Blooming At It's Time

Blooming At It's Time
²⁹ Kisah Lama



Sudah beberapa hari ini Alora hanya berdiam diri di apartemen. Dia sudah hampir seperti ibu rumah tangga yang kerjanya memasak, bersih-bersih, sampai menunggu suami pulang kerja. Kalau suami tidak pulang, ya Alora tinggal tidur saja, mungkin suaminya sedang mengunjungi pacar selebritinya. Kenyataan pahitnya memang begitu.


"Nih."


Tiada angin tiada hujan, Alden tiba-tiba menyodorkan kartu kredit unlimited pada Alora setelah sarapan. Wanita yang masih mengunyah sarapannya itu mendongak, dan menatap bingung ke arah Alden dengan pipi penuh makanan. Alden selalu makan dengan cepat, Alora tidak bisa mengikuti tempo pria itu. Sehingga pipinya kini seperti hamster karena menyimpan makanan.


"Apa itu?" Alora menatap skeptis pada Alden, masih belum mau menerima kartu itu.


Karena tangannya yang sudah lelah terangkat, Alden meletakkan kartu kredit itu di sebelah piring Alora. Kemudian Alden memakai jasnya yang sejak tadi tergantung di punggung kursi.


"Keluar sana. Jalan-jalan. Beli apa kek."


"Gak usah. Aku masih punya uang."


Alden lumayan dibuat heran dengan respon Alora yang biasa saja. Wanita itu bahkan mendorong kartu kredit itu ke arah Alden kembali, dan melahap sisa makanannya. Baru kali ini Alden bertemu seorang wanita yang menolak uang darinya. Yah wajar saja, karena selama ini Alden lebih sering memberi materi kepada wanitanya.


"Pakai aja! Beli sesuatu buat Sandra sama Harsa."


Setelah mendengar ucapan Alden, Alora sempat termenung menatap kartu kredit berwarna hitam yang masih tergeletak di atas meja. Kemudian dia sadar bahwa Alden memiliki maksud lain dengan memberikan kartu kredit unlimited itu padanya. Alora memang sudah memikirkan beberapa kemungkinan antara lain, kasihan, atau muak melihat Alora tiduran. Tapi kini Alora jadi yakin kalau maksud Alden sesungguhnya adalah, agar Alora menemui Sandra dan Harsa tidak dengan tangan kosong. Karena sampai saat ini Alora masih belum menceritakan masalahnya pada Sandra dan Harsa.


"Aku udah rapi?" tanya Alden, saat tidak mendapat respon dari Alora. Sehingga wanita itu mendongak untuk memeriksa penampilan Alden.


Alora memang memeriksa penampilan Alden, tapi pikirannya melayang jauh. Entah bagaimana dia harus berterima kasih pada pria itu. Alora malah semakin merasa berhutang pada Alden. Sesaat kemudian, Alora mengangguk.


"Oke. Aku berangkat." Alden bergegas pergi, meninggalkan Alora sendiri dengan pikirannya.


❖❖❖


Ini adalah pertama kalinya Alora ke luar jalan-jalan sendirian, setelah bertahun-tahun kegiatannya hanya kerja, kerja, dan kerja. Sesekali Alora ke luar hanya untuk menemani Harsa nonton bioskop, atau menemani Sandra membeli barang-barang feminim. Alora sendiri lebih suka berbelanja online untuk keperluannya sendiri, kecuali barang-barang habis pakai yang harus dia beli ke supermarket. Minimnya pengalaman Alora, membuatnya bingung harus pergi ke mana.


Akhirnya Alora hanya berkeliling mall, melihat-lihat baju, sepatu, atau tas yang bisa dibeli untuk Sandra dan Harsa. Alora sengaja memilih barang-barang yang agak mahal, karena selama ini dia tidak pernah membelikan barang-barang mahal pada Sandra dan Harsa. Lagi pula, bukan uangnya sendiri yang dipakai. Sebenarnya Alora sudah ingin membeli banyak barang untuk Sandra dan Harsa, tapi tidak pernah terwujud karena Alora harus berhemat. Nah, sekarang Alora malah keasikan belanja untuk adik-adiknya sampai dia sendiri kerepotan dengan barang bawaannya.


Ah, sepertinya Alora harus mengatur ulang barang bawaannya supaya menjadi lebih ringkas dengan menggabungkan beberapa barang dalam satu tas. Alora sudah ke luar dari mall, dan baru berpikir untuk mengatur ulang barang bawaannya. Jadi, Alora berjalan sampil menoleh kesana-kemari mencari tempat yang tepat untuk istirahat sekaligus mengatur barang bawaannya. Tatapannya terhenti pada sebuah cafe yang terlihat ramai pengunjung, wajar saja cafe itu memang terkenal dikalangan anak muda. Alora sendiri sudah lama ingin mencoba minuman di sana, tapi untuk memesan saja sepertinya Alora akan kebingungan.


Dengan cepat, Alora mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam cafe itu. Alora memilih melanjutkan perjalanannya mencari tempat yang lebih sepi. Setelah beberapa saat berjalan, akhirnya Alora menemukan tempat yang menarik perhatiannya. Alora menuju ke sebuah kedai roti dengan papan bertuliskan 'Apricus Bakery'.


Lonceng langsung berbunyi saat Alora membuka pintu. Bersamaan dengan itu, seorang pria langsung berdiri di meja kasir, menyambut kedatangan pelanggan.


"Selamat datang di Apricus."


