
Kala menutup pintu kamar Giri setelah memberinya beberapa obat penurun tekanan darah. Syukurlah ada Kala, sehingga dia bisa dengan sigap memeriksa keadaan Giri dan memberi penanganan yang tepat. Kini Giri sedang istirahat di kamarnya. Kala langsung didatangi Alden dengan raut wajahnya yang terlihat jelas sedang khawatir. Kala mengernyit, tak begitu suka dengan ekspresi yang Alden tunjukkan. Kalau memang dia khawatir, kenapa masih membohongi Giri dan Kala seperti ini? Kadang Kala tidak mengerti jalan pikiran anak muda, dan kadang dia lupa, dia pernah menjadi anak muda.
"Opa gimana, Ma?"
"Kamu masih nanya? Setelah apa yang kamu perbuat?" Suara Kala meninggi, menatap lurus ke arah Alden, masih dengan garis wajahnya yang mengeras.
Alora berdiri beberapa langkah di belakang Alden, menyaksikan betapa mengerikannya Kala yang dulu dia kenal sebagai dokter paling ramah, kini berubah menjadi seorang Ibu yang kecewa. Alora tidak bisa berkata-kata, dan hanya merasa bersalah.
"Kami salah, Ma. Awalnya memang gitu, tapi-."
"Kalian sadar kalian sedang mempermainkan pernikahan?"
DEG.
Bukan cuma Alden, bahkan Alora merasa dadanya ditusuk dengan belati kecil namun sangat tajam. Alden menghela napas panjang sembari mengusap wajahnya, tak tahu lagi harus bagaimana menjelaskan pada Kala yang sudah terlanjur kecewa.
"Alora," Kala beralih menatap Alora kemudian melanjutkan kalimatnya, "kamu sadar apa yang kamu perbuat?"
Alora menghela napas pelan sebelum mendongak untuk menatap Kala. Dengan sangat menyesal dia menjawab, "Ya. Maafin saya, Ma."
"Oke, mungkin ini salah Mama sama Opa udah maksa kalian buat nikah, dengan segala cara. Mama sadar cara kami salah. Tapi cara kalian juga gak bisa dibenarkan!" Kala menyisir rambutnya ke belakang dengan tangan. "Kenapa kalian sampai sejauh itu?"
Tidak ada yang menjawab.
"Apa kami terlalu menekan kalian? Alden? Kamu segitu pengennya naik jabatan?"
"Alora? Apa penjualan lebih penting dari masa depanmu? Kenapa kalian memaksakan diri seperti itu?"
Kini Kala bersandar pada dinding di sebelah pintu kamar Giri, kedua tangannya menutupi wajah, menyamarkan mata yang hampir menangis. Tak dapat dipungkiri, Kala sendiri juga merasa bersalah sudah memaksakan pernikahan ini. Kala menghela napas panjang, membuat dirinya tenang, lalu menyatukan telapakak tangan dalam ikatan jari dan menurunkannya ke bawah.
"Kalian gak perlu sejauh itu." Kala menatap nanar tangannya yang menyatu.
"Ma..." Alden berusaha mendekati sang Ibu, namun berhenti saat Kala kembali bersuara.
"Kalian gak perlu memaksakan. Gak perlu tunggu tahun depan. Cerai saja kalau kalian gak bahagia."
"Enggak, Ma!" Alden langsung menyahut.
"Alden! Jangan dibuat rumit! Kalian gak perlu menyenangkan hati siapa pun lagi!"
Sejak tadi hingga detik ini, Alora hanya bisa diam, sudah merasa ingin menangis. Beberapa bulan lalu, Kala memintanya menikahi Alden, dan sekarang, Kala meminta mereka bercerai. Permintaan Kala sungguh tidak pada waktu yang tepat. Karena keduanya kini sudah saling memiliki secara utuh.
"Enggak, Ma! Percaya sama Alden! Semuanya udah beda. Gak ada kata-kata cerai lagi, Ma."
Kala menggeleng pelan, dengan berat hati berkata, "Maaf, Mama gak yakin bisa percaya lagi setelah tahu kalian pernah bohong."
Kalimat itu benar-benar membuat Alden dan Alora tak bisa berkutik lagi. Untuk saat ini, tidak ada yang bisa mereka lakukan untuk membuat Kala percaya. Dengan kekecewaan Kala, entah apa pun yang mereka lakukan, tidak akan membuat Kala berubah pikiran. Pembicaraan dengan Kala buntu, sehingga Kala memutuskan untuk pergi dari rumah Giri, membiarkan Alden dan Alora merenungkan sendiri perbuatan mereka. Mungkin juga merenungkan langkah selanjutnya. Tapi ternyata tidak ada yang berunding. Alden dan Alora hanya terduduk lemas di sofa ruang tengah, saling berpegangan tangan. Alora menyandarkan kepalanya pada bahu lebar Alden, tatapannua kosong ke depan, tidak memikirkan apa pun, hanya tidak ingin berpisah dengan Prianya. Sementara Alden, menatap tangan mereka yang saling menyatu, mengusap lembut punggung tangan Alora dengan jemari panjangnya, berusaha memberi pesan bahwa dia tidak akan meninggalkan Wanitanya.
"Alden, kita harus gimana?" Suara Alora bergetar.
