Blooming At It's Time

Blooming At It's Time
³² Telepon dari Siapa?



Alden sudah memerhatikan Alora sejak dia bangun tidur, sampai mereka sarapan bersama dimeja makan. Suana meja makan pagi ini tidak seperti biasanya, Alden sadar Alora masih memikirkan perkara gelang dari Bali. Walaupun Alora masih bersikap seperti biasa, tapi Alden melihat raut wajah yang berbeda dari wanita itu. Masalahnya sudah sangat jelas, tapi sangat sulit untuk diselesaikan karena Alden tenggelam dalam keraguannya. Alden terlalu banyak berpikir, sampai tanpa sadar hanya mengaduk-aduk makanan tanpa menyantapnya.


"Kenapa? Kamu gak selera?" Alora membuka kalimat pertamanya pagi ini, dengan pertanyaan.


Alden lantas sadar dari lamunannya, saat Alora membuka suara. Alden langsung menggeleng dan tersenyum, tidak mau membuat Alora semakin merasa tersinggung.


"Enggak kok." Alden langsung menyantap sarapan yang sudah disiapkan Alora sambil mengecek jam tangannya. Begitu menyadari waktu yang sangat cepat berlalu, Alden langsung bangun dari duduknya. "Astaga! Aku telat."


Melihat Alden yang terburu-buru, Alora ikut panik melihat ke arah jam dinding. Alora bangun saat Alden sudah memakai jasnya. Dia mengambil segelas air untuk kemudian diberikan pada Alden yang sedang memakai sepatu di depan pintu.


"Minum dulu."


Alden langsung menegak minum pemberian Alora sampai tenggorokannya lega. Karena terlalu terburu-buru, Alden langsung melesat begitu saja hanya dengan gestur tangan yang melambai di udara. Alora bahkan belum merespon tapi Alden sudah menghilang dari balik pintu. Alora memang merasa agak kecewa. Dia pikir Alden akan menjelaskan sesuatu padanya, ternyata harapan itu terlalu tinggi. Sudahlah, akhirnya Alora mencoba melepaskan kegelisahannya.


❖❖❖


Karena harus fokus dengan pekerjaan, Alden jadi lupa soal Alora dan masalah gelang itu. Dia sendiri baru bisa mengecek ponsel saat jam makan siang. Sambil membuka bungkusan dari katering yang dipesan Kenzo, Alden membaca satu persatu pesan yang dikirim oleh Shella. Layar ponselnya hampir penuh dengan teks dan beberapa notifikasi panggilan tidak terjawab. Ya, semuanya dari Shella.


Alden berdecak kesal, lalu mengusap wajahnya kasar memikirkan cara bersikap tegas pada Shella. Wanita itu semakin tidak terkendali, entah sejak dulu atau Alden yang baru sadar belakangan ini. Baru kemarin Shella membakar jutaan uang Alden, sekarang dia sudah setengah memaksa Alden untuk memfasilitasinya liburan ke Jepang dengan teman-teman sesama artisnya. Bahkan Alora yang masih memegang kartu kredit Alden, hanya berbelanja hal receh seperti roti, bahan makanan, minuman, dan berbagai hal murah lainnya. Alden semakin pening setelah membandingkan Shella dan Alora di kepalanya.


Tidak mau merasa semakin pening, Alden meletakkan ponselnya ke atas meja tanpa membalas satu pun pesan Shella. Apa lagi dia sudah sangat lapar karena tidak sarapan dengan benar, jadi Alden langsung menyantap makan siangnya. Di tengah-tengah makan siangnya, Alden jadi ingat bahwa dia belum meluruskan masalahnya dengan Alora. Lalu, Alden segera meraih ponselnya kembali hendak mengirim pesan pada Alora.


Setelah beberapa menit, Alden sudah mengetik banyak pesan untuk Alora. Namun rasa ragu kembali menyelimuti Alden. Dibacanya kembali pesan yang diketiknya. Hatinya merasa ada yang tidak pas dalam kalimatnya, sehingga Alden menghapus pesan itu dan mengetik ulang. Namun semakin dibaca, pesan Alden jadi semakin jelek saja kualitasnya. Alden menghela napas panjang dan memutuskan menghapus bersih pesan itu sebelum sempat terkirim. Sepertinya dia harus membicarakan ini secara langsung.


