Bitter Life

Bitter Life
9. Pilihan dan Nostalgia



Sejak pertemuannya itu Hakki belum pernah menghubungi dan menemui Furi lagi selama 5 hari meskipun sedikit mengkhawatirkan tentang hal itu, pada malam hari ini setelah lelah bekerja menulis berita dia hanya fokus untuk  pulang karena tubuhnya sangat lelah setelah setengah hari tadi dirinya liputan tentang wisata air sungai yang berada di didekat perbukitan yang jauh dari kota 33 dan demi menemui sungai itu harus mendaki selama 2 jam.


“Sampai kapan aku harus meliput berita wisata” Hakki bergumam.


Hakki digerayangi pikiran tentang pilihan untuk mengikuti pendapat Furi agar mendatangi pesta pernikahan anak walikota demi mendapatkan informasi tentang kematian orangtuanya atau tak terpancing umpan Elias dan menunggu sampai berita kriminal yang didalamnya ada kasus pembunuhan kembali seperti semula.


Pikirannya itu membuat Hakki yang sedang berjalan telah tiba secara tak sadar di pemberhentian bis yang ditujunya.


Karena masih tenggelam dalam pikirannya ketika duduk dan menunggu bis datang Hakki tidak menyadari jika ada satu orang lagi selain dirinya yang menunggu bis juga ditengah malam seperti ini, orang itu batuk mendadak dan membuat Hakki yang mendengar jika itu batuk dari seorang gadis sedikit terkejut dan menoleh dengan pelan.


“Kau tidak apa-apa” kata Hakki yang khawatir karena merasa  batuk gadis itu agak parah.


“Aku tidak apa-apa”  jawab gadis itu kemudian tersenyum.


“Kaira?” Hakki menyebut nama gadis itu yang ternyata adalah orang yang dikenalinya.


“Hakki?” gadis bernama Kaira itu juga mengenal Hakki yang satu SMA dengannya.


Kekusutan yang selama ini mengalir di wajah Hakki hilang seketika melihat gadis yang sudah lama tidak dilihatnya saat SMA karena Hakki memendam rasa suka saat baru masuk SMA hingga sekarang padanya, rasa gugup yang tiba-tiba muncul membuatnya sedikit salah tingkah dan geser menjauh sedikit dari gadis itu.


“Pulang kerja?” Kaira memerhatikan seragam Hakki yang merupakan bagian dari media.


“Yaa…..begitulah”


Hakki memerhatikan tubuh mungil halus nan putih Kaira yang dibalut dengan sweeter abu -abu dan rok panjang bewarna hitam .


“Kau juga?” tanya Hakki yang penasaran dengan kegiatan gadis itu.


“Iya…” Kaira menjawab dengan sedikit memalingkan wajahnya, dan setelah itu hanya hening yang menggantikan keadaan disekitar mereka berdua di pemberhentian bis itu karena Hakki seketika terdiam dengan tanggapan Kaira yang menjawab singkat seakan tidak berniat menjawab dan terkesan menutupi pekerjaaannya.


Saat itu juga Hakki teringat akan hal buruk gadis disampinnya itu, meski di SMA Kaira merupakan salah satu siswi yang terkenal akan paras cantiknya namun banyak rumor yang beredar jika dia memiliki pekerjaan yang membuatnya selalu pulang dini hari dan pernah terlihat bertemu dengan paman-paman berjas dan kaya, Kaira gadis yang pendiam di SMA diacuhkan dan dijauhi teman sekolah karena rumor itu .


"Tidak, tidak, gadis baik dan ramah seperti dirinya aku yakin bukan wanita seperti itu" tegas Hakki dalam hati yang memiliki perasaan yakin jika Kaira adalah gadis suci dan semua rumor yang berada dipikirannya mampu terkalahkan oleh sebuah perasaan suka.


Bis telah datang, dan saat didalam sana Hakki juga memilih duduk bersebelahan dengan Kaira kemudian berlarut dalam obrolan sesama teman, suasana yang tenang dan hangat Hakki rasakan saat itu juga hingga dirinya hampir lupa jika sebenarnya dia masih berada dalam pikiran kesal karena ditutupnya informasi pembunuhan dan juga kebingungan akan keputusannya yang berasal dari pendapat Furi.


