
Pagi itu Alora bekerja seperti biasa, dengan perasaan cerah nan riang seperti kemarin. Tak dapat dipungkiri, perjalanannya dengan Alden kemarin benar-benar membekas dihati Alora. Mereka memang tidak pergi ke tempat romantis, Alora bahkan tidak mendapat buket bunga dari Alden. Tapi setiap kalimat yang dikatakan Alden, masih membuatnya merasa terbang sampai hari ini. Agaknya dia merasa takjub, bagaimana perasaannya bisa berubah dalam waktu sesingkat ini.
"Genta..." Ujar Alora samar, karena pikirannya kini sedang melayang jauh kepada pria lain.
"Ya?" Genta yang tadinya sedang serius dengan stok opname, kini teralihkan oleh panggilan samar dari Alora.
"Waktu cepat sekali berlalu ya..." Alora menghela napas, tatapannya masih memandang jauh entah ke mana. "Rasanya baru kemarin tahun baru." Ya, tahun baru kemarin Alora dan Alden baru resmi menjadi suami istri, lalu sekarang perasaannya sudah berubah dalam waktu sesingkat itu.
"Hmm... Iya sih... Walaupun sekarang masih Maret."
"Maret ya... Maret?" Alora segera mengecek kalender lewat ponselnya. Matanya lansung melebar saat menyadari hari ini sudah tanggal 22 Maret, yang mana besok adalah tanggal 23 Maret, alias ulang tahun Alden Kama Adhigana. Alora langsung menyadari sesuatu, ternyata bukan tanpa alasan Alden mengajaknya ke makam Lilian kemarin. Alden pasti merasa paling merindukan Lilian disaat seperti ini, maksudnya dihari-hari ulang tahunnya. Setidaknya itu kesimpulan Alora, setelah mendengar cerita tentang ulang tahun Alden ke sebelas, kemarin.
"Genta!"
"Ya, Al, kenapa?" Kali ini Genta sampai bergidik, kaget mendengar Alora yang tiba-tiba berseru.
"Bisa tolong aku besok?"
"Kenapa?"
"Ah, enggak! Sekarang! Aku harus latiha dulu sekarang!"
"Latihan apa, Al? Pasti aku bantu."
"Tolong ajari aku bikin cake. Aku mau bikin strawberry cake untuk besok..." Alora menunjukkan matanya yang berbinar seperti anak anjing, sehingga memaksa Genta untuk mengangguk.
Genta tertawa, kemudian menepuk pelan puncak kepala Alora. "Aku kira apa. Iya, iya."
"Yess!! Makasih!!!" Alora langsung melompat kegirangan. Senyumnya semakin lebar, pipinya merona hanya dengan memikirkan hari esok yang akan menjadi sangat spesial.
Setidaknya bagi Alora.
Besoknya, pertama kali dalam sejarah, Alora makan dengan lebih cepat, karena dia harus mampir membeli beberapa bahan yang diberi tahu oleh Genta kemarin. Tentu Alora tidak mau memakai bahan-bahan milik Genta, karena itu akan mengurangi stok penjualan Genta. Padahal Genta sendiri tidak masalah, hanya saja Alora merasa tidak enak. Dengan Genta yang mau mengajari dan menjelaskan saja, sudah sangat berarti bagi Alora.
'Alden, nanti kamu pulang jam berapa?'
Begitu sampai di kedai roti Genta dengan segala bahan yang diperlukan, hal pertama yang dilakukan Alora adalah mengirim pesan pada Alden untuk menanyakan, kapan dia akan pulang malam ini. Tak sampai lima menit, senyum Alora langsung melebar saat Alden membalas pesan darinya.
'Jam 7.'
Senyum Alora terlalu lebar dan terlalu menyenangkan untuk dilewatkan oleh semua orang yang menatapnya, termasuk Genta. Yah, memang hanya Genta yang melihatnya saat ini, tapi senyum Alora memang secerah itu. Sampai-sampai Genta ikut tersenyum, kemudian malah bertanya-tanya, apa yang membuat wanita itu sangat ceria belakangan ini.
"Anything good? Senyumnya cerah banget?" Genta tersenyum memandangi Alora yang sibuk dengan ponselnya.
Alora terkekeh, lalu menyimpan ponselnya ke kantung celana. "Aku udah beli bahan-bahan yang kamu bilang kemarin."
"Kamu udah mau ajari aku aja, udah makasi banget, Gen! Aku pinjam tempat sama alat aja."
Genta menggelengkan kepala sembari tertawa, merasa tak bisa melawan kemauan Alora. Sementara itu, Alora semakin menantikan malam dengan senyum yang selalu mekar disetiap proses pembuatan kue. Pipi yang sedikit memancarkan rona kemerahan, membuat Genta sesekali hilang fokus dan malah memerhatikan wajah Alora. Beruntung Alora adalah orang yang mudah belajar, sehingga dia bisa saja membuat kue secara mandiri, mengacu pada demonstrasi yang dilakukan Genta kemarin. Proses pembuatan Strawberry Cake kali ini lumayan memakan waktu lama, karena Alora dan Genta harus bergantian menjaga counter. Tapi akhirnya jam pulang pun tiba, dan Alora tidak bisa lebih gembira dari ini.
"Ngomong-ngomong, apa ini hari spesial? Atau ada yang ulang tahun?" Setelah sekian lama menimbang-nimbang, akhirnya Genta mengungkapkan pertanyaannya. Karena siapa pun yang melihat sikap Alora, pasti merasa ada sesuatu yang sangat spesial.
