
Ruang kamar Alden memang terlihat polos karena tidak banyak barang yang ada di sana, tapi terasa penuh karena suara dengkurannya. Suara itu berhenti saat kepala Alden hampir jatuh dari pinggir tempat tidur, hingga membuatnya terbangun karena terkejut. Alden bangun dengan tubuh yang terasa amat segar. Dia menemukan handuk kecil di dadanya, kemudian memerhatikan sekitar. Ada baskom kecil berisi air di atas nakas, padahal seingat Alden, yang ada di atas nakas itu adalah semangkuk bubu yang tidak habis. Alden menggaruk pipinya, merasa heran, sejak kapan baskom itu ada di sana.
Tak ingin berlarut-larut dengan pikirannya, Alden bangkit dari tempat tidur, melakukan peregangan, kemudian berjalan menuju dapur untuk meminum segelas air. Di sana, dia melihat sisa bubur di atas meja makan, beserta dengan sisa air dalam gelas. Alden mendekat ke meja makan, begitu melihat sticky note hijau ditempel di atas meja. Dia mengambil kertas kecil itu, dan membacanya dari jarak yang lebih dekat. Tentu saja Alden ingat siapa yang sudah merawatnya semalam. Jadi tidak diragukan lagi, catatan itu ditulis oleh Alora.
"Aku sudah tulis fungsi dan aturan pakai obat dibungkusnya. Minum kalau masih sakit. Semuanya diminum setelah makan. Minum vitaminnya!"
Alden tersenyum kecil, lalu meletakkan kembali catatan kecil itu di atas meja. Dia melihat kondisi meja makannya yang benar-benar terlihat jelas ada orang sakit di rumah ini. Bubur yang tidak habis, air, beberapa bungkus obat dan vitamin. Entah kapan terakhir kali Alden merasa memiliki seseorang di sampingnya. Tentu saja Alden merasa sangat berterimakasih pada Alora, dan dia tahu kalau harus mengatakan itu padanya. Tapi... sudahlah... Alden harus bekerja hari ini.
Ya, Alden harus bekerja, tapi entah kenapa dia tidak bisa fokus. Pekerjaannya sudah menumpuk, ditambah dia harus menyenangkan hati Shella yang ternyata merujuk karena Alden tidak membalas pesannya seharian kemarin. Belum lagi, Alden tidak berhasil mendapatkan produk make up limited edition dari brand kesukaan Shella. Semua itu terjadi karena Alden sedang sakit kemarin, dan Shella tidak peduli dengan semua itu. Saat ini, Alden sedang rapat, ponselnya dalam mode pesawat dan pikirannya benar-benar tidak fokus.
Alden masih mendengarkan penyampaian laporan dari para staff, saat Kenzo mulai berbisik padanya. Alden mengernyitkan dahi, terkejut mendengar kabar dari Kenzo. Tanpa aba-aba, Alden bergegas bangun dan meninggalkan ruang rapat. Dia tahu, Kenzo akan dengan sigap membereskan segala urusan kantor. Bagi Alden, yang terpenting sekarang adalah, pergi ke rumah sakit untuk menemui Opanya yang baru saja masuk IGD.
Begitu sampai di rumah sakit, Alden langsung menuju IGD untuk mencari Opanya. Beruntung tidak perlu waktu lama, karena Mamanya sudah memanggil begitu Alden memasuki ruang IGD. Kala yang sedang membaca rekam medis Giri, mengangkat sebelah tangannya, memberi tanda pada Alden untuk menghampirinya. Kala bisa melihat anaknya sangat khawatir, begitu Alden menghampirinya ke meja perawat.
"Opa di mana?"
Kala menunjuk ranjang pasien tak jauh dari mereka. Lantas Alden menghela napas, lega melihat Giri sedang beristirahat di sana.
"Sakit apa?"
"Vertigo... Opa jatuh waktu tiba-tiba berdiri dari sofa."
"Ck... Sudah berapa kali kubilang hati-hati... Sekarang sudah gak apa-apa?"
"Iya... Opa lagi istirahat. Kamu ambil obat sana ke farmasi." Kala menyerahkan selembar kertas berisi coretan yang sulit dibaca kepada Alden.
Setelah menerima resep obat itu, lantas Alden menuju apotek. Dari kejauhan, dia bisa melihat seorang wanita tengah mengobrol dengan petugas kesehatan di ambang pintu bertuliskan "Farmasi". Alden tertawa kecil, tak menyangka dia akan bertemu wanita itu hari ini. Wanita yang dia hutangi kata terima kasih, siapa lagi kalau bukan Alora.
"Alora." Sapa Alden, begitu dia berada di dekat Alora.
"Loh? Kok ke sini? Masih sakit?" Alora menyudahi obrolannya dengan petugas farmasi, saat Alden menyerahkan resep obat untuk Giri.
"Enggak. Udah sembuh pagi tadi."
"Oh..." Alora mengangguk, tapi raut wajahnya terlihat tidak puas dengan jawaban Alden. Tentu saja, Alden belum menjawab alasan dia ada di rumah sakit ini.
