyum lalu perlahan memutar tubuhnya. Belum ada satu detik, Alden kembali memutar tubuhnya untuk menatap Alora.
"Nanti aku beli roti bakar. Yang kacang. Sekalian pulang."
Alora tertawa, "Okay!"
Alden ikut tertawa, lalu mengangkat sebelah tangannya berpamitan pada Alora dengan perasaan yang kini berganti dengan penantian. Menanti malam tiba untuk bisa bercengkrama berdua saja di rumah yang hangat.
❖❖❖