Bitter Life

Bitter Life
14. Pengepungan dan Kematian 1



“Operasi Besar Pemburu Keganjilan?” seketika Hakki berkata matanya pun terbelalak akibat mendengarkan perkataan mengejutkan laki-laki berkacamata yang berjarak 5 kaki darinya itu.


Remi yang masih tersenyum didepan Hakki sesekali memerhatikan Helikopter yang mencoba mendarat di helipad gedung pesta pernikahan tersebut sambal menanggapi pertanyaan Hakki “Ya, kami juga mereka yang berada di dalam Helikopter itu pemburu keganjilan dan sedang melaksanakan operasi besar sekarang untuk menangkapmu.”


“Tapi... Elias Si Mata Empat itu keganjilan seperti diriku” dengan wajah yang dipenuhi rasa takut juga dipadukan dengan rasa tidak percaya dengan hal yang tak terduga di depan matanya Hakki pun bertanya lagi pada Remi yang merupakan laki-laki berkacamata didepannya itu yang ditebak Hakki juga berprofesi sebagai Jurnalis lepas terlihat dari kartu identitas lisensi wartawan yang terkalung di lehernya.


“Tidak ada salahnya seorang keganjilan membantu kami menjaga keseimbangan dunia” Remi berkata dan melangkah perlahan mendekati Hakki kemudian menepuk pelan pundak pemuda yang merupakan Si Pahit Lidah itu.


Tepukan dipundak yang terasa mengancam itu sesaat membuat Hakki yang telah kelelahan karena telah menggunakan kekuatannya dan banyak kehilangan darah serta berlari itu gemetar ketakutan namun meski begitu Hakki yang juga membeku berkat perasan yang campuraduk dengan wajahnya yang kaku masih nekat bertanya pada orang yang sudah jelas sebagai musuhnya “Apa maksudmu?”


“Dia memiliki perjanjian dengan kami, makanya dia membantu kami” Remi sedikit melirik kearah Elias yang masih diam tak bergeming dan tidak menunjukkan ekpresi apapun.


“Berkat dirinya yang memiliki kemampuan melihat masa depan kami bisa mengetahui hal-hal yang kau lakukan dan mengatur juga mengarahkan takdirmu untuk terpojok disituasi seperti sekarang yang sesuai dengan penglihatannya” Remi berkata pada Hakki saat masih mendongak untuk melihat helikopter yang berisi rekan-rekannya sesama pemburu keganjilan itu sedikit lagi menggapai landasan.


“Kami tidak ada waktu membahas kekuatan Si Mata Empat rival sang Si Pahit Lidah pendahulumu dalam Legenda” Remi mengakhiri perkataanya setelah memastikan helikopter yang membawa rekan-rekannya sudah mendarat.


Saat satu persatu pemburu keganjilan lainnya keluar dari dalam helikopter saat itu juga Remi mendekati salah satu pemburu keganjilan berbadan tinggi besar dan mengambil sebilah pedang bergaya eropa dengan terbungkus sarung hitam yang terlihat mewah dari pemburu keganjilan itu.


Dari yang Hakki lihat para pemburu keganjilan lainnya yang telah mengelilinginya kebanyakan memegang jenis pedang terbungkus sarung yang sama dengan Remi dan ada juga yang memegang pistol modern maupun pistol revolver kuno, secara perlahan mereka mengeluarkan pedang juga mengarahkan pistol itu pada Hakki, Elias yang masiih terdiam perlahan menjauh dari para pemburu keganjilan yang mengelilingi Hakki dan saat itu juga Remi kembali mengajaknya berbicara “Kami sudah mengepungnya sesuai dengan penglihatanmu! Dari matamu apakah ada perubahan kejadian masa depan?” perkataan Remi hanya ditanggapi Elias dengan menggeleng.


“Kau tidak bisa lari maupun menggunakan kekuatan, situasi yang sudah lama kami tunggu-tunggu demi menangkap dirimu, Si Pahit Lidah, semua sudah Elias lihat di dalam penglihatannya” Remi berkata dengan seringai senyum lebar pada wajahnya kemudian kembali menoleh pada Elias untuk beberpa saat.