Dan setelah percakapan berakhir pikiran-pikiran yang mengganggu Hakki datang lagi dan membuat dirinya melamun untuk sesaat.


“Ada apa?” tanya Kaira saat menyadari lamunan singkat Hakki.


“Tidak ada” Hakki menggeleng. “Aku ingin bertanya…..” setelah diam untuk beberapa saat Hakki kembali berkata.


Kaira menoleh untuk bersiap mendengar perkataan Hakki.


“Jika misalnya ada seseorang memberimu saran untuk pergi ketempat yang akan membuatmu mendapat masalah besar namun di lain sisi ada keuntungan yang berguna untuk kehidupanmu, kau memilih pergi atau menghindari tempat itu?”


Pertanyaan Hakki itu membuat Kaira berpikir untuk beberapa saat.


“Aku memilih pergi….. karena bagiku demi mendapatkan keuntungan itu masalah sebesar apapun harus bisa kuatasi, jika aku malah menghindarinya aku yang penasaran dengan seberapa besar masalah ditempat itu karena tidak mengetahuinya akan terus menyesali tindakannku karena tidak mendapatkan keuntungan hidupku dari sana” Kaira mengakhiri perkataannya dengan senyum tipis.


Hakki menanggapi perkataan Kaira dengan mengganguk.


“Aku turun duluan” Kaira berkata saat Bis itu tiba di pemberhentian yang dia tuju.


“Rumahmu di daerah sini?” tanya Hakki.


“Ya….., rumahku di daerah ini” Kaira menjawab dengan cepat.


“Sampai jumpa lagi Hakki”


“Sa..sampai jumpa” wajah Hakki memerah.


Setelah Kaira turun,Hakki memegangi dadanya yang berdegup dengan kuat dari tadi “Meski pendiam siapapun orang yang mengajaknya bicara dia akan menanggapinya seperti teman dekat, baik dan ramah pada siapapun, dari dulu dia tidak pernah berubah” kata Hakki dalam hati karena kagum dengan sifat yang membuatnya suka kepada gadis itu.


“Baiklah aku akan pergi ke pesta pernikahan anak walikota” wajah Hakki Kembali serus dan melihat dari kejauhan Kaira yang memasuki sebuah gang kemudian berkata. “Terimakasih Kaira berkatmu aku bisa memutuskan sesuatu!”


Dari dalam gang yang disusurinya Kaira bisa mendengar deruman bis tadi yang telah meninggalkan pemberhentian, wajah cantik yang awalnya biasa saja berubah menjadi datar dengan tatapan mata yang kosong seperti orang mati yang seakan tidak pernah ada senyuman dari wajah itu sehingga membuatnya terlihat mengerikan kemudian Kaira mengambil sebilah pisau saku dari saku roknya.


Kaira mengetuk pintu sebuah rumah kecil yang berada di ujung gang dengan suasana begitu sepi beberapa kali hingga seseorang pria  dewasa dengan kepala botaknya membuka pintu sedikit dan memastikan siapa yang mengetuk, saat itu juga tangan kanan Kaira yang memegang pisau saku melesat melewati celah kecil pintu dan menusuk tenggorokkan pria dewasa  itu.


Kaira menahan tubuh pria itu yang hendak jatuh kelantai dan menggulingkan tubuhnya perlahan demi menghindari bunyi yang kuat setelah itu masuk dengan hati-hati ke dalam rumah itu dan saat kebetulan melihat pistol kecil di saku belakang celana jeans pria itu Kaira dengan cepat mengambilnya.


Berjalan kearah ruang tv dan menemukan sekelompok kecil pria sedang minum-minum sambil bermain kartu, seorang laki-laki yang menoleh kearah Kaira karena menyadari gadis itu berjalan kearah mereka ditembak kepalanya dengan cepat oleh gadis itu.


Dua orang lainnya yang ingin menggapai pistol di saku, juga dengan cepat di tembak kepalanya oleh Kaira namun saat akan menembak satu orang terakhir yang setelan bajunya lebih mewah dari 4 orang lainnya peluru pistol itu habis.


“Sialan” Kaira mengumpat dan melihat pria terakhir yang akan dibunuhnya telah siap mengarahkan pistol pada dirinya.


