Bitter Life

Bitter Life
19. Mencari dan Gemuruh 2



“Ya…” Hakki menjawab pelan dan dengan nada rendah karena khawatir dirinya akan diketahui sebagai pembunuh.


“Tenang saja nak, aku tidak akan melaporkanmu” Richard menjawab ketakutan Hakki, namun meski berkata begitu kekhwatiran Hakki belum hilang karena pria tua itu masih memasang wajah yang serius.


“Aku tidak memiliki alasan untuk melaporkanmu…”  kata Richard lagi dan Entah mengapa perkataannya tersebut beriringan dengan kewaspadaan yang begitu besar sehingga mengeluarkan aura yang mengerikan dan mengancam Hakki didepannya dengan aura yang kuat itu, juga membuat Hakki lumayan tertekan tapi Hakki tidak berani melawan tekanan yang diberikan Richard tersebut karena takut akan menimbulkan keributan dan merusak niatnya untuk mencari informasi dengan tenang dan damai.


Setelah terbentuk keheningan ketika terjeda beberapa saat obrolan mereka berdua Richard merubah air mukanya kembali seperti semula tidak bahagia, tidak serius dan tidak mengintimidasi kembali dengan biasa seperti orang tua yang siap memberikan jawaban apapun kepada Hakki.


“Selama kau berbicara denganku identitasmu sebagai keganjilan atau pembunuh pun tidak akan terbongkar” Richard tersenyum tipis.


“Kau orang yang sangat menarik…”


Richard menghela nafas dengan begitu berat yang seakan menunjukkan usianya, kemudian berkata dengan santai “Oh, iya tapi untuk saat ini kalian bukan datang untuk membahas tentang Si Pahit Lidah kan.”


“Iya, kami ingin mengetahui informasi tentang anak pada berita pembunuhan Adam Maher itu” Furi dengan sigap menanggapi perkataan Richard demi membantu Hakki yang kelihatannya enggan berbicara setelah mendapat sedikit tekanan dari pria tua itu.


“Akan kau gunakan untuk apa Informasi itu setelah kau dapatkan?” Richard bertanya dan terfokus pada Hakki meski yang berkata barusan adalah Furi.


Hakki sesaat menatap Richard dan menghela nafas karena langsung melupakan tekanan darinya kemudian menjawab pertanyaan pria tua itu “Untuk mengetahui siapa sebenarnya orang yang menyuruh dirinya membunuh kedua orang tuaku.”


“Orangtuamu?” tanya Richard.


Hakki berdeham kemudian berkata “Insiden Kota 68”


Sembari menggerakkan jari jemarinya Richard menggali pengetahuannya untuk mengingat Insiden yang disebutkan Hakki.


“8 orang ditemukan di perumahan Loid Kota 68, orangtuamu salah satu korban insiden itu?” tanya Richard lagi saat telah mengingatnya.


Hakki hanya diam dan menanggapi pertanyaan Richard itu dengan sedikit anggukan.


“Oh, jadi seperti itu ya” Richard berkata.


“Ya, dan dari informasi yang kudapat dia terlibat disana” Hakki berkata dengan tempo yang pelan juga bernada rendah.


“Baiklah, tentang pembunuh Adam Maher itu dia adalah anak dari tempat ini” kata Richard saat menegapkan bahu tuanya untuk memulai pemberian informasi.


“Namanya Eric” lanjut Richard dan membuat Hakki dan Furi mengetahui nama remaja itu.


“3 tahun yang lalu dia kabur dan berkata ingin menjalani kehidupannya sendiri dan mencari pekerjaan diluar sana” saat berkata Telunjuk Richard terarah keluar jendela.


“Aku tau di bekerja di kota 33 tapi setelah itu aku mendengar kabar jika dia menghilang dan setahun kemudian dan muncul menjadi pembunuh Adam Maher” kata Richard lagi dan selain Hakki, sesekali dia juga memandang Furi saat berbicara.


“Dengan kekuatan fisik manusia serigalanya aku tau jika dia mampu membunuh orang dengan mudah”


Perkataan Richard tentang identitas Eric sebagai Vampire itu membuat Furi dan Hakki akhirnya dapat mengerti apa yang membuat remaja itu memiliki kekuatan yang berada diluar nalar, mereka berdua mengangguk pelan, dan karena tersadar sepertinya Richard mengetahui banyak hal tentang keganjilan Hakki bertanya.  “Kau mengetahui keganjilan?”


