
Alora menuruti ucapan Alden untuk pergi berkeliling, mencari suasana baru. Walaupun dia hanya pergi ke tempat-tempat biasa saja, yang penting Alora keluar dari apartemen Alden. Belakangan ini Alora lebih banyak menikmati waktunya dengan diri sendiri. Kadang dia mampir ke kedai roti milik Genta dan mengobrol. Kali ini pun begitu, Alora mampir ke kedai roti milik Genta yang mulai menarik pengunjung sedikit demi sedikit.
Kebanyakan memang Genta terlihat senggang. Pria itu membuka laptopnya di meja, dengan Alora yang duduk di hadapannya. Alora melihat langsung kerja keras Genta untuk mempromosikan kedai roti impiannya. Dalam setiap tatapannya, Alora mengagumi Genta setelah melihat pria itu masih memegang teguh impiannya sejak SMA. Mau tidak mau, Alora selalu membandingkan dirinya dengan Genta.
"Kenapa liatinnya gitu?" Tanya Genta, menyadarkan Alora dari lamunannya.
"Gak papa. Aku masih kagum sama kamu. Akhirnya kamu bisa meraih mimpimu. Kamu pasti senang sekali."
Genta tersenyum, menatap Alora sekilas lalu kembali mengetik sesuatu dilaptopnya. "Senang pastinya. Aku juga gak nyangka bisa bertahan sejauh ini."
"Pasti sulit ya?"
"Hmm..." Genta menghentikan kesibukannya untuk berpikir, kemudian menatap Alora dan melanjutkan kalimatnya "Sulit, tapi aku senang. Kamu tahu aku gak punya tujuan selain ini."
Alora tertawa kecil kemudian mengangguk. Genta memang tidak berubah sejak dulu, hanya memikirkan roti, kue, memasak, dan ini, dan itu. Setelah lama tak bertemu, Alora kini semakin dibuat takjub setelah mencoba kue kering kacang yang belum pernah dia coba sebelumnya. Alora melebarkan matanya sambil mengunyah lucu. Genta tertawa melihat reaksi Alora yang masih sama seperti dulu.
"Enak?"
Alora mengangguk pasti.
"Kamu masih suka kacang?"
"OH? Kamu inget?"
"Mana bisa lupa?"
Alora tertawa, lalu kembali memakan kue keringnya. Genta kembali pada pekerjaannya, sedangkan Alora menyebar pandang kepenjuru kedai. Ada sebuah televisi tergantung di dinding. Merasakan suasana yang lumayan sepi, Alora mencoba menyalakan televisi. Tentu dengan izin terlebih dahulu pada Genta.
"Aku boleh nyalain tv?"
"Nyalain aja."
Tanpa ba-bi-bu, setelah mendapat persetujuan Genta, Alora langsung menyalakan televisi. Alora mengganti beberapa saluran yang hanya menayangkan iklan. Saat melihat seorang wanita yang familiar, Alora meletakkan remote kontrol di atas meja. Biasanya Alora jarang sekali menonton acara gosip seperti ini, namun wanita itu lumayan menarik perhatiannya. Alora sedang menonton wawancara eksklusif dengan Shellandine, tentang film baru yang dibintanginya. Ya, Shella kekasih Alden.
Melihat wanita yang begitu sempurna itu, Alora jadi mengerti alasan Alden tergila-gila dengan Shella. Tak perlu berbohong, Alora memang sedikit merasa iri pada Shella. Hey, siapa yang tidak iri dengan bintang cantik papan atas seperti Shella? Semua wanita pasti ingin menjadi seperti dirinya, dan para pria pasti menginginkan wanita seperti Shella.
"Cantiknya..."
Genta menaikkan pandangannya menatap Alora, saat wanita itu berbicara pelan tanpa sadar. Genta memutar tubuh, mengikuti arah pandang Alora ke televisi. Setelah melihat seorang wanita yang memang cantik di televisi, Genta tertawa kecil lalu kembali menatap layar laptopnya.
"Kamu lebih cantik."
"Hah?" Alora menunjukkan tanda tanya besar lewat sorot matanya, karena tidak memerhatikan ucapan Genta.
Bukannya mengulang kalimatnya, Genta malah tertawa kecil sambil menatap Alora. "Siapa yang cantik?"
"Itu. Shella." Ujar Alora sambil menunjuk ke arah televisi.
"Shella itu siapa?"
"Hah? Kamu gak tahu? Artis!"
Genta menggeleng, lalu kembali sibuk, membiarkan Alora dengan sejuta keheranan.
"Ada ya yang gak tahu Shella? Wah!"
Alora kembali fokus menatap televisi, sampai Shella sempat mengangkat tangan kirinya dan menunjukkan pergelangannya yang memakai gelang sederhana berwarna merah muda. Lantas Alora memicingkan matanya, mencoba memerhatikan gelang yang dikenakan Shella. Sayangnya, Alora harus menunggu sampai Shella kembali mengangkat tangan kirinya. Setelah Alora merasa yakin, tubuhnya langsung bersandar lemas pada punggung kursi.
Walaupun tidak memiliki hak untuk tersinggung, tapi Alora sudah terlanjur merasakannya. Sorot mata yang tadinya ceria, tiba-tiba berubah sendu. Dia tahu dan sadar betul bahwa tidak akan ada perasaan antara dirinya dan Alden. Dia juga sepenuhnya sadar bahwa Alden masih mencintai Shella. Tapi melihat Shella memakai gelang yang hampir menjadi miliknya, membuat Alora ingin berteriak tak terima di hadapan Alden. Dia yang memilih gelang itu lebih dulu, kenapa malah Shella yang mendapatkannya? Dia yang menikahi Alden, kenapa Shella yang menang?