“KENAPA!?” Pria  terakhir itu berteriak dan terkekeh. “Peluru mu habis? Gadis sialan!?”


“Kau akan membayar kematian anak buah_” perkataan pria terakhir  itu terpotong saat pistol yang di pegangi Kaira tadi mendarat di jari jemarinya yang sedang menadah pistol karena dilempar.


“AAAAGH, sialan!” Pria terakhir itu meringis dan melepas pistol yang di pegang karena sakit yang begitu kuat di jari jemarinya.


Kaira memanfaatkan kesempatan itu dan berlari kearah pria terakhir itu kemudian melompat dan mendaratkan tendangan yang begitu kuat sehingga cukup membuat orang yang memiliki badan lebih besar darinya itu roboh ke lantai.


Tatapan kosong Kaira yang mengerikan pada pria terakhir yang akan dibunuhnya itu\, membuat pria itu berada dalam ketakutan dan berkata “Siapa yang mengirimmu siala___aaaaarrrrgh” namun perkataannya kembali terpotong saat Kaira menyayat lehernya dengan pisau sakunya dengan cepat.


Darah yang menyembur dari leher pria itu rupanya tak hanya disaksikan oleh Kaira saja tapi juga disaksikan oleh seorang wanita yang keluar dari sebuah kamar karena mendengar keributan, wanita itu berteriak juga menangis dan tidak sempat melarikan karena Kaira yang menyadari kehadiran si wanita dengan cepat melempar pisau sakunya kearah leher wanita itu.


Setelah membersihkan pisau sakunya yang berlumur darah serta wajah halusnya yang ternodai darah juga, Kaira dengan ponselnya menelpon seseorang dan berjalan perlahan ke pintu luar rumah itu.


“Clint si tangan kanan ketua kelompok mafia Clay bersama 4 anak buahnya sudah kubunuh” Kaira berkata  saat teleponnya telah tersambung.


“Apa ada korban tambahan?” Jawab laki-laki dengan suara yang terdengar sudah tua itu di ponsel.


“Seorang perempuan yang kurasa pacar dari Clint, itu korban tambahannya” jawab Kaira.


“Oke, kalau begitu mayat mereka akan kuurus dan kau cepatlah pergi dari sana sebelum polisi datang” laki-laki tua itu memerintah.


“Baiklah” Kaira berkata dengan santai saat sudah tiba diambang pintu rumah kecil itu, ketika keluar dia menutup kepalanya dengan tudung sweeternya dan berjalan dengan langkah kaki cepat sembari berkata dalam hati, “Sudah jelas aku akan ditangkap polisi jika lambat menjauh dari tempat ini, dan wajahku akan diketahui jika tidak menutupinya dengan benar, seperti yang kujawab pada hakki tadi semua hal itu adalah masalah besarnya namun aku harus bisa mengatasinya.”


Kaira bisa memastikan jika beberapa rumah mulai menghidupkan lampu dan akan keluar rumah karena menyadari suara tembakan namun gadis itu tetap tenang dan tidak memutuskan pembicaraannya dengan laki-laki tua itu di ponsel.


“Aku akan mengirimkan bayaran dari klien mu sebentar lagi” saat Kaira sudah berada di luar gang laki-laki tua itu berkata lagi.


“Demi keuntungan yang berguna untuk hidupku” Kaira berhenti melangkah dan menoleh kearah dalam gang Kembali dan melihat suasana sekitar sana yang mulai ramai.


“Melakukan hal atau pergi ke tempat yang sudah pasti menimbulkan masalah besar namun memiliki keuntungan yang berguna bagi kehidupan adalah istilah yang sangat dekat dengan pekerjaan membunuh ini.” Kaira kembali berjalan demi pulang ke rumahnya untuk mengakhiri hari ini setelah melakukan pekerjaan kotor yang telah dilakukannya selama 5 tahun ini.


“Ada pekerjaan selanjutnya untukmu”


Kaira hanya diam dan sedikit mengangguk saat mendengar perintah lagi dari laki-laki tua itu dari ponsel.


“Seorang pejabat bernama Adam Maher memintamu untuk melindunginya di pesta pernikahan anak walikota dan membunuh siapa saja orang yang terlihat akan menyerangnya disana” laki-laki tua itu berkata.[]