"Hmm..." Alora tersenyum, lagi dan lagi. "Bukan apa-apa, cuma ulang tahun temanku." Lalu Alora mengulum bibirnya, merasa payah karena masih belum bisa mengatakan dengan lantang bahwa, dia punya seorang suami bernama Alden Kama Adhigana.
Genta hanya mengangguk saja, walaupun dia merasa pasti teman itu lebih spesial dari dirinya atau dari siapa pun.
❖❖❖
Sore itu, Alden sudah bersiap untuk pulang saat sebuah nama yang sangat dia kenal muncul di layar ponselnya. Sebenarnya Alden sudah sangat enggan berhubungan dengan orang itu, namun bagai pejuang tangguh, orang itu selalu mencari Alden. Ya, orang itu adalah Shellandine, wanita yang sampai beberapa bulan lalu masih menjadi prioritas Alden. Mungkin sekarang tidak lagi. Tapi Alden memang belum mengungkapkannya secara gambalang. Sebuah kesalahan yang seharusnya tidak dia lakukan.
"Halo?" Alden menjawab telepon dengan setengah malas. Sementara yang berbicara diujung telepon bukannya Shella, malah Hana, manager yang sangat Alden kenal.
Alden mendengar ucapan Hana di ujung telepon dengan seksama, wajahnya mengeras, berdecak kesal sembari mengernyitkan dahi. Kalimat yang diucapkan Hana terdengar gila, Shella sedang mengurung dirinya di kamar, tanpa makan, seharian penuh. Agaknya Alden tahu ke mana pembicaraan ini akan berlanjut, sehingga dia merasa harus menyelesaikan segalanya dengan Shella. Dia sudah merasa cukup muak dengan sikap Shella yang begitu kekanakan, sehingga Alden langsung melesat menuju apartemen Shella. Saat itu juga.
Sementara itu.
Alora sedang menanti kedatangan Alden.
Kue sudah disiapkan di ruang tengah, dengan dekor sederhana, Alora tersenyum memandangi sebuah dasi hitam dengan aksen titik putih yang terlipat rapih dalam sebuah kotak. Semuanya sudah siap, hanya tinggal masalah waktu sampai Alora bisa memberi kejutan pada Alden. Alora menunggu, menunggu dan menunggu. Satu... dua... hingga lima jam, dan kini waktu sudah menunjukkan pukul 12 malam. Alora menatap sendu pada layar ponsel yang menunjukkan angka kembar pada seksi jam, 00.00. Satu detik lagi, maka segala persiapannya sia-sia karena hari telah berganti.
Dengan perasaan tak menentu, senyum yang luntur dari bibirnya, Alora memutuskan menelepon Alden lagi untuk kesekian kalinya. Nada tering terdengar sangat lama, sampai disuatu waktu teleponnya ditolak. Alora langsung mengecek pesan yang sejak tadi belum terbaca oleh Alden. Ya, pesan-pesan itu berubah tanda menjadi terbaca, artinya Alden sudah menggenggam ponselnya sekarang. Tidak begitu banyak pesan yang dikirim Alora, hanya sekedar menanyakan posisi Alden, apakah dia baik-baik saja, dan apakah ada masalah yang menahannya untuk pulang.
Alora mulai harap-harap cemas, saat Alden terlihat sedang mengetik sesuatu. Detak jantungnya mulai tak terkendali, dan seketika mencelos saat Alden mengirim sebuah foto yang tak terduga. Tidak, bukan Alden, ada orang lain yang sedang menguasai ponsel pria itu. Seorang wanita, Alora tahu itu, dan dia langsung menjatuhkan ponselnya ke pangkuan. Jiwanya seketika terasa hilang, pikirannya kosong, tapi dadanya sangat sesak sampai membuat tubuhnya tak mampu bergerak. Sedikit saja dia bergerak, tubuhnya terasa hancur, bahkan tanpa aba-aba matanya mulai terasa panas. Bulir air mata menghalangi pandangannya, ingin sekali Alora berteriak, tapi dia tidak punya hak.
Dengan satu kedipan, air matanya jatuh mengalir membuat goresan basah dipipi. Alora menguatkan genggamannya pada ponsel, marah dengan kenyataan yang tidak berpihak sedikit pun padanya. Setelah merasa cukup tersakiti, Alora mulai merutuki dirinya yang begitu bodoh telah tergoda dengan kalimat-kalimat manis Alden. Begitu bodohnya Alora yang mengira bahwa Alden juga -setidaknya- menaruh sedikit rasa padanya. Bodohnya Alora sudah berharap pada manusia yang sudah pasti membuat kecewa.
Alora memejamkan matanya sejenak, berusaha menenangkan diri, lalu beranjak bangun untuk menarik semua dekorasi yang sudah dia pasang susah payah. Wajahnya kesal, merobek-robek kertas dekorasi sampai tak berbentuk lagi, dia buang semua sisa kekacauan itu ke tempat sampah. Kemudian Alora mengambil kue yang dia buat dengan penuh kasih sayang, membawanya ke dapur, berniat menjatuhkannya ke wastafel. Dadanya naik turun, menahan tangis saat kue itu sudah berada tepat di atas wastafel. Seakan ada yang menahan, tangannya tak bisa bergerak sedikit pun. Sehingga, dengan pasrah Alora meletakkan kue itu di sebelah wastafel, air mata kembali jatuh membasahi pipinya. Alora mengusap pipinya dengan cepat, lalu bergegas memasuki kamar, tanpa memedulikan kekacauan yang dia tinggalkan.
❖❖❖
Alden
Sorry, ini aku Shella. Alden lagi gak bisa angkat telepon. Dia ketiduran di apart-ku. Malam ini Alden gak pulang.
❖❖❖