Richard tersenyum sambil mengangguk “Ya, jika tidak, tak mungkin aku membiarkan kalian menemuiku.”


Richard berdiri dari sofa yang ia duduki dan melangkah pelan kearah jendela dan melihat anak-anak panti asuhan yang sedang yang sedang bermain sepakbola juga permainan lainnya dilapangan yang berada dibawah sana.


“Semua anak-anak disini merupakan keganjilan”


“Begitu juga aku, yang juga seorang Vampir” kata Richard saat jari telunjuknya terarah pada dirinya sendiri.


Hakki dan Furi mengangguk serta seketika mengerti jika kekuatan pendengaran Vampir lah yang membuat Richard mengetahui nama mereka saat berbicara dengan Arina karena pendengaran jarak jauh yang luar biasa.


“Dan wanita medusa yang menyambut kalian”


Perkataan Richard yang menyebut jenis keganjilan Wanita Bernama Arina yang mereka temui tadi membuat Hakki bersyukur tidak ada konflik yang terjadi antara mereka dan Wanita itu karena sangat mengerikan jika nantinya mereka diubah menjadi batu dengan tatapan dari Wanita itu.


“Kami menampung anak-anak keganjilan yang sebatang kara” kata Richard tersenyum pada Hakki dan Furi.


“Setahuku dia bekerja sebagai pelayan disebuah restoran dalam beberapa bulan” Richard menjawab.


Richard terdiam sesaat dan masih mengamati anak-anak bermain bola dengan wajah bahagia, kemudian merubah wajahnya menjadi serius dan berbalik untuk menghadap Furi dan Hakki untuk berkata “Namun dari rumor yang beredar setelah berhenti dari sana dia kemudian bekerja dengan orang yang memiliki banyak uang dan memiliki jabatan tinggi.”


“Sayangnya, aku tidak tahu apa pekerjaan orang yang memiliki jabatan itu” lanjut Richard.


Richard menjeda lagi perkataannya dan kali ini muncul kesedihan ditengah wajah seriusnya dan berkata “Aku juga mendengar sebelum dirinya menghilang adiknya duluan lah yang menghilang.”


“Seingatku dulu saat keluar dari panti asuhan ini dia membawa adik perempuannya” Richard berdeham dan sekejap mengusir rasa sedihnya.


“Jika kalian ingin menemuinya, kalian pergi saja ke taman Lavern yang berada diarah sana dan disana ada sebuah rumah kosong” Tangan Richard menuju arah utara pada luar jendela.


“Dia sering menenangkan diri disana, karena itu adalah rumah keluarganya saat kedua orang tuanya belum menghilang secara misterius”


Sesaat memandang dengan seksama kedua anak muda didepannya itu yang terlihat sangat membutuhkan informasi, Richard tersenyum dan sekejap niat baik muncul dari hatinya, kemudian Richard berkata “Katakan saja jika aku yang menyuruh kalian untuk berbicara padanya, pasti dia nantinya mau berbicara dengan kalian.”


Hakki dan Furi bersiap untuk pergi kerumah kosong itu untuk mencari Eric demi kejelasan Informasi kematian orang tua Hakki yang mereka cari, mereka berdua berdiri digerbang panti asuhan itu bersama dengan Arina juga Richard.


“Terimakasih atas bantuannya pak Richard” Hakki berkata.


Richard mengangguk dan kemudian berkata “Jika kalian mengalami kesulitan di kota ini jangan segan meminta bantuanku karena sudah kewajibanku membantu sesama keganjilan.”


“Baik, pak Richard” jawab Furi.


“Terimakasih juga bu Arina” lanjut Furi yang kali ini memberikan ucapan terimakasih pada Arina si Wanita medusa.