Alden sudah bertekad, dia tidak akan melewatkan kesempatan untuk berbicara dengan Alora. Bahkan Alden sampai melimpahkan pekerjaannya pada Kenzo agar dirinya tidak pulang terlalu larut. Tuhan memberkati Kenzo yang kini sedang berteriak dalam diam karena harus lembur lagi. Tapi Alden tidak peduli, dia dengan yakin mengendarai mobilnya menuju apartemen. Seyakin apa pun Alden dalam perjalanan, sesampainya di apartemen mulut Alden tiba-tiba tertutup rapat. Seperti ada lem yang menahan bibirnya untuk terbuka. Alden mengumpati dirinya sendiri.


"Aku kira kamu pulang malam." Ujar Alora yang sedang menyiapkan makan malam.


Sementara itu, Alden yang menunggu di meja makan malah terbata-bata karena tidak siap merespon Alora. "Oh... hm... iya hari ini... bisa pulang... maksudnya, bisa uh... pulang gak malam."


Alora tidak merespon. Saat ini, Alden hanya bisa menatap punggung Alora. Baguslah, jadi Alora tidak melihat raut wajah Alden yang kebingungan. Kemudian, ponsel Alden bergetar tanda pesan masuk dari Shella. Alden membuka pesan itu, dan seketika perasaan tidak menyenangkan itu kembali menyelimutinya. Shella masih memaksakan tiket beserta fasilitas liburannya ke Jepang, tak tanggung-tanggung wanita itu juga ingin mentraktir salah satu temannya. Alden yang tidak habis pikir hanya bisa berdecak kesal, menatapi ponselnya dengan dahi mengernyit.


"Kamu kenapa?"


Saat Alora menanyainya, Alden langsung mendongak dan mengunci layar ponsel agar wanita itu tidak bisa mengintip. Padahal Alora juga tidak berniat mengintip, Alden sendiri yang ketakutan seakan dia menyimpan rahasia besar. Alora menyadari sikap Alden, dan seketika dia tahu apa yang pria itu sembunyikan darinya. Tidak mau ambil pusing, Alora hanya melakukan tugasnya menyiapkan makan malam untuk mereka berdua.


Alora duduk di seberang Alden, dan langsung menyantap makan malamnya. Sementara itu, Alden masih menatap Alora dengan seribu kalimat yang tertahan di ujung lidah.


"Gimana kerjanya hari ini?" Tanya Alden setelah berhasil memaksakan mulutnya berbicara.


"Yah, it was good. Aku kenal pemiliknya jadi santai aja sih."


"Baguslah." Lalu Alden mulai menyantap makan malamnya.


Keheningan sempat menyita suasana mereka, sampai bunyi getar ponsel Alden memecah kesunyian. Alora sempat melihat nama yang tertulis pada layar ponsel Alden, sebelum pria itu buru-buru meraihnya. Alden segera mematikan ponselnya, lalu disimpan kembali ke atas meja. Alora memrhatikan gerak-gerik Alden, dia pun menangkap raut wajah kesal Alden sehingga membuatnya bertanya-tanya. Kenapa Alden mengabaikan telepon dari Shella?


"Kenapa gak diangkat?"


Alora jarang sekali mendengar suara ketus Alden, dan malam ini dia mendengarnya. Entah apa yang merasuki Alora, dia lumayan merasa senang melihat Alden mengabaikan telepon dari Shella. Kalian boleh bilang Alora jahat, tapi biarkan saja dia merasa senang walaupun hanya sesaat.


"Ngomong-ngomong..."


Alora lantas mendongak saat mendengar Alden membuka suara. Dia menatap Alden, menunggu pria itu melanjutkan kalimatnya.


"Soal kemarin..." Kalimat Alden kembali terhenti, memberi ruang bagi hening untuk menyita suasana di antara mereka. Alden kesulitan melanjutkan kalimatnya untuk beberapa saat, sehingga hanya ada sunyi di atas meja makan itu.