Alora hanya tersenyum menanggapi staff yang menyapanya, lalu dengan cepat menuju meja yang ada. Alora duduk di meja yang paling dekat dengan pintu, untuk menyusun kembali barang belanjaannya. Tiba-tiba Alora merasa hawa aneh di sekitarnya, seperti sedang diamati. Alora tidak berani menoleh ke arah staff, dan berpura-pura fokus pada kegiatannya. Dia jadi merasa bersalah karena tidak kunjung memesan atau membeli roti yang dijual di sana.


"Sebentar, Mas. Ngatur ini dulu." Alora begumam pelan pada dirinya sendiri, tentu dia tidak mau staff itu mendengar kalimatnya.


Semakin merasa tak nyaman, Alora segera bangun untuk memilih roti-roti yang tertata rapi di rak. Awalnya Alora berniat membeli beberapa roti dan kabur begitu saja. Namun saat dia hendak membayar di kasir, Alora malah mengernyitkan dahinya menatap satu-satunya staff yang bertugas di sana.


"Gen...ta?"


Staff itu langsung tersenyum saat mendengar Alora menyebut namanya.


"Masih inget?"


"Yaampun! Genta? Gentala Narayana?"


"Astaga Genta! Apa kabar?" tanya Alora riang.


"Baik. Kamu gimana? Aku sempet ragu loh, makanya dari tadi liatin kamu terus. Ternyata bener Alora."


Alora langsung tertawa. Ternyata memang benar selama ini pria itu memerhatikannya. Keduanya saling menyapa setelah bertahun-tahun tak bertemu. Alora dan Genta adalah teman dekat semasa SMA, bahkan sempat dekat lebih dari sekedar teman. Namun, semenjak Bunda Alora pergi, Alora semakin menjauhi Genta tanpa mau membicarakan kondisinya. Genta yang saat itu masih muda, tidak tahu harus bagaimana untuk menghibur Alora. Sehingga keduanya terpisah secara alami, sampai sekarang dipertemukan lagi tanpa sengaja.


Genta menyuguhkan es susu untuk Alora dan es Americano untuk dirinya sendiri. Alora dan Genta duduk di satu meja bundar untuk saling bercengkrama.


"Yaampu, Gen! Akhirnya kesampaian juga ya buka Bakery sendiri."


"Yah, puji Tuhan. Ngomong-ngomong kamu pelanggan pertamaku hari ini."


"Iya?"


Walaupun hari sudah lewat tengah hari, ternyata Alora masih menjadi pelanggan pertama hari ini. Memang kedai roti milik Genta baru buka beberapa hari, mungkin belum ada yang tahu kalau ada kedai roti yang buka di sini.


"Masih banyak yang harus dikerjain buat promosi. Aku juga butuh pekerja buat bantu-bantu. Kalau kenalanmu ada yang nganggur, tawarin kerja di sini aja, Al."


Alora tertawa kemudian mengangguk. Siapa kenalan Alora yang menganggur kalau bukan dirinya sendiri? Tentu Alora tidak langsung bicara kesana-kemari soal kehidupannya yang rumit. Mereka hanya mengenang masa-masa SMA mereka, sambil menertawakan konyolnya sikap mereka dulu.


"Al, aku gak sempat bilang gini dulu. Sekarang, berbuhung kita ketemu lagi, aku mau bilang sesuatu."


Alora langsung memberi atensi penuh pada Genta.


"Maaf ya. Dulu harusnya aku nemenin kamu di masa-masa sulit. Bukannya biarin kamu menjauh."


Akhirnya Genta memulai pembahasan itu. Sepertinya Genta terburu-buru, mungkin karena tidak mau kehilangan momen untuk membicarakan hal itu dengan Alora. Tidak mau membuat suasana semakin kikuk, Alora lantas tersenyum. Lagi pula semua itu hanya masa lalu, Alora sudah berhasil melewatinya sejauh ini.


"Gak papa, Gen. Lagian memang aku duluan yang menjauh. Dulu, karena aku harus urus banyak hal, aku jadi gak punya waktu untuk main-main lagi. Maaf ya, Gen. Kamu pasti bingung aku tiba-tiba menjauh."


Lalu Genta tertawa, kemudian menyodorkan ponselnya pada Alora.


"Boleh minta nomormu?"


Alora menerima ponsel Genta dengan senang hati, lalu menekan sederet nomor teleponnya.


Genta menelepon nomor yang diketik Alora, sampai wanita itu menunjukkan ponselnya yang berdering.


"Kali ini jangan menjauh lagi ya!" Ujar Genta sembari tersenyum. Senyumnya masih persis seperti dulu, lembut dan menenangkan.


Alora tidak mengira takdir akan membawanya bertemu dengan Genta, saat dirinya sudah menikah dengan Alden. Alora tersadar setelah melihat senyum Genta, bahwa ingatan tentang pria itu masih membekas dalam ingatannya. Selama ini Alora tidak pernah benar-benar melupakan Genta, dia hanya mengabaikan perasaannya.


Bagaimana pun juga, Genta adalah pria yang pernah mengisi hatinya, meski Alora tidak pernah menuntaskan perasaan itu. Kini setelah bertemu kembali dengan Genta, Alora tidak bisa menolak perasaan senangnya. Bahkan jantungnya sempat berdebar saat melihat senyum Genta, seakan perasaan masa lalunya kembali tanpa permisi.


❖❖❖


Genta Narayana