Setelah memberi salam dengan baik, Hakki dan Furi bergegas menuju taman Lavern demi menemukan rumah kosong yang dikatakan Richard, setelah hampir 20 menit berjalan akhirnya mereka menemukan taman yang Bernama Lavern tersebut, dan juga bisa memastikan jika diujung taman itu terdapat sebuah rumah besar kosong yang sebagian dindingnya sudah hancur dan memiliki retakan dimana-mana serta dipenuhi rumput juga ilalang yang banyak.


Hakki dan Furi berlari kecil menuju rumah kosong itu demi memastikan keberadaan Eric, namun ketika sedikit lagi tiba pada pintu rumah kosong itu, mereka melihat ada seseorang berdiri diatas genteng Rumah Kosong itu, orang yang mengenakan seragam serba hitam itu sulit dikenali berkat suasana gelap yang ditimbulkan mendung dan posisinya yang berada jauh diatas mereka berdua.


Hakki dan Furi tidak perlu waktu lama untuk menebak-nebak siapa orang itu, karena dengan sendirinya orang itu turun kehadapan mereka dan memperlihatkan dengan jelas wajah yang dia miliki.


“Kaira!?” Hakki berkata dengan volume suara yang kuat saat mengenali wajah orang itu dan juga karena begitu terkejut ketika pertama kalinya dalam garis waktu ini dia bertemu dengan Kaira sebagai pembunuh bayaran.


“Kenapa dia bisa mengetahui kita di kota ini?” Furi berkata dengan wajah panik.


Sebelum Hakki menjawab perkataan Furi, tanpa berkata-kata Kaira yang berdiri didepan mereka mengeluarkan pedang yang berada di pinggang dan tanpa basa-basi langsung mencoba menghujam pedang itu kearah leher Furi, dengan cepat Furi menghalang hunusan pedang yang menuju dirinya itu dengan perisai sihir, sesaat perisai sihir yang bercahaya biru terang itu mampu menahan pedang serba hitam Kaira, namun setelah itu perisai sihir itu lenyap dengan sendirinya, Kaira memanfaatkan kesempatan saat hilangnya perisai itu dan kembali mencoba menekan pedang itu kearah leher Furi lagi tetapi Furi berhasil mengantisipasinya dengan cepat menghindar sehingga pedang itu hanya menggores bahu kirinya.


Furi menghiraukan bahu kirinya yang berlumuran darah karena lebih terfokus pada pertanyaan dibenaknya kenapa sihir perisai yang diyakininya sebagai salah satui sihir terkuat bisa lenyap begitu saja karena pedang itu.


“Sihirku ditiadakan” ditengah keanehan yang menggerayangi pikirannya Furi berkata pada Hakki yang membeku disebelahnya karena menyaksikan serangan tiba-tiba Kaira.


Hakki melepaskan dirinya yang membeku karena terkejut dengan cepat demi melindungi Furi yang terluka dengan kutukannya.


“Berhentilah Bergerak Kaira.”


Dengan misterius Kaira membuat gerakan menebas pedang tanpa memotong apapun didepannya dan saat itu juga Furi sadar jika Kaira seolah menebas suara kutukan yang diberikan Hak  ki untuknya, dan hasilnya Kaira tidak terpengaruh oleh kutukan Hakki dan dengan bebas masih bisa berjalan untuk mendekati dan membunuh mereka berdua.


“Bahkan kutukanku…kenapa bisa?” mata Hakki terbelalak karena tak percaya dengan apa yang terjadi.


“Pedang itu Hakki” kata Kaira saat tangannya menunjuk pedang serba hitam yang digenggam Kaira.


“Pedang Pelurus Realitas” Kaira lanjut berkata, wajah kebingungan muncul diantara kepanikan yang dialami Furi, dia mencoba tenang untuk memberi tahu Hakki tentang pedang itu agar tersampaikan dengan jelas.


“Pedang itu, senjata tingkat atas pemburu keganjilan, setahuku hanya petinggi pemburu keganjilan yang boleh memakainya”


“Pedang yang menghapuskan segala jenis kekuatan suprantural yang melenceng dari realitas” lanjut Furi saat kesulitan mengatur nafasnya yang terengah-engah.


“Pedang sehebat itu kenapa bisa dimiliki Kaira?” kata Hakki dengan wajah yang ketakutan juga kebingungan saat memerhatikan Kaira yang melangkah perlahan mendekati dirinya dan Furi.[]