“Aku sangat bersyukur bisa menemukan seseorang dengan kemampuan melihat masa depan” Remi terdiam sesaat kemudian terkekeh setelah itu berkata “Berkat kekuatannya kami bisa merubah takdir masa depan yang akan membuat kami kesusahan menangkapmu menjadi sangat lancar seperti ini.”


“Penglihatan masa depan Elias sungguh menakjubkan, masa depan yang dilihatnya tidaklah mutlak dan bisa diubah-ubah takdirnya begitu saja dan hebatnya lagi bisa melihat banyak kemungkinan yang berbeda dari masa depan jika merubahnya”


“Makjubkan, sangat hebat” Beberapa kali Remi memegangi dan menggarut-garuti wajahnya, dengan sedikit mengerang dia melanjutkan perkataannya dengan suara yang keras “Aargh aku bisa gila jika terus memikirkan kekuatan keganjilannya yang merupakan aset terbesar kami.”


Melihat Remi yang bertingkah seperti itu membuat rekan-rekannya sesama pemburu keganjilan melihat aneh dirinya namun meskipun begitu mereka tidak berani menegur Remi, diantara para pemburu keganjilan yang melihatnya Remi mengatur nafasnya yang terengah-engah setelah berulang kali mengambil nafas dan mengeluarkannya untuk tenang, Remi berkata dengan pelan pada Hakki didepannya dengan tatapan mata yang menusuk “Sekarang kami akan menangkapmu, tenang saja Si Pahit Lidah, sama seperti Elias kau tidak akan mati, kau juga akan digunakan oleh kami.”


Meski terkejut mendengar perkataan Remi tentang dirinya yang akan digunakan mereka, Hakki masih bisa fokus memperhatikan sekitar 8 orang para pemburu keganjilan termasuk Remi yang mengepungnya serta berusaha mencari celah untuk menggunakan kekuatannya dengan sekejap kepada salah satu orang disisi kananya dengan kutukan ringan agar tubuhnya hanya mengalami kerusakan yang sedikit dan kemudian memanfaatkan momentum untuk kabur dari orang yang akan diberinya kutukan.


Namun ketika baru saja akan mengeluarkan kutukan, ucapan Hakki terhenti salah seorang pemburu keganjilan didepan Hakki berteriak “4 menit lagi menuju pukul 22.32” laki-laki salah satu pemburu keganjilan itu memberitahu semuanya sambil melihat jam kemudian berkata lagi “Kita harus memulai rencana itu ketua Remi!” Remi yang memiliki jabatan ketua itu menanggapi bawahannya dengan cepat dan menunjuk arah utara dan selatan gedung juga menoleh kepada pemburu keganjilan yang memegangi pistol disebelahnya sambil berkata “Cold dan Flix aku tau kalian berdua penembak terhebat divisi ku cepat tunggu dan incar tepat kearah kepala mereka!” Remi yang menyaksikan dua bawahannya berlari cepat ketempat yang ditunjukkan itu sedikit mengangguk kemudian kembali menoleh kearah Hakki.


“Kau tahu, Elias memberitahu kami tepat pukul 22.32 teman-temanmu akan datang untuk menyelamatkanmu…..”


“Informasi dari penglihatan Elias membuat kami dengan mudah mengetahui dimana posisi mereka muncul!!...” Remi berkata disaat dua orang penyihir yang terbang me genakan sapu dengan cepat muncul di kedua sisi gedung yang sialnya benar-benar muncul pada posisi yang diberitahu Remi 4 menit lalu.


Kedua bawahan Remi yang menadahkan pistol kearah kedua penyihir itu menarik pelatuk pistol mereka dan sekejap menghujamkan timah panas tepat pada dahi dua orang penyihir itu, diantara kilatan cahaya api dan suara ledak pistol itu Remi tersenyum lebar sembari berkata “Kemudian membunuh mereka dengan tepat sasaran….”


