Blooming At It's Time

Blooming At It's Time
²¹ Janji Suci



Semalam, sebagian besar umat manusia di dunia meniup terompet tahun baru. Menyambut lembaran baru, yang diharapkan untuk menjadi lebih baik. Semalam, sebagian besar umat manusia di dunia bersuka cita, sedangkan Alden dan Alora tidak bisa tidur karena memikirkan hari berikutnya. Artinya, hari ini. Tentu saja, karena hari ini adalah hari yang besar bagi keduanya. Hari ini, 1 Januari 2022 adalah hari pernikahan Alden dan Alora.


Alora sudah mulai berias sudah sejak dua jam yang lalu. Mulai dari persiapan awal, sampai pemakaian baju, sepatu dan aksesoris lainnya. Kalau boleh meminta, Alora sangat ingin tidur untuk saat ini. Semalam, dia sudah kesulitan tidur ditambah sekarang harus mengenakan hal-hal asing ditubuhnya. Riasan, gaun, sepatu, dan aksesoris-aksesoris itu membuat tubuhnya terasa berat. Padahal Alora dan Alden sudah menyiapkan segalanya agar terasa nyaman saat dipakai. Entah tubuhnya atau hatinya yang terasa berat.


Sekarang hanya tersisa sentuhan terakhir, yaitu memasang perhiasan kalung yang sudah tersedia di hadapannya. Sebuah kotak berwarna biru terbuka dan memamerkan sebuah kalung berlian swarovski yang berkilau. Alora menatap lekat-lekat kalung sederhana yang tampak mewah itu. Alora masih ingat bagaimana dirinya mengembalikan kotak itu pada Ayahnya. Alora memang pernah sangat marah pada Ayahnya. Tapi setelah segala kejadian yang terlewati, kini Alora mampu berdamai dengan amarahnya.



Di dalam kamar rias pengantin itu hanya ada Alora. Semua orang yang bertugas meriasnya, diminta Alora untuk istirahat. Setidaknya untuk mengisi perut, karena Alora yakin mereka bahkan belum makan siang. Setelah merenungkan kisah kalung berlian di hadapannya, Alora meraih kalung itu berniat memakainya. Saat itu juga, terdengar suara pintu yang diketuk tiga kali sebelum terbuka. Alora menoleh ke arah pintu, dan melihat Alden yang sudah siap dengan tuxedonya berjalan masuk.


"Astaga! Belum selesai? Make up artistsnya ke mana?" Tanya Alden.


"Sudah kok! Kau suruh istirahat." Ujar Alora, sembari melingkarkan kalungnya ke leher. Ternyata menautkan kalung tidak semudah perkiraan Alora. Bahkan saat bercermin, Alora masih kesulitan karena tidak melihat bagain belakangnya.


Alora masih berusaha menautkan kalung, saat Alden mengambil alih pengaitnya. Alora lumayan terkejut dengan sikap tiba-tiba Alden. Dia menatap pantulan pria itu di cermin, saat menautkan kalung di lehernya. Dalam waktu yang singkat itu, Alora bisa merasakan desiran aneh di dadanya. Seperti getaran yang semakin lama membuat jantungnya berdetak kencang. Waktu yang singkat itu terasa berjalan dalam mode lamban, sampai Alora bisa memerhatikan setiap detil dari Alden. Jujur saja, pria itu tampak sangat berbeda hari ini.


Setelah menautkan kalung di leher Alora, Alden ikut menatap pantulan bayangan mereka berdua di cermin. Alden menatap lurus pada kalung yang tergantung cantik di leher Alora. Alden pun masih ingat dengan jelas saat Alora mengembalikan hadiah itu pada Soni. Dia juga ingat kalimat-kalimat yang disampaikan Soni padanya. Alden tidak menyangka segalanya terjadi begitu cepat. Setelah segala kejadian tak terduga itu, kini dirinya dan Alora akan menikah.


"Gak terasa ya? Perasaan baru kemarin kita ketemu." Ujar Alden, membuyarkan lamunan Alora.


Wanita itu tertawa, kemudian berkata, "Waktu kamu berantem sama mantanmu, dan aku ditinggal sendiri, maksudnya?"


"Hey! Gak usah diingat bagian itu!" Protes Alden, kemudian keduanya tertawa. Ingatan saat mereka pertama kali bertemu, kembali terputar dalam ingatan masing-masing.


"Sebentar lagi kita menikah. Menurutmu, akan ada penyesalan?" Tanya Alden tiba-tiba.


Alora tidak langsung menjawab. Dia berpikir sejenak, sembari memandangi Alden dari cermin. Alden juga sedang melakukan hal yang sama. Alora tidak mau berpikir terlalu lama, maka dia berkata "Tidak. Lagipula untuk satu tahun aja, 'kan?"