Alora hanya larut dalam pikiran bodohnya, dan tidak bisa berbuat apa-apa.
"Kamu kenapa?" Tanya Genta, begitu menyadari perubahan dalam sorot mata Alora.
Alora menaikkan pandangan, menatap Genta yang juga sedang menatapnya. Alora menghela napas panjang, lalu tanpa sadar dengan ceroboh menawarkan diri pada Genta. Alora sepertinya sedang hilang akal dan ingin melakukan hal yang gila. Kalau Alden bisa memiliki wanita lain, kenapa Alora tidak?
"Terima aku, Genta."
"Maksudmu?"
"Di sini. Aku mau lamar kerja di sini."
❖❖❖
Cup!
Alden sempat terkejut dan langsung menatap Shella yang baru saja mengecup manja pipinya. Shella tersenyum lebar sambil melambaikan tangan, lalu ke luar mobil mengikuti Hana yang sibuk membawa barang belanjaan bintang papan atas itu. Pandangan Alden bergerak mengikuti arah kepergian Shella dan Hana, manager Shella. Kemudian, Alden menghela napas panjang setelah bayangan Shella benar-benar hilang dari padanannya.
Entah kenapa, belakangan ini saat dia bertemu Shella, Alden selalu merasa sangat lelah. Seakan tubuhnya dipaksa bekerja 24 jam penuh tanpa istirahat, bahkan untuk bernapas saja rasanya berat. Tak mau pikir panjang, Alden langsung melesat dengan mobil putihnya untuk pulang. Lagi-lagi entah kenapa, belakangan ini perjalana pulang Alden terasa lebih ringan dan lebih menyenangkan.
Malam itu sudah hampir tengah malam, dan Alden baru sampai di apartemennya. Dalam perjalanannya menuju unit, Alden berpikir kalau Alora pasti sudah tertidur. Jadi Alden menekan pin dan membuka pintu dengan sangat hati-hati. Namun saat Alden berjalan ke ruang tengah, ternyata Alora masih tiduran di sofa sambil memainkan ponselnya.
"Loh, belum tidur?"
"Kamu dari mana?"
"Hah? Dari..." Alden tidak melanjutkan kalimatnya. Dia lumayan dibuat bingung dengan nada bicara Alora yang terdengar tidak bersahabat. Bukannya menjawab pertanyaan Alora, Alden malah sibuk berpikir tentang apa yang terjadi pada Alora.
"Kamu kenapa?" Akhirnya Alden mengajukan pertanyaan itu setelah berpikir beberapa saat.
Alora menurunkan ponselnya, agar dia bisa menatap langit-langit ruang tengah dengan lebih leluasa. Kemudian Alora menghela napas panjang, sembari menimbang haruskah dia bertanya tentang gelang itu pada Alden? Alora sebenarnya tidak mau terlalu ikut campur dengan hubungan Alden. Tapi Alora bisa penasaran setengah mati jika tidak bertanya.
Kemudian Alora bangun, dan duduk disofa. "Mulai besok aku kerja."
"Oh ya? Di mana?"
"Kedai roti punya teman lamaku."
"Baguslah. Glad to hear that." Alden tetap tersenyum walaupun Alora sedang tidak menatapnya. Meskipun dia masih belum mendapat jawaban tentang apa yang terjadi pada Alora, Alden tidak mau bertanya. Dia sudah berjanji untuk tidak terlalu ikut campur, maka dia akan menunggu Alora sendiri yang menghampirinya.
Alora terlihat mengangguk pelan, lalu bangun dari sofa untuk berjalan menuju kamarnya. Dia melewati Alden tanpa sepatah kata pun, meski Alora sadar bahwa pandangan pria itu sedang mengikuti langkahnya. Alora berhenti di depan pintu kamar tanpa membukanya. Dia tidak bisa pergi begitu saja dengan perasaan gelisah seperti ini. Yang ada malah dia tidak bisa tidur karena kepikiran. Sehingga Alora memutuskan memutar tubuhnya untuk menatap Alden yang ternyata sudah siap menatapnya.
"Ngomong-ngomong, gelangnya cocok dipakai Shella."
"Hah? Gelangnya?" Alden mengernyitkan dahi, mencoba mencerna maksud kalimat Alora.
"Iya. Gelang yang dari Bali." Alora memaksakan senyum, lalu mengangkat kedua jempolnya ke udara. "Selebriti memang beda ya..."
Alora menurunkan tangannya, lalu bergegas memutar gagang pintu dan masuk ke dalam kamar melaluinya. Alden masih membeku pada posisinya sampai beberapa saat setelah Alora menutup pintu kamarnya. Alden segera mengecek ponselnya untuk mencari berita seputar Shella. Beberapa artikel tentang wawancara eksklusif Shella sudah terbit, bersama foto-foto para aktor yang terlibat. Alden memperbesar setiap foto Shella dengan tangan terangkat, dan langsung berdecak kesal. Jelas sekali terlihat Shella memakai gelang yang seharusnya Alden berikan pada Alora.
Awalnya Alden segera berjalan sampai depan pintu kamar Alora, namun saat hendak mengetuk, Alden kembali ragu. Tangannya yang sudah terangkat, kembali turun. Alden menghela napas panjang, kesal dengan keraguan yang membuatnya tidak bisa berkutik. Lalu apa yang akan dia lakukan setelah mengetuk pintu kamar Alora? Menjelaskan dari awal hingga akhir? Tidak, Alden tidak akan melakukannya. Sehingga dia memilih untuk berbalik pergi menuju kamarnya sendiri.
❖❖❖