“Awalnya dalam penglihatan Elias dua penyihir tadi akan membunuh dua anggotaku jika kami tidak merubah takdir masadepan untuk membunuh mereka” Remi berjalan perlahan untuk mendekati Hakki yang terdiam.


Remi mengarahkan ujung runcing mata pedangnya dan memasang wajah yang serius “Biar kuberitahu satu hal lagi, Elias melihat pilihan jalur takdir masa depan yang kami pilih sekarang untuk memojokkan mu disini akan membuat seluruh teman-temanmu terbunuh karena kami.”


Hakki yang ketakutan terhadap Remi yang mengancamnya dengan pedang terselamatkan oleh kilatan cahaya yang menghantam tangan Remi yang menggenggam pedang hingga membuat pedang yang dipeganginya terpental.


“Firan dan Abi…..” Seorang laki-laki seumuran Hakki yang tampak jelas memiliki badan berotot karena dirinya hanya mengenakan celana jeans berkata saat mendaratkan kakinya diatas gedung ketika tiba bersama seorang penyihir wanita yang berhasil menghantam tangan Remi dengan sihir cahaya dengan sapu terbang, laki-laki itu terlihat sangat sedih juga terpukul melihat kedua temannya tewas begitu saja dengan cepat dan terhempas kedasar gedung ini.


“Kelompok ini telah kehilangan dua orang, jadi kami tidak bisa menahan mereka lebih lama, karena itu cepatlah bawa temanmu pergi dari tempat ini!” kali ini laki-laki berambut api yang terlihat seumuran Elias saat melayang diatas Hakki dengan kakinya yang terselimuti api memperingatkan Furi yang juga baru tiba dan menghampiri Hakki setelah terbang dengan sapunya.


Saat masih sibuk memperhatikan Furi bersama teman-temannya yang tiba untuk menyelamatkan dirinya Hakki mendapatkan tepukan pelan dibahu dari laki-laki berkulit putih pucat melebihi pucatnya kulit Hakki dengan pupil mata bewarna merah dan diantara gigi taringnya yang terlihat besar dan mengerikan dia memberikan senyuman pertemanan pada Hakki.


Remi mengambil pedangnya yang tergeletak tak jauh darinya kemudian mendekati Elias sambil mengelus-ngelus tangannya yang mendapat luka memar “Kau tidak memberitahuku masa tentang penyihir yang akan menjatuhkan pedangku.”


“Aku sudah sering memberitahumu tentang perubahan kecil dari tindakan yang dipilih akan membuat masa depan berubah dengan sekejap, dan tadi aku tidak sempat menggunakan kekuatanku untuk melihat perubahan masa depan itu.” Elias berkata dengan wajah yang masih datar.


“Begitukah?” Remi melemaskan otot-ototnya untuk bertarung dan menatap lurus pada seorang teman keganjilan Furi yang hanya mengenakan celana dan berjalan cepat kearahnya.


“Selanjutnya apa?” Remi berkata lagi sambil mengarahkan pedangnya kearah teman Furi itu.


“Si Pahit Lidah akan kabur dengan penyihir wanita itu” Elias menunjuk Furi yang saat itu sedang berbicarapada Hakki.


Remi menoleh kearah Elias sesaat “Haruskah kita mengejarnya?”


Elias menurunkan tangannya yang agak lama menunjuk Furi dengan perlahan “Tidak perlu kita akan memenangkan pertarungan ini dan Si Pahit Lidah bersama Penyihir itu akan berhenti sejenak ditaman Comet Garden yang berjarak 4 km diarah utara, dan disanalah kita benar-benar berhasil menangkapnya.”


“Baiklah, untuk sekarang aku akan mengikuti masa depan tanpa merubahnya, aku takut akan ada perubahan lagi jika mencegah suatu hal lagi untuk sekarang” Remi mengakhiri perkataannya dengan berlari kearah teman Furi itu yang sekarang berubah menjadi serigala besar.[]