Blooming At It's Time

Blooming At It's Time
¹⁵ Memori Gaun Pengantin



Akhir pekan yang sangat sibuk bagi Alora dan Alden, ditambah Sandra. Hari ini sepasang calon pengantin itu melakukan fitting baju untuk acara besar tahun baru mendatang. Awalnya Sandra tidak mau ikut, karena dia pikir Harsa libur kerja. Setelah mengetahui Harsa berangkat kerja pagi-pagi sekali, Sandra langsung mengajukan diri untuk ikut. Padahal biasanya dia berani tinggal sendirian di rumah, tapi kali ini Sandra ketakutan. Entah apa yang dia takutkan, padahal matahari masih terang benderang dan lingkungan rumahnya masih ramai.


Alden dan Alora memutuskan untuk memilih pakaian bergaya klasik yang sederhana. Alden tengah mencoba tuxedo hitam, dengan seorang staff designer yang mencocokkan kembali ukuran tubuh Alden. Sementara itu, Alora dan Sandra, di balik kamar pas, sedang mencoba gaun pengantin untuk Alora. Dua bersaudara itu menatap bayangan Alora dari cermin besar, dengan perasaan yang campur aduk. Pernikahan ini ternyata benar-benar terjadi.


"Kak Alo mirip Bunda." Ujar Sandra tiba-tiba, bahkan hampir membuat Alora terkesiap kaget.


Alora hanya tersenyum simpul, memerhatikan gaun yang dia kenakan melalui cermin. Bukan tanpa alasan Alora memilih gaun itu. Dia ingat pernah melihat foto pernikahan Ayah dan Bundanya. Foto itu sangat dijaga dengan baik oleh Bundanya. Saat itu, Alora kecil sangat kengagumi gaun sederhana yang dikenakan sang Bunda, dan bahkan bercita-cita mengenakan gaun yang serupa saat menikah nanti. Maka, inilah saatnya, sehingga Alora memilih gaun yang serupa dengan ingatannya.



Inilah saatnya, tirai kamar pas dibuka, mempersilahkan Alden, untuk melihat penampilan Alora dengan gaun pengantin. Alden bahkan tidak menunggu momen ini, dia malah berkutat dengan ponselnya, mengurus beberapa hal dengan Kenzo. Sampai tirai terbuka penuh, dan Alden harus dipanggil oleh Alora untuk menoleh padanya. Saat itu barulah Alden mendongak dan menyimpan ponselnya.


Untuk beberapa saat, Alden hanya diam. Ekspresinya sangat datar, bahkan tidak terpesona walaupun Alora sudah secantik bidadari. Alora melengkungkan senyum, menunggu respon dari Alden. Tapi pria itu bukannya memerhatikan penampilan Alora, malah menatap lurus ke dalam sorot matanya. Dia melihat Alora tersenyum, tapi hatinya merasa ada yang tidak beres. Dia akui, Alora sangat cocok dengan gaun pilihannya. Tapi sorot mata Alora, membuat Alden harus berpikir keras hanya untuk merespon. Karena yang dia rasakan, wanita itu kini sedang bersedih.


"Wajah apa itu? Jadi gimana, cocok gak?" Ketus Sandra, menyadarkan Alden dari lamunannya.


Alden melirik sekilas pada Sandra sembari tertawa kecil. Kemudian dia kembali pada Alora untuk mengungkapkan pendapatnya, "Gimana? Nyaman? Itu aja kalau kamu suka."


Alora mengernyit mendengar kalimat Alden. Bukannya dia berharap pujian dari Alden, tapi kalimat itu sungguh tidak terduga oleh Alora. Yah, mungkin seharusnya Alora bersyukur karena Alden tidak memaksakan pilihannya pada Alora. Tapi, apa kata orang yang mendengarnya? Seperti Sandra dan para staff designer, mereka pasti heran dengan pasangan calon pengantin yang tidak terlihat antusias.


"Hmm... Nyaman... Gak terlalu terbuka. Aku suka sih." Ujar Alora sembari mengangkat sedikit kain roknya, lalu mengayunkannya.


"Iya bagus. Kelihatan langsing." Balas Alden, sambil mengangguk.


"Kelihatan? Maksudmu?" Tatapan Alora kini berubah, menatap lurus pada Alden dengan sengatan listrik yang buru-buru dihempas oleh pria itu. Alden mengalihkan pandangannya.


"Yah, seperti yang kamu pikir sendiri."


"Anak sialan ini mau mati kurasa!"


Alora sudah mau menghampiri Alden yang bangun dari sofa, bersiap menghindari Alora. Tapi Alora ditahan oleh Sandra. Sungguh Sandra mulai muak dengan tingkah kakak kandung dan calon kakak iparnya. Dia bahkan tidak menyangka kakaknya berada dalam hubungan absurd seperti itu.


"Kalian calon pengantin bukan sih? Gak malu kah?" Ujar Sandra. Wajahnya sudah terlihat sangat lelah menghadapi duo yang tak ada habisnya.


Alden tertawa melihat Alora yang lengannya ditahan oleh Sandra. Dia juga sempat memerhatikan raut wajah Alora yang sudah kembali seperti biasanya. Sorot sendu itu sudah hilang dari mata indahnya. Dia bersyukur akan hal itu. Dalam lubuk hati terdalamnya, Alden mengakui bahwa Alora terlihat sangat memesona dengan gaun itu.