Tanpa harus melihat, Alden tahu kalau kini kedua mata indah Alora sedang berkaca-kaca, bahkan hampir menangis. Alden mencium puncak kepala Alora. "Everything's gonna be okay, I promise. Kita fokus jaga Opa dulu ya."
Alora mengangguk.
❖❖❖
Siang dan sore sudah terlewati, kini sudah hampir tiba waktunya makan malam, dan Giri masih belum bangun juga. Alora duduk di pinggir kasur Giri, menarik selimut tebal hingga ke dada pria baya itu. Dia menatap lekat-lekat wajah keriput Giri, memerhatikan tiap garis yang menjadi saksi kehidupan pria baya itu. Entah seberapa keras hidup Giri hingga sampai ke titik ini, dan Alora merasa sudah menghancurkan hidup pria baya itu dengan lancang. Tak tahan menahan tangis, Alora menggigit bibir bagian dalamnya, namun air mata tetap mengalir, isak tangis tetap terdengar. Tak lama setelahnya, Alora mendengar Giri mengerang pelan. Alora segera mengusap air mata di pipi nya, lalu berlutut di samping kursi, untuk melihat wajah Giri dari dekat. Giri mengeluarkan tangannya dari dalam selimut, dengan sangat perlahan, lantas Alora menggapainya.
"Terima kasih Tuhan! Terima kasih!" Alora mengucap syukur, sembari memciumi tangan Giri. "Opa sudah merasa lebih baik?"
Giri menghela napas, lalu berkata, "Ya ampun, Opa cuma lupa minum obat hipertensi."
"Kenapa kamu nangis?"
"Ma... Maafin... A... Alora... Opa..." Ujar Alora terbata-bata di sela-sela isakan tangisnya. Pipinya basah seperti terguyur air hujan, pandangannya kabur dengan air mata, tapi tetap menghadap ke arah Giri.
"Sudah, sudah."
"Awal...nyaa...i...itu...i...denya...Alora...Alden gak...sa...salaaahhhaaaaa!"
"Apa?"
"Opa...jangan...huu...salah...ahin...Alden..."
"Alora!"
Syukurlah Alden tiba-tiba masuk, walaupun tanpa mengetuk, setidaknya bisa membantu Giri di sini.
"Opa? Opa udah bangun?"
Giri langsung melambaikan tangannya ke udara, tak kuat menghadapi Alora yang menangis seperti bocah SD ketinggalan buku pelajarannya di rumah. "Tolong kamu tenangin Alora."
Sebenarnya tanpa disuruh pun, Alden langsung menghampiri Alora, ikut berlutut di sampingnya, dan mengusap-usap punggung wanita itu dengan lembut. Setelah merasakan sentuhan Alden, Alora langsung menoleh dan berhamburan ke pelukan pria itu. Masih menangis, sementara Alden dengan sabar menenangkan Alora.
"Sshhh... It's fine, Al. Everything's fine."
"A...Alden...bil...lang ke O...pa...aku...yang sa...salaaahhh."
"Enggak, Al. Kamu gak salah."
"T-tapi-"
"Enggak." Alden semakin mengeratkan pelukan mereka, tak lupa masih menepuk-nepuk lembut punggung Alora sambil sesekali mengusapnya, sehingga setelah beberapa saat Alora mulai terlihat lebih tenang dan memeluk Alden lebih erat.
"Alden..."
"Aku di sini..."
"Please don't leave me..."
"I won't. Promise."
Siapa pun yang melihat adegan ini, pasti akan bisa melihat betapa Alden dan Alora saling menyanyangi, tak terkecuali Giri. Giri memang tidak berharap menyaksikan adegan picisan ini, namun setelah memerhatikan keduanya, dia semakin yakin tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan dari Alden dan Alora. Karena kini Giri yakin, keduanya sudah saling mencintai tanpa kurang apa pun.
Setelah segalanya mereda, Alden dan Alora siap menceritakan segala kisah mereka dari awal hingga detik ini pada Giri. Tanpa ada lagi yang ditutup-tutupi. Dengan penuh pengertian dan kesabaran, Giri mendengar segala cerita hingga penyesalan Alden dan Alora. Giri tidak menyesal melakukan itu, karena kini tidak ada lagi yang bisa membuatnya goyah. Giri tahu siapa yang harus dia percaya.
"Sudahlah. Yang penting kalian sudah sadar," Giri menyatukan tangan Alden dan Alora lalu menepuknya pelan. "Opa minta maaf karena menekan kalian untuk menikah. Terima kasih ya, kalian sudah bersatu."
Alora mengusap air matanya yang menetes sekali lagi.
"Opa mengerti perasaan Mama kalian. Opa kenal Kala lebih dari siapa pun. Opa yakin, Kala pasti akan mengerti."
"Tapi... Opa dengar dari mana kabar itu?"
Kali ini Giri menatap lurus pada Alden, memberinya sedikit petunjuk dari tatapannya. Tanpa harus mendengar sebuah nama dari bibir Giri, Alden langsung mengerti. Dahinya mengerut, bibirnya agak mengerucut kesal, Giri tahu Alden mulai emosi setelah sebuah nama muncul dikepalanya.
"Gak usah dipikirkan. Biar Opa yang urus."
❖❖❖