"Kemarin kenapa?"


"Gelang yang Shella pak-"


"Oh! Hahaha! Cocok ya dipakai Shella." Ujar Alora, memotong kalimat Alden. "Tapi untunglah aku gak jadi beli. Orang kayak aku mana cocok pakai aksesoris gitu?" Lanjut Alora sambil tertawa renyah.


Alden menatap Alora setengah tak percaya, saat mendengar ucapan wanita itu. Alden yang sejak siang tadi merasa sentimen pada Shella, semakin dibuat kesal dengan kalimat Alora. Sehingga Alden menghela napas panjang, lalu berkata dengan kesal, "Memangnya kamu kenapa?"


Alora sempat memberi jeda, karena bingung dengan Alden yang tiba-tiba terdengar kesal. "Yah, Shella kan artis. Cantik. Pakai apa aja cocok. Kalau aku, cuma orang biasa. Kamu juga bilang aku gak cocok pakai gelang itu 'kan?"


"Terus kenapa kalau dia artis?!"


"Kamu kenapa sih?" Alora mengernyit heran.


"Kenapa kalau dia artis? Kamu juga cantik! Kamu lebih cocok pakai gelang itu! Kamu- AISH!" Alden mengusap wajahnya kasar. Dia tidak lagi menatap Alora, hanya menggerutu kesal pada dirinya sendiri. "Harusnya aku kasih gelang itu waktu masih di Bali."


Sementara itu, Alora yang mendengar segalanya hanya bisa membeku setelah merasa jantungnya seakan tersengat. Kemudian dengan cepat menaikkan suhu tubuhnya, sehingga merinding ke sekujur tubuh. Alora hanya menatap Alden yang terlihat kesal, tapi pipinya kini memanas. Dia bahkan harus berdeham untuk menyadarkan dirinya sendiri, namun perasaan aneh itu sudah terlanjur memenuhi perutnya. Alora seakan bisa terbang karena kupu-kupu diperutnya.


"Maksudmu?"


Alden melepas sendoknya sampai berdentang dengan piring. Kemudian dia menatap Alora dengan emosi yang masih tersisa. "Aku beli buat kamu. Harusnya aku kasih kamu. Tapi... haahh..."


Alden menghela napas saking menyesalnya telah menjatuhkan gelang itu di apartemen Shella. Lalu, Alden kembali menatap Alora yang juga sedang menatapnya. Setelah menatap Alora untuk beberapa saat, emosi Alden seakan menguap dan tergantikan dengan perasaan aneh yang tiba-tiba muncul kemudian menjalar ke sekujur tubuhnya. Ditambah kini, pipi Alora tampak merona kemerahan. Alden tidak tahu pipi wanita itu memang merona, atau pemandangan itu hanya halusinasinya saja. Yang jelas kini Alden tidak bisa berpaling dari Alora.


Alora dan Alden saling menatap satu sama lain, dengan perasaan mereka masing-masing. Keduanya baru sadar saat ponsel Alora bedering kencang, sehingga wanita itu harus bangun dari duduknya untuk mencari ponsel yang dia tinggalkan di sofa. Dengan kejadian itu, Alden ikut tersadar lalu buru-buru menarik napas berusaha menetralkan detak jantungnya yang sudah tak karuan. Alden sempat menoleh dan bertukar pandang dengan Alora yang sudah menggenggam ponselnya. Alora buru-buru berpaling, dan langsung menjawab teleponnya.


"Halo?"


Alden juga ikut berpaling saat Alora berbicara lewat telepon.


"Oh iya Genta, sorry aku lupa bilang tadi."


Alden kembali menoleh pada Alora, saat wanita itu menyebut nama pria yang terdengar asing ditelinganya. Pikirannya langsung berlarian kesana-kemari, penasaran dengan orang yang menelepon Alora selarut ini. Bahkan sampai membuat wanita itu tertawa dengan mulusnya. Genta? Siapa itu Genta?


❖❖❖