Walaupun begitu, Alden masih mencoba mengejek Alora. Alden mengangkat jempolnya ke atas pada Alora, lalu memutarnya ke bawah. Menyadari sedang diejek, Alora berdecih, bersiap membalas pria itu.


"Celanamu gak perlu dipotong lagi? Itu terlalu panjang karena kakimu pendek!"


"Sst! Kamu tahu insole sepatu gak?"


Alden menjentikkan jarinya, merasa menang. Akhirnya dia bisa membalas Alora karena sudah mengejeknya di Orenji Cafe waktu itu. Agenda fitting baju pengantin hari ini berjalan cukup lancar, setidaknya bagi Alden dan Alora. Entah bagaimana kabar Sandra yang kepalanya berdenyut tidak mau berhenti.


❖❖❖


Mereka sudah belok ke arah gang rumah Alora. Di bangku depan, Alora dan Alden sedang membicarakan gedung yang lumayan rumit untuk didengar oleh Sandra. Jadi Sandra memilih memerhatikan jalanan sekitar yang mereka lalui. Saat itu juga, Sandra menyadari ada seorang pria yang berdiri di depan gerbang rumahnya. Detak jantungnya langsung berderu kencang. Dia bingung setengah mati, harus berbuat bagaimana.


"Kak Alden, stop!"


"Kenapa, San?"


"Berhenti, Kak!"


Alden yang merasakan kepanikan Sandra, akhirnya menghentikan mobilnya tepat di depan sebuah rumah sebelum rumah Alora, tanpa memarkirnya dengan rapi. Seketika itu, Sandra turun dari mobil dan langsung menghampiri pria berjaket hitam yang berdiri di depan rumahnya. Alora yang mengikuti arah berjalannya Sandra, lantar terkejut melihat adiknya berbincang dengan pria misterius itu.


"Siapa itu? Al- Alora!" Alden meneriaki Alora yang ikut turun, dan menghampiri Sandra.


Alden mengumpat dalam hatinya, takut kalau terjadi sesuatu dengan kedua wanita itu. Dia buru-buru memarkir mobilnya di lahan kosong. Mobilnya terparkir asal-asalan, yang terpenting sekarang adalah, dia harus menjaga kedua wanita itu.


"Sandra! Masuk!" Perintah Alora pada Sandra. Tapi wanita itu tidak mendengar, malah berusaha menutupi pria itu dari kakaknya.


"Siapa itu, San? Masuk kamu!"


"Kak Alo, dengar aku dulu!"


Alora juga tidak mau mendengar Sandra. Dia malah mendorong tubuh Sandra ke samping, hingga dia bisa benar-benar menatap pria misterius itu. Mata Alora lantas terbelalak, terkejut melihat pria di hadapannya masih hidup dan terlihat sehat. Alora akhirnya sadar, dari jaket hitam yang dikenakan pria itu, ternyata dialah yang selama ini mengawasi mereka. Dialah pria dibalik kegelapan yang selalu memerhatikan tiga bersaudara itu dari kejauhan. Dialah orang yang sangat Alora benci, yang mecabik-cabik tubuhnya hingga tak berdaya. Orang yang menoreh luka mendalam pada Alora.


Saat itu juga, setelah mengenali wajah pria itu, jantung Alora langsung berderu kencang. Seakan sesuatu dalam dirinya tidak tahan untuk meledak. Setelah semua kekacauan itu, Alora masih berusaha berdiri tegap walaupun keseimbangannya mulai goyah. Alora menatap Sandra dengan kepalanya yang mulai berputar, meminta kejelasan tentang segala kejadian ini.


"San... Ini apa-apaan?" Ujar Alora disela-sela napasnya yang tersendat.


"Alora!"


Alora sadar Alden memanggilnya, sehingga dia menoleh dengan raut wajahnya yang terlihat sangat kacau. Lalu Alora beralih melihat satu per satu orang di sekitarnya. Alden, Pria itu, dan Sandra, dilihatnya semakin buram. Napasnya menjadi lebih pendek, sampai Alora merasa sesak. Tubuhnya mulai hilang keseimbangan saat dia melangkah mundur, Alora hampir jatuh kalau pria itu tidake menahan tubuhnya.


"Bajingan!" Sembari mencoba menyadarkan diri, Alora meneriaki pria itu, lalu menepis tangannya kasar.


Dia memilih jalan menjauh dari pria itu, walaupun tubuhnya sudah lemas. Alora bisa jatuh kapan saja, ditambah kepalanya kini berputar hebat sampai pengelihatannya berkunang. Dadanya sesak, sekujur tubuhnya terasa semakin panas. Alora sudah tidak kuat bertahan lagi, dia sangat kacau. Beruntung Alden menahan tubuh Alora dalam pelukannya. Jika tidak, wanita itu mungkin sudah jatuh.


"Al? Alora?" Alden berusaha menyadarkan Alora, sedangkan wanita itu sudah tidak tahan lagi. Suara Alden dan Sandra yang terus menerus memanggilnya, terdengar semakin saru. Sehingga, tak lama setelahnya, Alora benar-benar tumbang dan pingsan.


❖❖❖