"Oh... Opa sakit... Sekarang ada di IGD."
"Ya ampun, sakit apa?"
"Vertigo. Opa jatuh waktu tiba-tiba berdiri dari sofa." Alden mengulang informasi yang dia dapat dari Kala, dengan senyuman agar tidak terlihat terlalu menyedihkan.
Alora mengangguk, lalu ikut tersenyum, "Tapi sekarang baik-baik saja?"
"Yah... Sudah baik, sekarang masih istirahat."
"Syukurlah."
Alden mengangguk, masih ditemani Alora di sebelahnya. Keduanya diam tanpa suara, hanya mendengarkan hiruk pikuk rumah sakit yang sibuk. Alden diam, menunggu obat untuk Giri, Alora diam, entah menunggu apa. Mungkin menunggu Alden.
"Al-"
"Atas nama Giri Adhigana."
Alden baru saja mulai memanggil Alora, tapi petugas farmasi sudah memanggil, sehingga Alden buru-buru ke loket untuk menerima obat beserta informasinya. Beruntung Alora sadar Alden hendak memanggilnya. Jadi wanita itu tetap menunggu pada posisinya, sampai Alden kembali menghampirinya.
"Kenapa tadi?" Tanya Alora, langsung tanpa basa-basi.
"Oh... Makasih, udah bantu semalam." Alden tersenyum. Kali ini terlihat ramah, seperti senyuman seorang sahabat.
Alden langsung melambaikan tangannya, memotong kalimat Alora. "No it's okay... Really... Thanks!"
Alora mengangguk sembari tertawa kecil, "Okay then... Sekarang, semoga pak Giri cepat sembuh ya."
"Alora."
Alora mendahului Alden, karena memang berniat untuk pergi. Tapi langkahnya terhenti, begitu Alden memanggilnya. Alora menoleh, tapi Alden tak kunjung bicara. Bahkan kini Alora sampai memutar badannya, barulah Alden berjalan mendekat, hingga sampai di hadapan Alora.
"Aku gak enak kalau cuma bilang makasih... Kamu sudah makan siang? Kalau belum, aku traktir makan gimana?"
Alora sempat berpikir satu detik, kemudian menggeleng dengan mantap, "Gak usah! Serius! Gak apa-apa kok!"
"Jangan gitu, Al. Aku yang mau kok. Kalau gak bisa sekarang, ikut kamu aja bisanya kapan."
"Serius, Al. Gak usah."
"Atau minum?"
Alora tertawa. Alden bingung melihat Alora tertawa. Wajahnya jelas sekali menunjukkan tanda tanya besar.
"Enggak... Al... Rasanya kayak manggil diri sendiri."
Alden diam sebentar, lalu ikut tertawa saat menyadari nama mereka sama-sama diawali dengan huruf A dan L. Sehingga kalau dipanggil dari depan sama-sama, Al.
"Iya juga ya. Lucu, lucu."
"Traktir minum aja deh, Al. Gak usah jauh-jauh. Dari situ aja."
Alden menoleh ke arah tangan Alora menunjuk, lalu tertawa kecil setelahnya. Permintaan yang sangat sederhana, sampai Alden tidak mengira akan hal itu. Alora hanya meminta ditraktir minuman dari mesin otomatis.
"Yang mana?"
"Kola."
Alden sempat tertawa kecil sebelum menekan tombol untuk minuman kola. Dalam tiga kali pertemuan mereka, dua diantaranya Alora selalu minum minuman yang sama, soda. Sepertinya wanita itu memang penikmat soda. Alden langsung memberi minuman itu pada Alora, yang diterima dengan seulas senyum.
"Yay! Thank you!"
"Yakin cuma itu aja?"
"Kenapa? Kamu pikir aku mau apa?"
"Yah... Apa pun... Starbucks?"
Alora menggeleng, sembari membuka sodanya, dan meminumnya. Setelah lega, Alora berkata, "Aku gak perlu apa-apa, kamu bilang makasih aja udah cukup. Artinya kamu tahu terima kasih."
Alden diam, lumayan berpikir setelah mendengar kalimat Alora. Bukan karena dia tidak mengerti, tapi Alden lumayan terkejut dengan kalimat itu. Dalam benaknya, Alden memahami satu hal soal Alora, wanita yang tidak berharap imbalan apa pun.
"Maksudku, ternyata kamu pria baik-baik." Alora tertawa setelahnya, lalu kembali meminum sodanya.
"Thanks ya! Kalau gitu aku duluan."
Alora melambaikan tangan pada Alden yang juga melambai sambil tersenyum. Alden masih mengamati Alora yang berjalan semakin menjauh, sampai bayangannya benar-benar hilang dari pandangannya. Alden tidak terkejut lagi, malah dia merasa tenang, setelah mendengar Alora mengatakan dirinya pria yang baik.
Saat itu, Alden meilat kilas baik kehidupannya. Ternyata selama ini, tidak ada yang bilang padanya kalau dia adalah pria yang baik. Alden baru menyadari nilai dirinya. Lagi-lagi berkat Alora.
❖❖❖