Begitu mendengar jawaban Alora, Alden lantas mengangkat sedikit ujung bibirnya. Entah jawaban apa yang dia harapkan dari Alora. Tapi saat mendengar kalimat terakhirnya, Alden merasa sedikit kecewa. Padahal dia juga tahu fakta itu. Fakta kalau mereka hanya akan menikah selama satu tahun.


"Kamu mau apa setelah cerai nanti?" Kali ini giliran Alora yang bertanya dengan tiba-tiba. Pertanyaan yang tidak enak didengar di hari pernikahan mereka.


"Entahlah. Yang pasti kerja. Aku gak tahu harus apa. Gak ada rencana juga. Kamu?"


"Aku mau liburan. Liburan sendiri sebagai janda, kayaknya seru."


Alora mengangguk, yang langsung dibalas tawa oleh Alden. "Baguslah! Siapa tahu kamu bisa ketemu calon suami baru." Ujarnya dengan nada yang tidak enak didengar.


"Hmm! Kamu juga bisa cari calon istri baru! Atau balikan sama mantanmu!" Balas Alora, malah dengan nada setengah menyindir. Entah kenapa dia jadi merasa kesal, setelah mendengar ucapan Alden.


"Bagus dong! Gak sabar tahun depan!" Tak disangka-sangka Alden juga terpancing sindiran Alora, sehingga ikut merasa kesal. Keduanya saling menatap sinis lewat pantulan cermin. Saking kesalnya Alden dan Alora bahkan langsung berpaling, setelah saling bertatapan lewat cermin. Alden malah sampai melipat tangannya ke dada.


Hening sempat menyita waktu di antara mereka. Meski pun hanya sebentar, tapi keheningan itu terasa sangat lama. Beruntung tak lama setelahnya, pintu kamar diketuk tiga kali dan Sandra terlihat menengok dari bibir pintu. Melihat Alden dan Alora yang terlihat jelas sedang berseteru, membuat Sandra menghela napasnya panjang. Kakak dan calon kakak iparnya lama-lama membuat Sandra jengah dengan sikap kekanakan mereka.


"Aku gak percaya kalian mau nikah... Acaranya tiga puluh menit lagi." Ujar Sandra, kemudian kembali menutup pintu rapat-rapat.


Setelah itu, Alden dan Alora masih saling diam. Keduanya masih berat dengan ego masing-masing. Seakan tidak mau mengalah untuk bicara lebih dulu. Alden tidak mau hal ini berlarut-larut, sehingga dia memutuskan untuk bicara terlebih dahulu. Dan Alora bersyukur akan hal itu.


"Yah... sebelum itu, kita harus menikah dulu."


"Hmm..."


Keduanya mengangguk, kemudian kembali diam.


❖❖❖


Tidak perlu mengkhawatirkan Alden dan Alora. Keduanya sudah berhasil melewati kecanggungan itu. Malah sekarang, Alden dan Alora berdampingan di depan pintu ball room mewah yang sebentar lagi terbuka. Alora mengaitkan tangannya pada lengan Alden. Keduanya mulai merasa aneh, saat detik-detik dibukanya pintu besar itu.


"Jangan jatuh ya. Malu-maluin." Bisik Alden, masih berusaha menggoda Alora.


"Sialan! Kamu pelan-pelan jalannya!" Balas Alora.


Hanya dalam sekejap mata, pintu besar di hadapan mereka terbuka lebar. Mulai terlihat para tamu undangan yang berdiri di pinggir altar untuk menyambut kedua pengantin itu. Alden dan Alora dengan desiran aneh di dada, mulai melangkah dengan aba-aba. Langkah yang pelan tapi pasti. Alden dengan sabar, berjalan perlahan mengiringi Alora. Keduanya berjalan menyusuri altar dengan sambutan meriah dari para tamu. Tidak ada media yang meliput, bahkan tidak ada ponsel satu pun yang merekam. Alden dan Alora sangat bersyukur atas pengertian para tamu. Dengan begitu, tidak akan ada yang tahu identitas Alora selain tamu undangan.


Alden dan Alora tidak menyangka hari ini benar-benar terjadi. Ikatan di antara mereka yang dimulai hanya dengan beberapa lembar kertas perjanjian, kini mulai terasa nyata. Seakan lupa dengan perjanjian mereka, Alden dan Alora mengucap janji suci pernikahan di hadapan Tuhan. Keduanya saling menatap satu sama lain, sangat dalam. Suara detak jantung mereka seakan memenuhi ball room mewah yang luas itu. Hari ini, detik ini, Alden dan Alora telah resmi menikah.


❖❖❖